
Jantung hati Zahrana terasa berdesir hebat. Begitu pula dengan Zaid, sentuhan lembut dari Zahrana membuat aliran darahnya terasa memompa lebih cepat dari biasanya.
Seketika keduanyapun saling beradu pandang, "Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh sempurna dirimu diciptakan!" bathin Zaid dengan memandangi wajah cantik nan ayu dihadapannya tersebut.
"Ma-af kak!" ucap Zahrana dengan menundukkan pandangannya.
Zahrana pun melepaskan genggamannya, namun Zaid seolah-olah terhipnotis oleh pesona Zahrana. Ia masih berdiri ditempatnya, disaat Zaid lengah Zahrana langsung merebut buku yang ada ditangan Zaid.
"Alhamdulillah ... akhirnya dapat," ucap Zahrana dengan menyembunyikan buku tersebut dibawa bantal tidurnya.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, Kau?" Zaid balik menggenggam tangan Zahrana, membuat jantung hati Zahrana kembali berdebar tak karuan.
"Ya Allah ... kenapa jantungku sulit dikondisikan? kenapa aku tidak mampu untuk menolak perlakuan manisnya terhadap ku? apa aku sudah mulai tersentuh olehnya? tidakkk! ini tidak boleh terjadi bathin Zahrana.
Melihat Zahrana yang tidak menolak genggaman tangannya, membuat Zaid memanfaatkan keadaan yang ada.
"Aku akan membuat mu jatuh hati pada ku Zahrana, apa pun caranya. Aku sadar, menggenggam tangan mu belum halal bagi ku. Aku terpaksa melakukan ini, sebab kau selalu menolak ku dengan berbagai alasan!" bathin Zaid dengan semakin erat menggenggam tangan Zahrana.
Dapat ia rasakan getaran dijemari tangan Zahrana, sebab di dera kegugupan ketika genggaman tangan itu pun menyatu.
Menyadari, akan kekhilafan yang telah mereka lakukan Zahrana hendak melepaskan genggaman Zaid terhadapnya.
Namun, Zaid seolah-olah tidak rela melepaskan genggamannya. "Tetap begini Tsamirah Zahrana Az Zahra, maaf atas kelancangan ku ini. Namun, inilah diriku yang sebenarnya. Aku benar-benar telah jatuh pada mu. Aku tidak ingin terus begini, bantu aku untuk terhindar dari segala bentuk kemaksiatan. Jadilah wanitaku Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Zaid dengan mengecup jemari tangan Zahrana.
Zahrana kaget bukan kepalang, ia tidak menyangka jika Zaid yang menurutnya masuk dalam kategori pemuda yang Sholeh pun kini telah berani menyentuhnya oleh sebab telah terjerat oleh pesona Zahrana.
Zaid benar-benar telah jatuh hati pada Zahrana, sehingga saat ini ia tidak mampu lagi meredam segala perasaannya terhadap sosok Zahrana.
"Maaf Kak, tidak begini seharusnya kakak bersikap. Zahra yakin kakak pun tahu hukum menyentuh sesuatu yang belum halal untuk kakak miliki. Antara kita ada batasan mahramnya Kak, kakak hanya boleh menyentuh sesuatu yang memang sudah halal untuk kakak miliki!" ucap Zahrana dengan berusaha menarik tangannya yang di genggam oleh MZ Arkana.
"Zahra, aku mohon untuk sekali ini jangan menolak ku! Aku benar-benar tulus mencintaimu Zahrana. Jika memang kau menginginkan semua menjadi halal, maka menikahlah denganku!" ucap Zaid setengah memelas.
Zaid kehabisan cara, untuk membujuk Zahrana agar berkenan untuk menerimanya dan bersanding dengannya.
"Maaf kak, bukannya Zahra tidak ingin menerima niat baik kakak, akan tetapi Zahra sudah punya pilihan, sampai detik ini Zahra masih setia menunggu seseorang. Sudah 4 tahun terakhir ini Zahra menanti kedatangannya, selama ini Zahra berusaha untuk menjaga hati ini hanya untuk dirinya!" ucap Zahrana jujur, ia tidak ingin membuat Zaid terus berharap padanya.
Zaid melepaskan genggaman tangannya, ia nampak kecewa dengan apa yang Zahrana ucapkan. Berkali-kali ia harus menelan pil pahit oleh sebab penolakan Zahrana untuk yang kesekian kalinya.
Namun, sebesar apapun rasa kecewanya, Zaid tetap kekeuh ingin memiliki Zahrana. Ia tidak rela jika Zahrana sampai menikah dengan pemuda yang disebutkan oleh Zahrana tersebut.
"Dengarkan aku Zahrana, pemuda tersebut sangat jauh dari pandangan mata mu, dan kau pun belum tahu kebenarannya, apakah ia akan menjadi Jodohmu atau tidak. Sementara, kalian sudah 4 tahun berpisah, sama sekali tidak pernah lagi bertemu, berkomunikasi dan saling bertanya kabar pun tidak pernah. Apa kau masih terus menunggu kedatangannya. Sementara disini ada aku untuk mu!" ucap Zaid yang benar-benar mengharapkan Zahrana untuk menjadi wanitanya, pendamping hidupnya.
Zahrana nampak tertegun, ia pun mencerna apa yang diucapkan Zaid padanya. Ada rasa kegundahan dihatinya, mengenai hubungannya dengan Yusuf. Mereka tidak berpacaran, namun rasa dihatinya lebih dari sekedar teman. Namun, hingga detik ini semuanya tanpa kejelasan, kecuali hanya sekedar menunggu dan terus menunggu.
"Ya Allah ... apa yang diucapkan oleh kak Zaid ada benarnya, aku sudah 4 tahun tidak bertemu kak Yusuf. Ia pun tidak pernah memberikan kabar untuk ku, mungkinkah hatinya masih terpaut pada ku!" bathin Zahrana. Ia pun tertunduk lesu.
Manik mata Zahrana mulai terlihat berkaca-kaca, ingin ia meneteskan bulir air matanya oleh sebab kegelisahan yang menderanya. Namun, secepatnya ia mengusap air matanya yang mulai berembun. Ia tidak ingin menampakkan kelemahannya dihadapan Muhammad Zaid Arkana.
Menyadari jika Zahrana mulai goyah, Zaid kembali melancarkan aksinya. Ia ingin Zahrana melupakan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Zahra ... maafkan kakak, bukannya kakak ingin mematahkan semangat mu. Akan tetapi, coba kau renungkan kembali penantian panjang mu selama 4 tahun terakhir ini, adakah membuahkan hasil? jika tidak, sebaiknya lupakan dia, menikahlah denganku!" ucap Zaid dengan setengah berjongkok dihadapan Zahrana yang sedang duduk di brankarnya.
__ADS_1
Zahrana nampak terkejut mendengar ucapan Zaid, ia tidak menyangka jika untaian kata-kata itu terucap dengan gamblangnya dari lisan seorang Muhammad Zaid Arkana yang mungkin bisa di kategorikan sebagai sosok pemuda yang Sholih. Meskipun tidak sesholih Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Zahrana paham betul akan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bunyinya,
إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ إِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi no. 1085. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi).
Namun, hadits tersebut tidak serta merta memaksakan seorang wanita untuk langsung menerima pinangan tersebut tanpa pemikiran yang matang.
Sebab dijelaskan pula, jika engkau tidak tertarik dengan seorang laki-laki (yang mengkhitbah/melamar) maka engkau tidak berdosa saat menolaknya, bahkan jika ia orang yang shalih. Karena menikah terbangun di atas dua unsur: memilih suami shalih dengan adanya rasa cinta kasih.
Adapun jika engkau membenci laki-laki tersebut karena agamanya maka ini berdosa, karena engkau membenci seorang mukmin, dan seorang mukmin harus dicintai. Dan engkau juga berdosa jika membenci karena keteguhannya dalam beragama. Akan tetapi rasa cinta kepada seorang karena agama tidak mengharuskan menjadikannya sebagai suaminya, selama belum ada kecondongan hati. Wallahu a’lam.
Berpedoman dengan hadist dan penjelasan diatas, Zahrana seakan mempertimbangkan tawaran Muhammad Zaid Arkana untuk mengkhitbahnya dan segera menikahinya.
Di satu sisi, ia masih mengharapkan kehadiran Yusuf Amri Nufail Syairazy untuk menjadi imamnya meskipun tak pasti bagaimana akhir dari penantiannya.
"Ya Allah ... berikan hamba petunjuk-Mu, kak Zaid jelas-jelas terpampang nyata dihadapan ku, dan dia pun berniat ingin menikahi ku. Namun, dihatiku masih terukir sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy!" bathin Zahrana yang mulai gamang dengan perasaannya.
Zahrana merasa berdosa, jika nantinya keimanan seorang Zaid semakin runtuh dan rusak oleh sebab penolakan yang dilakukannya secara berkali-kali terhadap pemuda tersebut.
Setelah berpikir sejenak, Zahrana pun kembali membuka suaranya.
"Kak, terima kasih atas semua perhatian kakak untuk Zahra, akan tetapi maaf ... untuk kesekian kalinya Zahra belum bisa meng-iyakan niat baik kakak. Zahra benar-benar belum siap untuk menikah dengan kakak, banyak hal yang harus Zahra pertimbangkan."
"Usia Zahra pun baru 17 tahun, selain itu menikah juga butuh ilmu. Banyak hal yang belum Zahra pahami tentang pernikahan. Pernikahan adalah ibadah yang paling lama, dan Zahra ingin pernikahan itu hanya satu kali seumur hidup. Ada baiknya Zahra mematangkan diri dahulu, sebelum melangkah lebih jauh lagi."
Zahrana pun menjaga jarak dari Muhammad Zaid Arkana, sementara Zaid terpaku. Untuk yang kesekian kalinya Zahrana menolak niat baiknya.
"Ya Allah ... dengan cara apalagi aku harus meyakinkannya!" bathin Zaid mendengus frustasi.
Di tengah kegalauan yang tercipta antara Zahrana dan Zaid, seseorang tiba-tiba membuka pintu rawat inap Zahrana dengan tawa renyahnya, menggema memenuhi sudut ruangan kamar rawat inap Zahrana.
Ceklek
"Ha ... ha ... ha, di tolak lagi Mas Bro?" Pramuja melebarkan tawanya, membuat Zaid dan Zahrana seketika membolakan matanya.
"Mas Pramuja Wisnu Baskara!" pekik Zahrana dengan membolakan matanya sempurna.
Sementara Zaid menghembuskan nafasnya pelan, jantungnya hampir copot melihat kedatangan sahabatnya secara tiba-tiba, apalagi dengan gelak tawanya yang menggema seolah memekikan gendang telinga yang mendengarnya.
"Astaghfirullah ... Pramuja, kau seperti hantu atau jailangkung saja, datang tak dijemput pulang tak diantar!" seloroh Zaid sambil memegang dadanya.
Pramuja berjalan tegap bak seorang laki-laki yang gagah perkasa, ia kembali berulah dengan seringai nakalnya, "Ya Allah ... Mas Bro, katanya Ustadz, katanya sudah belajar ilmu syar'i, kok masih percaya dengan yang begituan. Jailangkung itu hanya ada di film-film horor. Itu pun hanya fiktif belaka!" ucap Pramuja semaunya, membuat Zaid menggelengkan kepalanya dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Dasar Hansip gaul, kau cocok sekali nyemplung di film Suzzana, sebagai pemeran Bokir!" seloroh MZ Arkana yang tidak mau kalah dengan sosok Pramuja.
"Enak saja, aku mah jadi sosok Pramuja saja dalam film Suzzana yang berjudul siluman buaya itu yang berperan sebagai seorang Ustadz, kemudian akhirnya menjadi sosok pendamping untuk Suzzana, membimbingnya kembali ke jalan kebenaran, setelah berbuat kesyirikan dan bersekutu dengan siluman buaya!" ucap Pramuja tanpa filter. Membuat Zahrana merasa jengah dengan perdebatan dua sekawan itu, yang nampak kekanak-kanakan.
"Astaghfirullah ... Mas Pramuja, datang kemari untuk menjenguk Zahra, atau mau ngajak debat? Mas Pramuja kekanak-kanakan, deh!" Zahrana menyebikkan bibirnya.
__ADS_1
"I'm sorry, i'm coming my sepupu my bidadari!" ucap Pramuja dengan menghampiri Zahrana yang sedang bersandar di brankarnya, dengan wajah masamnya.
"Sudah pukul 09.00 wib, Zahra mau tidur dulu. Mas Pramuja jaga Zahra disini!" ucap Zahra dengan menunjukkan kursi disamping brankarnya.
"OMG, kok langsung tidur? Mas kan baru datang." Pramuja memanyunkan bibirnya.
"Siapa suruh datang telat, kasian kak Zaid dari sejak tadi menunggu Zahra." Zahrana pura-pura ngambek, ia sengaja menjahili Pramuja.
"Iya, deh. Maaf, Mas juga baru tahu kabarnya dari kak Sabrina. Mas hendak membesuk mu langsung ke Rumah Sakit, ya ... Mas malah di suruh menjaga Shaka dan Yumna dirumahnya. Jadilah Mas pengasuh dadakan!" seloroh Pramuja.
"Ya sudah, jika kamu sudah mau istirahat, silahkan! Mas mau ngobrol dengan MZ Arkana dulu!" ucap Pramuja dengan menaruh parsel buah untuk Zahrana pada nakasnya.
Zahrana melirik ke arah parsel buah yang dibelikan oleh Pramuja untuknya.
"Ya Allah ... perut ku terasa lapar, benar-benar menggoda entu parcel." Zahrana terpaksa menekan rasa laparnya.
Sementara Pramuja pun menghampiri MZ Arkana yang sedang bermuram durja.
"Hey, Mas bro! kenapa termangu? patah hati lagi ya? sudah ku duga, kau tidak akan mampu meluluhkan hati my sepupu. Lebih baik kau cari wanita yang lain saja. Zahrana masih kecil, masih polos. Belum memahami yang namanya pernikahan, aku mendengar semua kok percakapan kalian dari sejak tadi."
"Sabar ya bro, jikalau sudah jodoh tak kan kemana!" ucap Pramuja dengan semangat memberikan support pada sahabatnya MZ Arkana.
"Maafkan aku, MZ Arkana! Bukannya aku sengaja memanas-manasi mu. Sejujurnya, aku tak rela jika sampai ada yang mendekati Zahrana sepupu ku, termasuk dirimu!" bathin Pramuja.
"Tidak apa-apa, Zahrana menolak ku. Aku akan tetap menunggunya, sampai ia berkenan menerima niat baikku. Hingga akhirnya, ia pun berkenan menikah dengan ku!" ucap MZ Arkana dengan menyemangati dirinya sendiri.
"Up to you, Mas Bro. Sekarang, jam besuk sudah habis. Apa tidak sebaiknya kau istirahat dulu dirumah. Biar aku saja yang jaga Zahra," ucap Pramuja meyakinkan.
"Maaf, aku akan tetap di sini. Sampai Zahrana di izinkan pulang. Ia adalah karyawan Aisyah Boutique Collection. Aku punya tanggung jawab penuh terhadapnya," ucap Zaid dengan nada serius.
Sementara, Zahrana yang sedang pura-pura tidur pun di buat takjub oleh perhatian Zaid terhadapnya.
"Ya Allah ... segitu kuatnya hati kak Zaid meski sudah kesekian kalinya aku menolaknya, ia masih sempat-sempatnya memperhatikan ku dan menjagaku!" bathin Zahrana penuh haru.
🌷🌷🌷
Untaian mutiara hikmah👉"Musibah yang membuatmu kembali kepada Allah lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah. Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi dia melihat hati dan amal kalian. Apapun yang terjadi dalam harimu yakinlah bahwa semuanya adalah kehendak dan rencana Allah untuk kebahagiaanmu."
🌼
🌼
🌼
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya my bestie, kak. Tentunya dengan cerita yang tidak kalah menarik dan serunya.😊😘
Judul karyanya : Gadis Desa Kesayangan Tuan Muda
Authornya : Bunga Alika
__ADS_1