Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
230 . Suratan Takdir ( Kematian )


__ADS_3

Kini, dua bulan sudah pasca tragedi Zahrana hendak di nodai oleh sosok Aslan Abdurrahman Syatir yang tergila-gila padanya dari sejak mula hingga berujung aksi nekatnya yang menyebabkan Aslan harus mendekam di balik jeruji penjara yang pengap dan menyesakkan dadanya.


Jeruji penjara cukuplah menjadi pelajaran untuk Aslan agar bertaubat dari segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Kini di tengah pekat malam ia bersujud dan memohon ampunan pada Rabb-Nya.


"Ya Allah, wahai zat yang maha pengampun dan maha penerima taubat. Ampunilah hamba atas segala dosa-dosa dan kemaksiatan yang telah hamba perbuat. Sungguh, hamba menyesali segala kesalahan dan khilaf yang telah hamba perbuat. Berikan kebahagiaan untuk dirinya Tsamirah Zahrana Az Zahra, maafkan hamba karena telah menorehkan luka di hatinya. Maafkan hamba sebab hendak melakukan tindakan asusila padanya. Maafkan hamba sebab telah berniat untuk menghancurkan kehidupannya, maafkan hamba ya Rabb!" ucap Aslan dengan air mata yang berlinang di pipinya.


Aslan tersungkur dalam sujudnya, tubuhnya bergetar hebat setelah memanjatkan do'anya. Perlahan ia pun merasakan kedinginan di sekujur tubuhnya. Aslan merasakan kedamaian seolah-olah rasa kesejukan menyelimuti jiwanya. Ia merasa Tuhan begitu dekat dengannya menyentuh lembut urat nadinya, hingga nafasnya pun semakin tercekat dari kerongkongannya.


Aslan merasakan hembusan nafasnya semakin pelan, ia pun berusaha untuk melafadzkan dua kalimat syahadat dengan suara yang terbata-bata, "Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah ( Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah)."


Perlahan matanya pun terpejam dalam keadaan sujud di atas sajadahnya. Aslan telah kembali pada kehadirat Rabb-Nya. Ia menutup matanya diusianya yang ke 24 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan bertaubat kepada Rabb-Nya. Ia telah menjemput kembali hidayahnya yang sempat terhempas oleh seberkas noda hitam yang telah dilakukannya.


Aslan mengakhiri nafas hidupnya, di sepertiga malam terakhirnya. Di saat semua orang sedang terlelap memanjakan matanya. Tidak ada yang tahu jika Aslan telah tiada dalam keadaan sedang sujud di hamparan sajadahnya.


Para tahanan yang berada dalam satu buih dengannya tidak ada satu pun yang mengetahui jika Aslan sudah kembali kepada Rabb-Nya dalam keadaan tenang, suci dari segala noda dan dosa yang pernah di perbuatnya selama nafas hidupnya. Dan menariknya, Aslan meninggalkan dunia pada hari Jum'at. Hari dimana seorang muslim akan di bebaskan dari siksa kubur jika meninggal pada hari tersebut.


Benar, Aslan pernah terjerat dalam lumpur dosa. Hingga membuatnya lalai dan melanggar perintah Rabb-Nya. Namun, ia meninggal dalam keadaan Husnul khatimah lantaran ia telah bertaubat sebelum ajal menjemputnya.


Sejatinya, Allah lebih menyukai tangisan seorang pendosa yang bertaubat dan menyesali kesalahannya. Ketimbang banyaknya amalan yang dilakukan oleh seorang ahli ibadah, namun membuatnya sombong.


Begitulah Aslan, sudah menjadi suratan takdirnya ia meninggal dalam keadaan yang baik meskipun ia pernah melakukan kesalahan dan dosa yang besar. Setelah pun ia bertaubat atas kesalahan dan dosa-dosa yang telah diperbuatnya semasa hidupnya.


***


Di kediaman orang tua Yusuf di kota S.


Mentari pagi menampakkan sinarnya, cerahnya sinar mentari yang menyinari bumi hari ini secerah hati Zahrana. Ia nampak bahagia dan berbunga-bunga setelah melewati ujian yang panjang kini ia bisa memetik buah kesabaran dari sekian banyak peristiwa kelam yang di lewatinya.


Hari ini semua orang nampak sibuk mendekorasi rumah, tenda dan pelaminan untuk melaksanakan walimah Zahrana dan Yusuf yang sempat tertunda, yang insyaAllah akan di laksanakan dua hari lagi. Tepatnya pada hari Minggu.


Sebenarnya, hari ini adalah hari rencana pernikahan Zahrana dan Yusuf. Mereka memilih hari Jum'at sebagai hari pernikahan mereka.

__ADS_1


Namun, karena musibah yang menimpanya dua bulan yang lalu membuatnya mempercepat pernikahannya di rumah sakit bersama Yusuf pemuda yang sangat dicintainya.


Kini pun Zahrana telah sembuh dari traumanya, suaminya tiada pernah jenuh menemaninya ke psikiater. Selain itu, ia pun terapi ruqyah mandiri yang dilakukan langsung oleh suaminya Yusuf, sehingga proses penyembuhan traumanya lebih cepat dari yang diperkirakan.


"Hubby, terimakasih atas semua perhatian dan kasih sayangmu untuk ku! Zahra sangat beruntung bisa menjadi istri kakak," ucap Zahrana dengan bersandar di dada bidang suaminya.


"Kakak juga bersyukur bisa memiliki mu. Terimakasih sudah berkenan menjadi istri ku!" ucap Yusuf dengan mengecup kening istrinya.


Yusuf memandangi wajah cantik istrinya, di tatapnya manik mata indah itu. Sebagai laki-laki dewasa tentu ia memiliki hasrat terhadap istrinya. Namun, mengingat kondisi fisik istrinya yang tidak baik-baik saja membuat Yusuf selalu berusaha mengontrol keinginan nafsunya agar jangan sampai menyakiti dan menambah trauma istrinya.


Selama dua bulan pernikahan Yusuf tidak pernah sama sekali menyentuh lebih istrinya, walaupun ia berhak mendapatkan itu semua. Namun, ia hanya akan menunaikan nafkah bathinnya jika sang istri benar-benar sudah siap untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


Menyadari suaminya semakin menatapnya intens, membuat detak jantung Zahrana berdegup kencang. Ia mulai merasakan sekujur tubuhnya terasa panas dingin. Ia belum siap untuk itu semua, apalagi melakukan hal tersebut di pagi buta.


"Hubby, kita keluar dulu ya? melihat orang-orang yang sedang sibuk mendekorasi rumah kita," ucap Zahrana mengalihkan pandangannya.


"Baiklah Zawjatii," ucap Yusuf dengan senyum tulusnya. Ia berusaha untuk menahan keinginannya agar jangan sampai melakukan hal yang berlebihan terhadap istrinya. Dengan penuh kasih di genggamnya jemari istri yang sangat dicintainya itu.


Zahrana nampak tersipu malu, sebab ia belum pernah melakukan apa-apa selama dua bulan pernikahannya.


"Bagaimana hendak punya anak?" pikirnya.


"Maafkan aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk mu, Kak. Insya Allah setelah walimah nanti aku akan segera menunaikan kewajiban ku sebagai seorang istri!" bathin Zahrana penuh kesungguhan.


"Maaf, Ummi. Insya Allah, kami akan segera memberikan cucu untuk Ummi," ucap Zahrana sehingga membuat rona wajah Yusuf terlihat berbinar. Begitu pula Ummi Yasmin ia nampak bahagia.


"Terimakasih menantu ku!" ucap Ummi Yasmin dengan memeluk erat tubuh menantunya.


"Bagaimana, apa kau suka dengan konsep dekorasi pelaminan ini?" tanya Ummi Yasmin sembari menuntun Zahrana untuk melihat-lihat dekorasi pelaminan untuk walimahnya nanti.


"Maa syaa Allah, ini sudah terlalu sempurna Ummi!" Zahrana nampak kagum dengan konsep dekorasi pelaminan dan tendanya bernuansa putih. Sesuai dengan warna favorit dirinya dan Yusuf yang sama-sama menyukai warna putih.

__ADS_1


"Ini Ummi pilihkan spesial untuk kalian, Nak."


"Terima kasih, Ummi!" ucap Zahrana dengan binar wajah bahagia.


Di tengah kebahagiaannya, ponsel Zahrana pun berbunyi, ia pun mengangkat telponnya.


"Hiks ... hiks ... hiks ... " terdengar isak tangis dari seberapa telpon.


"Assalamu'alaikum, Din. Kenapa kamu menangis, Din?" tanya Zahrana yang terlihat gusar ketika mendengar sahabatnya sedang menangis.


"Kak Aslan, Ra. Kak Aslan sudah tiada, ia meninggal di dalam penjara ketika sedang sujud dihamparan sajadahnya. Insya Allah jam 10.00 wib nanti akan segera di makamkan!" ucap Nandini terbata-bata di selingi oleh isak tangisnya.


"Innalilahi wainnailaihi Ra'jiun ... " sejenak Zahrana pun termangu. Ia merasa tidak percaya atas apa yang didengar olehnya. Semua seperti mimpi, di saat dirinya sedang menikmati kebahagiaannya bersama Yusuf suaminya, di saat itu pula Aslan Abdurrahman Syatir tutup usia. Meninggalkan dunia yang fana ini.


"Ada apa, Dek?" tanya Yusuf dengan nada khawatirnya ketika mendengar istrinya mengucapkan kalimat istirja. Kalimat yang di lontarkan oleh seseorang ketika sedang mendengarkan musibah yang menimpa seorang muslim.


"Kak Aslan, ia telah meninggal dunia Hubby!" ucap Zahrana dengan rasa sedihnya. Bagaimana pun Aslan pernah menjadi masa lalunya, walaupun akhirnya semua harus berakhir dengan tragis.


"Innalilahi wainnailaihi ra'jiun ... " Yusuf dan Ummi Yasmin pun turut berdukacita atas meninggalnya Aslan.


"Semua sudah menjadi suratan takdir, Nak. Ada yang berduka cita, ada yang bahagia. Pun kematian setiap jiwa akan merasakannya terlepas berapa pun usianya. Sebab kematian tidak harus menunggu tua, meskipun masih muda, jika sudah waktunya ajal pun akan menjemputnya. Ajal tidak memandang atau menunggu waktu yang tepat, jika memang sudah suratan takdirnya meninggal di suatu tempat, maka detik ini juga, nafas hidup kita akan berakhir!" tutur Ummi Yasmin. Ia turut berduka atas kepergian Aslan yang masih berada di dalam jeruji penjara.


"Iya, Ummi. Insya Allah kak Aslan meninggal dalam keadaan Husnul khatimah, iya meninggal dalam keadaan sujud di hamparan sajadahnya," terang Zahrana antara rasa suka dan cita. Ia merasa tenang melepaskan kepergian Aslan dalam keadaan yang baik berdasarkan mata batinnya.


"Maa syaa Allah!" Ummi Yasmin dan Yusuf merasa takjub dengan keajaiban yang terjadi pada Aslan mengingat sebelumnya Aslan terjerat lumpur dosa yang tak berkesudahan sehingga menyebabkan pemuda tersebut jatuh dalam kenistaan dan mendekam di balik jeruji penjara hingga dalam kurun waktu dua bulan ia harus mengakhiri hidupnya di balik jeruji penjara. Kini ia benar-benar telah pergi untuk selamanya. Hanya sebuah nama yang masih terukir nyata. "ASLAN ABDURRAHMAN SYATIR."😭😭


🌹🌹🌹


Untaian mutiara hikmah 👉 "Kematian tidaklah menunggu kita bertaubat, tapi kitalah yang menunggu kematian dengan bertaubat. Kamu tidak perlu menunggu waktu yang tepat untuk berubah. Karena kematian tidak akan menunggu kamu untuk berubah. Kita terlahir dengan satu cara, namun kematian menjemput dengan berbagai cara."


__ADS_1


__ADS_2