Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
64 . Kepindahan Hafidzah


__ADS_3

Hari ini, adalah hari pengambilan raport semester pertama Zahrana dan teman-temannya, juga Siswa-siswi SMP Negeri 3 XX lainnya.


Semua Murid-murid tampak bersemangat, wajah-wajah mereka pun penuh dengan binar keceriaan dan kegembiraan. Mereka ingin segera melihat nilai raport semester pertama masing-masing.


Pengambilan raport ditetapkan pukul 08.00 wib oleh pihak Sekolah. Murid-murid nampak tidak sabar menunggu kehadiran orangtua atau wali mereka.


Zahrana dan teman-temannya, seperti biasanya nongkring di Taman Bunga dekat Sekolah. Mereka sengaja berkumpul ramai-ramai bersama pasangan masing-masing.


Zahrana dengan Rivandra, Nandini dengan Arjuna, Cinta dan Rangga. Sementara, Fadhilah, Hafidzah dan Kirana Larasati masih betah dengan jomblo sejatinya. Apalagi Hafidzah sangat kekeuh memegang perinsip nya,ia tidak akan pernah menempuh jalan pacaran.


Apalagi syari'at Islam tidak memperbolehkan, terlebih lagi mudharatnya sangat besar dan mengarahkan kedalam bentuk perzinahan dan yang semisalnya. Selain itu, dosanya pun berlipat-lipat jika tidak segera bertaubat. Tidak ada yang namanya pacaran dalam kamus hidupnya Hafidzah seperti halnya, perinsip yang di pegang oleh seorang pemuda yang Sholih, mengingatkan Zahrana pada sosok laki-laki yang kerap kali mencuri pandang padanya Yusuf Amri Nufail Syairazy. Sosok pemuda Sholih yang kini memiliki hafalan 28 Juz Al-Qur'an. Insya Allah 2 Juz lagi Yusuf akan menyelesaikan Muroja'ahnya dengan Buya Harun Al Aziz, Ayah Zahrana.


"Hemmm ... kau cocok sekali dengan kak Yusuf," pikir Zahrana yang ia tujukan kepada Hafidzah sahabatnya.


"Ra ... kau kenapa? kok melamun?" tanya Rivandra seraya menatap lekat nanar wajah Zahrana yang kini telah menjadi teman istimewanya.


Setiap hari, setiap detik,menit dan jam. Rivandra tidak pernah bosan memandangi wajah wanitanya yang nampak lugu nan ayu. Namun, memiliki pesona dan kharisma yang sangat luar biasa.


"Kak, kenapa menatap ku instens? Zahra baik-baik saja kok, Kak." Zahra pun refleks menyandarkan kepalanya pada bahu Rivandra. Ia sangat menampakkan rasa manjanya hari ini,ia ingin terus di perhatikan oleh Rivandra Dinata Admaja kekasihnya. Entah firasat apa yang Zahrana rasakan,ia merasakan hubungannya dengan Rivandra tidak akan berlangsung lama, entah karena sebab apa? Namun Zahrana telah pun siap dengan kemungkinan yang akan terjadi nantinya, jika Rivandra benar-benar pergi dari kehidupannya. Setelah mengetahui ia mendua.


"Hey ... kenapa dirimu jadi manja seperti ini, Bidadari kecil ku?" bisik Rivandra lembut ditelinga Zahrana.


"Kau membuat ku tak jemu-jemu untuk terus memandangi mu, Ra." Rivandra terus memandangi wajah cantik Zahrana, seraya mentoel hidung Zahrana.


"Sakit kak," ucap Zahrana manja sembari balas mentoel hidung Rivandra. Jadilah aksi bercanda ria mereka berdua seraya kejar-kejaran mengitari Taman Bunga. Bayangkan seperti sedang menyanyikan lagu Kisah kasih di sekolah, sebab semua mata memandang, semut merah pun bersembunyi di balik sarangnya. Khawatir terinjak oleh Zahrana dan Rivandra yang sedang asyik kejar-kejaran.


Mereka tidak menyadari jika semua mata tertuju pada mereka.


"Princess Zahraaa ... kak Rivandraaa!" pekik teman-teman Zahrana.


"Kami di sini terasa seperti angin lewat yang berhembus saja, sedangkan kalian adalah bahteranya yang sedang asyik menyelami dasar cinta yang bernama asmara," ujar Fadhilah mewakili teman-temannya. Jiwa jomblonya meronta, sebab melihat kemesraan Zahrana dan Rivandra Dinata Admaja.

__ADS_1


Semua teman-temannya terkekeh geli melihat wajah Fadhilah yang terlihat kuyu, sebab hanya bisa kejar-kejaran dengan angin, lantaran tidak ada teman istimewa yang dapat mengisi relung hatinya.


"Hafidzah ... Kirana ... lebih baik kita ke kantin saja yuk! disini tak baik untuk kita. Itu Princess Zahra,sibuk berkencan dengan kak Rivandra. Nandini dengan Arjuna, Cinta juga ikut-ikutan bersama kak Rangga," ujar Fadhillah seraya memanyunkan bibirnya.


"Dhill, harusnya kita bersyukur. Hati kita masih suci dan terjaga, itu artinya kita terhindar dari segala bentuk kemudharatan dan perzinahan. Aku malah bangga jadi jomblo sejati," ujar Hafidzah.


"Memang pacaran itu termasuk zina dan berdosa ya, Dzah?" tanya Fadhillah dengan wajah polosnya.


"Aku yakin, satu saat nanti kau juga akan mengerti Dhill. Disini aku tidak ingin mendudge kalian dan teman-teman. Do'a ku semoga nantinya Allah Subhanahuwata'ala menuntun jalan kita semua menuju keridhaan-Nya. Untuk saat ini, cukup belajar yang baik. Jangan terlalu banyak pikiran! kita masih terlalu dini untuk merasakan itu semua. Semoga seiring berjalannya waktu, Allah senantiasa membuka hati dan jiwa kita untuk menjemput jejak-jejak hidayah yang mungkin sempat terhempas oleh percikan noda-noda dosa yang tak terelakkan yang kerap kali kita lakukan," tutur Hafidzah dengan raut wajah yang teramat serius.


"Kenapa kau berucap begitu Dzah? seperti mau perpisahan aja!" celutuk Fadhilah.


"Iya,Dhill. Kamu benar, kita memang akan segera berpisah. Hari ini adalah hari terakhir kita berkumpul, sebab aku dipindahkan oleh Ummi dan Abi ku di Pondok Pesantren di kota P. Ummi dan Abi ku menginginkan aku untuk lebih memfokuskan ilmu akhirat. Kata Ummi dan Abi, jika kita menuntut ilmu akhirat dan kita taat menjalankan perintah Allah Subhanahuwata'ala. Maka seterusnya dunia yang akan mengejar kita, bukan kita yang mengejar dunia. Dunia yang akan bertekuk lutut di bawah kaki kita. Sebab kita telah berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran yang hakiki, berbalut iman dan taqwa kepada Rabb kita," tutur Hafidzah dengan manik wajah yang sendu.


Hafidzah bahagia jika ia akan masuk Pesantren dan lebih menuntut ilmu pengetahuan dan Agama Islam lebih dalam lagi. Namun, ia nampak sedih sebab akan berpisah dengan teman-teman sekolahnya. Ia sangat khawatir jika teman-temannya sampai salah langkah. Apalagi Zahrana satu-satunya lentera dalam persahabatan mereka. Kini pun telah menempuh jalan pacaran. Terlebih, Hafidzah mendengar pengakuan Zahrana, juga Nandini, Cinta dan Kirana yang sebagai saksi, Zahrana telah menjalani hubungan dengan dua pria sekaligus. Dengan lawan mainnya Aslan Abdurrahman Syatir. Kakak dari Nandini sahabat mereka sendiri, juga menjalin hubungan dengan Rivandra Dinata Admaja. Membuat Hafidzah semakin khawatir berpisah dengan teman-temannya.


Kirana Larasati yang dari sejak tadi menjadi pendengar setia,tak pelak ia pun menitikkan air mata sebab kepindahan Hafidzah.


Nandini Sukma Dewi dan Cinta Kiara Khoirani, mendengar samar-samar ucapan ketiga orang temannya. Nandini dan Cinta melerai genggaman tangan mereka pada pasangan mereka, Arjuna dan Rangga.


Nandini dan Cinta pun ikut menghamburkan diri memeluk Hafidzah. Mereka berlima pun saling berpelukan dan menangis senggukan. Lantaran sedih berpisah dengan Hafidzah yang selama ini kerap kali menjadi sosok teman yang selalu mengarahkan mereka dalam kebaikan dan kebenaran. Namun, setelah ini, entah kapan lagi mereka akan mendengarkan kultum Hafidzah.


Zahrana yang sedang berkejaran dengan teman istimewanya, Rivandra Dinata Admaja. Ia pun segera menghentikan canda ria mereka dan segera menghampiri Hafidzah dan teman-temannya.


"Ada apa dengan teman-teman ku," pikir Zahrana seraya setengah berlari menuju ke arah Hafidzah dan teman-temannya yang lain.


Tanpa aba-aba, ke-lima orang teman-temannya di mulai dari Hafidzah langsung memeluk erat Zahrana dan tidak ingin melepaskannya. Hafidzah menangis senggukan dalam pelukan Zahrana, sehingga air mata Hafidzah membasahi permukaan baju seragam Zahrana.


Di susul oleh ke-empat orang temannya, Nandini, Cinta, Fadhilah dan Kirana Larasati. Mereka berempat pun merangkul erat Zahrana. Sehingga mereka ber-enam berpelukan sangat lama. Sehingga menjadi tontonan Siswa-siswi lainnya.


Zahrana nampak kebingungan mengapa teman-temannya merangkul erat dirinya, dan menangis senggukan. Seperti menangis kehilangan orang terkasihnya.

__ADS_1


Nandini mewakili teman-temannya, kemudian menjelaskan sebab akibat mengapa mereka semua menangis dan saling merangkul satu sama lain.


Mendengar cerita Nandini, jika hari ini adalah pertemuan terakhir mereka dengan Hafidzah sahabatnya. Lantaran Hafidzah hendak pindah ke Sekolah baru, yakni Pondok Pesantren di kota P.


Kini, Zahrana balik menangis senggukan. Ia merangkul erat Hafidzah sahabatnya, tanpa berniat sedikitpun melepaskannya.


"Dzah, kenapa kau mendadak sekali memberitahukan perihal kepindahan mu terhadap kami. Ini tidak adil Dzah," ucap Zahrana disela-sela Isak tangisnya.


Hafidzah melerai pelukannya dan menyeka air mata Zahrana.


"Maafkan aku Ra, ini semua bukan keinginan ku. Ini adalah titah kedua orangtuaku,Ummi dan Abi ku menginginkan aku lebih menuntut ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan syari'at Islam, untuk menuntun masa depan kita di dunia menuju akhirat."


"Aku harap nantinya, kalian semua bisa menjaga marwah kalian dari pergaulan bebas yang hendak menjerumuskan kalian dalam jerat-jerat lumpur dosa yang tak terelakkan, tanpa mengenal batas-batas yang telah di tetapkan oleh syari'at Islam."


"Terutama dirimu Ra, jadilah lentera untuk teman-teman kita. Hiasi lah diri kalian dengan rasa malu, yang berbalut keimanan dan ketaqwaan kepada Rabb kita. Tetap berusaha meraih ampunan dan mengejar cinta Allah dalam sujud dan do'a. Walaupun berjuta atau beribu kali pun kita terjatuh kedalam jerat lumpur dosa, tetap lah berusaha menjemput hidayah dan kasih sayang Allah. Yakinlah hanya Allah zat yang Maha Pengampun atas segala dosa-dosa yang telah kita perbuat. Jika pun saat ini kita terpuruk dan terjatuh kedalam perpecikan noda-noda dosa, tetaplah berdiri di hadapan pintu Rabb-Mu dan jangan pernah berbalik arah,apalagi sampai berputus asa dari Rahmat Allah."


"Aku tahu kau adalah sosok wanita Shalihah,Ra. Aku sangat yakin itu! Suatu saat nanti kau akan menjadi sosok wanita muslimah nan Sholihah berbalut iman dan taqwa, disaat hidayah itu pun perlahan menyapa mu dan Bidadari Syurga pun akan iri kepada mu, lantaran kesholihanmu," ujar Hafidzah.


Kini dihadapan teman-temannya, Hafidzah mengambil sesuatu di tasnya, ada 5 pcs jilbab segiempat berwarna putih polos yang cukup tebal dan lebar yang ia berikan kepada masing-masing sahabatnya sebagai kenang-kenangan untuk ke-lima sahabatnya.


"Ra,Dhill,Cin,Kir dan kamu Nandini ... tolong kalian terima ya, bingkisan ini. Kuharap besok atau lusa atau pun satu saat nanti kalian bisa mengenakan jilbab ini. Aku pun, insya Allah akan segera menutup aurat ku secara sempurna sebelum aku masuk Pondok Pesantren di kota P."


Hafidzah pun segera membagikan jilbab tersebut kepada teman-temannya.


Zahrana dan teman-temannya pun menerima sepenuh hati, dan tak lupa mereka mengucapkan terimakasih kepada Hafidzah.


Mereka berenam pun saling merangkul.


Semua Siswa-siswi SMP Negeri 3 XX, yang menyaksikan acara perpisahan Hafidzah pun bersorak gembira. Mereka ikut terharu dan bahagia melihat persahabatan Zahrana dan teman-temannya yang begitu penuh kasih dan cinta.


Sementara pasangan masing-masing dari mereka, yakni Rivandra Dinata Admaja dan Arjuna Restu Pamungkas juga Rangga Sahadewa masih berdiri di tempatnya. Mereka memandang kearah Zahrana dan teman-temannya. Sampai Zahrana dan teman-temannya puas menikmati kebersamaan terakhir mereka dengan Hafidzah sahabatnya, sebelum Hafidzah pindah ke Pondok Pesantrennya.

__ADS_1


__ADS_2