
Aslan Abdurrahman Syatir dan Yusuf Amri Nufail Syairazy, berjalan beriringan menuju Mesjid Al Ikhlas, mereka hendak menunaikan ibadah sholat isya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara mengingat sebab akibat Zahrana yang hampir terjatuh dari anak tangga, sehingga berujung pada adegan Yusuf menopang dan menggendong Zahrana yang memang dalam keadaan darurat memaksakan Yusuf untuk melakukan hal yang belum pernah ia lakukan terhadap yang bukan mahram nya, menyentuh wanita baginya adalah hal yang tidak dibenarkan dan tidak dihalalkan dalam kamus kehidupan nya, kecuali hal itu benar-benar darurat.
"Zahrana ... kenapa gadis itu terus bermain dalam ilusi ku? kenapa aku menjadi seperti layaknya pangeran yang sedang keresahan ketika melihat permaisurinya terluka dan kesakitan?" bathin Yusuf seraya membuka pecinya dan mengacak kasar rambutnya.
" Ya Allah ya Rabbi ... maafkan atas segala rasa yang tak semestinya ada didalam hatiku, sudah sekian waktu aku bertahan menyembunyikan rasa ini terhadap mu Zahrana, mengagumi mu dalam diamku, namun melihat mu terluka justru aku yang merasa kan perihnya, apa ini yang dinamakan rasa cinta dan kasih terhadap lawan jenis?"
"Ampuni hamba Mu yang dhoif ini ya Rabb, menyimpan rasa pada seorang Bidadari kecil bermata jeli seperti dirinya. Mengaguminya adalah hal yang sangat terindah dalam hidupku namun teramat sangat menyiksa bathin ku. Semua ini, untuk pertama kalinya ku rasakan dalam hidup ku. Namun tidak halal bagi ku mengutarakan segala isi hati terhadap yang bukan mahram ku," bisik hati Yusuf. Ia terus dan terus memikirkan Zahrana.
Yusuf pun semakin mempercepat langkahnya untuk segera sampai ke Mesjid. Mengingat waktu shalat isya semakin mepet, meski sebenarnya hatinya terus merasa resah sebab bayang-bayang Zahrana masih terus bermain-main dalam benaknya.
Melihat gelagat Yusuf yang tampak gelisah dengan ekspresi wajah yang sedang gundah gulana membuat Aslan Abdurrahman Syatir bisa menebak apa yang sedang di pikirkan oleh Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Tunggu!" ujar Aslan tiba-tiba menyapa Yusuf.
Yusuf pun menoleh.
"Iya ada apa Akhi?" tanya Yusuf sopan.
Yusuf terbiasa menyebut saudara laki-laki sesama muslimnya dengan sebutan Akhi ( panggilan untuk laki-laki dalam bahasa Arab ).
__ADS_1
"Maaf, apa kamu sedang memikirkan Zahrana?"tanya Aslan pada Yusuf.
Yusuf pun mengernyitkan dahinya, dengan pertanyaan Aslan yang terlalu pribadi menurut nya.Walau sebenarnya apa yang di ucapkan Aslan itu benar adanya jika dia memang sedang memikirkan Zahrana.
"Maaf ... aku rasa apa yang antum bicarakan terlalu jauh. Aku rasa tidak ada yang semestinya harus ku jawab," tutur Yusuf penuh penegasan.
Aslan merasa tertohok dengan jawaban Yusuf, dia tidak yakin jika Yusuf tidak terpana dengan Zahrana.
"Maaf ... aku tidak yakin jika dirimu tidak tertarik dengan Zahrana?" tanya Aslan kembali dengan perasaan yang tak menentu, sebab ia sangat cemburu dengan pemuda yang bernama Yusuf.
"Maaf Akhi, pertanyaan antum terlalu pribadi, terlepas aku tertarik atau tidak dengan Zahrana itu tidak perlu aku umbarkan pada siapa pun, cukup Allah saja yang menjadi saksi atas segala rasa ku."
"Aku dan Zahrana belum menjadi mahram, sangat tak layak mengumbar rasa terhadap lawan jenis kita, apalagi seluruh dunia harus mengetahui tentang rasa kita terhadapnya. Tentulah sangat tidak baik jika dilihat dari sudut pandang Islam," tutur Yusuf pada Aslan.
"Berarti benar jika kamu memiliki rasa terhadap Zahrana? rasa suka misalnya?" tanya Aslan semakin penasaran dengan sosok pemuda seperti Yusuf.
Yusuf tersenyum tipis, dengan pertanyaan Aslan yang terus bertubi-tubi menyerangnya. "Sudah seperti reporter saja", cicit Yusuf dalam hati.
"Maaf Akhi, pertanyaan Antum terlalu berlebihan, rasa suka ku hanya akan aku tujukan kepada pasangan halal ku. Karena sangat tidak halal bagi ku mengungkapkan rasa kepada yang bukan mahram ku,. Ku pikir dalam syari'at Islam kita tidak di larang untuk jatuh hati pada siapa pun, namun hendak lah rasa itu mampu untuk kita jaga dalam sujud dan do'a kita, ketika memang dia sudah halal untuk kita miliki, baru lah boleh untuk kita mengutarakan segala rasa". Tutur Yusuf penuh makna.
Aslan terdiam, sebab apa yang di ucapkan oleh Yusuf adalah benar adanya.
__ADS_1
Namun Aslan belum mengikuti pemahaman Islam yang fanatik seperti Yusuf. Sebab dia di besarkan dalam lingkungan keluarga yang masih tabu dengan hal-hal sedemikian.
Aslan memang belum pernah pacaran hingga detik ini, namun berhadapan dengan Zahrana ia memang tidak mampu memendam gelora rasanya, di usianya yang menginjak 19 tahun dia benar-benar jatuh hati pada Zahrana, sehingga wajar rasa cemburu terhadap pemuda Yusuf yang telah berani menyentuh Zahrana walaupun dalam keadaan darurat,ia tidak terima hingga membuat nya nekat menghampiri pemuda yang bernama Yusuf, mengintrogasi nya dengan seribu macam pertanyaan.
Pembicaraan Aslan dan Yusuf pun terputus, ketika Raihan adik Zahrana tiba-tiba berdiri di dekat mereka hendak menyeberang ke Mesjid Al Ikhlas.
Aslan dan Yusuf tidak menyadari jika Raihan sejak tadi berjalan di belakang mereka, mendengar kan percakapan mereka berdua.
"Kak Aslan. Kak Yusuf mari kita segera menyeberang jalan, mumpung kendaraan lalu lalang sepi."
"Tidak baik mengobrol di jalan raya, apalagi hendak menuju ke Mesjid dengan obrolan pribadi, jangan 'BAPER'(Bawa Perasaan). Khawatir ada yang mendengar obrolan kita yang sangat privasi,"ucap Raihan dengan suara setengah berbisik.
Aslan dan Yusuf saling berpandangan, mereka dibuat terperangah oleh ucapan Raihan yang sangat menohok, tidak menyangka jika akan keluar untaian kata yang begitu bermakna dari seorang anak kecil yang baru seumur jagung seperti Raihan.
Raihan tersenyum penuh makna, melihat sikap Aslan dan Yusuf yang menurut nya, sangat kentara menaruh rasa pada kakak nya Zahrana.
Namun Raihan tidak mau ambil pusing dengan perkara orang Dewasa.
Raihan dengan langkah santai melintasi jalan raya hendak menuju gerbang Mesjid.
Di susul oleh Yusuf dan Aslan yang sedang di rundung keresahan, tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Rasa malu tiba - tiba menyeruak di pita bathin mereka, sebab percakapan mereka berdua tertangkap basah oleh Raihan, adik Zahrana.