
Raihan dan Yusuf nampak asyik bercengkrama, mereka membahas berbagai macam ilmu pengetahuan yang terkait dengan hal-hal religi. Raihan nampak serius mendengarkan setiap pencerahan yang di sampaikan oleh Yusuf, sesekali kedua anak muda berbeda generasi itu pun senyum dan tertawa ketika membahas hal-hal yang menurut mereka terdengar lucu dan menyenangkan.
"Kak, jadi kapan halal dengan kak Zahra? jangan tunggu lama-lama lho, nanti di ambil orang!" sarkas Raihan sambil tersenyum riang, sebab sengaja menggoda Yusuf, agar obrolan mereka tidak monoton membahas hal-hal yang serius. Sehingga menyebabkan ketegangan jika yang di bahas selalu hal realigi. Sekali-kali harus diselipkan canda tawa.
"InsyaAllah secepatnya, Rai. Kakak menunggu kedatangan Ummi dan Abi dulu, insya Allah nanti malam mereka akan datang kemari." Yusuf nampak terlihat gemetaran ketika membahas tentang hal-hal yang menjurus pada pernikahannya dengan sosok Zahrana, wanita yang sangat dicintainya olehnya.
"Ya Allah, mengapa dadaku terasa berdebar-debar. Bidadari shalihah itu benar-benar telah mencuri segenap hati dan jiwa ku," bathin Yusuf dengan berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Alhamdulillah, Raihan senang mendengarnya Kak. Suatu keistimewaan yang sangat luar biasa jika kak Yusuf bisa menjadi kakak ipar Raihan!" seru Raihan dengan binar wajah bahagia.
"Insya Allah, semoga Allah mudahkan segala urusannya, agar kami bisa segera menghalalkan hubungan ini!" terang Yusuf penuh pengharapan agar segera berjodoh dengan Zahrana.
Di tengah keterasyikan perbincangan mereka, Zahrana datang menghampiri keduanya.
"Hemmm ... nampaknya seru sekali ceritanya, lagi membicarakan apa?" sarkas Zahrana dengan menyuguhkan es buah untuk Yusuf dan Raihan juga berbagai jenis cemilan ringan untuk keduanya.
"Maa syaa Allah, tidak usah repot-repot Ra. Ini sudah kebanyakan," ucap Yusuf dengan sekilas menatap wajah yang terkasih.
"Alhamdulillah ... kebetulan ada rezeki, Kak. Jadi, bisa menyuguhkan yang baik-baik untuk dihidangkan, kakak juga sudah terlalu baik pada Zahra dan keluarga," ucap Zahrana dengan menampakkan senyum khasnya, membuat hati Yusuf semakin tersentuh oleh kelembutan bidadari yang ada di hadapannya tersebut.
"Terima kasih untuk semuanya, Ra!" ucap Yusuf dengan mencicipi es buah yang disuguhkan oleh Zahrana.
"Sama-sama, Kak. Zahra ke dapur dulu, mau menyiapkan makan malam kita nanti sebelum kedatangan Ummi Yasmin dan Abi Farhan," ucap Zahrana dengan beranjak pergi dari hadapan Yusuf dan Raihan.
"Buya Harun kemana, Kak?" tanya Raihan sambil menyendokkan es buah ke mulutnya.
"Lagi di kandang ayam, katanya mau mengambil telur ayam dan juga menangkap ayam untuk dipotong, menyambut kehadiran calon besan." Zahrana sengaja menekan kata calon besan, agar ia dan Yusuf tidak terlihat canggung dan kaku.
Yusuf tersenyum, hatinya terasa berbunga-bunga oleh ucapan calon bidadarinya yang tanpa sengaja telah memberikan isyarat jika mereka berdua memang harus segera halal agar terhindar dari hal-hal yang tidak di ridhoi oleh Allah.
__ADS_1
"Rai, bagaimana jika kita pun ikut membantu Buya agar pekerjaannya cepat selesai!" ajak Yusuf penuh semangat.
"Boleh, Kak." Raihan tak kalah semangatnya, ia dan Yusuf segera berganti dengan pakaian santai sebelum menemui Buya Harun di perternakan ayamnya yang kini telah berkembang pesat di belakang rumahnya.
Yusuf hanya mengenakan celana santai selutut dan juga atasan kaos oblong berwarna putih. Hingga menampakkan postur tubuhnya yang kekar, dan ditumbuhi bulu-bulu halus disekitar lengan dan kakinya membuat Zahrana tak berkedip menatap tubuh kekar nan gagah tersebut, di tambah dengan bulu-bulu halus yang menghiasi wajah pemuda tersebut semakin membuat Zahrana terpana dengan sosok pemuda yang memang sangat dikagumi olehnya dari sejak dahulu hingga detik ini pun, perasaan itu semakin tumbuh dan berbunga di taman hatinya yang paling dalam.
"Maa syaa Allah ... kuatkanlah iman hamba-Mu ini ya Rabb!" bathin Zahrana dengan segera menundukkan pandangannya. Setelah pun hatinya sempat terpana dengan pemandangan yang tak biasa dilihat olehnya dari sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Zahrana pun segera membantu Bunda Fatimah bergelut di dapur, sedangkan Yusuf dan Raihan berjalan beriringan menuju peternakan kandang ayam, menemui Buya Harun Al Aziz, untuk sekedar membantu Buya Harun di peternakannya.
***
Matahari pun mulai tenggelam di ufuk barat, langit pun mulai terlihat gelap. Di kediaman Zahrana masing-masing penghuninya pun telah selesai dengan tugasnya masing-masing. Mereka telah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Yusuf Amri Nufail Syairazy ba'da Magrib nanti.
Sementara, Buya Harun, Raihan dan juga Yusuf telah bersiap-siap untuk pergi ke Mesjid Al Ikhlas, guna menunaikan ibadah shalat Maghrib. Sedangkan, Zahrana dan Bunda Fatimah lebih memilih sholat dirumah.
"Bunda, Nak Zahra. Ayah dan Nak Yusuf juga Raihan, berangkat ke Mesjid dulu!" ucap Buya Harun mewakili Yusuf dan Raihan.
Setelah berpamitan dengan Zahrana dan Bunda Fatimah ketiga laki-laki berbeda generasi itu pun segera beranjak menuju Mesjid sedangkan Zahrana dan Bunda Fatimah pun segera melakukan ritual wudhunya, sembari menunggu kumandang adzan.
Zahrana nampak tersentuh hatinya ketika mendengar seruan adzan yang bergema begitu merdunya layaknya kumandang adzan Billal bin Rabah pada Zamannya.
"Maa syaa Allah, baru kali ini aku mendengarkan kumandang adzan semerdu ini, benar-benar menyentuh hati dan jiwa," bathin Zahrana dengan meneteskan air matanya.
"Sungguh, aku bisa merasakan getaran ini. Aku yakin ini pasti kak Yusuf," bathin Zahrana meyakinkan. Ia pun segera beranjak menuju kamarnya dan menghamparkan sajadahnya seperti biasanya. Kemudian segera melaksanakan ibadah sholat dan juga tilawah Qur'an selalu menjadi santapan rohani untuk Zahrana disetiap selesai menjalankan ibadah shalat 5 waktunya.
***
Diperjalanan pulang dari Mesjid.
__ADS_1
Buya Harun, Raihan dan Yusuf berpapasan dengan Aslan Abdurrahman Syatir yang juga melaksanakan ibadah sholat Magrib di Mesjid Al Ikhlas.
"Assalamu'alaikum, Buya?" sapa Aslan dengan mengulurkan tangannya pada Buya Harun.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, Nak Aslan apa kabar?" tanya Buya Harun dengan penuh santun.
"Alhamdulillah, Baik Buya." Aslan pun melirik ke arah Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Menyadari tatapan Aslan tertuju pada Yusuf, Buya Harun pun memperkenalkan Yusuf pada Aslan Abdurrahman Syatir.
"Nak Aslan, ini Nak Yusuf santri Buya dahulu, ia sudah lama tidak bertandang kemari, setelah 4 tahun mengenyam pendidikan di Kairo-Mesir!" terang Buya Harun dengan binar wajah bahagia.
Aslan dan Yusuf saling bersalaman, keduanya pun saling mengingat kembali kisah berapa tahun silam.
"Bukankah ia adalah pemuda yang dulu menolong Zahrana ketika terjatuh di anak tangga padepokan? Ia juga yang menasehati Zahrana ketika di Pantai Indah Kenangan Bersama, ketika Zahrana memilih mengakhiri hubungan kami kala itu?" bathin Aslan dengan rasa tak percaya ketika melihat sosok Yusuf yang kini terlihat sangat religius dan gagah perkasa.
"Subhanallah ... bukan kah ia pemuda yang pernah menjadi teman istimewa Zahrana tempo hari? tidakkk! untuk sekali ini aku tidak akan membiarkan Zahra dekat dengan lelaki mana pun, apalagi sampai berpacaran seperti dahulu. Insya Allah, malam ini juga aku akan segera mengkhitbah Zahrana!" bathin Yusuf penuh penegasan.
"Ada gerangan apakah pemuda yang bernama Yusuf ini kemari? tidak mungkin ia akan melamar Zahrana mengapa hatiku rasanya seperti tercubit. Rasanya aku tak rela jika Zahrana akan segera di lamar dan menikah dengan pria lain," bathin Aslan mulai tak tenang.
Yusuf vs Aslan, kini masing-masing dari keduanya pun seolah saling bersaing secara sehat untuk merebut hati seorang Zahrana. Tampaklah dari tatapan dan bahasa tubuh keduanya sama-sama bersitegang untuk mendapatkan seorang Zahrana.😂😂
Keduanya pun akhirnya terhenyak dari keterpakuannya masing-masing, ketika mendengar ocehan Raihan.
"Kak Aslan, kak Yusuf, lama sekali sesi salamannya. Raihan yakin kalian sudah saling mengenal berapa tahun yang silam. Bedanya, sekarang kak Yusuf sudah terlihat gagah perkasa dan sangat religius!" sarkas Raihan membuat Buya Harun, Yusuf dan juga Aslan merasa terkejut mendengar ucapan anak remaja yang tanpa filter tersebut. Seketika ketiganya pun menoleh ke arah Raihan Arman Habibie.
💜💜💜
Untaian mutiara hikmah 👉"Tak ada hati yang ingin tersakiti. Bicarakan dengan baik agar semua lebih ikhlas dan tenang. Dalam cinta juga diperlukan sikap yang tegas. Agar tak ada hati yang salah mengartikan. Berikan kepastian agar hati merasa lebih tenang. Ikuti kata hati, karena ia memahami isi nuranimu. Jangan ragu dengan pilihanmu. Segala sesuatu yang diniatkan baik akan berakhir baik."
__ADS_1