
Ya Allah ... sungguh aku belum siap melepaskan kepergian Zain dari sisi hidup ku! namun, keterikatan ku dengan Arjuna membuat ku tidak bisa untuk tetap bersama Zain!" Bathin Nandini.
Zainal berusaha tegar dan kuat di hadapan semuanya. Ia tetap menampakkan senyumannya pada Nandini dan semua yang hadir di ruang tamu.
"Zainal, aku tahu senyuman yang kau tampakkan hanya untuk menutupi kekecewaan mu. Senyuman yang terukir di wajah mu, justru membawa luka untuk ku. Aku kecewa dengan diriku sendiri, maafkan aku yang dari sejak dulu hingga detik ini selalu mengecewakan mu!" bathin Nandini Sukma Dewi dengan tertunduk pilu.
Suasana di ruang tamu seketika hening. Aslan yang baru menyadari tentang kesedihan yang terpancar di mata Nandini juga Zainal, ia pun menggerutuki kebodohannya.
"Astaghfirullah ... bukankah tempo dulu, Zainal pernah menaruh hati pada Nandini adik ku. Maafkan aku adik ku yang dari tadi tidak peka akan kisah cinta segitiga mu bersama Arjuna dan Zain. Kalau saja tadi aku peka, tentu tidak akan terjadi begini!" bathin Aslan.
"Ma-af apa tidak sekalian menunggu ibadah sholat Maghrib dulu baru kalian pulang!" ujar Aslan dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak apa-apa, Kak. Biar kami pamit dulu, nanti kita bisa singgah di Mesjid ketika waktu sholat Maghrib tiba. Kebetulan pekerjaan di Cafe XX masih belum selesai hari ini," ucap Zain hendak berpamitan dengan Aslan di ikuti pula oleh Barra Adi Sanjaya selaku asistennya.
Namun, belum sempat Zainal dan Barra keluar dari rumah milik keluarga Nandini , sebuah mobil Avanza putih berhenti tepat di kediaman Nandini.
Sesosok gadis cantik nan mempesona dengan kerudung merah yang di kenakannya membuat si empunya rumah terpaku dan terpesona melihatnya. Di temani oleh seorang pemuda yang berperawakan imut seperti anak remaja, padahal usianya sudah menginjak usia 25 tahun, mampu membuat seorang Abdurrahman syatir di dera rasa cemburu walaupun ia sadar si gadis berkerudung merah tersebut bukan miliknya lagi.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra! pesona mu yang luar biasa, entah kenapa sampai detik ini hati ku masih terpikat pada mu. Namun, aku akan berusaha menekan ego ku. Ku tak ingin kentara mengejar mu seperti dulu lagi, biarkan ku kubur rasa ku terhadap mu, sungguh ku tak ingin mengemis cinta dari mu. Karena rasa cinta ku pada Rabb ku kini jauh lebih besar daripada cinta ku terhadap mu!" bathin Aslan Abdurrahman Syatir dengan menundukkan pandangannya.
Aslan benar-benar telah bertekad dalam hatinya untuk tidak lagi menodai kesucian hati Zahrana seperti dulu. Cukup dimasa lalu ia menggores luka dan kepiluan di hati sang bidadari bermata indah itu.
Di sepertiga malam terakhir yang sering ia lakukan akhir-akhir ini, ia seolah-olah mendapat ilham dan kekuatan untuk bisa menahan gejolak rasanya terhadap Tsamirah Zahrana Az Zahra.
"Pemuda itu, seperti sosok Satpam dan Khotib di mimbar Mesjid ketika sholat Jum'at di kota S tempo hari, apakah mereka kini memiliki hubungan khusus atau---?" Aslan bertanya-tanya dalam hatinya.
Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana pun semakin mendekat ke kediaman keluarga Aslan. Semua orang di sana nampak terpukau melihat kehadiran Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana.
"OMG! sempurna ... " pikir semua yang hadir di sana yang terdiri dari Aslan, Nandini, Arjuna, Barra, Zainal, Virgantara dan Rangga Sahadewa.
"Assalamu'alaikum ... " ucap Zahrana dan Muhammad Zaid bersamaan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " jawab serempak dari dalam rumah.
Kecuali Arjuna Restu Pamungkas, ia nampak enggan menjawab salam dari Zahrana dan Zaid. Ia masih sakit hati dengan tausiyah dadakan yang di sampaikan oleh Zahrana berapa jam yang lalu, yang mana ucapan Zahrana yang sangat menohok hatinya.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra ... urusan kita belum selesai! kau benar-benar telah membangkitkan gairah dan emosi ku, jangan panggil nama ku Arjuna Restu Pamungkas jika nantinya aku tidak dapat melumpuhkan diri mu. Ternyata pesona dan kecantikan mu sangat luar biasa di bandingkan kekasih hati ku Nandini Sukma Dewi, apalagi Adelia Kencana Puteri. Sungguh, mereka hanya seperti butiran debu yang di terbangkan angin!" bathin Arjuna Restu Pamungkas yang mulai bangkit sisi Playboy-nya, setelah pun ia berpuasa menjadi Playboy selama 4 tahun menjalin hubungan dengan Nandini Sukma Dewi.
Namun, entah mengapa setelah hasrat satu malamnya dengan Nandini satu bulan yang lalu dan pertemuannya dengan Adelia Kencana Puteri membuat Arjuna berubah dan gelap mata. Sisi buruk yang dulu pernah ia lakukan dalam hidupnya, kini kembali memporak-porandakan biduk keimanannya.
Setetes hidayah yang pernah menyapanya, menjadi sosok lelaki yang setia dan bertahan dengan satu hati kini telah lenyap dari dirinya. Hawa nafsu buruknya dan bisikan syaitan seolah lebih ia ikuti. Sehingga akal sehatnya pun kini tak berfungsi.
***
"Din, bagaimana keadaan mu?" tanya Zahrana dengan merangkul Nandini sahabatnya.
"Alhamdulillah ... seperti yang kau lihat aku baik-baik saja, Ra. Bukankah besok kau akan bekerja? bukankah untuk sementara kau tinggal di kota S di rumah kak Sabrina?" tanya Nandini dengan menatap lekat manik mata Zahrana.
"Aku hanya sebentar disini, insyaAllah nanti malam ba'da isya aku akan kembali ke kota S di temani kak Zaid. Aku sengaja datang kemari ingin mengetahui keadaan mu. Syukurlah jika dirimu baik-baik saja!" ucap Zahrana dengan rasa senang melihat Nandini terlihat baik, meskipun ia tahu sahabatnya itu sedang dilema dengan perasaannya antara rasa cinta pada Zainal dan menikah dengan Arjuna.
"Pantas saja banyak pemuda yang tergila-gila pada mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Arjuna dengan mencuri-curi cara memandangi wajah Zahrana agar tidak tertangkap basah oleh lainnya.
Rangga Sahadewa yang sudah lama menjadi sahabat dekat Arjuna, yang pernah menjadi Mak comblang untuk Arjuna di waktu SMP pun membaca gelagat buruk Arjuna yang tertuju pada Zahrana.
"Astaghfirullah ... sepertinya sisi buruk Arjuna mulai terlihat, sifat Playboy-nya yang dulu pernah menghinggapinya kini muncul kembali. Aku tidak akan pernah membiarkan Arjuna menyakiti dan menghancurkan persahabatan Zahrana dan teman-temannya. Kak Virgantara harus tahu semua ini untuk berjaga-jaga, agar nafsu bejat Arjuna tidak semakin menjadi-jadi!" bathin Rangga.
"Nandini Sukma Dewi, kasian sekali dirimu. Arjuna kini benar-benar telah berubah menjadi buruk dan berutal, semoga pernikahan kalian nanti bisa langgeng. Jika bisa di rubah takdir, akan lebih baik kau berjodoh dengan Zainal ketimbang dengan Arjuna!" bisikan hati Rangga Sahadewa yang di tujukan pada Nandini Sukma Dewi.
Meskipun Arjuna teman dekatnya, dari sejak kecil hingga sekarang ini bagi Rangga tidak ada toleransi lagi jika Arjuna sampai berbuat di luar batas wajarnya.
Kehadiran Zahrana dan MZ Arkana ketempat tinggalnya membuat Nandini merasakan sangat nyaman, begitu pun Aslan ia begitu sangat antusias sekali, ia pun saling bercengkrama dan bertukar pikiran dengan MZ Arkana begitu pun Virgantara dan Rangga tanpa berbaur dan ikut nimbrung dalam percakapan mereka yang syarat maanfaat. Begitu pun dengan Zainal dan Barra, Kecuali Arjuna hanya sibuk sendiri dan nampak cuek, ia tidak begitu menanggapi hal-hal yang berbau realigi yang di bicarakan oleh teman-teman di sekitarnya.
"Kak Aslan dan kak Zaid kalian berdua bisa seramah dan seakrab ini, sungguh suatu pemandangan yang sangat menakjubkan!" bathin Zahrana.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan kak Aslan? kenapa dari sejak tadi ia selalu menundukkan pandangannya terhadap ku? ia benar-benar telah berubah, dari sejak tadi yang ia bahas hanya perkara realigi, syukurlah jika ia memang telah berubah!" bisikan hati Zahrana.
Tiga puluh menit sudah mereka saling bercengkrama, Zahrana dan Zaid pun pamit undur diri, sebab sebentar lagi akan tiba waktu shalat Maghrib. Zahrana ingin segera singgah ke rumahnya, rumah di mana ia dibesarkan dari sejak kecil. Ia sangat rindu sekali dengan Ayah dan Bundanya.
"Din, sepertinya kami hendak undur diri. Kami ingin singgah dulu kerumah, sudah kangen dengan Ayah-Bunda. Lain kali kita sambung lagi ngobrolnya. Kamu jaga diri dengan baik ya? jangan lupa undangannya jika sudah dekat hari pernikahannya!" ucap Zahrana dengan senyum cerianya.
"InsyaAllah ... kamu adalah tamu istimewa untuk ku, Ra." Nandini memeluk erat Zahrana, keduanya pun terlihat saling menyayangi.
Zahrana menelungkupkan tangannya, ketika berhadapan dengan Aslan Abdurrahman Syatir juga lainnya. Tak sepatah katapun yang terucap dari keduanya. Aslan benar-benar menjaga pandangannya.
"Zahrana, bukan aku tak ingin bicara pada mu. Mungkin dengan cara ini aku bisa menjaga jarak pada mu, biarkan rasa ini hanya aku dan Rabb ku yang mengetahuinya, aku tidak ingin lagi mengumbar rasa pada mu. Meskipun sebenarnya berat untuk ku melupakan dan melepas mu dari hatiku!" bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir.
"Kak Aslan, kau benar-benar telah berubah. Semoga Allah meridhoi jalan hijrah mu, semoga kakak mendapatkan jodoh yang lebih baik dari ku!" bisikan hati Zahrana.
Zahrana dan Zaid pun segera keluar dari dalam rumah keluarga Aslan, setelah Zaid pun berpamitan dengan Aslan dan semua yang ada di sana.
Zainal dan Barra pun ikut berpamitan pulang, setelah kepulangan mereka sempat tertunda oleh kehadiran Zahrana dan MZ Arkana.
Nandini dan Aslan melepaskan kepergian orang yang mereka cintai dengan penuh rasa pilu di hati.
"Zainal ... tak mudah bagi ku melupakanmu jejak mu yang pernah menghiasi relung hatiku, walaupun hanya sekejap ku rasakan keindahan sesaat bersama mu!" bisikan hati Nandini Sukma Dewi.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra ... terima kasih dahulu kau pernah menghiasi ruang hati ku yang sempat berkarat oleh hausnya jiwa ku akan belaian kasih yang tulus dari mu. Bersama mu, mengajarkan ku arti cinta sejati dan ketulusan, kau telah mengajari ku arti kesabaran. Kau pun telah menyentuh hati dan jiwa ku untuk bisa meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan kini aku pun akan berusaha menjemput hidayah ku yang sempat terhempas oleh keinginan hawa nafsu buruk ku!" bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir.
Aslan dan Nandini pun saling terpaku, keduanya pun kembali masuk ke dalam rumahnya setelah mengantarkan Zaid dan Zahrana juga Zainal dan Barra sampai ke teras rumahnya.
Tinggal lah Arjuna, Rangga dan Virgantara yang masih belum pulang. Mereka rencananya akan pulang ba'da Magrib. Seketika suasana pun hening setelah kepergian Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana dari hadapan mereka.
🌷🌷🌷
...Untaian mutiara hikmah 👉 "Jika hati masih ragu untuk mencintai. Mengapa harus yakin tuk memiliki. Dan akhirnya nanti hanya ingkar janji. Padahal Cinta itu suci. Bukan berakhir benci, Dan Cinta sejati itu harus saling melengkapi."...
__ADS_1