Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
57 . Lebah Madu


__ADS_3

Zahrana nampak terkesima dengan semua perlakuan Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya.Ia hanyut tenggelam dalam untaian nada cinta yang terucap dari lisan kekasihnya.


Angan-angan Zahrana pun seakan melayang, ia merasa berada di taman bunga yang indah, penuh warna-warni cinta.Ia serupa sekuntum bunga, yang dihinggapi oleh Lebah yang hendak menghisap madunya.


Zahrana duduk bersila, dengan kaki kanan ditekuk.Ia sandarkan dagunya, dengan tangan kanannya bertumpu di lututnya.


Zahrana memandang lekat wajah Sang Kekasih, tanpa sedikitpun berkedip memandang wajah yang rupawan itu, yang kini benar-benar telah berhasil mencuri hatinya.


Aslan pun balik menatap,nanar wajah kekasihnya dengan penuh cinta.Ia benar-benar jatuh hati dengan sosok Bidadari kecil di hadapannya.


"Ana ... kau begitu sempurna, terbuat dari pahatan manakah dirimu.Wahai Bidadari bermata jeli, sungguh aku tak mampu menggambarkan keindahan rona wajahmu yang telah terlukis indah dipita bathin ku."


"Sungguh sempurna ... dirimu diciptakan,bak bidadari turun dari kayangan.Pancaran kecantikan mu sungguh indah bak pualam jelita,"bisik hati Aslan Abdurrahman Syatir.Ia terus menatap lekat wajah Sang pujaan hatinya.


"Kak Aslan ... awas kak, ada Lebah Madu diatas pohon itu, sepertinya mereka merasa terganggu oleh kehadiran kita.Nampaknya, gerombolan Lebah Madu itu iri dengan keromantisan kakak terhadap ku,"goda Zahrana.


Tak ayal, Aslan terperanjat kaget.Ia mengalihkan netranya pada sarang Lebah yang hendak menghampiri mereka berdua.


"Ana .... mari kita pergi! Sebelum Lebah-lebah itu mengejar kita,"ujar Aslan.Ia pun sigap menarik pergelangan Zahrana kekasihnya.


Gerakan Lebah-lebah itu, lebih cepat daripada pergerakan Aslan dan Zahrana.Segerombolan lebah madu itu, hendak menyerang mereka berdua.


Namun,Aslan menepis Lebah-lebah itu dengan dawai gitarnya.Ia pun segera menarik Zahrana dengan cepat membawanya naik ke atas kuda besinya.


"Tak kan,ku biarkan kalian menyerang apalagi menggigit wanita ku,wahai ... Lebah Madu."Aslan pun, mengendarai kuda besinya dengan kecepatan 80.Hendak menjauhi kerumunan Lebah - lebah itu.


Zahrana nampak memeluk Aslan dengan erat sekali, jantungnya terasa copot dengan kecepatan motor yang di kendarai oleh Aslan.


"Kak, jangan ngebut-ngebut.Ana takut,Kak."Zahrana menyembunyikan wajahnya dipunggung Aslan.


"Jangan takut sayang ... lihat aku disini,ada aku untuk mu.Sungguh ... kakak tidak rela jika Lebah itu menggigit mu, sebab madumu hanya untuk aku seorang,"goda Aslan menenangkan Zahrana.


Zahrana cukup merinding mendengar penuturan Aslan, ia menggarisbawahi kata-kata 'Madu', pikiran Zahrana sudah traveling kemana-mana.


"Kakak nakal sekali!" ujar Zahrana, seraya memukul kecil punggung Aslan yang tiada hentinya selalu menggodanya dengan seribu satu caranya.


Aslan hanya tersenyum simpul,ia cukup bahagia dengan kebersamaannya dengan kekasihnya hari ini.Terasa dunia ini hanya milik berdua, penghuni mayapada lainnya,hanya serupa angin yang berhembus.Seolah,merekalah Pangeran dan Permaisuri yang menguasai alam semesta raya.


Setelah menjauh dari kerumunan Lebah Madu tersebut.Aslan menurunkan kecepatan laju motornya.


Zahrana spontan berdiri di atas pedal motor.Tangan kirinya, dikalungkan erat dileher Aslan.Sedangkan tangan kanannya, ia bentangkan.Zahrana nampak menikmati panorama alam pagi ini.Angin berhembus sepoi-sepoi, menerpa wajahnya.Rambut hitam bergelombang miliknya tergerai indah, mengikuti arah angin yang berhembus.


"Kak Aslan .... I Love You!"pekik Zahrana berpacu dengan laju kuda besi yang dinaikinya.Tangan Zahrana terus melingkar di leher Aslan, dengan posisi ia masih berdiri di atas pedal motor.Ia terus menikmati keindahan alam di perkebunan tersebut.


"I Love You too ...Honey!"ucap Aslan lembut.


Zahrana perlahan kembali duduk pada posisi semula.Ia baru menyadari, jika ia terlalu berlebihan.Terlalu bertindak kegirangan, akibat terbawa suasana menikmati keindahan alam yang begitu menyejukkan.


"Honey ... " goda Aslan.Ia pun menarik pergelangan tangan Zahrana, dan menuntunnya untuk melingkar kan tangan kekasihnya di pinggangnya.


"Deg ... " jantung Zahrana kembali berdegup kencang.Ia menyadari, jika kini ia sudah terlalu bertindak berlebihan.Melewati batas-batas yang tak semestinya ia lakukan.


"Ya Allah ... maafkan hamba, atas segala kehinaan dan kerendahan Hamba.Maafkan Zahra Ayah Bunda, karena telah terjatuh kedalam gelora asmara.Kini, gadis kecil kalian sudah mulai merasakan rasa cinta terhadap lawan jenisnya," cicit Zahrana.

__ADS_1


Aslan dan Zahrana, tidak menyadari jika sedari tadi.Sepanjang perjalanan mereka,para buruh Tani memandang dengan penuh arti ke arah mereka.


"Lihat! Tuan muda kita, ia sudah mulai menampakkan kemesraannya pada sosok gadis kecil.Bukankah, itu Zahrana Si Bunga Desa.Anak Sepuh di Desa kita,Buya Harun Al Aziz," ujar Petani tersebut kepada tiga orang temannya.


"Maksudmu ... Zahrana anak Buya Harun Al Aziz, yang guru Ngaji itu,kah?" tanya Petani satunya lagi.


"Iya betul ..." ujar Petani itu.


"Amboiiii ... jadi Den Aslan, benar-benar jadian dengan gadis kecil tempo hari?" ujar Mang Selamet.Ia pernah menangkap basah Aslan di Toko Sembako,kala itu Mang Selamet ingin membayar uang bensin motor butut kesayangannya.Namun, Aslan nampak sedang terpana dengan seorang gadis ABG yang baru pulang dari sekolah kala itu, yang tanpa sengaja menabrak Aslan ketika sedang menuangkan bensin untuk Mang Selamet.Sehingga membuat Aslan lupa akan kehadiran Mang Selamet kala itu.


Obrolan Mang Selamet, dengan teman-teman Petani yang lain pun terputus.Sebab, Aslan dan kekasih hatinya Zahrana berjalan ke arah mereka yang sedang asyik memanen jagung.


"Tuan Muda," sapa para Petani tersebut.


Aslan membalas dengan senyuman manisnya, meskipun ia pemilik ladang dan perkebunan tersebut.Ia tetap rendah hati,ia sangat menghormati dan menghargai para pekerjanya, bahkan ia pun tidak segan-segan ikut membantu memanen hasil perkebunannya bersama para Petani kebunnya.


Aslan masih menggenggam erat jemari tangan Zahrana.Ia tidak menyadari jika Mang Selamet dan ketiga orang Petani lainnya, memandang instens ke arah mereka berdua.


Zahrana pun, perlahan melepaskan genggaman tangannya.Diikuti oleh Aslan yang baru menyadari, jika ia sedang menunjukkan tanda kepemilikannya pada semua orang.


"Ya Allah ... aku dan Zahrana kan sedang backstreet, bagaimana jika nantinya ada yang mengadukan kebersamaan ku dengan Zahrana pada Buya Harun Al Aziz juga Bunda Fatimah dan Ayah Ibu ku," cicit Aslan.


Namun,ia berusaha merilekskan dirinya.Ia tidak mau su'udzon pada para pekerjanya.


"Mang Selamet!" panggil Aslan.


"Sa-ya Den," jawab Mang Selamet gugup.Ia khawatir, akan ditegur Tuannya.Sebab, dari tadi mereka asyik menceritakan kebersamaan Tuannya dengan gadis kecilnya.


"Ini,Mang.Aku minta tolong Mamang dan teman-teman untuk ternak Lebah Madu yang di Pohon sana, sebab tadi ada sarang madu yang bertengger di sana, di saat kami sedang duduk santai di sana," titah Aslan kepada Mang Selamet.Mewakili para Petani lainnya.


"Aden juga seperti lebah dan Nona ini seperti sari Madunya, hehehe ... Lebah Madu,"ujar Mang Selamet keceplosan.Jangan lupa, ia pun tetap menampakkan gigi ompongnya, di tengah-tengah kelakarnya.


Zahrana bukannya, canggung atau pun risih dengan ucapan Mang Selamet.Spontan, Zahrana tertawa lepas.Membuat Aslan pun terpana melihat pancaran indah diwajah kekasihnya.Terlihat sekali,rona bahagia dari wajahnya.


Zahrana perlahan mengatupkan mulutnya,ia merasa tidak enak hati lantaran tertawa lepas, melihat gigi Mang Selamet yang ompong dengan senyum semeringahnya.


Mang Selamet pun, menjadi salah tingkah.Ia menyadari jika gadis kecil Tuannya itu, tidak sengaja menertawakan giginya yang ompong 😁😁😁


***


Di sisi lain,di Pondok kebun.


Nandini tidak bisa memejamkan netranya,ia jengah menunggu kedatangan Zahrana dan kakaknya.Alunan musik Tips Record,malah membuatnya merasa kesepian, ia teringat dengan sosok kekasih hatinya Arjuna Restu Pamungkas.


"Hubby,aku kangen sekali dengan dirimu,ingin cepat-cepat masuk sekolah saja.Sehari tak bertemu, rasanya setahun tak bersua," cicit Nandini.


Nandini sedang mendengarkan lagu kisah kasih di sekolah, perlahan ia mengingat-ingat segala hal yang telah ia lewati selama kurang lebih 4 bulan bersekolah di SMP NEGERI 3 XX.


Nandini kembali mengingat sosok Zainal Abidin yang selalu jadi teman debatnya. Namun, Zainal Abidin selalu ada menolongnya dalam keadaan suka dan dukanya di sekolah.Nandini pun tau, jika Zainal Abidin menyukainya.Akan tetapi, Nandini sudah terlanjur menerima Arjuna Restu Pamungkas untuk menjadi teman istimewanya.


"Maafkan aku Zainal, bukan aku tak suka padamu.Namun,aku tidak ingin mendua hati.Ada hati yang harus ku jaga, sungguh aku tak bisa mendua seperti halnya Zahrana yang mendua dengan kak Aslan Abdurrahman Syatir juga kak Rivandra."Nandini terus bermonolog dalam hatinya, hingga ia mendengarkan bunyi gentongan ditelinganya.


"Tang ... tung ... tang ...tung..."bunyi pukulan tersebut.

__ADS_1


lamunan Nandini pun buyar.


"Eh copot ... eh copot jantungku, bunyi apakah gerangan yang memekak telinga ku?"ucap Nandini, seraya memegang dadanya yang terasa ingin lepas dari tempatnya.Lantaran bunyian itu memekakkan dinding telinganya.


"Taraaaa ... " pekik Cinta Kiara Khoirani dan Kirana Larasati.


Rupanya, Cinta dan Kirana menyusul mereka ke perkebunan.Atas arahan Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara.


"Ya Allah ... Cinta,Kirana.Kalian rupanya?"Nandini nampak kaget, bukan lantaran karena bunyi gentongan barusan.Ia nampak gugup dan khawatir, sebab sahabat mereka Zahrana sedang berduaan dengan kakaknya.


"Gawat!" Pikir Nandini.


"Tamatlah sudah riwayat mu Ra, kalau Cinta dan Kirana sampai mengetahui dirimu mendua,"cicit Nandini.


"Aku harus bagaimana? semoga saja Cinta dan Kirana tidak kaget nantinya dan tidak keceplosan di hadapan kak Aslan, jika Zahrana menjalin hubungan dengan kak Rivandra," monolog Nandini.


Padahal sejatinya, di antara sahabat mereka.Salah satunya Kirana yang tahu jika Zahrana mendua.Namun, Kirana memilih untuk bungkam.Sampai nanti kebenaran itupun terkuak sendiri.Ia tidak ingin merusak persahabatan mereka.


Benar, jika Kirana menyukai Rivandra Dinata Admaja kakak kelasnya.Yang kini telah menjadi teman istimewa Zahrana.


"Ah ... perihnya mencintai dalam diam,"cicit Kirana.


"Oh ... jadi panci dan tutupnya yang kalian pukul memekakkan telinga ku,"protes Nandini.


"Kenapa pula, kalian bawa panci dan sampai memukulnya?"celoteh Nandini.Sementara Cinta dan Kirana hanya terkekeh geli, melihat tingkah Nandini yang sangat kentara bapernya.


"Ini ... lho Din.Panci ini, ingin kami gunakan untuk merebus jagung.Katanya kalian sedang panen jagung?"ujar Cinta penuh kegirangan.


"Benar Din,Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara yang bilang jika kalian panen jagung,"ujar Kirana menimpali.


Belum sempat Nandini berujar, nampak lah Zahrana dan kakaknya Aslan berdekapan mesra di kuda besi milik Aslan.


Aslan menuntun Zahrana untuk turun dari kuda besinya, seraya menggenggam erat jemari tangan Zahrana dengan tangan kanannya.Seolah menunjukkan tanda kepemilikannya.Sedangkan, dawai gitarnya ia sandang di pundaknya,


Aslan pun menjinjing kresek kantong ditangan kirinya yang berisi kurang lebih 4 kg jagung.Aslan berniat ingin merebus dan bakar-bakar jagung untuk Zahrana dan adiknya Nandini.


Pandangan mata, Cinta dan Kirana tertuju pada kemesraan Aslan Abdurrahman Syatir dan Zahrana sahabatnya.


"OMG (Oh My God ), Zahrana ... kak Aslan?"pekik Cinta Kiara Khoirani.Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Bukankah, Zahrana jadian dengan kak Rivandra,kok sekarang malah bergandengan tangan dengan kak Aslan? apa yang terjadi sebenarnya?"monolog Cinta Kiara Khoirani.


Sementara, Kirana Larasati nampak santai.Sebab,ia sudah tahu jika Zahrana sahabatnya mendua.Jadi,ia pura-pura tidak tahu.Padahal, sejatinya hatinya pun perih.Ada luka yang tak berdarah, lantaran sosok Rivandra yang ia puja-puja, kini telah menjadi kekasih sahabatnya.


"Cinta, Kirana?sejak kapan kalian ada disini?"tanya Zahrana.Ia nampak gugup, khawatir Cinta dan Kirana keceplosan perihal hubungannya dengan kekasihnya Rivandra Dinata Admaja.


Aslan yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tentang Zahrana yang mendua.Ia malah kembali menggenggam erat jemari Zahrana.


Cinta membelalak kaget dengan apa yang di lihatnya.Sementara Nandini menepuk jidatnya pelan, menggerutuki kebodohan Kakaknya yang terlalu kentara jika ia sedang menjalani hubungan dengan Zahrana.


Sementara, Kirana acuh dengan apa yang dilakukan oleh Zahrana dan Aslan dihadapannya.Sebab, ia sudah tahu jika Zahrana mendua.


"Cinta, Kirana ... kakak dan Zahrana sudah menjalani hubungan, sekarang kita sudah menjadi teman istimewa,"ujar Aslan.

__ADS_1


"Aku dan Zahrana telah menjadi Lebah madu, Aku lebahnya dan ia adalah sari madunya,"terang Aslan dengan senyuman khasnya.Ia masih sempat-sempatnya bercanda, lantaran teringat dengan Lebah Madu yang hendak menyerang mereka dibawah pohon tadi.


__ADS_2