
"Stoppp!" pekik Zainal.
"Shittt!" Barra menginjak rem mendadak.
"What happen?" tanya Barra dengan nada kagetnya.
"Kita balik arah, susu milik Nandini ketinggalan di mobil kita. Nandini sangat membutuhkan susu ibu hamil tersebut untuk kesehatan dan pertumbuhan bayi yang dikandungnya!" ucap Zainal dengan penuh kepanikan.
Barra menepuk jidatnya, " OMG! beginilah jika orang sedang di landa asmara dan bucin yang sangat parah!" bathin Barra dengan berbalik arah menuju tempat kediaman Nandini Sukma Dewi.
Sedangkan Zainal kembali dengan tatapan kosongnya, yang ada di dalam hati dan pikirannya kini hanyalah keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan Nandini Sukma Dewi sang pujaan hatinya, meski tak bisa untuk dimiliki olehnya.
"Tolong lajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, jangan sampai kita kehilangan jejak Nandini Sukma Dewi dan teman-temannya. Seingat ku mereka tinggal di Desa XX!" titah Zainal dengan penuh penegasan, membuat Barra spot jantungnya.
"Tidak perlu terburu-buru Tuan Zain, kita pasti sampai dikediaman Nandini Sukma Dewi."
Barra mengingatkan Zain, yang nampak tidak sabaran untuk mengantarkan susu Nandini yang tertinggal di mobilnya.
Barra pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengikuti keinginan Zain. Mereka menyalip semua kendaraan yang ada sehingga membuat beberapa pengendara motor dan mobil mengumpat mereka bertubi-tubi, lantaran tidak menaati peraturan lalu lintas.
Barra dan Zain pun sempat menyalip mobil yang di kendarai oleh Muhammad Zaid Arkana dan Zahrana yang hendak menuju kediaman kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra di Kota S.
"Astaghfirullah ... itu seperti mobil teman mu deh, Ra? laju kendaraannya luar biasa kencang sekali. Seperti ada sesuatu yang hendak di kejar olehnya?" ucap Muhammad Zaid Arkana.
"Subhanallah ... iya, Kak. Sepertinya begitu!" ucap Zahrana dengan berpikir keras. Ia khawatir akan terjadi baku hantam lagi antara Zainal dan Arjuna jika mereka bertemu kembali.
"Apa kita ikuti mereka, Kak. Sekalian kita singgah di Desa kediaman ku menemui Ayah dan Bunda ku. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Nandini Sukma Dewi sahabat ku, jika Arjuna dan Zain sama-sama bersikeras untuk memperebutkan Nandini Sukma Dewi." Zahrana memberi usul.
Zaid melihat jam tangan miliknya. "Sudah pukul 16.30 Wib, apa benar kau ingin menyusul teman-teman mu ke desa XX, desa tempat tinggal mu?" tanya MZ Arkana dengan melirik kearah Zahrana.
"Iya, Kak. Tapi, aku harus mengabari kak Sabrina dulu!" ucap Zahrana dengan menekan tombol panggilan di layar ponsel jadul miliknya.
Berapa detik kemudian, panggilan telfon itu pun tersambung.
π Sabrina : "Assalamu'alaikum, ada apa Dek?"
π Zahrana : "Wa'alaikumsalam Warahmatullahi ... kak Sabri, Zahra mungkin pulang agak malam. Sebab, Zahra hendak pulang ke desa kita. Ada kepentingan mendadak, Zahra di temani kak Zaid."
π Sabrina : "Kok mendadak sekali, Dek? kamu hati-hati, ya? kakak khawatir sebab kamu berduaan dengan akh Zaid. Bagaimana jika nanti terjadi fitnah di antara kalian, Dek?"
π Zahrana : "Insya Allah ... tidak akan terjadi apa-apa, Kak. Zahra bisa menjaga diri. Begitu juga dengan kak Zaid, ia terlihat baik."
__ADS_1
π Sabrina : "Baiklah, jika begitu kakak bisa lebih tenang."
π Zahrana : "Iya, Kak. Assalamu'alaikum ...."
π Sabrina : "Wa'alaikumsalam Warahmatullahi ...."
Zahrana mematikan ponsel miliknya, kemudian ia pun menampakkan senyum manisnya pada Zaid Arkana dengan wajah yang berbinar, hingga membuat detak jantung Muhammad Zaid Arkana pun semakin berdesir hebat ketika melihat senyuman manis Zahrana yang tertuju padanya.
"Alhamdulillah ... Kak, kak Sabrina memberikan izin untuk kita mampir ke desa kediaman ku!" ucap Zahrana dengan senyuman manisnya.
Zaid mengangguk pelan. Dalam hatinya pun terasa di penuhi oleh bunga-bunga cinta.
"Alhamdulillah ... gara-gara kecemasan Zainal, aku bisa bersama dengan Zahrana seperti ini!" bathin Muhammad Zaid Arkana yang kini di penuhi oleh sejuta perasaan bahagia yang memenuhi relung hatinya.
"Baiklah, kita berangkat!" ucap Zaid dengan senyuman devilnya.
Zahrana pun menatap lurus ke depan, sepanjang perjalanan menuju kediamannya, Zahrana dan Zaid hanya saling diam. Tidak banyak yang mereka bicarakan, kecuali hanya hal-hal yang penting saja.
"Kak, terimakasih sudah berkenan untuk menemani Zahra!" ucap Zahrana memecahkan kesunyian.
"Iya, sama-sama Ra. Kakak justru senang bisa menemanimu," ucap Zaid dengan senyumannya yang menawan.
"Hufttttt ... gara-gara kecemasan Zainal terhadap Nandini, menyebabkan diriku pun harus berduaan dalam satu mobil seperti ini dengan kak Zaid."
Zahrana menghembuskan nafas beratnya. Berduaan dengan Muhammad Zaid Arkana membuat perasaannya semakin tak menentu.
"Ya Allah ... jangan biarkan hamba tersesat dalam sumur dosa oleh sebab rasa ku yang tak menentu ini? adanya kak Yusuf dan kak Zaid dalam hidup ku, semua di luar kekuasaan ku! kenapa di setiap aku mencoba memantaskan diri hanya untuk satu hati, selalu hadir sosok pemuda yang lain di sisiku yang seolah-olah menguji biduk keimanan ku!" bisikan hati Zahrana yang kini membuat suasana hatinya jadi tak menentu.
"Ya Allah ... kuatkan lah iman hamba ketika berhadapan dengan Zahrana, sungguh pesonanya benar-benar menghipnotis ku!" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan suasana hati yang tak tenang. Sebab, gejolak hawa nafsunya begitu membuncah ketika berada di dekat Zahrana.
"Sesungguhnya, dunia ini adalah perhiasan. Namun, perhiasan yang paling indah itu adalah wanita yang shalihah, dan semua itu ku temukan pada diri mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan mencuri pandang ke arah Zahrana.
Tanpa sengaja Zahrana pun menoleh ke arah Muhammad Zaid Arkana. Seketika itu manik mata keduanya pun saling bertemu pandang.
"Kak Zaid!" bisikan hati Zahrana.
"Zahra, sungguh sempurnanya dirimu diciptakan. Pahatan wajah mu terukir indah bak bidadari turun dari kahyangan!" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana tanpa berkedip memandang kecantikan wajah Zahrana yang terpahat indah di seantero penghuni mayapada.
Menyadari Zaid memandangi dirinya dengan tatapan yang tak biasa, Zahrana pun segera mengingatkannya, agar Zaid tidak terhipnotis lebih jauh lagi terhadap dirinya.
"Kak, fokuskan diri mu melihat ke depan! kita masih berada di dalam mobil, kendaraan lalu lintas begitu ramainya, khawatir membahayakan pengendara lainnya jika kita saling bersitatap seperti ini!" ucap Zahrana dengan menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Bersitatap dengan Zaid membuat detak jantung hati Zahrana pun berdetak tak karuan.
"Ma-af!" ucap Zaid dengan berusaha mengatur ritme jantung hatinya. Ia pun kembali fokus menyetir mobilnya menuju kediaman Zahrana yang tinggal berapa menit lagi, keduanya pun kembali terdiam tanpa suara.
***
Di Desa XX, desa kediaman Zahrana.
"Mas Barra, sepertinya kita sudah sampai di Desa XX. Sepertinya itu mobil yang dinaiki oleh Nandini Sukma Dewi. Tidak salah lagi itu rumah Nandini Sukma Dewi, itu sepertinya kak Aslan kakaknya Nandini. Aku masih ingat sekali waktu SMP ia yang sering mengambil rapor Nandini," ucap Zain dengan tersenyum bahagia.
Barra pun menepikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di depan toko sembako keluarga Aslan Abdurrahman Syatir.
Zain pun terburu-buru turun dari mobilnya, ia pun menyuruh Barra selaku asisten pribadinya untuk membawa kantong kresek besar yang berisi susu ibu hamil milik Nandini Sukma Dewi yang tertinggal di dalam mobilnya.
"Mas Barra, tolong bawakan kantong kresek yang berisi susu ibu hamil tersebut. Nandini pasti bahagia dengan itu semua!" ujar Zainal dengan senyum sumringah.
Barra pun terpaksa menuruti keinginan tuan mudanya.
"OMG! dia yang bucin parah, lagi-lagi aku yang harus kena getahnya!" bathin Barra dengan menenteng kantong kresek yang berisi susu ibu hamil tersebut.
Gara-gara kecemasan Zainal tak pelak Barra Adi Sanjaya yang selalu kena imbasnya.ππ
"Nasib ... nasib ... " bathin Barra Adi Sanjaya dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal oleh tingkah polah Zainal.
π·π·π·
Untaian mutiara hikmahπ"Percayalah, jikaΒ dia memang cinta sejati mu, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus dilalui, dia tetap akan bersama dirimu kelak, suatu saat nanti. Cinta sejati memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk selalu mencintai. Dengannya kau mungkin akan merasakan apa beda cinta ikhlas sejati dengan cinta nafsu yang hanya perlu pelampiasan." ( Bisikan_H@ti Zainal special untuk Nandini Sukma Dewi π )βββ
π
π
π
Sambil menunggu update selanjutnya, author punya rekomendasi karya yang bagus untuk mu, yuk buruan mampir! tentunya dengan kisah yang tak kalah menarik dan serunya ya guys!ππ
Judul Karyanya : DUDA CASANOVA Terjerat Cinta Gadis Bar-bar
Authornya : Oktavia Hamda Zakhia
__ADS_1