
Alhamdulillah ... Kak Zahra sudah sampai di kota S di kediaman kak Sabrina!" pekik Raihan, hingga terdengar oleh Bunda Fatimah dan Buya Harun yang masih duduk terpaku di ruang tamu.
Bunda Fatimah pun setengah berlari menuju bilik kamar Raihan.
"Alhamdulillah ... benarkah kakak mu sudah sampai di sana?" ucap Bunda Fatimah dengan wajah berbinar.
"Alhamdulillah ... Bunda, semua berkat wasilah sepotong do'a dari Bunda, kak Zahra sampai tujuan dengan selamat!" ucap Raihan dengan senyum kebahagiaan. Nampak sekali dari binar wajahnya yang selalu di hiasi oleh tetesan air wudhu.
Raihan benar-benar merasa senang, mendengar kabar jika kakaknya Zahrana baik-baik saja. Begitupun dengan Bunda Fatimah dan Buya Harun pun turut berbahagia mendengar puetrinya sudah sampai di tujuan.
"Ternyata kak Zahra ketiduran di mobil, lantaran takut mendengar suara gemuruh petir, Bun. Ponselnya pun di silent. Untung ada kak Zaid menenangkannya hingga terlelap!" ucap Raihan dengan wajah polosnya.
"Maksudnya di tenangkan bagaimana Rai?" tanya Bunda Fatimah yang mulai berpikiran macam-macam.
Raihan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Begini, Bun. Maksudnya, itu di nasehati biar kak Zahra tidak takut lagi!" ucap Raihan mencoba untuk berpikir positif.
"Oh, memangnya Raihan tahu darimana jika hanya di nasehati dan tidak sampai ke arah hal-hal negatif?" cecar Bunda Fatimah.
Raihan diam sejenak lantaran bingung menjawab pertanyaan bundanya yang terlalu berlebihan menurutnya.
Buya Harun yang dari sejak tadi hanya menjadi pendengar setia, celotehan Raihan dan bundanya pun jadi penengah.
"Istighfar, Bun. Jangan su'udzon! Zahra anak kita sampai dengan selamat di kediaman kakaknya pun kita sudah bersyukur, itu menjadi bukti bahwa Nak Zaid amanah dan bertanggung jawab pada Puteri kita." Buya Harun meluruskan pemikiran Bunda Fatimah agar tidak berburuk sangka pada Zaid dan Zahrana.
Bunda Fatimah terdiam sejenak, "Astaghfirullah ... di ceramahi Buya lagi, deh!" bathin Bunda Fatimah dengan merajuk. Ia tidak terima jika Buya Harun menyudutkannya.
Menyadari jika suasana mulai tak kondusif, Raihan berinisiatif untuk izin tidur duluan daripada mendengar ocehan Ayah dan bundanya.
"Bunda, Buya. Raihan tidur dulu, soalnya sudah pukul 22.30 wib. Baiknya kita mengistirahatkan diri dulu! Ini juga ponsel Bunda, Raihan kembalikan. Raihan mau rehat dulu!"
"Oh iya, di situ juga ada pesan dari kak Zahra, kak Sabrina juga kak Zaid, agar kita bisa tenang dan tidak salah paham lagi!" ucap Raihan dengan menarik selimutnya sampai batas lehernya.
Setelah membaca surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq dan Annas juga ayat kursi dan do'a pengantar tidur. Raihan memejamkan matanya hingga ia benar-benar terlelap
__ADS_1
Bunda Fatimah dan Buya Harun pun meninggalkan kamar Raihan dan kembali ke bilik kamar mereka dengan sendirinya.
"Bunda, Buya minta maaf jika Buya salah ucap! bunda mau kan untuk memaafkan Buya?"
Namun, Bunda Fatimah masih terdiam. Ia membaca ponselnya yang baru saja ia ambil dari Raihan.
"Hemmm ... berarti bunda yang bersalah, telah su'uzon pada Zaid dan Zahrana!" ucap Bunda Fatimah dengan menghamburkan dirinya pada pelukan Buya Harun Al Aziz.
"Tidak apa-apa, Bun. Kita adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Semua itu lumrah adanya. Wajar jika Bunda khawatir dengan keadaan dan keselamatan Puteri kita," ujar Buya Harun.
"Iya, Buya. Terimakasih sudah mengingatkan Bunda!" ucap Bunda Fatimah. Ia pun beranjak ke peraduannya. Begitu pun dengan Buya Harun, ia pun terlelap penuh dengan ketenangan dan perasaan bahagia dihatinya.
***
Di kediaman Sabrina Zelmira Al Aqra di kota S.
Zaid dan Zahrana nampak di interogasi dan di ceramahi oleh Fardhan Arkan yang merasa kurang berkenan dengan kebersamaan kedua anak muda tersebut malam-malam berduaan dalam satu mobil, melewati jalan jauh pula.
"Akh Zaid, sudah berapa kali aku tekankan tolong jaga jarak dengan adik ipar ku. Kemana saja kalian berdua hingga larut malam baru pulang?" tanya Fardhan Arkan dengan mimik wajah serius.
"Maaf, jika Mas Fardhan terlalu ikut campur dalam urusan pribadi mu. Namun, disini Mas bertanggung jawab penuh pada mu, Ra."
"Kalian berdua pun paham, jika berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya itu juga di larang oleh syari'at. sebab, dapat memicu godaan dan bisikan syaitan untuk kalian berbuat maksiat dan perzinahan!" ucap Fardhan dengan setengah emosi.
"Maaf Mas Fardhan, saya dan Zahra tidak melakukan apa-apa, saya benar-benar murni menemani Zahrana. Lantaran memang ada hal mendadak yang harus Zahrana selesaikan di desa XX," ucap Zaid dengan penuh kejujuran.
"Baiklah, jika ada urusan pribadi yang mendasarinya saya bisa memakluminya. Namun, lain kali jangan pernah di ulangi lagi. Lebih baik kalian segera menghalalkan hubungan kalian ke jenjang selanjutnya untuk menghindari segala bentuk fitnah!" tegas Fardhan yang memang berniat untuk menjodohkan Zaid sahabatnya dengan Zahrana adik iparnya.
"Insya Allah Mas, aku memang berniat untuk mempersunting adik ipar Mas. Namun, semua itu harus dengan persetujuan Zahrana. Semua itu tidak semudah untuk membalikkan kedua telapak tangan ataupun sekedar membalikkan badan. Semua itu butuh proses!" tegas Zaid dengan melirik sekilas wajah Zahrana yang nampak tegang oleh ceramah dari iparnya Fardhan Arkan.
Zahrana terdiam sesaat, "Ma-af Mas Fardhan, Kak Zaid. Zahra belum siap untuk menikah, pembicaraan kalian terlalu serius!" pungkas Zahrana yang tidak terima dengan penuturan Fardhan Arkan yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Kak Zaid, terimakasih atas tumpangannya. Ini jaket kakak, Zahra kembalikan! Zahra masuk ke kamar dulu! Susu jahe dan pisang gorengnya pun terima kasih!" ucap Zahrana dengan segera memasuki pintu kamarnya.
__ADS_1
Zahra pun meninggalkan Zaid dan Fardhan Arkan yang masih terpaku oleh penuturan Zahrana.
Sabrina pun segera menyusul Zahrana di bilik kamarnya. Zahrana pun melepaskan hijabnya juga pakaian muslimnya dengan gaun tidur YOU CAN SEE, sehingga membuat tubuh Zahrana pun terekspos dengan sempurna.
Zahrana pun gerah setelah seharian beraktivitas. Ia ingin menutup pintu kamarnya, namun kakaknya Sabrina menghampirinya.
"Dek, maafkan Mas Fardhan ya? Ia tidak bermaksud menyakiti hati mu, ia mengkhawatirkan keadaan mu! Karena Zahra adalah seorang gadis yang cantik jelita, kami khawatir jika sampai terjadi sesuatu dengan mu. Kami sangat menyayangi mu!" ucap Sabrina dengan memeluk dan mengelus pucuk kepala Zahrana.
"Iya, Kak. Terimakasih atas semua kebaikan dan perhatian Kak Sabri dan Mas Fardhan!" ucap Zahrana dengan senyum yang di paksakan.
Pasalnya, Zahrana masih syok. Ia belum siap untuk menikah di usianya yang ke 17 tahun. Ia berniat ingin menikah di usia 25 tahun. Oleh sebab itu, sampai detik ini Zahrana masih setia untuk menunggu kedatangan Yusuf Amri Nufail Syairazy untuk menjadi imam di masa depannya nanti.
"Baiklah, kakak tinggal dulu! kamu istirahat yang cukup. Besok harus bekerja lagi!" ucap Sabrina dengan berlalu pergi dari kamar Zahrana.
Zahrana menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya. Ia sangat kesulitan memejamkan matanya.
"Ya Allah ... kenapa aku selalu terngiang-ngiang dengan ucapan Mas Fardhan. Tidakkkk! Aku tidak siap untuk menikah muda!" pekik Zahrana.
***
Di ruang tamu.
"Hemmm ... ini gara-gara ucapan Mas Fardhan pakai ceramah di hadapan Zahrana. Ceramahnya ketus pula! emang Mas kira beli pakaian main nikah saja anak orang tanpa melewati proses," ucap Zaid dengan seringai wajah kesalnya.
Ingin rasanya Zaid meninju wajah Fardhan Arkan yang terlihat begitu santai setelah menceramahi Zahrana adik iparnya juga dirinya barusan.
"Dasar, wajah tanpa dosa!" pekik Zaid dengan melayangkan tinjunya di atas angin.
Sementara Fardhan terkekeh geli melihat ekspresi wajah Muhammad Zaid Arkana yang terlihat kalut lantaran khawatir dengan Zahrana. Zaid takut Zahrana menjauhi dirinya akibat bawa perasaan.
"Maafkan aku Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Muhammad Zaid Arkana.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉"Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama. Kalau sayang cukuplah doakan dunia dan akhirat untuknya, kalau cinta bimbinglah ia ke jalan yang benar. Bukan malah diajak kencan bareng. Siapa pun bisa jatuh cinta, tapi hanya orang yang kuat yang akan menjaga cinta itu tetap halal. Cinta sejati berarti saling membantu untuk menggapai surga, bukan saling berpegangan tangan dan berjalan menuju api neraka."