
"OMG ... imutnya," ucap Fadhillah keceplosan. Sehingga terdengar oleh penjual buah tersebut.
Pemuda itu pun tersenyum manis pada Zahrana dan teman-temannya.
Menyadari siapa yang kini berada di hadapannya, Zahrana pun di buat takjub.
"Kau ... kau ... bukan kah kau hansip yang bersama Mas Wisnu Baskara, kan?" ucap Zahrana gugup.
"Hemmm ... menurut mu bagaimana?" tanya Muhammad Zaid Arkana dengan tersenyum devil pada Zahrana.
"Deg ... " jantung hati Zahrana seketika berdegup kencang melihat tatapan dan senyuman MZ Arkana yang penuh arti padanya.
"Astagfirullah ... apa yang terjadi pada ku? kenapa tatapannya dan senyumannya mengingatkan ku pada sosok kak Yusuf Amri Nufail Syairazy? bedanya kak Yusuf berperawakan besar tinggi. Sedangkan MZ Arkana berperawakan kecil mungil?" Zahrana bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Hey ... " MZ Arkana melambaikan tangannya di wajah Zahrana yang masih terlihat bengong menatapnya.
"Hemmm ... ini pesanan mu, anak baik. Bagaimana kau suka parcelnya?" tanya Muhammad Zaid Arkana.
"Ma-af, Kak. Wajahmu mengingatkan ku pada seseorang," ucap Zahrana gelagapan.
"Oh, ya? mungkin orang yang kau maksudkan adalah duplikat ku atau kembaran ku," ucap MZ Arkana di selingi canda tawa.
"Mungkin saja, mungkin aku yang salah lihat. Emmm ... berapa totalnya, Kak?"
"Khusus hari ini, bonus special untuk mu dan teman-teman mu. Parcel ini gratis! semoga menjadi berkah di hari Jum'at yang penuh keberkahan ini," ucap MZ Arkana penuh ketulusan.
"OMG ... yang benar saja, parcel ini gratis, Kak?" Fadhillah langsung mengambil alih parcel tersebut dari tangan MZ Arkana.
Sedangkan Zahrana masih berdiri terpaku, ia terkesima dengan kebaikan MZ Arkana. Ia seperti mimpi mendengar penuturan pemuda tersebut, yang menggratiskan parcel buah tersebut. Yang mungkin jika di taksirkan sekitar 150 ribu.
Namun, bagi Zahrana nilai 150k begitu sangat besar untuk ukurannya. Pikirnya, apakah MZ Arkana tidak merasa berat memberikan parcel buah tersebut secara cuma-cuma kepada mereka.
"Princesss ... ayo, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 wib. Kasian kak Aslan menunggu kita kelamaan," ucap Cinta Kiara Khoirani.
"Iya, Ra. Jangan lupa ucapkan terima kasih pada Abang penjual buah itu," ucap Kirana setengah berbisik di telinga Zahrana.
"Emmm ... maaf merepotkan, terimakasih untuk semuanya, Kak. Semoga kebaikan kakak dibalas oleh Allah Subhanahuwata'ala dengan sebaik-baik balasan," ucap Zahrana.
"Sama-sama, Dek. Semoga berkah untuk kita semua, amiin Allahumma aamiin." MZ Arkana menampakkan senyum khasnya pada Zahrana dan teman-temannya.
"OMG ... manis sekali. Terimakasih, Kak. Sering-sering seperti ini, aku yakin rezeki kakak akan selalu berkah berlimpah. Aku cicip satu buah apelnya, Kak. Di hari Jum'at memang harus banyak sedekah, Kak. Biar rezeki yang kita dapatkan berbuah pahala dan bermanfaat untuk banyak orang," ucap Fadhillah seraya mengambil satu buah apel di atas rak buah khusus apel.
"Iya, silakan Dek!" MZ Arkana tersenyum dengan tingkah kocak Fadhillah yang tidak mengenal tempat.
Cinta menimpuk Fadhillah. "Lho ini, Dhill. Baru kenal saja sudah langsung berani seakrab itu. Bagaimana jika ketahuan kak Virgantara tentang tingkah kocak mu, pasti ia akan cembokur."
__ADS_1
"Ya ... jangan sampai ketahuan, Cin. Jika ketahuan pun nggak apa-apa, toh hanya apel doang," celutuk Fadhillah sembari mengunyah buah apel tersebut.
"Sebaiknya, jika kita makan itu hendaklah duduk, Dhill. Jangan berdiri! kecuali dalam keadaan mendesak dan gawat darurat, " ucap Zahrana. Sehingga membuat teman-temannya yang awalnya saling berkelakar seketika bungkam.
"Islam pun menganjurkan umatnya untuk makan dan minum dalam posisi duduk. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits berikut :
βJangan kalian minum sambil berdiri. Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan.β (HR. Muslim)
"Hadits tersebut menerangkan bahwa makan dan minum sambil berdiri bukanlah sesuatu yang baik," ucap Zahrana.
"Selain itu makan dan minum sambil berdiri bukanlah adab yang dicontohkan Rasulullah SAW."
"Dalam sebuah hadits, Anas bin Malik pun mengatakan bahwa Rasulullah SAW melarang minum sambil berdiri."
"Lalu, kami bertanya, 'Kalau makan?" Rasulullah SAW pun bersabda, "Kalau makan (sambil berdiri) maka itu lebih buruk dan keji." (HR. Muslim)
"OMG ... Aku baru ingat, maaf deh Bu Ustadzah. Namun, jika dimuntahkan sayang ya, Ra." Fadhillah pun tertunduk lesu.
"Ya sudah ... makannya lanjut dimobil saja," ucap Kirana menimpali.
"Tuh, kan. Akhirnya, kena ceramah oleh Ustadzah kita. Sini keranjang parsel-nya biar ku bawa," ucap Cinta menimpali.
Fadhillah pun menyerahkan parcel buah kepada Cinta Kiara Khoirani. Ia pun melanjutkan memakan buah apelnya di dalam mobil.
"Lama sekali kalian hanya untuk membeli buah saja? bicara apa saja dengan penjual toko buah itu? bukankah itu temannya Pramuja Wisnu Baskara, kakak sepupu ku kemarin?" tanya Aslan kepo. Namun, ia berusaha untuk meredam emosi yang membuncah di dadanya.
"Iya, benar!" ucap Zahrana singkat.
"Berarti kalian memang sudah saling mengenal ya, Ra?" tanya Fadhillah kaget.
"Tentu saja, Dhill. Makanya ia ikhlas memberikan parcel itu secara cuma-cuma pada Zahrana," ucap Cinta.
Fadhillah berpikir keras, "aku rasa Abang manis nan mungil itu terpikat pada Ustadzah kita, deh! Tsamirah Zahrana Az Zahra," celutuk Fadhillah.
Aslan pun menginjak rem mendadak, mendengar ocehan Fadhilah. Ia kaget bukan kepalang, sebab Sang Bidadari di kagumi oleh pemuda yang di sebutkan Fadhillah.
"Astagfirullah ... hati-hati kak, jangan melamun saja! kakak membawa kami berempat lho? Dhillah tidak mau mati konyol, aku belum nikah dengan kak Virgantara. Aku belum siap untuk mati muda," cerocos Fadhillah seraya mengunyah buah apelnya.
Cinta mencubit Fadhillah, sedangkan Kirana membekap mulut Fadhillah.
Cinta dan Kirana memberikan isyarat pada Fadhillah, sembari melirik ke arah Zahrana dan Aslan.
Fadhillah pun mengangguk mengerti. Seketika mereka semua terdiam tidak ada yang berani bicara dan mengeluarkan suaranya, sampai akhirnya mereka pun sampai di Rumah Sakit Medika Stania.
***
__ADS_1
Di Rumah Sakit Medika Stania.
Zahrana dan teman-temannya beranjak dari mobil Aslan, mereka berjalan beriringan menuju ke Ruang rawat inap VVIP tempat di mana Nandini di rawat.
Aslan dan Arjuna berjalan dibelakang seolah-olah menjadi bodyguard untuk Zahrana and Friends.
Namun, pas sampai didepan ruang rawat inap Nandini terdengar keributan dan Isak tangis yang memilukan setelah Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah dan berapa orang Perawatnya keluar dari ruang rawat Nandini.
"Plakkkk ... " bunyi tamparan keras mendarat di pipi mulus Nandini Sukma Dewi.
"Anak tidak tahu adab dan etika, Ibu tidak pernah mengajarkan mu berbuat asusila. Siapa pemuda yang telah berani menghamili mu, katakan?" ucap Ibu Ratna Anjani berapi-api.
Tamparan Ibu Ratna Anjani memberikan bekas merah di wajah mulus Nandini.
Ibu Ratna merasa syok, ketika mendengar kabar dan penjelasan dari dokter Rufaidah jika Nandini hamil.
Tubuh Ibu Ratna Anjani terasa bergetar, ia tidak sanggup menahan kepedihan hati dan jiwanya, jika Puteri kesayangannya kini pun telah ternoda.
"Sabar, Bu. Selesaikan semuanya dengan kepala dingin," ucap Ayah Anjasmara menenangkan ibu Ratna dengan bersandar di bahunya.
"Hiks ... hiks ... hiks ... " Nandini menangis. Ia sangat menyesal lantaran telah membuat ibunya sedih, kecewa dan terluka.
Wajah Nandini pun terlihat pucat, ia benar-benar kalut. Ia tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Nandini sedih, Nandini rapuh.
Ditengah kesedihan yang mendera ibu dan anak itu, pintu kamar rawat inap Nandini pun tiba-tiba dibuka oleh Zahrana dan teman-temannya.
"Ceklekkk ... " pintu dibuka.
"Nandiniiiii!" teriak teman-temannya histeris sembari memeluk erat tubuh Nandini yang bersandar lemah di brankarnya.
"Sabar ya, Din. Kami selalu ada untuk mu!" Zahrana pun mencium kening Nandini.
Cinta, Kirana dan Fadhillah pun merasa terenyuh dengan keadaan Nandini sahabatnya. Kini mereka pun tahu Nandini tengah berbadan dua diluar janji suci pernikahan ia telah menanam benih cinta bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.
Nandini merasa terhibur dengan kehadiran Zahrana dan teman-temannya. Namun, Ibu Ratna Anjani merasa berang melihat kehadiran Zahrana di hadapannya.
Di tengah emosinya yang masih membuncah ibu Ratna Anjani menatap nyalang pada Zahrana seolah-olah ia ingin menerkam mangsanya.
"Pergi kau, dasar perempuan jal*ng! enyalah dari hadapan ku, sebelum ku panggil security untuk mengusirmu. Gara-gara berteman dengan mu, Puteri ku hamil. Kau memberi pengaruh buruk pada Puteri ku!" kecam ibu Ratna Anjani, yang di tujukan pada Zahrana. Sehingga membuat Zahrana dan teman-temannya kaget bukan kepalang.
"Ibu, jangan begitu! Zahrana tidak ada kaitannya dengan hal ini," ucap Aslan membela harga diri Zahrana didepan semua teman-temannya.
π·π·π·
Pencerahan π "Terlalu menyesali hanya akan membuat kita lupa untuk bersiap memperbaiki. Ketakutan itu hanya sementara. Penyesalan itu selamanya. Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan. Kapan kita menyesal? Ketika mengabaikan kesempatan yang datangnya hanya sekali. Mulailah apa-apa yang sudah kamu rencanakan. Terlalu banyak pertimbangan akan membawamu pada penyesalan. Penyesalan tanpa adanya tindakan hanya akan membuatmu bertambah menyesal. Oleh sebab itu, jangan marah karena akhir dari kemarahan adalah penyesalan." ( Bilik Penyesalan )
__ADS_1