Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
76 . Membelanya ( Meski Tak Termiliki )


__ADS_3

"Prok ... prok ... prok ... " tepuk tangan dari beberapa Siswi yang sinis terhadap Zahrana yang masih berada dalam dekapan Rivandra Dinata Admaja.


"Dasar wanita jal*ng!" umpat seorang Siswi berambut pirang, yang tidak lain adalah Priska Prahara.


"Aku tidak menyangka gadis kecil seperti mu begitu licik sekali dan pandai mengelabui laki-laki dengan bersembunyi di balik wajah polos mu," ucap Priska Prahara semakin memojokkan Zahrana di hadapan para Siswa-siswi yang menyaksikan adegan tersandungnya Zahrana hingga berujung dalam dekapan Rivandra Dinata Admaja.


"Iya, ketika di Sekolah ia asyik bermesraan dengan laki-laki lain. Sementara ia sudah mempunyai pacar yang lain di luar sekolah, pria dewasa lagi. Dasar wanita cent*l," umpat Priska Prahara lagi.


Para Siswa-siswi pun ikut terpancing dengan ucapan Priska Prahara. Mereka pun ikut mencaci Zahrana. Seolah-olah Zahrana hanyalah benalu dan lumpuran kotor yang tak bermakna.


Perlahan Rivandra melepaskan dekapannya pada Zahrana. Ia pun menyelamatkan Zahrana dari tudingan Priska Prahara.


"Hentikan cercaan kalian pada Zahrana! ia lebih sempurna dari pada kalian!"


Rivandra menghampiri Priska Prahara.


"Ku peringati padamu Pris, jangan pernah kau campuri urusan pribadiku. Terlepas apa yang terjadi pada kisah ku bersama Zahrana, ini bukan menjadi urusan mu."


"Kau tak berhak untuk mendugde-nya, Zahrana adalah wanita yang baik-baik bukan seperti dirimu yang kerap kali berbuat keributan. Aku dan Zahrana memang tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, namun bukan berarti aku diam dan tidak membelanya, ketika orang-orang mencelanya di hadapan ku, termasuk dirimu Pris!" tegas Rivandra.


Rivandra pun melenggang pergi dari hadapan Priska Prahara. Ia pun tidak menoleh kearah Zahrana. Sebab rasa kecewa masih menyelubungi hati dan jiwanya terhadap gadis kecilnya. Namun, Rivandra tetap membelanya dari siapa pun hendak menyakiti Zahrana. Meski tak termiliki, namun Zahrana tetap bertahta dihatinya hingga detik ini. Tidak ada yang dapat menggantikan posisi Zahrana di hatinya.


***


Wajah Priska Prahara merah padam atas ucapan yang di lontarkan Rivandra terhadapnya. Ia tidak menyangka jika Rivandra tetap membela Zahrana meskipun Zahrana ketahuan mendua.


"Dasar laki-laki gila! apa kurangnya aku, yang jelas-jelas setia menunggunya. Ia malah membela gadis cent*l itu," sungut Priska seraya melirik kepada Zahrana seperti memandang kotoran saja.


Nandini dan teman-temannya yang dari sejak tadi hanya jadi penonton, segera menghampiri Zahrana yang tetap diam tak bergeming dengan setiap celaan dan umpatan-umpatan yang di tujukan oleh Priska Prahara terhadap Zahrana.


"Hey ... Nenek Sihir! sudah berkali-kali ku peringatkan pada mu jangan pernah lagi mengusik sahabat ku Zahrana. Ku rasa kau yang tidak tahu malu, berkali-kali sudah di tolak kak Rivandra kau masih saja percaya diri untuk menampakkan wajah mu dan terus mengejar-ngejar kak Rivandra yang jelas-jelas tidak menyukai mu," cecar Nandini, diikuti pula oleh Fadhilah dan Kirana Larasati juga Cinta Kiara Khoirani yang ikut membela Zahrana.


Nyali Priska Prahara, bersama dua sahabatnya Adelia Kencana Puteri dan Lembayung Senja mendadak ciut, melihat Nandini turun tangan. Mereka khawatir Nandini Sukma Dewi mengeluarkan jurus tapak sucinya. Priska Prahara masih ingat jelas dengan baku hantam yang terjadi di kantin sekolah tempo hari, bagaimana dengan hanya sekali hentakan Nandini telah melumpuhkan dirinya dengan jurus tapak sucinya.


Priska segera mengajak kedua teman-temannya untuk segera menjauh dari Nandini Sukma Dewi dan teman-temannya.

__ADS_1


"Ha ... ha ... ha ... " cemennn!" pekik Nandini dan teman-temannya, juga pekikan dan tawa riuh dari para Siswa-siswi. Mereka merasa lucu dan tertawa dengan ketakutan Priska Prahara dan teman-temannya terhadap Nandini Sukma Dewi alias gadis metal.


Nandini dan teman-temannya pun saling tos atas keberhasilan mereka mempermalukan Priska Prahara dan teman-temannya.


Sementara Zahrana masih tetap terdiam dan tidak bergeming. Ia bingung dengan cerita asmaranya.


Bukan karena hinaan dan cercaan Priska Prahara dan teman-temannya yang membuat Zahrana meratapi kesedihannya, namun Zahrana lebih memikirkan Rivandra Dinata Admaja yang masih tetap untuk membelanya. Walaupun kini mereka sudah tidak lagi bersama.


"Kak Rivandra, terimakasih atas semuanya. Terimakasih karena dirimu masih membela ku. Meskipun kau tahu jika aku salah dan tertangkap basah menduakan mu. Namun dirimu masih terus memperhatikan ku seperti saat-saat kita masih bersama dulu," bisikan hati Zahrana.


Zahrana dan teman-temannya pun segera menuju ke kelas mereka.


Zahrana, Fadhilah dan Kirana berjalan beriringan. Sedangkan Nandini di temani oleh kekasihnya Arjuna, begitupun Cinta Kiara Khoirani ditemani Rangga Sahadewa.


"Hubby, terimakasih kau selalu setia menemani ku kemana pun aku pergi," ucap Nandini Sukma Dewi.


"Sama-sama Honey, jaga diri mu baik-baik ya! belajar yang benar dan ingat jangan pernah dekat-dekat dengan lelaki manapun, kecuali hanya dengan ku!" bisik Arjuna seraya melirik pada Siswa laki-laki yang nampak serius membaca buku-buku pelajaran.


Sementara yang di lirik malah acuh tak acuh. Ia lah Si Kutu Buku alias Zainal Abidin.


***


Hari demi hari pun berlalu, Minggu pun berganti Minggu, dan bulan pun berganti bulan. Zahrana benar-benar tetap mempertahankan hubungannya dengan Aslan Abdurrahman Syatir kekasihnya. Karena sebuah janji yang terlanjur ia ucapkan terhadap Aslan, Zahrana kini bertumbuh menjadi gadis remaja yang tetap setia pada satu hati. Ia tidak pernah lagi tergoda dengan laki-laki manapun dihati dan impian masa depannya hanya ada Aslan Abdurrahman Syatir sesuai janjinya dahulu.


Meskipun setiap hari Zahrana kerapkali bersua di sekolah dengan Rivandra Dinata Admaja yang dulu pernah mengisi relung hatinya. Zahrana selalu berusaha menjaga jarak hingga kini ia dan Rivandra tidak pernah lagi bersama seperti saat-saat dulu. Mereka hanya bersitatap sekilas. Kemudian saling menjauh pergi.


Rivandra pun sibuk dengan rutinitasnya. Ia hanya belajar dan belajar sebab sebentar lagi mereka akan segera UAS( Ujian Akhir Sekolah ), itu sudah pasti Rivandra Dinata Admaja dan Siswa-siswi kelas 3 di SMP NEGERI 3 XX akan segera lulus dan mengakhiri bangku SMP mereka.


Yang pasti, setelah itu Zahrana dan Rivandra tidak akan pernah untuk bersua lagi. Sebab Rivandra akan segera melanjutkan ke Jenjang SMA dan meninggalkan bangku SMP.


Namun, uniknya meskipun Rivandra tidak lagi merajut kebersamaan dengan Zahrana. Rivandra tetap memperhatikan Zahrana secara diam-diam, jika ada yang berusaha menyakitinya. Rivandra akan tetap membelanya meskipun pada kenyataannya Zahrana tidak termiliki olehnya.


Kini Ujian Akhir Sekolah pun telah tiba, Rivandra Dinata Admaja dan Siswa-siswi SMP Negeri 3 XX pun mengerjakan soal-soal ujian dengan bernasnya. Begitu pun dengan Siswa-siswi kelas 1 dan 2 mereka semua pun telah mengikuti Ujian Akhir Semester.


Zahrana dan teman-temannya pun mengerjakan soal-soal ujian dengan suka cita. Mereka pun nantinya setelah ini akan menerima Rapor Akhir Semester untuk menentukan kenaikan kelas, sedangkan Rivandra Dinata Admaja dan Siswa-siswi kelas 3 lainnya akan segera menyambut hari kelulusannya.

__ADS_1


Dan tentunya setelah kelulusan Rivandra Dinata Admaja dan Zahrana tidak akan pernah lagi bersua dan tentunya mereka akan saling menjauhi dan meneruskan cita-cita dan kehidupannya masing-masing.


"Princess ... Alhamdulillah akhirnya ujian telah usai. Aku sudah tidak sabaran ingin melihat hasil nilai raport akhir semester ini, semoga kita semua bisa naik kelas semua," ujar Nandini kegirangan seraya memeluk erat Zahrana teman sebangkunya.


Nandini memang selalu membuat kehebohan di kelasnya.


"Teman-teman, nanti akan diadakan Class Meeting lho. Kira-kira kita akan ikut lomba apa saja?" tanya Nandini memecah keheningan kelas.


"Sepertinya loe ikut lomba nyanyi aja Din, mewakili kelas kita, secara loe kan pandai bermain gitar," ucap Cinta Kiara Khoirani.


"Ikut lomba Pencak silat saja Din, secara loe kan jago bela diri," ujar Kirana Larasati.


"Lomba basket saja Din, sepertinya seru melawan kakak-kakak kelas 3," celutuk Fadhilah.


Wajah Nandini bersemu merah. Yang ada dalam ingatannya adalah ingin mencoba adu basket dengan teman istimewanya Arjuna Restu Pamungkas.


Namun, tentunya kesepakatan dari Organisasi Intra Sekolah pastilah lawan yang berimbang.


Siswi lawan mainnya tetap sesama Siswi, sebaliknya laki-laki lawannya pun pasti Siswa laki-laki.


"Ide yang bagus Dhil, kita lomba basket aja melawan tu Si Nenek Lampir dan kawan-kawannya," ceplos Nandini Sukma Dewi.


Mereka pun sepakat ingin mengadakan lomba basket, sebagai pilihan utama. Ada juga yang ingin bermain Voli untuk meramaikan Class Meeting pekan nanti sebelum pengambilan raport dan hari perpisahan anak-anak kelas 3 juga akan di adakan hari perpisahan di Aula Sekolah dan tentunya acara tersebut akan dilaksanakan dengan segala perencanaan yang matang.


"Ra, kenapa sejak tadi kau diam terus tak banyak bicara hanya menjadi pendengar setia, jangan bilang jika hati mu gundah gulana sebab akan segera berpisah dengan cinta dalam hatimu kak Rivandra Dinata Admaja," goda Fadhilah di ikuti pula oleh Cinta Kiara Khoirani.


Sementara Kirana Larasati seperti biasanya no coment, sebab ia pun tahu pada kenyataannya sahabat mereka Zahrana benar-benar tidak pernah lagi berhubungan dengan mantan pacarnya Rivandra Dinata Admaja. Sebab Zahrana benar-benar telah memilih Aslan Abdurrahman Syatir sebagai tambatan hatinya.


Aslan pun kerap kali mengunjungi dan menjemput Zahrana di sekolahnya ketika Aslan pulang dari kampusnya.


Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir semakin menunjukkan kebersamaannya pada dunia, meskipun masih terkesan backtreet dihadapan orang tua mereka. Namun, hingga kini hubungan itu tetap terjalin indah sebagaimana mestinya.


Rivandra Dinata Admaja pun kerap kali terbakar api cemburu ketika melihat kebersamaan antara Zahrana dan kekasihnya Aslan Abdurrahman Syatir.


Namun apa hendak dikata, maksud hati nak peluk gunung namun apalah daya tangan tak sampai. Kata pepatah yang tepat untuk seorang Rivandra Dinata Admaja. Ia mencintai Zahrana namun tidak bisa memilikinya, sebab Zahrana kini benar-benar telah menutup pintu hatinya terhadap Rivandra Dinata Admaja intinya 'TAK TERMILIKI'.

__ADS_1


__ADS_2