
Zahrana mengikuti langkah kaki Zaid, ia pun kembali melayani Dokter Rufaidah dan Zainal yang masih berada di Aisyah Boutique Collection.
Zaid tidak banyak bicara, pasalnya ia cemburu dengan kedekatan Zahrana dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy. Meskipun ia tahu, Zahrana dan Yusuf memang dari sejak mula saling mengagumi. Tetap saja Zaid memiliki kecemburuan terhadap sosok pemuda yang telah berhasil menyentuh hati Zahrana.
"Maafkan hamba ya Rabb, sungguh ... hamba benar-benar tak rela melihat Zahrana bersama yang lain, hamba tidak sanggup harus kehilangannya, meskipun kerap kali ia menolak rasa ku. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mendekatinya, sebelum janur kuning itu pun melengkung!" bathin Zaid dengan rasa cemburunya.
Jika perasaan cinta Yusuf dan Zahrana telah mencapai ubun-ubun. Maka, kecemburuan Zaid pun sudah hampir pecah, bahkan melewati ubun-ubun, diluar jangkauan.😅😅
"Kak Rufaidah, Zainal, bagaimana sudah selesai memilih kado pernikahannya?" tanya Zahrana.
"Sudah, aku pilih mushaf Al-Qur'an yang ini sama sajadah yang ini." Zainal menunjukkan pilihannya. Zahrana pun sigap melayani Zainal.
"Baiklah, tunggu sebentar! aku bungkuskan dulu paket mukena Turki dan mushaf beserta sajadahnya dalam satu bingkisan ya?" ucap Zahrana meminta persetujuan Zainal
"Iya, silahkan!" pungkas Zainal.
Zahrana pun dengan telaten membungkuskan kado tersebut, tidak butuh waktu lama bingkisan itu pun selesai.
"Taraaa ... paketnya sudah selesai! bagaimana, apa kau suka?" tanya Zahrana dengan senyum sumringahnya.
Zainal dan Rufaidah saling berpandangan. Mereka berdecak kagum dengan hampers yang dibuatkan oleh Zahrana.
"Maa syaa Allah, cantik sekali Dek! kau memang berbakat," puji Rufaidah. Membuat Zahra merasa tersanjung oleh pujiannya.
"Terima kasih, Kak. Zahra juga baru belajar semenjak satu bulan terakhir bekerja disini," pungkas Zahrana dengan rendah hati.
"Iya, Ra. Benar, kata kak Aida, hampersnya bagus. Nandini pasti menyukainya," pungkas Zainal. Dalam pikirannya selalu tertuju pada Nandini Sukma Dewi.
"Insya Allah, Nal. Nandini pasti akan menyukainya," ucap Zahrana dengan memberikan support untuk Zainal.
"Terimakasih Ra, atas semua dukungan mu!" ucap Zainal mencoba untuk tersenyum walau sebenarnya hatinya kecewa jika Nandini akan segera menikah dengan Arjuna.
__ADS_1
"Sama-sama, Nal. Tetap semangat, dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sejatinya, jodoh, rezeki, dan maut kita telah ditentukan oleh Allah subhanahu wata'ala. Insya Allah semua yang telah ditakdirkan oleh Allah adalah hal yang terbaik untuk kita. Tetap sabar dan ikhlas menjalani segala proses kehidupan kita, yakinlah bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. Allah pasti akan menggantikan dengan yang lebih baik dari apa yang kita minta, yakinlah akan ada bahagia yang menyapa kita setelah seribu duka yang kita lewati. Sehingga membuat diri kita terpana dan melupakan segala rasa sakit." Zahrana terus memberikan motivasi pada Zainal agar tidak berputus asa.
Zainal mendengarkan untaian nasehat dari Zahrana dengan seksama. Ia merasa sangat beruntung mempunyai teman sebaik Zahrana.
Sedangkan, Rufaidah dan Zaid juga ikut mendengarkan untaian mutiara hikmah yang disampaikan oleh Zahrana pada Zainal. Keduanya pun tampak terkesima mendengarkan penuturan Zahrana.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra sungguh diriku semakin mengagumi mu. Namun, mengapa begitu sulit bagiku untuk menyentuh hati mu! hatimu telah dimiliki olehnya. Entah bagaimana lagi cara ku untuk merebut hati mu agar berkenan menerima diriku untuk mu!" bathin Zaid dengan nada pilunya.
"Maa syaa Allah ... dirimu sungguh luar biasa, Dek. Aku kagum pada mu, pantas saja pemuda yang bernama Yusuf tadi sangat mengagumi dan perhatian pada mu. Kalian memang pantas berjodoh!" sarkas Rufaidah memberikan pujian pada Zahrana, membuat hati Zaid semakin tercubit.
Zaid didera rasa cemburu yang amat sangat pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy yang telah berhasil merebut hati Zahrana. Hingga tak tersisa sedikit rasa dan kesempatan untuknya memiliki sosok Zahrana wanita yang sangat dicintainya.
"Rufaidah, kenapa kau pun mendukung Zahrana dan Yusuf? tidakkah kau tahu betapa perihnya hatiku!" bathin Zaid tak terima jika Rufaidah menyebut-nyebut nama Yusuf dihadapannya.
Sementara Zahrana berusaha untuk tetap rendah hati mendengar ucapan Rufaidah. Ia tidak ingin terlihat besar kepala oleh pujian Rufaidah terhadapnya. Baginya, bisa menjadi sosok istimewa di hati seorang Yusuf itu adalah karunia yang sangat luar biasa.
"Terima kasih kak Rufaidah, Zahra do'akan semoga kakak pun mendapatkan jodoh yang baik, yang bisa membimbing kakak di dunia hingga akhirat!" ucap Zahrana dengan melirik kearah Muhammad Zaid Arkana.
Sementara Zaid, masih dalam kegamangannya. Ia sangat tertarik dengan Rufaidah namun dihatinya masih ada Zahrana. Entah hanya karena terpesona dengan kecantikan Zahrana, entah karena cinta atau bukan. Namun, Zaid masih kekeuh untuk terus mengejar Zahrana.
Setelah berbasa-basi, Rufaidah dan Zainal pun segera beranjak dari Aisyah Boutique Collection. Sebab, pukul 09.00 dokter Rufaidah sudah harus stand by di RS Medika. Untuk menjalankan tugasnya sebagai dokter spesialis kandungan seperti biasanya.
"Oh, iya. Kami pamit dulu, sampai bertemu kembali!" ucap Rufaidah dengan melirik sekilas wajah Zaid.
Zaid pun mengangguk pelan. Begitu pun Zahrana, ia pun kembali melakukan aktivitasnya di Aisyah Boutique Collection, setelah kepergian Rufaidah dan Zainal.
***
Singkat cerita.
Waktu sudah menunjukan pukul 15.30 wib, Zahrana sudah selesai shalat Ashar. Ia tampak sudah bersiap-siap untuk menunggu kedatangan Yusuf bersama dengan kedua orangtuanya, untuk menjemputnya sore ini.
__ADS_1
Zaid yang baru pulang dari Mesjid pun kembali ke Aisyah Boutique Collection, ia berniat ingin mengantarkan Zahrana untuk pulang ke desanya.
Mobil milik Zaid pun berhenti tepat di depan Zahrana. Zaid segera turun dari mobilnya, "Ra, mari kakak antarkan dirimu pulang. Kau masih menjadi tanggung jawab kakak sepenuhnya," ucap Zaid dengan refleks menarik pergelangan tangan Zahrana untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
"Maaf, Kak. Zahra sudah janji untuk menunggu kak Yusuf di sini! maaf, kita juga bukan mahram. Mestinya, kakak tidak seharusnya menggenggam tangan Zahra seperti ini!" tegas Zahra. Ia pun melerai genggaman tangan Zaid terhadapnya.
"Maafkan aku Ra, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi terhadap mu. Berkali-kali, dirimu selalu menolak ku. Dengan apa lagi aku harus membuktikan atas segala rasa ku terhadap mu, Ra?" tanya Zaid dengan setengah frustrasi.
"Aku benar-benar mencintaimu Ra, sangat mencintai mu!" ucap Zaid dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Zahrana mematung ditempatnya, ia tidak bisa harus berucap apa-apa lagi. Ada rasa tak tega dihatinya melihat Zaid yang terus berharap agar dirinya berkenan untuk menerima sosok pemuda itu dalam hidupnya.
"Kak Zaid, maafkan Zahra kak. Bukan niat Zahra untuk menyakiti kakak terus menerus. Namun, dihati Zahra sudah ada dirinya yang dari sejak mula hingga detik ini, masih bertahta di hatiku. Maafkan aku, Kak!" ucap Zahrana dengan meremas jemari tangannya sendiri. Ia tidak ingin terus-menerus membuat Zaid berharap padanya.
"Tapi, Ra. Kakak tidak ikhlas dan tidak rela melihat dirimu bersamanya. Jujur, kakak cemburu melihat kau terus menerus menyebut namanya dihadapan ku!" ucap Zaid dengan perasaan bergemuruh dihadapannya.
"Maafkan Zahra, Kak. Kakak pantas mendapatkan yang lebih baik daripada Zahra, Kak."
"Hanya dirimu yang terbaik bagi kakak, Ra!" pungkas Zaid dengan terus mengharapkan cinta Zahrana.
"Astaghfirullah ... jangan begini, Kak! jangan terlalu berharap pada makhluk, aku hanya insan biasa yang juga penuh syarat kekurangan. Di luar sana, Zahra yakin banyak sekali wanita shalihah yang sangat mendamba sosok kak Zaid."
Zahrana benar-benar kehabisan cara untuk meyakinkan Zaid, bahwa dirinya benar-benar tidak bisa untuk menerima cinta seorang Muhammad Zaid Arkana.
Di tengah ketegangan mereka, sebuah mobil Honda jazz putih tepat berhenti di hadapan mereka. Nampaklah pemuda tersebut turun dari mobil yang ia kendarai. Sehingga, membuat Zahrana terpana dengan sosok pemuda yang terlihat sangat religius tersebut.
"Maa syaa Allah, kak Yusuf!" bathin Zahrana.
Melihat kehadiran Yusuf, Zaid pun semakin didera rasa cemburu, terhadap sosok pemuda tersebut.
💔💔💔
__ADS_1
Untaian mutiara hikmah 👉"Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya. Untukmu yang selalu kusebut dalam doa, izinkan aku menjadi bagian dari hidupmu. Seorang pria mendambakan wanita yang sempurna dan begitu juga wanita mendambakan sosok pria sempurna, namun mereka tidak tahu bahwa Allah telah menciptakan mereka untuk saling menyempurnakan satu sama lain."