Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
25 . Back Street Season 1


__ADS_3

"Ya Allah Bunda, jangan terlalu cemas berlebihan! kak Aslan berpakaian Agamis seperti ini wajar saja Bun, kan baru pulang dari Mesjid, habis menjalankan Ibadah sholat Ashar, bukannya hendak melamar kak Zahrana," tutur Raihan kembali menenangkan Bundanya guna menyelamatkan Aslan dan Zahrana kakaknya dari tudingan Bundanya yang semakin berkelanjutan.


Padahal sejatinya, apa yang di duga oleh Bundanya adalah benar adanya jika Zahrana dan Aslan saling mengagumi satu sama lain.


Bunda Fatimah pun membenarkan apa yang diucapkan oleh Raihan anaknya, walaupun hati tetap merasa cemas dengan puterinya, khawatir jika Zahrana memang benar menaruh rasa pada pemuda bernama Aslan, begitu juga sebaliknya.


"Nak Aslan, maafkan atas prasangka Bunda Fatimah ya? dia hanya khawatir puteri kesayangannya cepat dipinang orang, padahal kenyataannya tidak begitu," ujar Buya Harun sembari mengelus pucuk kepala Zahrana dengan penuh kasih, berharap anaknya benar-benar bisa menjaga marwahnya di usianya yang masih sangat rentan godaan dari dunia luar yang tak mengenal kata batasan.


"Iya Buya, tidak mengapa, kekhawatiran Bu Fatimah benar adanya, setiap orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya," tutur Aslan dengan nada lembut dan sopan.


Mengingat suasana mulai tidak kondusif Aslan berniat undur diri, untuk segera kembali ke rumahnya, khawatir Bunda Fatimah akan berpikir dan bertanya yang tidak-tidak lagi mengenai hubungannya dengan Zahrana.


"Oh iya ... Buya, Bu Fatimah. Aslan pamit dulu, khawatir Toko ramai pengunjungnya, kebetulan Ayah dan Ibu Aslan sedang keluar, hanya Nandini yang sendirian di rumah," ujar Aslan beralasan.


Padahal sejatinya Aslan berusaha menghindari interogasi Bunda Fatimah, ia tidak ingin kedua orangtua Zahrana, atau siapa pun termasuk orang tua Aslan sendiri mengetahui tentang rasanya bersama Zahrana, cukup Raihan dan adiknya Nandini yang menjadi bukti saksi gelora asmara antara mereka berdua, mengingat usia Zahrana yang masih sangat belia. Sedangkan Aslan sendiri masih mengenyam bangku kuliah, terlalu dini jika semua orang mengetahui hubungan mereka.


"Oh iya, Nak Aslan silahkan! maaf atas semua kesalahpahaman yang terjadi, jika ada waktu dan kesempatan tidak mengapa jika nak Aslan berkunjung kemari, sekedar tukar pendapat dengan Buya," ujar Buya Harun dengan sikap tenangnya.


Namun, berbeda dengan Bunda Fatimah masih merasa getir, dengan sikap suaminya, seolah-olah memberi celah untuk Aslan bertandang lagi kerumah mereka.


Bunda Fatimah refleks menyenggol lengan suaminya, dengan isyarat agar Buya Harun menarik kembali ucapannya, sebab marwah anak gadisnya yang harus dipertaruhkan, sedangkan Buya Harun tidak peka dan merasakan semua itu biasa-biasa saja, tanpa ada prasangka buruk pada Aslan Abdurrahman Syatir, mengingat Aslan kesehariannya terbilang pemuda yang Sholih, taat beribadah akan sangat mustahil jika Aslan sampai berbuat hal-hal yang tidak wajar pada Zahrana anaknya.


Dalam keseharian Buya Harun, dia memang selalu ber-husnudzon kepada siapa pun, terhadap orang bejat sekali pun Buya Harun tetap berlaku baik, sebab ia yakin pintu taubat akan tetap terbuka untuk siapa pun, selagi nafas hidup masih berada di dalam kerongkongan.


Itu lah sebabnya di Desa mereka Buya Harun adalah sosok yang sangat berpengaruh yang kerap kali menyampaikan pendapatnya dengan bahasa yang santun tanpa menghakimi orang lain dengan ilmu pengetahuan yang ia miliki.


Sudah ada beberapa orang pemuda yang sering tawuran dan mabuk-mabukan berhasil di bimbing oleh Buya Harun untuk kembali bertaubat pada jalan yang benar, setiap hari banyak sekali mulai dari anak-anak kecil, remaja hingga dewasa yang belajar mengaji pada Buya Harun dengan jadwal yang telah di tentukan.


Jadi tidak heran, terhadap Aslan Abdurrahman Syatir pun Buya Harun berusaha bersikap ramah, sopan dan santun.


Buya Harun senang sekali bisa bertukar pikiran dengan anak-anak muda, membimbing mereka pada jalan yang semestinya, sesuai dengan karakter dan usia mereka.


Aslan pun menyalami Buya Harun serta Bunda Fatimah secara bergantian, kemudian berlanjut pada Zahrana, langkah kaki Aslan seakan tertahan menatap penuh arti pada Zahrana, rasa ingin sekali mendekapnya, seperti yang pernah mereka lakukan di Toko sembakonya, namun Aslan kembali menguasai dirinya, mengusir segala rasa pikiran yang tak wajar di benaknya, sangat lah tidak pantas mengingat pakaian Agamis yang di kenakannya, "seperti TOMAT ( Tobat Maksiat ), habis taubat kemudian maksiat lagi! cicit Aslan.


Kemudian hendak berlalu pergi sembari menatap nanar wajah Zahrana yang begitu sangat polosnya.


"Ana, kakak pamit dulu. Jaga diri mu baik-baik, terimakasih untuk semua jamuannya," tutur Aslan dengan nada sendu tanpa berniat sedikitpun untuk berjabat tangan dengan Zahrana, sebab Bunda Fatimah masih menatap instens ke arah mereka berdua.


"Iya kak, sama-sama. Hati-hati kak!" ucap Zahrana dengan nada tak kalah sendunya.


Ada kesedihan menyeruak di pita bathin Zahrana, mengingat Bunda Fatimah yang terlalu mencemaskannya. Sehingga berujung menyudutkan Aslan Abdurrahman Syatir yang telah mencuri segenap hati dan jiwanya dengan kisah roman picisan yang hanya dalam seperkian detik merubahnya menjadi getar-getar cinta yang tak terelakkan di usianya yang memang masih sangat-sangat belia.

__ADS_1


"Ayah Bunda, maafkan Zahrana atas segala rasa yang tak semestinya harus tumbuh dalam jiwa ku yang naif ini, maafkan Zahrana Ayah Bunda karena dengan mudahnya terhempas dalam rasa suka berbalut cinta yang mulai ku rasa sejak dini kepada seorang insan yang terlihat jauh lebih Dewasa dari pada anak mu ini," bisik hati kecil Zahrana.


Rona wajah Zahrana terlihat mulai memerah dan bola matanya nampak mulai berkaca-kaca, hendak menumpahkan cairan bening yang sedari tadi sekuat hati ia tahan, agar tak terlihat oleh Ayah dan Bundanya.


Lamunan Zahrana pun buyar ketika Aslan hendak melangkah pergi, di sertai pekikan Raihan yang tiada habisnya menyeringai nakal, selalu menghentikan segala ketegangan yang ada.


"Kak Aslan ... tunggu!" pekik Raihan dengan suara yang setengah nyaringnya.


"Salim dulu dong! kok Raihan malah di lupakan," ucap Raihan seraya mencium punggung tangan Aslan.


Aslan membalas dengan senyuman manis penuh arti, sembari mengelus pucuk kepala Raihan.


"Anak baik, semoga Allah memberkahi mu!" do'a Aslan pada Raihan yang menurutnya anak itu luar biasa cerdas dan pandainya, daya pikirnya melebihi daya pikir normal orang biasa, sangat lah luar biasa. Pandangan Aslan terhadap Raihan adik Zahrana.


"Do'a yang sama untuk kak Aslan dan keluarga," balas Raihan dengan santunnya.


Buya Harun sangat tertegun melihat interaksi antara Raihan anaknya dengan Aslan Abdurrahman Syatir yang usianya sudah jauh lebih dewasa dibandingkan Raihan yang masih seumur jagung, namun bisa berinteraksi dengan sangat baik sekali, dalam hati merasa senang sekali karena telah berhasil mendidik Raihan menjadi anak yang sangat berakhlak.


"Assalamu'alaikum ... " ucap Aslan pada Zahrana dan keluarganya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Zahrana. Buya Harun juga Bunda Fatimah serta Raihan secara bersamaan.


Zahrana menatap nanar punggung Aslan yang semakin menjauh dari pandangan mata nya, kemudian dengan langkah setengah berlari menuju ke dalam kamarnya, hendak menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia tahan.


"Biar kan Zahrana menenangkan dirinya Bun, mungkin dia syok mendengar penuturan Bunda yang terlalu berlebihan terhadapnya dan Nak Aslan, Zahra butuh waktu untuk sendiri kita tidak perlu terlalu berlebihan mengekangnya," tutur Buya Harun lembut.


***


Disisi lain.


Aslan Abdurrahman Syatir telah sampai di rumahnya, melepaskan peci, baju koko dan sarungnya, berganti menjadi baju santainya.


"Kak Aslan sudah pulang? kenapa lama sekali ke Mesjidnya? memangnya ada kultum ya disana? sudah hampir satu jam belum kembali juga, Nandini belum menunaikan shalat Ashar," ujar Nandini dengan wajah masamnya.


"Sejak kapan adik kakak yang metal ini jadi rajin shalat? biasanya hanya shalat Maghrib saja. Syukur lah itu berarti adik kakak sudah mulai menunaikan kewajiban sholat lima waktu. Kamu sudah baligh dek. Kakak sangat senang melihat kemajuan mu."


"Alhamdulillah kak, Zahrana yang mengajari dan terus membimbing Nandini untuk menjalankan kewajiban sholat lima waktu. Selain itu, guru mata pelajaran Agama kami Bu Zulis, juga mengatakan hal yang sama jika shalat lima waktu itu wajib bagi yang mengaku dirinya muslim."


"Jika di tinggalkan kita akan berdosa, dan bila di kerjakan kita akan mendapatkan pahala," tutur Nandini dengan riang hati.


Sebab secara tidak langsung Nandini menghafalkan kembali pelajaran yang telah di sampaikan Bu Zulis dan ia merasa bahagia sekali mempunyai teman seperti Zahrana yang selalu mengingat kannya ketika ia lalai.

__ADS_1


Mendengar nama Zahrana disebut, hati Aslan kembali bergetar hebat, semburat rasa bahagia seakan menyelubungi pita bathinnya, mengingat tambatan hatinya ternyata bukan hanya cantik parasnya, namun sangat lah Sholihah. Semakin membuat hatinya terpana dan terpesona akan sosok Zahrana.


Namun rasa kagum itu kini berkabut resah, mengingat Bunda Fatimah yang begitu membatasi hubungan Zahrana dengannya, membuat wajah Aslan berubah menjadi mendung.


"Kak, kenapa diam? kenapa wajah kakak terlihat murung?" tanya Nandini pada Aslan kakaknya.


"Tidak apa-apa, Dek. Nanti kakak ceritakan, sebaiknya kamu sholat dulu, khawatir waktu shalat Ashar keburu habis," tutur Aslan mengingatkan Nandini.


"Hemmm ... Nandini tau, pasti ada hubungannya dengan Zahrana," goda Nandini pada kakaknya.


Belum sempat kakaknya berujar. Nandini melenggang pergi membiarkan kakaknya yang sedang di rundung nestapa.


Nandini pun segera menuju kamar mandi hendak berwudhu guna menunaikan ibadah sholat Asharnya yang sempat tertunda lantaran sejak tadi menunggu kakaknya yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya, sehingga Nandini pun harus menggantikan kakaknya untuk menunaikan tanggung jawabnya menjaga Toko Sembako mereka.


Tinggal lah Aslan termenung sendiri, duduk manis di beranda Toko yang memang ada tempat duduk khusus, yang bisa merangkap untuk tempat bersandar sekaligus untuk pembaringan sembari menghidupkan Televisi, yang kebetulan saat itu acara yang ditayangkan sinetron remaja yang berjudul 'BACK STREET', film yang di Bintangi oleh Putri Titian Selebriti terkenal pada zaman itu, sekitar tahun 2000 an.


Film Back Street menceritakan tentang anak remaja yang menjalin hubungan dengan kekasihnya secara diam-diam dan tersembunyi, hubungan itu menjadi rahasia di antara mereka, agar tidak di ketahui oleh siapa pun terutama orang tua ataupun orang terdekat, mengingat remaja wanitanya masih duduk di bangku SMP kelas satu, sedangkan pemeran laki-lakinya sudah dewasa, perbedaan usia tersebut lah menyebabkan mereka berpacaran secara diam-diam, karena khawatir tidak di restui oleh orang tua mereka, lantaran pemeran wanita masih sangat belia, sedang pemeran laki-lakinya sudah sangat dewasa.


Aslan pun menyimak dengan serius film yang di tontonnya, sama persis dengan cerita cintanya dengan Zahrana.


"Apa mungkin aku harus menerapkan cara seperti ini untuk terus terikat dengan Zahrana? yach dengan cara ' Back Street ', tidak ada jalan lain." Aslan bermonolog dalam hatinya.


"Demi terikat dengan mu Ana, maaf aku harus melakukan hal ini!" ucap Aslan dengan volume suara yang hampir terdengar jika ada orang yang berdiri di sampingnya.


Aslan tidak menyadari jika adiknya Nandini sudah berdiri sekitar lima menit dibelakang tempat duduknya.


"Ciyeeee ... yang mau ikutan back street!" goda Nandini sembari menepuk bahu kakaknya.


Rona wajah Aslan bersemu merah. Malu karena tertangkap basah oleh adiknya sendiri, akibat rasa halunya yang terlalu berlebihan dan sudah mendarah daging. Ia benar-benar tergila-gila dengan sosok Zahrana.


"Sejak kapan kau berdiri disini dek?" tanya Aslan menahan rasa malu dihatinya.


"Sejak lima menit yang lalu, kakak ku yang ganteng nan mempesona."


"Santai saja kak, Nandini tau kok apa yang kakak pikir kan, pasti hubungan kakak tidak di restui oleh kedua orang tua Zahrana, kan? Wajar saja kak, Zahrana kan masih kecil, mana boleh pacaran," celutuk Nandini membuat kakak nya merasa tertohok dengan kata-katanya.


Kemudian Aslan menceritakan secara detail perihal yang menimpanya, ketika pulang dari Mesjid menyempatkan diri bertandang kerumah Zahrana hingga menyebabkannya terlambat pulang ke rumahnya, hingga berakhir dengan rasa pilu. Sebab Bunda Fatimah memberikan lampu merah, benar-benar membatasi interaksinya dengan Zahrana.


"Ha ... ha ... ha ... wajar saja kak Bunda Fatimah bersikap seperti itu, kakak sich terlalu menampakkan rasa suka pada Zahrana, benar-benar bucin parah," guyon Nandini pada kakaknya.


"Tapi, kakak tenang saja. Nandini bersedia kok menjadi Mak Comblang kak Aslan dan Zahrana, secara Zahrana teman baik ku, kakak tinggal kirim pesan lewat surat saja, nanti Nandini yang jadi Pak Posnya," ucap Nandini dengan seringai nakalnya.

__ADS_1


"Kamu benar juga, Dek. Ide bagus, pemikiran mu ternyata brilian juga. Mulai sekarang deal kita mulai menjalani rencana kita ' Back Street Season 1 '. Aslan menautkan jari kelingkingnya pada Nandini, tanda kesepakatan mereka.


"Oke,sippp! kita mulai dari sekarang!" ujar Nandini sembari menggoyangkan jempol tangan kanannya, dengan akal bulus yang mulai berputar dalam benaknya.


__ADS_2