Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
142 . Berakhirnya Masa Putih Abu-abu


__ADS_3

📞 "Hello brother, jangan ganggu sepupu ku! Kami telah sampai dengan selamat," ucap Pramuja dengan menutup sambungan telfonnya.


Membuat yang melihatnya seketika spot jantungnya, sebab Pramuja mematikan telfon Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana sesuka hatinya.


"Mas Pra kok gitu, sih?" tanya Zahrana dengan wajah datarnya.


"Ini untuk kebaikan mu, Ra! Mas tidak suka melihat mu berdekatan dengan laki-laki manapun," ucap Pramuja tanpa filter.


"Mas Pramuja?" pekik Zahrana. Ia tidak suka dengan gaya Pramuja yang terlihat sekali terlalu mengekangnya. Hingga membuat Zahrana seketika mati rasa dengan keposesifan Pramuja terhadapnya.


Sementara Buya Harun dan Bunda Fatimah sudah masuk ke dalam rumah kakak Zahrana, yakni Sabrina Zelmira Al Aqra.


Pramuja dan Zahrana sendiri masih berdiri di pintu gerbang, mereka berdua sedang berdebat lantaran Pramuja tidak suka jika Zahrana berdekatan dan telfonan dengan sahabatnya Muhammad Zaid Arkana dihadapannya.


"Zahra, Mas minta maaf. Mas tidak bermaksud membatasi hubungan mu dengan siapa pun. Mas menyayangi mu!" ucap Pramuja dengan menarik Zahrana masuk ke dalam dekapannya.


Zahrana diam sejenak ketika berada dalam dada bidang Pramuja.


"Astagfirullah ... " Zahrana mendorong dada bidang Pramuja.


Zahrana terlihat gemetaran, 4 tahun ia tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki manapun setelah ia putus dengan Aslan Abdurrahman Syatir di masa Sekolah Menengah Pertamanya dulu dan hari ini pun ia tiba-tiba di buat terkejut atas perbuatan Pramuja terhadapnya.


"Jangan begini, Mas! Tidak baik, meskipun kita saudara sepupu, kita harus bisa menjaga batasan!" ucap Zahrana tertunduk malu mengingat perlakuan Pramuja terhadapnya.


Zahrana pun berlalu pergi dari hadapan Pramuja, ia pun langsung masuk kedalam rumah kakaknya, setelah pun ia mengucapkan salam.


"Zahrana tunggu!" pekik Pramuja dengan sejuta rasa dan seribu bunga-bunga cinta yang kini telah bermekaran di hatinya.


Zahrana tidak menoleh, ia pun meninggalkan Pramuja yang masih mematung di tempatnya.


Pramuja mengacak rambutnya kasar, "jika begini terus aku akan gila, kenapa aku bisa jatuh hati pada dirimu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Pramuja yang mulai risau dan bingung dengan perasaannya sendiri.


"Kenapa harus kamu yang menjadi pelabuhan cinta ku selanjutnya, Zahrana? kenapa kita harus terikat sebagai saudara sepupu? kenapa Zahrana?" Pramuja terus mencerca dirinya sendiri. Ia benar-benar terpikat oleh pesona Zahrana.


Pramuja pun segera menyusul Zahrana melenggang masuk ke dalam rumah Sabrina Zelmira Al Aqra, kakaknya Zahrana.


"Cucu nenek, sudah besar sekali!" ucap Bunda Fatimah dengan memeluk kedua cucunya, Yumna dan Shaka dengan bergantian.


"Nenek Yumna dan Shaka kangen Nenek dan juga Kakek!" ucap Shaka dan Yumna mencium punggung tangan dan memeluk Bunda Fatimah dan Buya Harun bergantian.


"Bunda dan Buya istirahat dulu!" ucap Sabrina dengan mempersilahkan Bunda Fatimah dan Buya Harun untuk duduk di sofa setelah perjalanan jauhnya.

__ADS_1


Sabrina pun beranjak ke dapur untuk menyuguhkan minuman dan camilan untuk kedua orangtuanya.


"Diminum dulu, Ayah-Bunda!" ucap Sabrina dengan penuh suka cita menyambut kedatangan orang tuanya.


Buya Harun dan Bunda Fatimah pun segera meminum teh tersebut juga mencicipi camilan yang di hidangkan oleh Sabrina.


Sementara Pramuja dan Zahrana baru masuk ke dalam rumah dan saling diam, membuat kedua orangtua Zahrana bertanya-tanya dalam hati dengan tingkah kedua anak muda itu.


Zahrana melenggang masuk ke dalam kamarnya tanpa mempedulikan Pramuja. Ia menghempaskan tubuhnya dikasurnya.


Zahrana merasakan sesak di dadanya dengan perlakuan saudara sepupunya terhadapnya.


Zahrana memegang dadanya. Entah debaran apa yang ia rasakan. Namun, ia merasa tidak tenang atas perlakuan Pramuja Wisnu Baskara.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Mas Pramuja? Kenapa ia bersikap begitu? Aku bukan anak kecil lagi, Mas Pra semestinya tidak memperlakukan aku seperti ini!" Zahrana terus bertanya-tanya didalam hatinya.


Zahrana ingin memejamkan matanya, namun bayang-bayang tentang Muhammad Zaid Arkana tiba-tiba muncul di benaknya.


"Astagfirullah ... kenapa aku mengingatnya lagi? Tidak aku tidak boleh lemah, di hatiku hanya ada kak Yusuf Amri Nufail Syairazy. Aku akan tetap menunggu kak Yusuf disini untuk ku," cicit Zahrana.


"Besok adalah hari pengambilan kelulusan ku, dan besok pula akan menjadi hari berakhirnya masa putih abu-abu ku. Setelah ini aku akan mencari pekerjaan dan aku akan tetap tinggal di kota S," bathin Zahrana penuh semangat dan suka cita menyambut hari kelulusannya di SMK NEGERI 1 XX esok hari.


"Ya Allah ... terimakasih atas hidayah mu untuk hamba yang dhoif ini, lewat untaian nasehat kak Yusuf juga guru Rohis ku Bu Azzura Fauziah Lashira aku bisa terus berproses seperti ini."


"Zahra, kenapa bersembunyi di bilik kamar? sebaiknya keluar dulu, Dek. Pramuja masih menunggumu di luar, ia hendak pamit pulang. sebab malam harinya ia hendak ronda malam lagi," ujar Sabrina.


Zahrana pun segera beranjak dari tempat tidurnya, ia melangkahkan kakinya keluar untuk menemui sepupunya Pramuja Wisnu Baskara.


"Zahra, kakak pulang dulu! jaga dirimu baik-baik," ucap Pramuja menatap ke arah Zahrana penuh arti.


Zahrana membalasnya dengan anggukan. Sampai akhirnya Pramuja tidak terlihat lagi dari pandangannya.


***


Keesokan harinya.


"Ayah-Bunda, Zahra berangkat ke sekolah dulu, ya?"


"Hari ini adalah hari pengambilan kelulusan kami, Zahra sudah tidak sabaran Ayah ingin melihat hasilnya."


"Iya, Nak. Insya Allah nanti sekitar pukul 08.00 wib Ayah menyusul," ucap Buya Harun lembut.

__ADS_1


"Baiklah, Zahra berangkat dulu!" ucap Zahrana dengan mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Ia pun mengucapkan salam dan segera berangkat menuju sekolahnya dengan naik angkutan umum.


"Sudah hendak berangkat, Dek?" tanya Sabrina menghampiri Zahrana adiknya, setelah mengurusi keperluan Yumna anaknya yang hendak berangkat ke sekolah dasarnya dengan di antar oleh Fardhan Arkan suaminya.


"Iya, kak. Zahra berangkat dulu!" ucap Zahrana seraya menyalami dan mencium punggung tangan kakaknya.


***


Di SMK Negeri 1 XX.


Zahrana nampak senyum sumringah, sebab ia lulus dengan nilai terbaik.


"Alhamdulillah ... Aku bisa menduduki peringkat pertama," bathin Zahrana penuh bahagia.


"Selamat, ya Nak! atas kelulusan mu, Buya bangga pada mu, Nak." Buya Harun mencium kening Puterinya.


"Nanti Zahra hendak melanjutkan studi kemana, Nak?" tanya Buya Harun dengan penuh pengharapan pada Puteri kesayangannya itu.


"Ma-af, Buya. Rencananya Zahra hendak mencari pekerjaan dulu di sini, untuk sementara Zahra tinggal di rumah kak Sabrina dulu, Yah."


"Kenapa tidak melanjutkan kuliah dulu, Nak? itu jauh lebih baik untuk masa depan mu," ucap Buya Harun.


"Untuk sementara, Zahra istirahat dulu, Zahra ingin mencoba bekerja dulu!" ucap Zahrana serius.


"Baiklah, Nak. Jika itu memang sudah menjadi pilihan mu," ucap Buya Harun dengan tertunduk lesu. Sebab, Zahrana kekeuh untuk tidak melanjutkan kuliahnya.


"Maafkan Zahra, Buya. Bukan Zahra tidak ingin kuliah, namun Zahra tidak ingin merepotkan dan memberatkan beban Ayah Bunda. Cukup fokus dengan sekolah Raihan dulu, bisa lulus dari SMK pun, Zahra sudah merasa bahagia, Buya."


Zahrana pun memeluk ayahnya dengan penuh kasih.


"Ayah, terimakasih atas perhatian, kasih sayang dan pengorbanan ayah selama ini." Zahrana menangis haru, ia merasa sangat bahagia dengan kelulusannya.


Buya Harun pun merasa bahagia sebab kini Masa Putih Abu-abu Zahrana berakhir sudah. Itu berarti semuanya tidak sia-sia," bathin Buya Harun.


Semua siswa-siswi SMK NEGERI 1 XX merasakan bahagia dengan kelulusannya masing-masing. Ada yang mencorat-coret seragam sekolahnya dengan warna-warni, bak gambaran pelangi yang muncul setelah hujan turun.


Hari ini menjadi hari berakhirnya masa putih abu-abu Zahrana dan teman-temannya. Mereka semua nampak tersenyum bahagia dengan keberhasilan masih masing-masing.


"Ya Allah ... terimakasih atas semua nikmat yang telah engkau anugerahkan kepada kami ya Rabb. Nikmat sehat dan juga yang lainnya. Jika semua kebutuhan yang kami perlukan sudah tersedia dengan sebagai mana mestinya, lalu nikmat tuhanmu yang manakah yang hendak kau dustakan?" cicit Zahrana.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Pencerahan 👉 “ Bila kita dongkol dan tak menyukai pemarah, maka berjuanglah sekuat tenaga untuk tak jadi pemarah, karena bila sama-sama pemarah maka kita sama-sama tak disukai. Dimana ada keinginan disana ada jalan, dimana tekad kian membaja rintangan tak akan jadi penghalang, kesuksesan kian menjelang. Kita tak memiliki apapun dan tak dimiliki siapapun selain milik Allah. Hidup di dunia hanyalah mampir sejenak, mencari bekal untuk pulang dan menanti saat maut atau ajal menjemput."


__ADS_2