
Dengan gaya yang tampak memukau, Yusuf Amri Nufail Syairazy turun dari mobil sportnya menuju kediaman Zahrana. Dengan sejuta pesona dan kharismanya, ia pun mengucapkan salam kepada penghuni rumah.
Semua yang ada di dalam rumah itu pun nampak terpukau dengan penampilan Yusuf Amri Nufail Syairazy. Zahrana dan keluarganya pun menyambut baik kedatangan sosok pangeran tampan tersebut.
"Maa syaa Allah, sungguh diriku tidak pernah menyangka jika kak Yusuf begitu tampan dan sesempurna ini!" bathin Zahrana dengan rasa kagumnya pada sosok pemuda yang insyaAllah akan menjadi calon suaminya nanti.
Harapan Zahrana, semoga Yusuf secepatnya menjadi imamnya agar tidak ada lagi kegundahan dan keresahan dihatinya, sebab terus memandangi seseorang yang belum halal untuk ia pandangi apalagi di miliki. Ada batasan yang memang harus ia jaga agar jangan sampai terlena dengan segala yang ada dihadapannya.
"Maa syaa Allah, kak Yusuf silahkan masuk!" ucap Raihan Arman Habibie dengan mewakili pihak keluarganya, ia pun menyalami dan merangkul Yusuf selaku saudara seiman dan seorang yang dituakannya.
Yusuf dengan segala pesona dan ketampanannya, juga kesantunan akhlak dan budi pekertinya, begitu menampakkan rasa kasih dan perhatian terhadap sosok Raihan yang jauh lebih muda dibawahnya. Ia paham betul jika terhadap yang lebih tua haruslah menaruh rasa hormat, terhadap yang lebih muda pun, hendaklah lebih menyayanginya. Agar terciptalah rasa saling menghargai dari antara satu dengan yang lainnya.
"Raihan, apa kabar mu anak muda sholih?" sapa Yusuf dengan mengusap pundak Raihan dengan penuh kasih.
"Alhamdulillah, seperti yang kakak lihat, Raihan sangat baik kak, segar bugar!" ucap Raihan mengangkat kedua bahunya.
"Syukurlah, jika begitu!" ucap Yusuf dengan mengukir senyuman indah di wajah tampannya.
"Maa syaa Allah, senyum dan pesonanya sungguh sangat luar biasa! Ya Allah tolong jaga hati, pikiran dan pandangan mataku dari terus-menerus memandangi wajah tampannya!" bathin Zahrana dengan menahan debaran jantungnya yang saat ini sangat sulit untuk di ajak berdamai.
Yusuf pun menelungkupkan kedua telapak tangannya ketika berhadapan dengan Zahrana. Kendatipun mereka sudah resmi lamaran Yusuf tetap menjaga jarak dengan Zahrana hingga halal bagi mereka untuk bisa saling bersentuhan, begitu pula dengan Zahrana ia pun melakukan hal yang sama seperti Yusuf. Keduanya memang saling menjaga satu sama lain.
Buya Harun dan Bunda Fatimah pun segera menyambut kedatangan calon mantunya.
"Maa syaa Allah, nak Yusuf sudah rapi betul!" ucap Buya Harun dengan rasa kagumnya pada sosok calon mantunya itu.
Yusuf tersenyum mendengar pujian Buya Harun, ia pun menyalami dan merangkul calon mertuanya itu dengan penuh kasih.
Bunda Fatimah pun nampak takjub melihat pesona Yusuf Amri Nufail Syairazy, "Maa syaa Allah, dirimu benar-benar seperti Pangeran Arab, Nak!" seloroh Bunda Fatimah dengan melebarkan senyumnya, melihat calon mantunya yang tidak hanya tampan dan mempesona, namun memiliki kesholihan yang sangat luar biasa.
Bunda Fatimah pun menelungkupkan tangan di dadanya ketika berhadapan dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy calon mantunya. Begitulah sebaliknya, Yusuf pun menaruh hormat pada calon mertuanya itu.
__ADS_1
"Silahkan duduk, kak Yusuf! Zahra buatkan minuman dulu," ucap Zahrana dengan jantung yang berdegup kencang ketika berhadapan dengan sosok Yusuf yang benar-benar telah mencuri perhatiannya. Segenap hati, pikiran dan jiwanya hanya tertuju pada yang terkasih.
"Baiklah, terima kasih!" ucap Yusuf nampak kaku, pasalnya semenjak ia telah mengkhitbah Zahrana ada rasa malu yang menyelubungi jiwanya. Ia malu jika sampai salah ucap atau salah dalam berbuat di hadapan calon bidadarinya tersebut. Ia juga malu terhadap Rabb-Nya jika sampai salah melangkah.
Yusuf berusaha menetralkan ritme jantungnya, ia tidak ingin kentara jika ia pun merasa getaran rasa yang begitu membuncah pada sosok bidadari yang memang sangat dicintainya. Namun, ia berusaha untuk menjaga hatinya agar tidak sampai kebablasan bahwa dirinya begitu sangat mengagumi sosok Zahrana.
Zahrana pun melenggang menuju dapur untuk membuatkan jamuan special untuk seorang yang sangat dikasihinya itu.
Yusuf di temani oleh Buya Harun dan Bunda Fatimah, mereka tampak berbincang-bincang untuk persiapan pernikahan mereka yang insya Allah akan digelar dua bulan lagi.
"Dua bulan itu bukan waktu yang lama, Nak. Mulai dari sekarang kita harus segera menyiapkan segala prosesnya. Agar nantinya kita lebih leluasa dan tidak terkesan mendadak, Nak!" ucap Bunda Fatimah tidak sabaran dengan persiapan pernikahan Yusuf dengan putrinya. Mengingat pesona Yusuf yang sangat tampan dan berkharisma juga sholih, membuat Bunda Fatimah tidak ingin berlama-lama untuk menghalalkan keduanya. Bunda Fatimah sangat khawatir jika calon mantunya itu di embat orang.😂😂
"Insya Allah, Bunda. Semuanya dalam proses, saya, Ummi dan juga Abi telah mempersiapkan semuanya dari sejak dini. Bunda dan keluarga cukup mendo'akan agar semuanya berjalan dengan lancar. Untuk resepsi dan yang mengikutinya biarlah semuanya dari pihak keluarga kami yang mempersiapkannya!" ucap Yusuf dengan penuh keseriusan.
"Maa syaa Allah, Alhamdulillah ... terimakasih atas segalanya nak Yusuf!" sarkas Bunda Fatimah dengan perasaan bahagia yang memenuhi seluruh relung hati dan jiwanya.
Selang berapa menit kemudian, Zahrana pun menyiapkan jamuan untuk Yusuf.
"Terimakasih, Ra!" ucap Yusuf dengan segera menyeruput minuman dan mencicipi camilan yang di sajikan oleh sang bidadarinya.
"Zahra kedalam dulu, Kak!" ucap Zahrana dengan menuju bilik kamarnya, untuk menggantikan bajunya dengan gaun syar'i muslimah.
Yusuf pun mengangguk pelan, ia pun melanjutkan perbincangan dengan Bunda Fatimah dan Buya Harun Al Aziz, sembari menunggu Zahrana berganti pakaian.
Tidak butuh waktu lama untuk Zahrana menghias diri, cukup mengenakan gamis syar'i berpadu dengan jilbabnya itu sudah cukup untuk Zahrana. Ia lebih suka berdandan alami ketimbang merias wajahnya dengan make-up. Tidak ada pernak-pernik, tas branded atau yang sejenisnya. Zahrana hanya membawa bingkisan sederhana untuk sahabatnya Nandini, tiada hal yang terkesan berlebihan yang hendak ia tampilkan. Pikirnya, setelah mati pun hanya amal sholih dan kain kafan yang akan dibawa mati tidak ada pernak-pernik serta kemewahan dunia lainnya yang ikut menyertainya ketika jasad terbujur kaku di liang lahat.
Itu lah Zahrana dengan keserderhanaanya, semenjak melewati proses hijrahnya Zahrana lebih suka menghiasi wajahnya dengan tetesan air wudhu, meski di luar waktu sholat pun ia tidak pernah lepas dari wudhu mengikuti apa yang telah disunahkan oleh Nabi besar Muhammad shalallahu alaihi wasallam, salah satunya dengan tetap menjaga wudhu di sepanjang harinya.
Zahrana dengan keanggunannya, kini pun segera beranjak keluar kamarnya, dua pemuda sholih berbeda generasi nampak telah siaga menunggu kehadirannya.
"Maa syaa Allah, Raihan!" Zahrana histeris melihat adik bungsunya kini berpenampilan sangat religius mengikuti fashion ala Yusuf Amri Nufail Syairazy.
__ADS_1
Raihan menggunakan gamis syar'i lengan pendek, dengan sorban putih menghiasi kepalanya. Sehingga tampaklah wajah tampannya yang kini telah beranjak remaja awal. Seperti zaman kakaknya Zahrana di masa putih-biru dahulu.
Namun, Raihan sudah menampakkan sisi religiusnya dari sejak kecil. Ia lebih tegas dan sangat menjaga maruahnya sebagai sosok muslim yang taat. Jika memang menurut syari'at Islam itu tidak boleh dilakukan, maka sebisa mungkin ia Istiqomah untuk menjalankan perintah Allah dan berusaha untuk meninggalkan larangan-Nya, hingga kini pun ia terus bermetamorfosa menjadi sosok pemuda yang sholih.
"Kenapa, Kak? Raihan tampan ya seperti kak Yusuf!" ucap Raihan di sertai senyum manisnya, yang nampak menghiasi wajah polosnya.
"Iya, benar. Kau tampan sekali, duplikatnya Buya ketika masih remaja!" sarkas Zahrana dengan balik mengembangkan senyumnya pada adik bungsunya itu.
"Oh, ya? berarti kita sudah siap-siap berangkat dong! kakak ditemani dua pemuda sholih. Meski berbeda generasi, tapi Raihan bisa menjaga kakak. Menemani kak Zahra dan kak Yusuf, agar terhindar dari segala fitnah!" ujar Raihan dengan menggandeng lengan kakaknya.
Yusuf tersenyum atas kekompakan dua adik kakak itu, baginya tidak masalah jika Raihan menjadi bodyguard untuk dirinya dan Zahra. Itu adalah suatu kemuliaan baginya. Mengingat ia dan Zahrana memang belum halal untuk berduaan, apalagi saling memiliki.
Yusuf nampak terpukau dengan pesona dan keanggunan Zahrana yang berbalut hijab syar'i. Ia merasa nyaman dan juga bahagia, sebab calon bidadarinya benar-benar menjaga marwahnya dengan riasan yang alami tanpa make-up di wajahnya seperti kebanyakan gadis pada umumnya.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" sarkas Zahrana setelah mereka berpamitan dengan kedua orangtuanya.
Ketiga anak manusia itu pun berjalan beriringan dengan Raihan yang berada di tengah-tengah sebagai pembatas antara Yusuf dan Zahrana kakaknya agar terjaga dari berdekatan dengan yang bukan mahramnya, sekalipun itu calon suaminya sendiri.
Buya Harun dan Bunda Fatimah nampak tenang dan bahagia melepaskan kepergian Zahrana bersama Raihan juga Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Zahrana nampak ceria di temani oleh bdua pemuda sholih tersebut.
"Ya Allah, terimakasih atas nikmat, anugerah dan nafas hidup yang kini masih bisa untuk kami menghirupnya. Terimakasih atas segala rasa cinta yang telah Engkau sematkan dalam hati ini. Jaga hatiku dan hatinya, sampai kami halal untuk saling memiliki!" bathin Zahrana dengan menggandeng tangan adiknya Raihan menuju resepsi pernikahan Nandini Sukma Dewi yang tak jauh dari kediamannya.
💛💛💛
Untaian mutiara hikmah 👉 "Tetaplah berwibawa. Tak angkuh dan tak jumawa. Meski terkadang diri harus kecewa, sebab kita tengah dididik untuk jadi istimewa. Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas, dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit. Masalah adalah sebuah anugerah Dimana kita bisa mendapatkan hikmah dan memberikan inspirasi untuk bertindak."
__ADS_1