
"Raihan, kau kah ini?" pekik Zahrana dengan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan adik semata wayangnya itu.
"Kakak sangat merindukan mu, Rai!" ucap Zahrana penuh haru.
"Raihan juga merindukan kakak!" ucap Raihan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kedua kakak beradik itu pun saling melepas rindu, setelah satu tahun tidak pernah bertemu semenjak Raihan masuk Pondok Pesantren. Sedangkan Zahrana sendiri jarang pulang ke rumah, semenjak ia tinggal di kota S. Di kediaman kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra.
"Kamu sudah baligh sekarang, Rai. Kakak hampir-hampir tidak mengenali mu, diri mu kini terlihat lebih tampan dan sangat religius sekali!" sarkas Zahrana dengan rasa kagumnya terhadap adik semata wayangnya itu.
"Alhamdulillah, kak. Kecantikan ataupun ketampanan wajah itu relatif, itu bonus dari Allah untuk kita. Yang lebih utama itu adalah kecantikan iman dihati, sejatinya dalam perkara ilmu agama, Allah tidak melihat kecantikan dan rupa kita, hanya amal ibadah dan ketaqwaan kita yang menjadi hal utama dan tolak ukur dalam pandangan Allah."
"Kecantikan iman, ilmu dan akhlak yang kita miliki tentu akan menambah cantik orang yang sudah cantik dari sononya!" ucap Raihan dengan senyum tulusnya. Terlihat jelas dari pancaran wajahnya yang berhias kebeningan iman di hatinya.
Selama satu tahun mengenyam ilmu di bangku Pesantren, banyak hal yang Raihan pelajari. Ia benar-benar menekuni ilmu pengetahuan tentang Agama Islam yang telah ia dapatkan di pondok pesantren tersebut. Tak sedikit pun ia menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada.
Raihan sangat berpedoman betul dengan hadist Nabi besar Muhammad Shalallahu alaihi wassalam tentang wajibnya menutut ilmu pengetahuan dan agama Islam bagi laki-laki dan perempuan tanpa terkecuali.
Selain itu, di jelaskan pula pada hadist Nabi lainnya, "Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu," (HR Ahmad).
"Hemmm ... begitulah kiranya Kak, menurut hemat Raihan untuk dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kita juga harus punya ilmu. Kita diciptakan oleh Allah hadir di dalam dunia ini tentunya punya tujuan bukan hanya sekedar numpang minum saja, dan menuruti keinginan nafsu syahwat semata."
"Sebagaimana yang tertuang dalam surat cinta Allah untuk kita para hambaNya, yakni yang termaktub dalam kitab suci Al Qur'an yang berbunyi :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
Raihan melafalkan untaian kalimat tersebut dengan lantangnya, seolah-olah seperti seorang Da'i yang sedang menyampaikan tausiyahnya kepada para jama'ahnya.
"Maa syaa Allah ... yang sedang bermetamorfosa menjadi calon Da'i Muda generasi penerus masa depan, semangat sekali menyampaikan tausiyahnya. Pulang nyantri langsung terjun ke Medan Dakwah, mari kita simak Tausyiah Ala Raihan Arman Habibie selanjutnya!" kelakar Zahrana pada adik kesayangannya itu.
"Alhamdulillah ... Raihan aamiinkan deh do'a kakak, biar Raihan beneran jadi Da'i Muda yang seperti kakak katakan!" ucap Raihan dengan mendaratkan bokongnya di kursi meja dapur, dengan wajah tanpa dosa Raihan menyeruput habis satu gelas susu jahe hangat yang hendak dihidangkan oleh Zahrana special untuk Muhammad Zaid Arkana ketika akan kembali dari Mesjid nantinya.
"Bismillahirrahmanirrahim ... nikmat Tuhan-Mu yang mana lagi yang hendak kau dustakan? susu jahe ini sungguh nikmat di lidah dan membuat tubuh ku yang dingin terasa hangat!" ucap Raihan dengan senyum cerianya, sungguh sangat terlihat jelas dari binar wajahnya yang nampak tenang dan bercahaya di usianya yang baru beranjak baligh.
"Raihan Arman Habibie! Putra kesayangannya ayah dan bunda, susu jahe itu untuk kak Zaid, kok di seruput habis?" pekik Zahrana dengan menyebikkan bibirnya.
"Whattt? kak Zaid, who is he?" ucap Raihan dengan gaya bahasa Inggrisnya.
"Ya, teman kakak lah. Masa Raihan nggak lihat sosok pemuda yang pergi ke Mesjid bersama Buya Harun tadi?" tanya Zahrana dengan berdecak pinggang.
"Afwan (maaf) my sister, Raihan tidak tahu jika ada teman kakak yang sedang bertandang ke rumah. Raihan pun tidak melihat ada sosok pemuda bersama Buya Harun tadi, jama'ah segitu banyaknya tidak mungkin Raihan pelototi satu persatu."
"Habis mengumandangkan adzan, Raihan langsung berdiri di belakang imam. Sholat dengan tuma'ninah habis itu do'a salam dengan jama'ah kiri kanan langsung pulang deh!" seloroh Raihan dengan mencicipi stick kentang goreng yang di siapkan oleh Zahrana untuk MZ Arkana.
"Jadi, yang mengumandangkan adzan tadi sosok Raihan Arman Habibie, toh? ternyata adik kakak sekarang sudah benar-benar religius, ya? suaranya, maa syaa Allah merdu sekali! kakak kira itu mu'adzin yang baru datang dari Kairo," ucap Zahrana dengan tiba-tiba menyebutkan kata Kairo.
__ADS_1
"Ya Allah ... Aku tiba-tiba ingat dengan sosok kak Yusuf Amri Nufail Syairazy!" bathin Zahrana dengan nanar wajah sendu.
Zahrana nampak termenung. "Kak Yusuf, kapan kah dirimu akan kembali?" bathin Zahrana dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca.
Zahrana tidak menyadari jika cemilan yang hendak di hidangkan olehnya untuk Muhammad Zaid Arkana hampir mendekati detik terakhir. Sebab, Raihan begitu lahapnya menikmati hidangan di hadapannya.
"Kak Zahra, kok malah melamun?" ucap Raihan dengan menjentikkan jarinya di wajah ayu Zahrana.
"Astaghfirullah ... ya Allah ya Tuhanku yang maha pengasih dan penyayang!" ucap Zahrana dengan pandangan matanya tertuju pada hidangan yang disajikannya telah hampir habis semuanya, ia pun terhenyak dari lamunannya.
"Bundaaa ... lihat cemilannya pun hampir habis di cicipi oleh Raihan, gagal deh Zahra menyiapkan hidangan untuk kak Zaid!" pekik Zahrana dengan bersedekap dada.
"Astaghfirullah ... Nak, baru saja kalian berdua bertemu dan saling melepas rindu. Kok, berantem lagi! kebiasaan di masa dulu mesti di tinggalkan, Nak!" ucap Bunda Fatimah dengan melerai perseteruan kedua buah hatinya itu.
"Zahra dirimu kan sudah besar, sudah dewasa, Nak. Begitu pun dengan mu Raihan, kamu sudah baligh, Nak! kalian harus saling melengkapi dan menyayangi satu sama lain. Jangan saling gontok-gontokkan seperti ini!" ucap Bunda Fatimah dengan mengelus puncak kepala Zahrana.
Kemudian, Bunda Fatimah pun beralih menghampiri putranya Raihan Arman Habibie.
"Nak, kau adalah putra satu-satunya yang kini menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda. Kakak mu Raffa Nauzan Al Fareed sudah jarang mengunjungi Ayah dan Bunda disini semenjak ia menikah 6 tahun yang lalu!" ucap Bunda Fatimah dengan wajah piasnya.
"Kini, hanya tinggal dirimu lah yang bisa menjaga kakak mu Zahrana. Kau harus bisa menjadi contoh yang baik buat kakakmu. Meskipun status mu adalah seorang adik, didalam pandangan Islam kau punya tanggung jawab untuk menjaga kakak mu dari hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah dan lain-lainnya. Kau harus lebih kuat dan lebih tangguh dari kakakmu, Nak! karena hakikatnya laki-laki itu adalah pemimpin dalam keluarganya. Dan pemimpin itu harus bertanggung jawab terhadap siapa yang dipimpin olehnya, Bunda harap kalian bisa bersikap lebih dewasa lagi dan bisa saling memaafkan satu sama lain terlepas dari apapun bentuk masalah yang sedang kalian hadapi" tutur Bunda Fatimah penuh arti.
Zahrana dan Raihan pun terdiam dan saling lirik pandang, keduanya pun merenungi apa yang di ucapkan oleh Bunda Fatimah.
"Kak Zahra!"
Raihan mencium punggung tangan Zahrana. "Maafkan Raihan ya, Kak? Raihan tidak bermaksud membuat kakak marah. Raihan hanya ingin bersenda gurau dengan kakak, Raihan pun kangen dengan perhatian kakak untuk Raihan" ucap Raihan dengan menundukkan kepalanya. Ia menyesal sebab telah berlebihan menjahili kakaknya.
Zahrana menatap lekat wajah Raihan, ia pun merangkul Raihan dengan penuh kasih.
"Raihan, kakak juga minta maaf sebab telah menyakiti Raihan dengan ucapan kakak. Kakak pun kangen dengan Raihan, kakak sangat menyayangi Raihan!" ucap Zahrana dengan mengusap bahu Raihan.
"Hemmm ... kalau begitu, Raihan boleh dong minum susu jahe yang satu gelasnya lagi juga stick kentangnya!" ucap Raihan Arman Habibie.
Raihan pun kembali menyeruput satu gelas susu jahe milik Zahrana, jadilah Zahrana dengan ikhlas hati dan berlapang dada oleh tingkah polah Raihan yang memang sengaja ingin menjahilinya.
"Ya Allah ... berikanlah hamba-Mu ini kekuatan dan kesabaran dengan sikap dan tingkah laku si bungsu, susu jahe kak Zaid pun sudah diseruputnya, dan sekarang susu jahe milik ku pun tandas tanpa sisa!" bathin Zahrana dengan menggigit bibirnya.
"Hemmn ... katanya ikhlas, kok wajahnya kembali di tekuk. Tenang saja kak, mengikhlaskan susu dan cemilan yang telah kakak buat itu, di makan oleh Raihan. Insya Allah ... akan mendapatkan pahala kok, Kak."
"Dari pada menghidangkan cemilan untuk seseorang yang belum menjadi mahram kakak belum tentu mendapatkan pahala. Sebab, jika belum jelas niat untuk menghidangkan cemilan dan minuman itu untuk apa? Jika niatnya untuk menjamu tamu ya sah-sah saja! Namun, jika ada unsur niat lainnya itu masih menjadi tanda tanya halal atau nggak-nya!" seloroh Raihan sambil mengunyah stick kentang goreng yang masih tersisa di atas meja.😂😂
"Raihan Arman Habibie! kamu sudah pintar ngeles, ya? kak Zahra dan kak Zaid itu hanya berteman, ia hanya menemani kakak kemari. Kita berdua hanya teman biasa, hanya sebatas rekan kerja saja. Tidak lebih!" pungkas Zahrana. Ia tidak terima dengan protes Raihan terhadapnya.
"Lagian itu susu jahe sama cemilan hanya kakak niatkan untuk jamuan saja, biar kak Zaid lebih bugar. Suasana di desa kita kan dingin, terus cuaca malam kan lebih dingin lagi jika kami pulang ba'da isya nanti. Untuk menghangatkan tubuhnya, ya minumnya susu jahe!" cetus Zahrana tidak mau kalah.
Zahrana mulai berang, ia merasa risih dan tidak terima dengan penilaian Raihan terhadapnya. Walaupun ia sendiri bingung, kenapa ia harus baper, jika memang ia tidak ada rasa pada sosok Muhammad Zaid Arkana.
__ADS_1
Melihat wajah kakaknya sudah di tekuk, Raihan mencoba untuk mengalah. Namun, tetap menyelipkan untaian nasehat penuh hikmah terhadap Zahrana, kakak yang amat disayanginya itu.
"Iya deh, Raihan yang salah, Kak. Akan tetapi, laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu berduaan tetap tidak dibenarkan dalam syari'at Islam, wahai ukhti Sholihah!" seloroh Raihan dengan memakan cemilan selanjutnya.
"Hemmm ... Alhamdulillah, pisang gorengnya masih hangat dan juga nikmat!" ucap Raihan dengan terus mengunyah pisang goreng yang baru dibuat oleh Zahrana sebagai ganti stick kentang yang sudah hampir habis di comot olehnya.
Dengan berdecak pinggang, Zahrana pun menghampiri Raihan yang nampak fokus menikmati hidangan yang disajikan di meja makan tersebut.
"Sudah puaskah dirimu mengintrogasi kakak dengan tausyiah ala Raihan Arman Habibie, sosok Da'i Muda masa depan?" sarkas Zahrana dengan menjewer telinga Raihan.
"Ampun kak, ampun! Raihan yang salah!" ucap Raihan dengan nyengir kuda.
"Peace, kak! kita baikan ya?" ucap Raihan dengan mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
Zahrana mengulum senyumnya, ketika melihat kekocakan Raihan. Perlahan terbesit ide jahilnya terhadap sosok adik bungsunya itu.
"Baiklah, kakak mau berdamai dan memaafkan mu. Tentunya dengan syarat kau harus buatkan susu jahe hangat untuk kakak sebagai ganti susu milik kakak yang telah kau seruput habis!" ucap Zahrana dengan berkacak pinggang.
"Yach, kakak kok gitu sih! sama adik sendiri, Raihan kan sudah minta maaf. Raihan mau ke kamar, ganti baju dulu!" ucap Raihan dengan seringai nakalnya, ia pun kembali menjahili kakaknya.
"Pisang gorengnya minta satu lagi, sister!" ucap Raihan dengan mencomot pisang goreng dan berlalu pergi menuju bilik kamarnya, meninggalkan Zahrana yang masih berkutat di dapur.
"Dasar adik manja! maunya enak sendiri. Sudah makan gratis, nggak tanggung jawab, pakai tausyiah pula!" gerutu Zahrana.
"Tapi, benar pula apa yang disampaikan oleh Raihan. Bagaimana pun alasannya, tetap saja aku tidak boleh berduaan terus dengan kak Zaid. Meskipun hanya sebatas rekan kerja, tetap saja rasanya beda, berada dalam satu mobil dengan yang bukan mahramnya. Apalagi kak Zaid sangat kentara sekali menaruh benih-benih rasa terhadap ku!" gumam Zahrana dengan terus berperang melawan pergulatan bathinnya.
Melihat keterpakuan Zahrana, Bunda Fatimah yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka pun menghampiri Zahrana yang sedang terpaku merenungi setiap untaian kata yang di sampaikan oleh adiknya Raihan barusan, memang semuanya benar adanya dan sudah seharusnya menjadi bahan renungan untuk Zahrana agar bisa lebih mawas diri.
"Nak, Bunda yakin kau pasti sedang memikirkan apa yang telah di ucapkan oleh adikmu Raihan? setidaknya lewat tausiyah ala Raihan Arman Habibie. Yang meskipun terlihat santai dan kocak, semua yang adik mu katakan itu benar adanya, Nak."
"Nak, janganlah dirimu melihat siapa orang yang menyampaikan ilmu terhadap mu! mau ia orang alim atau orang awam sekalipun jika itu adalah hal yang baik. Dengarkanlah, dan ambil hikmahnya! seperti halnya yang di ucapkan oleh adik mu Raihan, jika itu adalah hal yang bermanfaat untuk kebaikanmu, maka dengarkanlah dan renungkanlah demi masa depan mu, Nak! agar dirimu jangan sampai salah dalam melangkah!" ucap Bunda Fatimah dengan memeluk dan mengusap pucuk kepala Zahrana.
🌷🌷🌷
Untaian Mutiara Hikmah 👉 "Dunia ini hanya setetes air. Kalau kau tak dapat, jangan sedih karena yang tak kau dapat hanya setetes. Dan kalau kau dapat jangan bangga karena yang kau dapat hanya setetes. Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi tentang menghargai apa yang kamu miliki dan sabar menanti apa Yang akan menghampiri. Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
🌸
🌸
🌸
Sambil menunggu update selanjutnya, author punya rekomendasi karya yang bagus untuk mu kak, tentunya dengan cerita yang tak kalah menarik dan serunya.
Judul karyanya : Young Mommy
Authornya : Sa Ekha
__ADS_1