
Matahari telah hampir terbenam di ufuk barat, Zahrana dan teman-temannya hendak kembali pulang ke rumah masing-masing.
Hari ini Zahrana tetap di antara pulang oleh Aslan Abdurrahman Syatir. Sebab yang membawa Zahrana ke Pantai Kenangan Indah Bersama adalah Aslan, maka ia pula yang bertanggung jawab untuk mengantarkannya pulang dengan selamat sampai tujuannya.
Sepanjang perjalanan Zahrana dan Aslan hanya saling diam, hanya deru kendaraan yang menderu seolah menjadi saksi rasa yang asing di antara keduanya.
Mereka seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal apalagi pernah saling mencintai. Semua berubah, setelah janji cinta itu pun terlerai.
Kini mereka tak ubah hanya seperti patung yang diam tanpa bergeming, tidak ada lagi canda tawa, sentuhan manja dan kemesraan itu pun telah sirna yang ada hanya keheningan yang tercipta di antara keduanya.
"Ya Allah ... kenapa semuanya terasa asing? tak kulihat lagi keceriaan di wajah mu kak, sungguh tak ada lagi canda tawa dan kata-kata yang lembut dan manis itu juga perhatian mu tak lagi kurasakan. Maafkan aku kak, telah pun menoreh luka di hatimu!" Zahrana ingin menangis sebab sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, tanpa bicara sepatah katapun.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra ... kukira selamanya kau akan menjadi milik ku, namun hari ini semuanya pun berakhir sudah. Janji yang dulu pernah terucap kini pun terlerai sudah. Ku kira kau adalah lentera yang senantiasa menyinari relung jiwa ku namun cahaya itu pun kini lenyap dalam kegelapan. Dirimu kini bukanlah Zahrana yang ku kenal dulu. Kau telah berubah, Ana!" bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir.
Aslan benar-benar terluka dan kecewa oleh Zahrana. Zahrana pun demikian ia merasa bersalah terhadap Aslan Abdurrahman Syatir.
"Jika ku tahu semuanya akan berakhir begini, tak ingin ku membuka tirai hatiku untukmu kak Aslan! Maafkan aku yang tak bisa meneruskan hubungan ini," bisikan hati Zahrana.
Keduanya pun saling terdiam tanpa bicara sepatah katapun. Aslan terus mengendarai laju motornya. Ia menatap lurus kedepan, semuanya benar-benar berubah dan rasa yang asing benar-benar menyelimuti keduanya.
***
"Hubby, coba lihat Zahrana dan Kak Aslan mereka seperti orang asing saja. Biasanya mereka berdua begitu romantis sekali, itu jarak duduknya bisa pula di taruh galon ditengahnya," ucap Nandini seraya bertengger di pundak Arjuna.
Mereka berdua memang sengaja melajukan kuda besinya dengan kecepatan rendah, mengikuti Aslan dan Zahrana dari belakang. Mereka khawatir terjadi apa-apa dengan Zahrana dan Aslan, mengingat keduanya sedang di landa putus cinta.
"Namanya orang sedang patah hati ya memang begitu honey bawaannya. Aku pun jika patah hati pada mu pasti akan melakukan hal yang sama, hidup segan mati tak mau!" seloroh Arjuna.
"Berarti jika kita putus dirimu akan lebih gila dari kakak ku, Hubby?"
"Tentu saja Honey, aku tidak sanggup kehilangan dirimu!" ucap Arjuna seraya menggenggam jemari tangan Nandini Sukma Dewi.
"Ceeilee ... gombalnya kagak ketulungan, Mas!" ucap Nandini seraya menggoda Arjuna kekasihnya.
Sementara dari arah belakang, teman-teman mereka yang lain pun saling berderet rapi mengendarai kendaraan mereka bersama pasangannya masing-masing.
"OMG ... Pangeran Arjuna dan Puteri Nandini, lelet sekali laju motornya. Seperti jalan keong saja!" sungut Fadhilah sembari asyik ngemil Snack kentang disepanjang perjalanannya. Semenjak bersama Virgantara tidak henti-hentinya ia ngemil berbagai macam cemilan.
"Berisik sekali anak cerewet, wajahnya saja yang manis. Tapi mulutnya cerewet," seloroh Virgantara di sela-sela laju motornya.
"Apa? loe bilang gue cerewet," Fadhilah menggelitiki pinggang Virgantara.
"Am-ampun deh, gadis kecil ku!" ucap Virgantara sengaja untuk menggoda Fadhilah di sela-sela laju motornya.
Seketika Fadhilah menghentikan pergerakannya menggelitik Virgantara. Ada rasa yang tak biasa yang bertumbuh dan bermekaran di hatinya, ketika Virgantara menyebutnya dengan kata 'gadis kecilku'.
__ADS_1
"Ya Allah ... mungkin kah aku benar-benar jatuh hati dengan pria dewasa ini. Aku benar-benar jadi seperti Zahrana," cicit Fadhilah dalam hatinya.
Lamunan Fadhilah pun buyar, ketika mendengar pekikan Nandini Sukma Dewi.
"Woiiii ... hati-hati ntar bucin!" pekik Nandini Sukma Dewi, dengan laju kendaraan mereka yang kini saling beriringan.
"Apaan sih loe, Din." Fadhilah nampak grogi, sedangkan Virgantara hanya melemparkan senyumannya.
Sementara dari arah belakang, menyusul lagi Cinta dan Rangga Sahadewa. Rangga pun perlahan melajukan motor Alfa Champ-nya dengan kecepatan rendah, mengimbangi laju motor Arjuna dan Virgantara. Diantara kendaraan motor mereka hanya motor Rangga yang paling legendaris dan sederhana, sedangkan yang lainnya menggunakan motor gede semua.😁😁
"Itu pasangan yang paling hits hadir kembali!" seloroh Nandini Sukma Dewi, sehingga membuat wajah Cinta Kiara Khoirani nampak bersemu merah oleh guyonannya. Laju motor mereka kini lebih cepat didepan Nandini dan Arjuna.
Sementara dari arah belakang menyusul pula Rivandra Dinata Admaja bersama Kirana Larasati dengan gaya yang paling memukau, sebab Kirana Larasati tanpa sadar terlelap di pundak Rivandra dengan posisi tangannya memegang erat pinggang Rivandra Dinata Admaja.
Getaran rasa tiba-tiba menyelimuti hati Rivandra Dinata Admaja yang sebelumnya sempat patah hati dan terluka oleh Tsamirah Zahrana Az Zahra.
"Ya Allah ... benarkah aku jatuh hati pada mu Kirana Larasati," bisik hati Rivandra Dinata Admaja.
"Jika ini memang benar adanya aku akan tetap menjaga hati ini sampai nantinya kita bersua kembali dalam masa 7 tahun kedepan setelah aku menyelesaikan studi ku di Ibukota Jakarta." Rivandra pun terus bermonolog di dalam hatinya.
"OMG ... Hubby, coba lihat kak Rivandra dan Kirana mereka berdua tampak mesra sekali. Apa mereka benar-benar sudah jadian?" Nandini menepuk pundak Arjuna agar menoleh kearah belakang, untuk melihat keromantisan Rivandra dan Kirana Larasati.
"Aku lihat lewat kaca spion aja honey," ucap Arjuna.
"Wowww ... Aku benar-benar tidak menyangka jika Rivandra sepupu ku bisa romantis begitu dengan Kirana Larasati. Berarti ia sudah move on dari Zahrana," ucap Arjuna Restu Pamungkas.
Nandini dan sahabat-sahabatnya pun kini melaju kuda besinya dengan kecepatan standar seraya memantau perkembangan Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir apa mereka berdua baik-baik saja.
Selang berapa menit kemudian, segerombolan anak-anak remaja itu pun sudah sampai di Desa tempat tinggal Zahrana. Mereka pun mengantarkan pasangannya kerumahnya masing-masing.
***
Aslan menepikan kuda besinya, Zahrana pun segera turun dari boncengan Aslan Abdurrahman Syatir. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari kedua lisan mereka berdua.
Aslan dan Zahrana sama-sama terdiam, sampai akhirnya Zahrana ingin melintasi jalan raya untuk menuju kediamannya barulah Aslan mengeluarkan suara emasnya.
"Hati-hati!" ucap Aslan, tanpa sedikitpun melihat rona wajah Zahrana. Ia tidak sanggup melihat gadis kecil yang dulu pernah mengisi hari-harinya kini pun telah berstatus menjadi mantannya.
"Iya ... " ucap Zahrana seraya melirik sekilas ke arah Aslan. Namun Aslan sama sekali enggan melirik ke arahnya. Sampai akhirnya Aslan melajukan kembali kuda besinya, hingga punggung Aslan tidak terlihat lagi oleh Zahrana.
"Ya Allah ... seperih ini kah rasa di hati ketika di acuhkan oleh seseorang yang pernah mengisi hari-hari kita? maafkan aku kak Aslan sebab telah menghancurkan hatiku hingga luka itu pun begitu membekas di hati mu, membuat sikapmu menjadi dingin seperti ini."
"Sungguh ada rasa yang asing di hati ku melihat kenyataan antara aku dan dirimu kini sudah tak sehaluan lagi," bisik hati Zahrana dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca.
Zahrana pun berlari melintasi jalan raya. Ia pun segera menuju ke halaman rumahnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ... " Zahrana memberi salam pada seisi rumahnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab penghuni rumah serempak.
"Zahra ... kamu sudah pulang, Nak?" tanya Bunda Fatimah seraya merangkul Puterinya.
Zahrana pun langsung mencium punggung tangan Ayah dan Bundanya.
Di dalam pelukan sang Bunda, Zahrana menumpahkan air matanya. Ia menangis senggukan, mengingat dosa-dosa yang pernah di perbuatnya.
Zahrana merasa berdosa, sebab selama ini telah menempuh jalan pacaran tanpa sepengetahuan Ayah dan Bundanya. Hingga berujung ia melakukan perbuatan yang tidak dihalalkan bersama Aslan yang pernah menjadi kekasihnya.
"Kenapa Zahra menangis?" tanya Bunda Fatimah seraya menyeka air mata Puterinya.
Buya Harun nampak berpikir keras ketika melihat permata hatinya, pulang-pulang tiba-tiba langsung menangis. Apalagi sudah sore hari baru pulang setelah acara perpisahan sekolah di SMP negeri 3 XX.
Manik mata Buya Harun tertuju pada jaket yang di kenakan oleh Zahrana, jaket yang tidak asing lagi dalam pandangan Buya Harun.
"Bukankah itu jaket nak Yusuf? kenapa bisa ada di Puteri ku," gumam Buya Harun dalam hatinya.
"Apa yang telah terjadi? kenapa Puteri ku pulang-pulang dalam keadaan menangis?" Buya Harun terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Sementara Zahrana masih tetap menangis. Ia sedikitpun tidak mampu berbicara sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Sang Bunda.
Sampai akhirnya Raihan adiknya menghampiri Zahrana, Bunda Fatimah juga Buya Harun.
"Ya Allah kak Zahra, manja amat. Sudah besar juga kak, masih nangis-nangis di pelukan Bunda. Seperti anak kecil saja," seloroh Raihan.
Zahrana masih tetap saja menangis dalam pelukan Bundanya. Hingga membuat Bunda Fatimah dan Buya Harun merasa cemas melihat Puterinya terus menangis.
"Biasalah Bunda, paling kak Zahra sedang patah hati." Raihan keceplosan, hingga membuat Bunda Fatimah semakin khawatir dengan apa yang di ucapkan oleh Raihan.
Raihan pun spontan menutup mulutnya, khawatir jika Ayah dan Bundanya bertanya yang tidak-tidak perihal Zahrana yang memang telah menempuh jalan pacaran.
Mendengar ucapan Raihan, Zahrana melepaskan pelukannya dari sang Bunda. Zahrana baru menyadari jika ia terlalu berlebihan hingga membuat seisi rumah khawatir olehnya.
''Ayah Bunda, maafkan Zahra jika ada ucapan dan tingkah laku Zahra selama ini kurang berkenan di hati Ayah dan Bunda. Zahra istirahat di kamar dulu," ucap Zahrana seraya berlalu menuju bilik kamarnya.
Tidak sedikit pun pertanyaan kedua orangtuanya atau pun Raihan dijawab oleh Zahrana.
"Ya ... berlalu begitu saja, padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin Raihan lontarkan," ucap Raihan penuh keseriusan.
Sementara Bunda Fatimah dan Buya Harun, hanya menggeleng kepalanya melihat Interaksi kedua anaknya .
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan👉“Jangan terlalu keras memaksa diri sendiri, sebab hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya.” - Umar bin Khattab