
Zahrana membuka handle pintu rumahnya, tak lupa ia pun mengucapkan salam pada seisi rumahnya. Namun, suasana rumah terlihat senyap.
"Tidak ada jawaban, mungkin Ayah dan Bunda sudah terlelap." Zahrana membathin dalam hatinya.
Zahrana menutup kembali pintu rumah mereka, kemudian ia pun melenggang masuk ke dalam bilik kamarnya. Ia pun membuka hijabnya dan berganti dengan baju tidur You Can See, yang benar menampakkan lekuk tubuhnya yang terekspos dengan sempurna.
Pesona yang terpancar dari rona wajah dan tubuh indah Zahrana tentunya akan sangat menggoda bagi setiap kaum Adam yang memandangnya.
Namun, di dalam kamarnya sendiri Zahrana bebas menampakkan perhiasannya, sebab tidak ada yang melihatnya sekalipun ia mengenakan pakaian kurang bahan sekalipun.😁😁
Akan tetapi, jika keluar rumah Zahrana benar-benar menutup rapat auratnya secara sempurna. Yang terlihat hanyalah wajah dan telapak tangannya.
"Kau sudah pulang, Nak?" tanya Bunda Fatimah yang tiba-tiba masuk ke kamar Puterinya.
Bunda Fatimah masih terlihat mengantuk dan menyipitkan matanya. Namun, melihat Puteri kesayangannya sudah pulang dari rumah sakit, membuat Bunda Fatimah beranjak ke kamar Puterinya untuk memastikan keadaan Bidadari kecilnya itu.
Zahrana pun bangkit dari tempat tidurnya, ia urungkan untuk tidur melihat kehadiran Bundanya.
"Sudah, Bunda. Maaf, Zahra pulang kemalaman Bunda."
"Nggak apa-apa, Nak. Bagaimana perkembangan Nandini, apa kata dokter?" tanya Bunda Fatimah dengan rasa ingin tahunya.
"Nandini rawat inap, Bunda. Ia lemas dan tidak bertenaga, kurang darah kata dokternya, ia juga masuk angin." Zahrana tidak memberitahukan Bunda Fatimah jika Nandini sedang hamil muda oleh hubungan terlarangnya bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.
"Oh, begitu. Siapa yang menjaganya, jika kamu dan Nak Aslan sudah kembali pulang?"
"Sudah ada Ibu Ratna Anjani dan Om Anjasmara Bunda, jadi Zahra bisa pulang."
__ADS_1
"Oh, iya Bun. Tadi Zahra bertemu Mas Pramuja Wisnu Baskara anaknya Tante Asma Nadia, ia menjadi petugas keamanan bersama temannya," ucap Zahrana.
"Jadi, anak nakal itu sudah kembali dari perantauannya. Ibu tidak sabar ingin bertemu dengan Mas Pramuja mu, Nak. Insya Allah nanti pas ambil kelulusanmu hari Sabtu nanti Ibu akan berkunjung ke rumahnya juga sekalian mampir dulu ke rumah kak Sabrina, Ibu ingin melihat cucu ibu, Yumna dan Shaka. Ibu sudah rindu dengan mereka, mereka jarang sekali bertandang ke rumah."
"Iya Bun, Mas Fardhan suami kak Sabrina sibuk dengan dagangannya di pasar, Toko Sembakonya ramai pengunjung, pegawainya pun 3 orang yang membantunya. Jika sore hari ba'da Ashar ia mengajar Anak TPA di Mesjid Al Hidayah yang tidak jauh dari rumahnya. Paling pas liburan sekolah Yumna mereka berkunjung kemari, Bunda."
"Syukurlah, Nak. Perekonomian kak Sabrina sekarang semakin meningkat, dulu pekerjaan suaminya itu hanya tukang sayur keliling biasa. Alhamdulillah akhirnya berkat ketekunan mereka selama 8 tahun terakhir ini mereka pun bisa membeli ruko didekat pasar, sehingga bisa memiliki modal untuk membuka toko sembako," ujar Bunda Fatimah dengan meneteskan air mata harunya mengingat perjuangan Sabrina Zelmira Al Aqra yang menikah di usia mudanya yang baru beranjak 16 tahun kala itu.
Bunda Fatimah merangkul dan mengusap surai rambut Zahrana dengan penuh kasih. Melihat Bundanya meneteskan air matanya, membuat Zahrana terenyuh hatinya, ia berjanji akan membahagiakan Bundanya dengan prestasi yang dimiliki olehnya di kemudian hari nanti.
***
Zahrana menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, ia tidak bisa memejamkan matanya, mengingat Nandini sahabatnya yang kini masih berbaring dirumah sakit dan telah berbadan dua.
"Ya Allah ... kasian sekali dirimu, Din. Semoga kondisi mu lekas membaik, semoga dirimu kuat menghadapi segala cobaan yang menimpamu. Aku bangga padamu, kau mengisi kekosongan mu dengan belajar menuntut ilmu syar'i. Aku bahagia, kini kau pun telah menutup aurat mu dengan hijab. Dosa dan kemaksiatan yang pernah kau lakukan membawa mu mendekatkan diri kepada Rabb-Mu," bathin Zahrana.
"Ding ... " notifikasi pesan tiba-tiba masuk.
📲 "Selamat Malam Bidadari syurga ku, selamat bermimpi indah. Aku akan terus mendekatimu secara perlahan. Sampai dirimu kembali menerima cinta ku seperti dulu, aku benar-benar mencintai mu, jadilah wanita ku seutuhnya. Yang merindukan mu." NB : Aslan Abdurrahman Syatir.
Zahrana mengeryitkan dahinya, ia mengabaikan pesan Aslan. Ia berusaha memejamkan matanya.
"Kring ...."
"Kring ...."
"Kring ... " berkali-kali ponsel Zahrana berbunyi. Akhirnya ia pun mengangkat telfonnya itu.
__ADS_1
📞 "Apalagi, kak Aslan. Aku rasa tidak ada yang harus dibahas lagi. Kita benar-benar sudah end kak, sudah Zahra bilang. Zahra tidak akan pernah lagi kembali pada kakak. Lupakan Zahrana kak, Zahra mohon!" ucap Zahrana setengah memelas.
📞 "Hei, adik manis bawel dan cerewet. Aku Mas Pramuja Wisnu Baskara, bukan Aslan Abdurrahman Syatir. Kalian berantem lagi, yach? syukur deh, kalian ternyata hanya berteman dan tidak pacaran. Ini teman kakak Muhammad Zaid Arkana, sama seperti mu ia juga tidak mau pacaran. Sepertinya kalian berdua cocok," ucap Pramuja menggoda Zahrana sepupunya.
📞"Astagfirullah ... Mas Pramuja, kamu?"
📞 "Iya betul sekali cantik, Ini Mas Pramuja mu. Save ya nomor, Mas. Kamu sudah sampai rumah, kan? jika sudah segera tidur! jangan bergadang malam-malam, tidak baik untuk kesehatan mu.
📞 "Iya Mas, Zahra save nomornya. Zahrana istirahat dulu, Mas. Hemmm ... untuk urusan asmara Zahra belum memikirkannya, titip salam dengan teman Mas Si Hansip imut itu, jaga keamanan yang baik jangan salah tinjau lagi seperti tadi, jangan tiba-tiba mengudge seseorang! " ucap Zahrana dari seberang telfon.
📞 "Hehe ... Iya deh gadis kecil ku, maaf jika tadi sempat berprasangka buruk pada mu. Salam mu sudah Mas sampaikan pada Pak Hansip yang imut di samping kakak ini, " ucap Pramuja yang tiada henti-hentinya menggoda Zahrana.
Zahrana pun mematikan telfonnya.
"Ya Allah ... jangan biarkan hamba jatuh kedalam sumur dosa yang dapat merusak kesucian hati ku. Berikan hamba kekuatan agar terhindar hal-hal yang tak diinginkan," bisik hati Zahrana. Ia pun akhirnya terlelap bersama mimpi indahnya.
***
"Ya Allah ... kenapa kau pakai bawa-bawa nama ku Pak Pramuja Wisnu Baskara," ucap Muhammad Zaid Arkana. Ia merasa malu terhadap Zahrana.
"Ya Ampun, Pak Zaid sudah jangan malu-malu mengakuinya. Aku tahu jiwa jomblo mu meronta. Kesempatan nggak datang dua kali lho, mumpung aku mendukungmu untuk menjadi teman istimewa sepupu ku. Gunakan kesempatan yang ada, sebelum sepupu ku nantinya diambil orang," sarkas Pramuja dengan memberikan dukungan pada sahabatnya itu.
MZ Arkana pun berpikir sejenak untuk mencerna setiap ucapan Pramuja.
"Insya Allah ... Aku akan mendekati mu secara perlahan Tsamirah Zahrana Az Zahra," bathin Muhammad Zaid Arkana. Ternyata benar ia telah pun jatuh hati pada sosok Zahrana. Gadis anggun dan mempesona itu.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉"Dunia tiba-tiba tampak lebih hangat, lebih cerah, dan lebih ramah ketika aku bertemu denganmu. Aku harap aku memiliki efek yang sama pada dirimu. Meski kita baru bertemu sekali, aku tidak bisa mengeluarkanmu dari pikiranku. Aku pikir ini mungkin yang dicari oleh hatiku yang kesepian. Gubraak! Duarr! Itulah yang aku rasakan saat bertemu denganmu. Mungkin tidak terdengar seperti itu, tapi itu adalah perasaan terbaik yang pernah ada. Tunggu saja' kata mereka. 'Miss Right akan menemukanmu'. Aku tidak benar-benar percaya semua itu, lalu kamu terwujud dan menjadikanku percaya." ( Muhammad Zaid Arkana )