
"Ummi ... Abi, kok berdiri di sini! kenapa tidak menghampiri Ammah Zahra? Itu tangan Ammah sudah selesai diobati oleh Ammi," ucap Yumna yang baru keluar dari kamarnya setelah mendengar kegaduhan yang terjadi di dapur.
Zahrana dan Zaid pun menoleh ke sumber suara.
"Kak Sabri, Mas Fardhan!" pekik Zahrana kaget.
Sabrina dan Fardhan menampakkan senyum devilnya, sedangkan Zahrana merasa spot jantungnya. Ia malu dan khawatir jika kedua kakaknya itu memperhatikan adegannya bersama Muhammad Zaid Arkana yang terkesan romantisme itu, seperti yang di ucapkan oleh Shaka keponakannya.
"Hemmm ... ma-af, jika kita hanya menjadi penonton saja. Sebab kakak lihat sudah ada pangeran yang menyelamatkan Puteri Cinderella yang sedang terluka," goda Sabrina dengan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V yang di tujukan pada Zahrana adiknya.
"Kak Sabri," ucap Zahrana tersipu malu.
Wajah Zahrana bersemu merah oleh godaan kakaknya itu. Ia pun langsung berlari menuju kamarnya, lantaran malu tertangkap basah berduaan dengan Muhammad Zaid Arkana. Walaupun hal itu tidak disengaja cukup membuat Zahrana merasa malu pada semuanya. Ia merasa tertangkap basah sedang mencuri sesuatu.
Sabrina mengejar adik kesayangannya itu, sedangkan Fardhan dan Zaid kompak membersihkan serpihan gelas yang berserakan di lantai.
"Hemmm ... bagaimana Akh Zaid? dengan wasilah pecahan gelas, nampaknya hilal mulai terlihat. Saya yakin, anta bisa menyentuh hati adik ipar ku. Semoga saja kalian berjodoh," ucap Fardhan dengan menepuk pundak Muhammad Zaid Arkana.
"Insya Allah, Mas. Semoga Allah meridhoi seiring berjalannya waktu," ucap Zaid dengan perasaan yang bahagia dan penuh harapan pada sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra.
Wasilah pecahan gelas, ternyata memiliki hikmah tersendiri untuk Muhammad Zaid Arkana terus meyakinkan hatinya untuk memilih Zahrana menjadi sosok wanita pilihan hatinya, untuk menyempurnakan setengah agamanya nanti.
"Ya Allah ... izinkan Zahrana menjadi sosok Bidadari dunia dan akhirat hamba nantinya. Izinkan hamba bisa bersanding dengannya dalam menyempurnakan separuh agama hamba ya Allah!" Do'a Muhammad Zaid Arkana didalam hatinya.
Pecahan gelas itu pun bersih dipungut oleh MZ Arkana dan dibungkus olehnya di tempat khusus. Ia tidak ingin membuang pecahannya sembarangan, agar tidak terinjak oleh orang lain yang sedang lewat.
"Mau dibawa kemana pecahan gelasnya, Akh? Buang saja ditempat sampah, nanti akan ada petugas kebersihan yang mengambilnya!" ucap Fardhan Arkan.
"Iya, Mas."
Zaid segera keluar pekarangan rumah tersebut, ia bukan membuang pecahan gelas itu ke tempat sampah. Malah ia simpan bungkusan pecahan gelas itu di dashboard mobilnya.
"Biarlah nanti aku taburkan pecahan gelas ini dipot tanaman yang ada di rumah ku. Agar setiap hari aku bisa melihat pecahan gelas ini. Sebab wasilah pecahan gelas ini pula aku bisa merasakan kedekatan bersama sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra," cicit Muhammad Zaid Arkana.
"Astagfirullah ... Apakah aku benar-benar sudah gila? pecahan gelas pun hendak di simpan," bisikan hati Muhammad Zaid Arkana. Ia merasa sangat bodoh dan menertawakan dirinya sendiri.
"Ya Allah ... inikah rasanya tersentuh rasa, orang yang sehat pun di buat gila karenanya. Yang sakit pun seketika sembuh, yang buruk pun seolah terlihat baik. Sungguh, aku tidak menyangka hatiku bisa tersentuh olehnya."
Zaid terus bermonolog di dalam hatinya, ia senyum-senyum sendiri. Ia nampak seperti orang yang kehilangan warasnya ketika berhadapan dengan sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra.
***
Di dalam bilik kamar.
"Dek, ma-afkan kakak ya? bukannya kakak tidak mau membantu kesulitan mu tadi. Kakak kira Muhammad Zaid Arkana sepertinya menaruh hati pada mu, Dek. Sangat kentara sekali dari binar matanya."
"Zaid pemuda yang Sholih, ia belum pernah dekat dengan wanita manapun. Banyak wanita yang ingin ta'arufan dengannya, namun ia tidak pernah tertarik dengan wanita manapun, baru dengan mu ia mendadak perhatian seperti ini!" ucap Sabrina dengan memeluk erat Zahrana adiknya.
__ADS_1
"Ta-tapi, Kak. Zahra sudah memiliki pilihan sendiri, Kak. Sampai hari ini Zahra masih terus menunggu kehadirannya. Ia sudah berjanji akan datang menemui Zahrana, ia akan melamar Zahra nantinya di hadapan Buya Harun, Kak."
"Zahra mencintai Kak Yusuf," ucap Zahrana dengan meneteskan air matanya.
"Maafkan kakak dan Mas Fardhan ya, Dek. Kami tidak tahu jika ada pemuda yang hendak kau tunggu. Kakak tidak memaksakan mu untuk menerima Zaid di dalam hatimu, namun jodoh, rezeki dan maut kita telah Allah tentukan. Terlepas dari siapa pun jodoh mu nanti, semoga ia adalah jodoh terbaik yang Allah pilihkan untukmu. Dan tentunya bisa menjadi sosok imam yang baik, yang bisa membimbing mu hingga ke Jannah-Nya!" ujar Sabrina seraya mengecup kening Zahrana.
"Terimakasih, Kak. Insya Allah kak Yusuf adalah pemuda yang Sholih," ucap Zahrana dengan mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Zahrana benar-benar menjaga hatinya untuk Yusuf Amri Nufail Syairazy. Ia benar-benar terus berusaha menjaga hatinya hanya untuk satu hati.
"Baiklah, apa kamu sudah sholat Zuhur? sebab tadi habis bangun tidur kakak lihat kamu langsung ke dapur, juga membantu kakak berbenah. Kakak tidak melihat mu mengambil wudhu dan shalat?" tanya Sabrina penuh keseriusan.
"Biasalah, Kak. Tamu bulanan baru hadir dua hari yang lalu," ucap Zahrana seraya nyengir kuda.
"Ya sudah, kalau begitu Zahra keluar dulu! minta maaf sama Akhi Zaid dan berterimakasih padanya, karena ia telah membantu mengobati luka mu!" ucap Sabrina dengan menggenggam tangan adiknya.
Mereka pun segera beranjak keluar menemui Muhammad Zaid Arkana.
***
"Mas Fardhan, sepertinya aku hendak pamit. Mau bertebaran di muka bumi dulu, buat mencari berkahnya. Mana tahu hasil rezekinya bisa di simpan untuk melamar bidadari syurga ku," ucap Zaid di selingi candaan. Namun, ditujukan untuk Zahrana.
"Hemmm ... dengan wasilah pecahan gelas? sepertinya jiwa lelakimu mulai terlihat." Fardhan menepuk pundak MZ Arkana. Kemudian mereka berdua pun saling merangkul satu sama lainnya.
Muhammad Zaid Arkana hendak melangkahkan kakinya keluar, ia ingin segera kembali ketempat kerjanya. Membuka toko buahnya yang hampir 3 jam ia tinggalkan setelah sholat Jum'at dan bertandang kerumah kakak ipar Zahrana.
Zaid menoleh.
"Iya, Kak Sabri."
"Kok buru-buru sekali!" ujar Sabrina lagi.
"Zaid hendak membuka toko buah, Kak. Sudah hampir 3 jam ditinggalkan," ucap MZ Arkana.
"Aku pamit dulu, Kak!" ucap Zaid seraya menelungkupkan tangannya di dadanya.
Sabrina pun balik menelungkupkan tangannya.
Zaid hendak berpamitan dengan Zahrana, namun Zahrana sudah lebih dulu menyapanya.
"Hati-hati Kak Zaid! terimakasih sudah mengobati Zahra," ucap Zahrana singkat.
"Sama-sama, Dik Zahra." Zaid menatap sekilas Zahrana.
Sementara Zahrana menampakkan senyuman manisnya. Ia pun kemudian menundukkan pandangannya.
"Assalamu'alaikum ... " pamit Muhammad Zaid Arkana sebelum beranjak pergi.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab Zahrana bersama dengan Sabrina dan Fardhan kakak iparnya.
"Ammi Zaiddd ! sudah hendak pulangkah?" pekik Shaka yang baru keluar dari dalam rumahnya, setelah sibuk bermain dengan kakaknya Yumna, setelah insiden serpihan gelas yang melukai jemari tangan Zahrana.
Zaid melambaikan tangannya dari dalam mobilnya, dan tersenyum manis ke arah Shaka yang merengek memanggil namanya.
"Ammi ... nanti main lagi kemari ya!" ucap Shaka setengah berteriak.
Zaid mengangguk pelan. Kemudian, ia pun hilang dari pandangan Zahrana dan keluarganya.
***
"Kring ...."
"Kring ...."
"Kring ...."
Zahrana menekan tombol hijau, ia pun segera menjawab deringan ponselnya.
📞 "Assalamu'alaikum ... My sepupu," ucap seseorang diseberang telfon.
📞 "Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... Mas Pramuja Wisnu Baskara," jawab Zahrana.
📞 "Kamu dimana? Bidadari Syurganya Buya Harun dan Bunda Fatimah?" tanya Pramuja dengan nada serius.
📞 "Zahra di rumah Kak Sabrina. Ada apa Mas Pra?"
📞 "Mas jemput kamu, ya?"
📞 "Memangnya hendak kemana, Mas?
📞 "Ya, kerumah Mas lah. Disini ada Buya Harun dan Bunda Fatimah, barusan mereka sampai di sini. Sekalian kita kumpul bersama, sudah lama kita tidak kumpul keluarga seperti ini."
📞 "Baiklah, Mas. Jika ada Buya dan Bunda, Zahra mau Mas. Zahra tunggu kedatangannya."
📞 "OTW ... my sepupu!"
Pramuja menutup telfonnya, ia merasa bahagia sebab hendak menjemput adik sepupunya itu. Entah kebahagiaan apa yang ia rasakan, namun ia nampak ceria dan bersemangat sekali.
"Zahra, kau memang adik sepupu ku. Akan tetapi aku tidak tahu kenapa hatiku berpihak pada mu?" bisikan hati Pramuja Wisnu Baskara yang mulai gila dan di rundung keresahan.
Pramuja Wisnu Baskara memang sosok laki-laki playboy. Namun, ia tetap rajin menjalankan kewajibannya sebagai pemuda muslim. Akan tetapi, sulit baginya untuk meninggalkan kebiasaan buruknya itu.
"OMG ... jangan sampai aku jatuh hati dengan adik sepupu ku sendiri, ini benar-benar gila," bathin Pramuja Wisnu Baskara.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉 "Sebuah hubungan cinta hanya dapat dijalani oleh dua pihak, bukan tiga atau lebih. Cinta yang sesungguhnya akan membawamu pada sosok yang kau butuhkan. Kebimbangan hati dalam memilih kerap datang mengisi hati. Pilih ia yang serius, bukan hanya sekadar singgah."