
Lengkingan suara Kirana Larasati yang menyambut kehadiran Nandini Sukma Dewi pun seketika membangunkan tidur lelap Cinta dan Fadhillah. Mereka pun perlahan membuka netranya yang masih terlihat menyipit, lantaran rasa kantuk yang mendera keduanya.
Melihat Kirana Larasati dan Nandini Sukma Dewi yang berpelukan erat seperti sepuluh tahun tak bersua. Cinta dan Fadhillah pun segera menghamburkan diri memeluk kedua sahabatnya itu.
Pasangan mereka masing-masing pun mereka tinggalkan begitu saja setelah sebelumnya pangkuan Rangga dan Virgantara menjadi tempat alas tidur Cinta dan Fadhillah. Sekarang mereka lebih fokus menyambut kedatangan Nandini Sukma Dewi.
"OMG ... dirimu kemana saja, Din? Kami begitu mengkhawatirkan mu." Fadhillah mencium pipi kanan dan kiri Nandini Sukma Dewi. Ia pun memeluk erat sahabatnya itu.
"Iya, Din. Kamu kemana saja? kami semua begitu mencemaskan mu, lihat hari sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kita harus menginap di mana?" tanya Cinta dengan raut wajah cemasnya.
"Maaf, tadi a-ku maksudnya kami dan kak Juna sedang berkunjung di kediaman keluarganya di kawasan XX. Keasyikan ngobrol jadi lupa waktu," ucap Nandini gelagapan.
"Ya sudah ... lain kali jangan seperti ini lagi, jika hendak kemana-mana jangan lupa beritahu kami. Sekarang kita hendak menginap di rumah Fadhillah apa dimana? Untuk pulang kerumah sepertinya tidak mungkin," ucap Kirana seperti sedang memikirkan jalan keluar terbaik.
"Bagaimana jika kalian semua menginap dikediaman ku saja, ini sudah larut malam. Beritahu orang tua kalian masing-masing. Tempat tinggal ku tidak jauh dari sini, kok. Itu pun jika kalian berkenan untuk menginap di kediaman ku, kebetulan aku tinggal sendirian di sini. Itu rumah pribadi milik ku," tawar Barra Adi Sanjaya yang ikut nimbrung di percakapan Kirana Larasati dan teman-temannya.
Mereka semua nampak berpikir keras, antara menerima atau menolak tawaran Barra atau tidak. Sebab waktu sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Ia harus segera menutup Kafe XX tersebut.
Di tengah keheningan mereka, hadirlah sang pemilik Kafe tersebut. Zainal Abidin yang baru keluar dari ruangan pribadi keluarganya. Ia tidak jadi pulang setelah melihat Nandini Sukma Dewi dan Arjuna Restu Pamungkas yang pergi entah kemana dan baru kembali ditengah malam seperti ini.
"Kemanakah kau membawa Nandini Sukma Dewi, hingga kembali larut malam seperti ini? Mereka seharusnya sudah pulang lebih awal dari semenjak jam 10 tadi, sesungguhnya kau tidak layak membawa anak gadis orang malam-malam begini yang bukan lagi jam keluarnya." Zainal menatap nyalang ke arah Arjuna Restu Pamungkas.
"Itu bukan urusan mu Tuan Muda Zainal Abidin yang terhormat! Dia wanita ku, kau tak punya hak untuknya. Dia milikku," ucap Arjuna Restu Pamungkas dengan sikap arogannya. Ia pun melingkarkan tangannya pada pinggang Nandini Sukma Dewi yang menurutnya Nandini kini seutuhnya menjadi miliknya, sebab malam ini kuntum bunga mawar tersebut sudah pun ia petik ranumnya.
Zainal merasa panas melihat perlakuan Arjuna terhadap Nandini Sukma Dewi, wanita yang kurang lebih hampir 6 tahun terakhir ini ia kagumi.
Melihat Arjuna yang tidak mengenal tempat mendekap mesra Nandini, membuat Zainal terbakar api cemburu.
"Jika janur kuning itu pun belum melengkung, Nandini masih milik bersama. Dan kau tidak punya hak untuk terus mengekangnya," ucap Zainal tak kalah sengitnya.
"Kau bukan siapa-siapa Nandini, dia adalah wanita ku. Kenapa pula kau melarang ku untuk mendekatinya." Arjuna menggenggam erat jemari tangan Nandini seolah-olah menunjukkan tanda kepemilikannya.
Ingin rasanya Zainal memberikan bogem mentah pada Arjuna, namun duduk akal sehatnya masih berfungsi dengan baik. Ia segera berlalu dari hadapan Arjuna Restu Pamungkas yang begitu kentara posesifnya, seolah-olah tidak rela melihat Nandini sedikit pun berdekatan dengan laki-laki manapun termasuk Zainal.
"Zain!" Nandini hendak mengejar Zainal. Ia ingin minta maaf atas perlakuan Arjuna yang terlalu berlebihan terhadap Zainal.
"Honey, tetaplah di sini!" Arjuna menarik pergelangan tangan Nandini. Membuat Nandini diam ditempatnya.
__ADS_1
Barra Adi Sanjaya selaku asisten Kafe XX segera beranjak menyusul Tuan Mudanya. Membuat semua yang hadir di Kafe tersebut terperangah sekaligus kagum dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh Zainal.
"OMG ... jadi Kafe ini milik keluarga Zainal Abidin?" cicit Kirana, Fadhillah dan Cinta bersamaan.
Membuat para lelaki mereka menoleh kearah pasangan mereka masing-masing.
"Aku kagum deh, sama Zainal Si Kutu Buku itu. Ternyata selain pintar ia juga mandiri dan pekerja keras. Pengusaha muda pula," ucap Fadhillah tanpa filter. Ia tidak menyadari jika Virgantara sudah menatap lurus padanya.
"Jadi aku ini siapa, baby? apa aku ini patung bagimu? dari sejak tadi kulihat kau selalu memuji pria lain di hadapan ku. Aku ini kekasih mu," ucap Virgantara seraya bersedekap dada.
"Maaf deh, kak Virgan ku, kekasih hati ku, belahan jiwa ku yang paling tampan sejagat raya. Walaupun aku memuji pria lain di hadapan mu, bukan berarti aku mengacuhkan mu. Kau adalah segalanya bagi ku," ucap Fadhillah seraya bergelayut manja di pergelangan tangan Virgantara.
"Please deh, jangan cembokur begitu! lagian Si Zainal itu teman sekelas ku waktu SMP dahulu. Zainal itu sukanya pada Nandini." Fadhillah berbisik di telinga Virgantara. Alhasil Virgantara pun magut-magut karenanya.
"Oh ... jadi sepupu ku Si Arjuna yang kece badai itu punya saingan dong untuk merebut hati Nandini Sukma Dewi, adiknya sahabat ku Aslan Abdurrahman Syatir." Virgantara keceplosan. Hingga ucapan tertangkap indera pendengaran Arjuna Restu Pamungkas.
"Kau ini, tidak bisa jaga rahasia. Kenapa sich suka keceplosan, lihat wajah Arjuna nampak berang." Fadhillah menunjuk kearah Arjuna.
"Ma-af, my sepupu. Peace yach?" Virgantara mengangkat dua jarinya hingga membentuk huruf V, tanda berdamai pada Arjuna Restu Pamungkas sepupunya itu.
"Tapi aku lebih beruntung daripada Si Zainal. Sebab, Nandini kini telah menjadi milik ku seutuhnya." Arjuna menggenggam tangan Nandini. Ia bahagia sebab telah menanamkan benih cinta pada Nandini yang mungkin nanti akan menjadi segumpal daging yang lucu untuk menemani hari-hari mereka.
"Aku tahu ini salah, tapi aku akan bertanggung jawab dan menikahi Nandini Sukma Dewi!" bisikan hati Arjuna Restu Pamungkas.
"Ya Allah ... nasib betul jadi jomblowati, hanya bisa menjadi penonton saja di kala teman-teman semua sedang bersuka hati. Namun, ini lebih baik daripada patah hati!" cicit Kirana Larasati didalam hatinya.
"Kak, sepertinya kita semua harus segera pulang. Lihat tu asisten Zainal sedang berdiri tegak ingin segera menutup gerbang Kafe ini. Mari kita semua segera keluar!" Cinta menarik pergelangan tangan Rangga Sahadewa kekasihnya.
Disusul kemudian oleh teman-temannya yang lainnya.
***
"Sepertinya deal kita menginap di kediaman Tuan Barra Adi Sanjaya saja. Sebab ini sudah larut malam, aku khawatir Ummi dan Abi ku akan marah besar jika kita pulang sudah larut malam seperti ini!" pungkas Fadhillah dengan nada khawatirnya.
"Tapi, alasannya apa Dhill? haruskah kita berbohong pada orang tua kita. Sebab aku bilangnya menginap di rumah mu, Dhil." Kirana menimpali.
"Aku juga bilang begitu pada papa dan mama ku, bagaimana ini? haruskah kita berbohong?" ucap Cinta Kiara Khoirani.
__ADS_1
"Buruan dong, hari sudah larut malam. Aku jadi merinding nich," ucap Nandini Sukma Dewi.
"Ya sudah ... kalian semua menginap di rumah pribadi milik ku di kawasan XX," ucap Arjuna mengambil keputusan.
"Tapi, By--"
Nandini menjeda ucapannya. Nandini masih terbayang-bayang dengan adegan panasnya bersama Arjuna berapa waktu yang lalu. Ia tidak ingin hal itu terulang kembali.
"Kamu tenang saja Honey, kalian semua akan baik-baik saja di sana. Tidak akan ada yang menganggu," ucap Arjuna berbisik kecil di telinga Nandini. Sehingga membuat bulu kuduk Nandini terasa meremang oleh ucapan kekasihnya itu.
"Tidakkkk! kalian lebih aman menginap dirumah Tuan Barra Adi Sanjaya, di sana kecil kemungkinan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, tempat kediaman pribadi ku berdekatan dengan kediaman Tuan Barra. Setidaknya aku bisa memantau kalian di sana. Apalagi kalian adalah teman-teman sekolah ku dulu. Wanita tidak boleh menginap sembarangan. Harus ada yang mengawasi!" ucap Zainal tiba-tiba dengan nada penuh penegasan.
"Kau masih disini juga Si Kutu Buku!" Arjuna mengepalkan tinjunya. Ia tidak rela jika Nandini dan teman-temannya menginap di kediaman Barra Adi Sanjaya yang baru di kenalnya. Mengingat Barra adalah asisten pribadi Zainal Abidin yang berstatus sebagai rivalnya.
Arjuna tidak rela jika kekasihnya Nandini Sukma Dewi berhubungan dengan Zainal Abidin, sekecil apapun urusannya.
"Honey, ikut aku!" Arjuna menarik pergelangan tangan Nandini . Ia ingin membawa Nandini masuk kedalam mobilnya.
"Jangan kasar terhadap wanita, Nandini itu teman ku! Kau hanya berstatus sebagai kekasihnya yang sewaktu-waktu pun bisa saja putus dari Nandini," ucap Zainal yang tak suka Arjuna semena-mena pada Nandini.
"Sudah kalian ribut melulu, seperti anak kecil saja. Zain ku mohon untuk kali ini aku minta maaf pada mu atas nama Arjuna kekasih ku. Maaf atas sikap arogannya." Nandini sengaja menekankan kata kekasih, sebab ia tidak ingin Zainal terlalu berharap lebih padanya.
"Maafkan aku Zain, untuk kesekian kalinya aku menorehkan luka di hati mu. Aku tahu kau memiliki rasa pada ku. Namun, jika kau tahu bahwa diriku ini sangatlah kotor dan tidak suci lagi ku yakin kau pun akan menjauh dari ku." Nandini ingin menangis, namun ia berusaha untuk menahan bulir airmatanya agar tidak keluar.
"Zain, biarkan aku dan teman-temanku menginap di rumah pribadi milik Arjuna. Insya Allah kami akan aman, kami semua berempat bisa saling menjaga satu sama lain." Nandini akhirnya memilih menginap di kediaman Arjuna dikawasan perumahan elite XX.
"Baiklah, jika itu pilihan mu. Jika ada apa-apa hubungi aku." Zainal memberikan kartu nama yang tertera nomor handphone pribadi miliknya.
"Itu tidak penting. Aku pun bisa menjaga wanita ku," sungut Arjuna.
"Hubby, sudah! jaga sikap mu!" Nandini pun segera mengambil kartu nama milik Zainal, tujuannya hanyalah untuk berjaga-jaga agar ketika ada yang mendesak ia bisa menghubungi Zainal.
"OMG ... Zain Vs Arjuna benar-benar saling bertolak belakang, yang satu lembut yang satu arogan. Seperti bumi dan langit," cicit Nandini Sukma Dewi didalam hatinya. Ia pun memegang kepalanya yang terasa pusing akibat kedua pria dihadapannya saling kekeuh mempertahankan argumennya masing-masing.
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉 "Allah akan mengujimu dengan sesuatu yang engkau cintai, maka janganlah engkau berlebihan dalam mencintainya, agar saat sedih engkau tidak berlebihan terhadapnya. Pada saat hikmah cinta menusuk ke kalbu, berangkat dari suatu niat yang mulia karena Allah, niscaya keajaiban cinta yang hakiki tidak akan lenyap dari jiwa orang-orang yang beriman selamanya. Apabila engkau belum mampu untuk berkorban demi ketaatan, maka engkau belum benar-benar mencintai Sang Pemilik Semesta. Jangan khawatir mengenai takdir cinta, karena Allah telah menuliskan nama pasanganmu sebelum engkau lahir ke dunia. Maka, yang perlu engkau lakukan hanyalah memperbaiki hubunganmu dengan Allah." ( Taubat_Maksiat )
__ADS_1