
Hari sudah menjelang pagi, kicau burung pun tiada henti saling bersahutan, Zahrana bergegas bangun dari peraduannya. Ia belum menunaikan ibadah sholat shubuh.
"Astagfirullah ... banyak betul panggilan tak terjawab, Mas Pramuja, kak Aslan, yang ini nomor baru. Siapakah gerangan?" Zahra bertanya-tanya didalam hatinya.
"Ya Allah, notifikasi pesan banyak betul. Pagi-pagi begini sudah ada yang membangunkan, tapi aku malah tidak kedengaran sama sekali." Zahrana berbicara dengan hati kecilnya sendiri.
"Nak, kau sudah bangun? Bunda sudah sejak tadi membangunkan mu, namun kau masih asyik terlelap, jadi Bunda sholat duluan."
"Iya, Bunda. Maaf, semalam Zahra tidurnya kemalaman. Al hasil bangunnya kesiangan."
"Ya sudah, buruan ambil wudhu dulu, Nak. Segera tunaikan ibadah sholat mu! jangan di tunda-tunda lagi ya, Nak!" titah Bunda Fatimah.
"Iya, Bunda." Zahra pun segera bangkit dari tempat tidurnya, ia pun melakukan ritual wudhunya dengan baik. Kemudian menunaikan ibadah sholat shubuh dan tak lupa ia pun mendaras Qur'an, yang memang selalu menjadi kebiasaannya setelah selesai menjalankan ibadah Sholat 5 waktu.
Ditengah khusu'nya Zahrana mentadaburi ayat demi ayat suci Al-Qur'an yang ia baca. Ponselnya pun kembali berdering bersahutan. Namun, Zahrana masih fokus mendaras Qur'an meskipun dering telfon bergema di bilik kamarnya.
Setelah selesai dari ritual ibadahnya barulah Zahrana bergegas mengecek ponsel miliknya.
"Ya Allah ... Cinta dan Kirana juga Nelfon, kak Aslan, Mas Pramuja ada apa mereka?"
" Kring ... kring ... kring ...."
📞 "Assalamu'alaikum ... Humaira, selamat pagi! hari ini kamu sibuk nggak?"
📞 "Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " ucap Zahrana yang terlihat malas dari seberang telfon.
📞 "Kenapa suaranya lemas betul? kamu masih mengantuk, kah?"
📞 "Hari ini aku balik ke kota S, Kak. Besok pengambilan kelulusan SMK akhir." ucap Zahrana pada Aslan. Ia merasa risih jika Aslan selalu memanggilnya dengan sebutan Humaira, sebab mereka berdua bukan pasangan yang halal.
📞 "Aku antarkan sekalian yach? sekalian kita jenguk Nandini. Rumah sakitnya pun kan sejalan dengan tujuan mu, Ana bareng kakak saja!" ucap Aslan.
📞 "Baiklah, jika untuk Nandini aku ikut. Tapi, kakak harus jaga jarak dan sikap!" ucap Zahrana tegas.
📞 "Baiklah Humaira ku!"
__ADS_1
Zahrana pun segera menutup telfonnya, ia benar-benar risih dengan sikap Aslan yang terlalu memaksa dan kentara mengejarnya tanpa kata menyerah.
***
"Kurang ajar! Jadi kau yang telah menodai Nandini adik ku," ucap Aslan seraya melayangkan tinjunya pada wajah Arjuna Restu Pamungkas.
"Ma-af, Kak. Kami tidak sengaja melakukan itu ketika party sebulan yang lalu!" ucap Arjuna tanpa berani melihat tatapan wajah Aslan Abdurrahman Syatir yang tampak berang padanya.
"Bug ... bug ... bug ... " Aslan menghajar Arjuna tanpa ampun. Sehingga pegawai Sembako dan Counter miliknya pun, yakni Sera dan Raina pun bergidik ngeri melihat Aslan yang membabi buta menghajar Arjuna Restu Pamungkas tanpa ampun.
Zahrana yang kebetulan datang ke toko mereka guna ingin membelikan roti sayap alias pembalut khusus datang bulan pun, dibuat kaget melihat Aslan menyerang Arjuna bertubi-tubi.
Setelah selesai menjalankan ibadah sholat dan tilawah Qur'an berapa menit kemudian Zahrana kedatangan tamu bulanannya. Ia bergegas datang ke toko Aslan yang paling dekat dari rumahnya. Sebab, pukul 06.00 pagi biasanya toko mereka sudah buka.
"Kak Aslan, hentikannn! apa-apaan kakak langsung main gebuk anak orang. Jika ada masalah baiknya diselesaikan secara kekeluargaan, jangan main tangan sendiri!"
Aslan menghentikan aksinya, ia segera menoleh pada sosok suara yang tidak asing di telinganya. Melihat kehadiran Zahrana Aslan pun berhenti memberikan bogem mentah untuk Arjuna.
Zahrana segera menghampiri Arjuna yang terlihat lemah dan tak berdaya.
"Tolong ambilkan kapas, mbak!" titah Zahrana pada salah satu pegawai Aslan yang bernama Raina.
Raina pun memberikan kapas pada Zahrana. Menyusul pula obat P3K yang diberikan oleh Aslan pada Zahrana untuk mengobati luka Arjuna.
Bagaimana pun, Aslan tidak ingin Arjuna mati konyol. Sebelum pemuda itu mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan Nandini adiknya, yang kini masih terbaring di rumah sakit.
Dalam keadaan setengah sadar, Arjuna menatap lekat nanar wajah Zahrana yang nampak tulus merawat lukanya dengan penuh kasih dan ketulusan.
Arjuna baru menyadari jika Zahrana begitu cantik dan mempesona. Seketika getaran rasa tiba-tiba mengalir begitu saja menyentuh relung jiwanya, yang selama ini hanya di isi oleh satu nama yakni Nandini Sukma Dewi, yach ... hanya Nandini seorang.
Namun, melihat sosok Zahrana bak Bidadari yang turun dari kayangan, membuat detak jantung Arjuna semakin berdegup kencang melihat keindahan rona wajah Zahrana yang terpampang nyata di hadapannya.
Jiwa Playboy Arjuna yang telah 4 tahun lenyap dari dirinya, kini pun kembali bergelora, membuncah jiwa mudanya. Benar! Ia pun terhipnotis oleh pesona Zahrana.
Arjuna yang masih terlihat lemas, setelah di obati Zahrana pun ikut menimpali.
__ADS_1
Namun, seketika gelora asmara itu meredup ia kembali mengingat Nandini kekasihnya.
"Nan-Nandini, di mana?" tanya Arjuna spontan.
"Ia rawat inap di rumah sakit, ini gara-gara kecerobohan mu yang telah berani-beraninya merusak kehormatan adik ku, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu!" ucap Aslan penuh penegasan.
Arjuna tertunduk lesu. Ia menyesal sekaligus malu dihadapan Aslan juga Zahrana. Apalagi di situ ada dua orang pegawai Aslan Sera dan Raina yang mendengar tentang kebejatannya.
"Benarkah Nona Nandini hamil?" kedua pegawai Aslan, yakni Sena dan Raina saling membathin dalam hati. Mereka berdua pun saling lirik pandang.
"Ku harap sekarang kau bersiap-siap untuk menjenguk Nandini di Rumah Sakit Medika, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu dihadapan orang tua ku!" titah Aslan dengan perasaan yang mulai melunak.
Zahrana pun telah selesai mengobati luka Arjuna. Ia pun segera bangkit, sebab ia merasa tidak nyaman dengan kondisinya saat ini. Untunglah Zahrana mengenakan pakaian serba hitam, jadi tidak kentara bercak merah di rok yang di kenakannya.
"Roti sayap satu bungkus, Mbak!" ucap Zahrana pada Raina.
"Silahkan, pilih roti yang mana saja yang Nona mau! itu di keranjang Roti tersedia beberapa macam merk roti. Ada yang selai nanas, ada yang selai kacang, coklat, blueberry juga selai keju," ucap Raina dengan wajah polosnya dengan menunjukkan ke arah keranjang khusus roti yang sudah tertata rapi di atas meja.😁😁
"Eemmm ... ma-af, maksud saya Roti sayap yang itu, mbak. Khusus tamu bulanan," ucap Zahrana seraya menunjukkan ke arah stok pembalut wanita.
"Ya Allah ... maaf Nona, saya jadi Lola alias Loading lama. Iya sebentar saya ambilkan," ucap Raina seraya nyengir kuda.
Zahrana tersipu malu, sebab Aslan Abdurrahman Syatir masih berdiri di tokonya seraya menatap lekat ke arahnya.
"Jadi, itu roti sayap yang Zahrana inginkan!" cicit Aslan di dalam hatinya.
"Repot sekali kebutuhan wanita, pakai roti sayap pula. Bagaimana jika aku menikah dengan Nandini nantinya pasti sangat merepotkan sekali," cicit Arjuna sembari meringis kesakitan oleh sebab memar di wajahnya terasa perih setelah di obati oleh Zahrana.
Zahrana pun melenggang pergi tanpa berpamitan dengan Aslan dan Arjuna. Ia ingin segera membersihkan dirinya dan pakaian yang dikenakannya.
Setelah ini, ia ingin kembali kerumah kakaknya Sabrina di kota S. Selain itu, ia pun akan ikut dengan Aslan untuk membesuk Nandini sahabatnya di Rumah Sakit.
"Zahra, tunggu!" pekik Cinta dan Kirana Larasati.
🌷🌷🌷
__ADS_1
...Pencerahan 👉" Pada awalnya, cinta itu bisa melihat. Tapi, menjadi buta karena masuk ke dalam hati yang paling dalam. Jika engkau sedang mengagumi kebun orang lain, jangan lupa menyirami bunga sendiri."😁😁...