Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
174 . Terpaksa Menginap


__ADS_3

"Dasar, wajah tanpa dosa!" pekik Zaid dengan melayangkan tinjunya di atas angin.


Sementara Fardhan terkekeh geli melihat ekspresi wajah Muhammad Zaid Arkana yang terlihat kalut lantaran khawatir dengan Zahrana. Zaid takut Zahrana menjauhi dirinya akibat bawa perasaan.


"Maafkan aku Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Muhammad Zaid Arkana.


Zaid tertegun sejenak, ia pun berusaha mencari cara agar besok bisa menjemput Zahrana kembali dalam keadaan fresh, ketika masuk kerja di Aisyah Boutique Colection milik Umminya. Setelah pun hari ini mereka memusatkan tenaganya dengan aktivitas penuh, bolak-balik dari kota S ke Desa XX, desa kediaman Zahrana.


"Hemmm ... kok malah melamun? anak muda mesti semangat dong? baru mendapatkan gertakan sedikit sudah loyo, kalah sebelum perang!" Sarkas Fardhan dengan menepuk pundak Muhammad Zaid Arkana.


"Ini gara-gara Mas Fardhan juga, bicara tanpa filter. Pakai bicara tentang pernikahan di hadapannya. Bagaimana jika besok pagi Zahrana tidak ingin bicara pada ku dan tidak ingin di jemput oleh ku? aku tidak ingin membiarkannya pergi bekerja naik angkot," pungkas Zaid.


"Kau tenang saja, Akh. Wanita itu mudah berubah, hatinya sangat lembut dan lunak. Meskipun pada saat sedang tidak mood ia agak cerewet! Ya, seperti kisah sahabat Nabi yakni Umar bin Khattab, mengadukan kecerewetan isterinya yang seharian penuh berkutat di dapur menyiapkan kebutuhan untuk keluarga mulai dari hal sekecil apapun, mengasuh anak, memperhatikan kebutuhan suami, mencuci, memasak, mengepel, jemur baju, dan segenap aktivitas fisik lainnya hingga membuat hati dan kelembutannya terhempas!" pungkas Fardhan dengan menyemangati Muhammad Zaid Arkana.


Zaid mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh Fardhan Arkan. Kemudian, Fardhan pun melanjutkan kalimatnya.


" Hemmm ... meskipun pada saat sedang kelelahan wanita sering ngomel dan marah-marah, percayalah akan ada saat hatinya tenang kembali, saat semua aktivitasnya selesai. Moodnya bakal pulih dan berubah lembut kembali dengan syarat kita sebagai suaminya pun menghargainya, dan tidak menyakitinya dengan kata-kata kasar. Intinya tetap lah bersikap lembut pada isteri kita secerewet apa pun dirinya terhadap kita, sejatinya wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Maka jika ingin merubahnya menjadi lurus itu sangat mustahil di lakukan kecuali tetap bersikap lembut padanya dan berusaha menenangkan hatinya! Namun, ini hanya akan bisa kau lakukan ketika kau sudah beristri, jangan kau praktekkan pada adik ipar ku Zahrana. Sebab kalian belum menikah!" sarkas Fardhan dengan menepuk pundak Zaid.


"Lalu, aku harus bagaimana jika Zahrana marah padaku? Apa kami harus saling diam?" sangkal Zaid dengan memijit pelipisnya.


"Aku kira sudah saatnya kau jujur tentang perasaan mu pada Zahrana. Bila perlu khitbah langsung tu Zahrana! daripada setiap hari kalian berduaan, khawatir memicu perzinahan di antara kalian berdua. Sehari dua hari belum, yang aku khawatir kan di hari selanjutnya, jika laki-laki dan wanita terus berduaan aku tidak bisa menjamin kalian akan selamat dari hawa nafsu yang buruk, sebab tipu daya syaitan itu halus. Nabi Adam saja yang setara Nabi pun bersama istrinya, jatuh tersungkur ke bumi akibat tertipu oleh bujuk dan rayu syetan. Akibat memakan buah khuldi yang jelas-jelas di larang oleh Allah."

__ADS_1


"Nabi Yusuf pun, hampir terbesit hasrat cintanya oleh pesona dan godaan dari Siti Zulaikha, apalagi kita yang hanya insan biasa, aku tidak yakin akan selamat dari bujuk hawa nafsu, jika terus bersamaan antara dirimu dan Zahrana. Namun, kembali lagi pada biduk keimanan antara kalian berdua sebatas mana kalian mampu memerangi hawa nafsu yang buruk, ketika keinginan hasrat itu pun muncul ke permukaan!" tegas Fardhan dengan tatapan serius pada MZ Arkana.


Zaid tertegun sejenak, ia nampak risau, sebab hampir saja benteng pertahanannya runtuh ketika bersama dengan Zahrana di mobil tadi hasratnya pun sempat membuncah, namun ia berusaha meredam keinginannya dengan mampir ke warung kopi.


"Alhamdulillah ... Aku bisa selamat dari keinginan hawa nafsu buruk ku. Jika tidak, mungkin aku telah melakukan sesuatu yang buruk pada Zahrana!" bathin Zaid.


"Nah, melamun lagi! aku yakin kau sependapat dengan ku," ucap Fardhan dengan gaya cool-nya.


Zaid pun mengangguk pelan membenarkan ucapan Fardhan Arkan.


"Kamu benar, Mas. Terimakasih atas untaian nasehatnya. Insya Allah aku akan mencoba mengutarakan niat ku pada Zahrana. Aku ingin mengkhitbah dan segera menikahinya!" ucap Zaid penuh keseriusan.


"Aku mendukungmu brother, jika untuk memenuhi setengah agama mu, kenapa tidak? niat karena Allah, insya Allah ... Allah mudahkan!" ucap Fardhan menyemangati MZ Arkana.


Zaid pun magut-magut mendengar penuturan Fardhan Arkan. Semakin larut malam, cerita mereka pun semakin intim.


"Astaghfirullah ... sudah pukul 22.30 wib, Mas. Sepertinya aku harus pamit pulang dulu!" ujar Zaid dengan terburu-buru ingin pulang.


Zaid pun menyeruput minuman jahe panas buatan Sabrina Zelmira Al Aqra. Ia ingin segera pulang, sebab telah larut malam. Namun, cuaca kembali mendung, hujan pun kembali turun dengan derasnya. Membuat Zaid terlihat menggigil menahan kedinginan. Jika menunggu hujan reda pun ia merasa tidak enak, sebab istri Fardhan Arkhan, Sabrina sejak tadi mondar-mandir seperti memberikan isyarat agar suaminya segera istirahat. Sebab, besok pagi harus menyibukkan diri mengurus toko mereka di dekat pasar kota S.


Sabrina menghampiri suaminya yang masih asyik berkelakar dengan Zaid, "Bi, apa tidak sebaiknya, akh Zaid menginap di sini? cuacanya sedang buruk, kasian sepertinya ia sudah kelelahan!" ucap Sabrina memberikan saran.

__ADS_1


Fardhan pun menyetujui permintaan istrinya, sebab malam pun semakin larut, walaupun dengan berat hati Zaid pun terpaksa menginap di rumah Fardhan Arkhan. Kakak iparnya Zahrana, ia pun sudah mengantuk berat.


"Mari silahkan masuk ke kamar tamu!" tunjuk Fardhan pada salah satu kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Zahrana.


Zaid pun mengikuti langkah Fardhan Arkhan.


"Terimakasih, Mas!" ucap Zaid dengan menerobos masuk ke dalam kamar yang telah di sediakan khusus untuknya.


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉 "Hawa nafsumu itu sama seperti anak yang sedang menyusu. Jika kamu tidak bersusah payah menyapihnya, maka dia akan terus merindukan dada sang Ibu, bahkan saat dia tumbuh dewasa. Hawa Nafsu, pertarungan yang tidak akan pernah berakhir. Maka kendalikanlah hawa nafsu sebelum ia mengendalikanmu."


🐝


🐝


🐝


Sambil menunggu update selanjutnya author punya rekomendasi karya bagus dan menarik untuk mu, kak.😘😘


Judul karyanya : Gadis Kesayangan Tuan Agra

__ADS_1


Authornya : Nurmay



__ADS_2