
Aslan masih termangu di sudut kamarnya, air matanya pun berlinang membasahi pipinya. Ia benar-benar tidak punya semangat untuk menjalani kehidupannya tanpa ada sosok Bidadari kecilnya Tsamirah Zahrana Az Zahra.
Namun, ingatannya kembali oleh nasehat seorang pemuda yang bernama Yusuf Amri Nufail Syairazy membuatnya berusaha untuk bangkit dari segala keterpurukannya. Ia tidak boleh lemah. Ia harus kuat melewati semua proses kehidupannya. Ia mencoba untuk move on dan menjalani hari-harinya walaupun tanpa Zahrana.
Aslan berusaha untuk menguatkan hatinya. Ia bangkit dari tempat tidurnya, dan segera beranjak menuju dapur, ia ingin segera santap malam sebab perutnya pun belum lah di isi. Sejak dari tadi ia hanya murung dan berdiam diri di kamarnya, cacing-cacing di perutnya sudah demo ingin segera minta di isi.
Aslan hendak membuka pintu kamarnya, namun betapa kagetnya ia ketika melihat Ayah dan Ibunya juga Nandini Sukma Dewi adiknya berdiri tepat di ambang pintu kamarnya. Ternyata dari sejak tadi kedua orang tuanya juga Nandini adiknya asyik mengintip dan mendengarkan senandung lagu melo-nya dari balik pintu kamarnya.
"Ayah, Ibu, Adek ... sedang apa kalian disini? apakah kalian sejak tadi mendengarkan semua yang kulakukan di dalam kamar?" tanya Aslan.
Nandini menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, pikirnya apa yang harus ia katakan sebab telah ketahuan mengintip kakaknya.
Ibu Ratna Anjani dan Ayah Anjasmara nampak tersipu malu sebab ketahuan mengintip Aslan anaknya.
"Ma-af, Nak. Kami tidak bermaksud begitu, apa yang sebenarnya terjadi pada mu, Nak? benarkah kau sudah punya pacar? kenapa tidak pernah di bawa kerumah? Ibu juga ingin tahu bagaimana rupa calon mantu Ibu," ucap Ibu Ratna Anjani dengan pertanyaan yang begitu beruntun.
Nandini pun melirik kearah kakaknya Aslan, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari lisan kakaknya itu.
"Dia sudah pergi Ibu, dia sudah tidak lagi menyukai Aslan." Aslan pun berlalu dari pandangan Ayah dan Ibunya. Ia pun segera berjalan menuju dapur untuk mengisi perutnya yang benar-benar sudah lapar.
"Maksudmu, Nak?" Ibu Ratna Anjani ingin segera menyusul Aslan namun di tegahi oleh Ayah Anjasmara.
"Sudah, Bu. Urusan anak muda kita tidak usah turut campur, lagian kan Aslan masih muda. Masih banyak wanita di luar sana. Patah satu tumbuh seribu," ucap Ayah Anjasmara.
"Tidak bisa begitu dong, Yah. Aslan itu anak sulung kita, Ibu yang telah melahirkannya. Sungguh, Ibu tidak rela jika ada yang menyakitinya. Ibu ingin mencari tahu siapa wanita yang tega membuat anak Ibu sampai patah hati seperti itu," ucap Ibu Ratna Anjani penuh keseriusan.
"Gawattt, bagaimana jika Ibu sampai mengetahui jika Zahrana adalah wanita yang telah membuat kakak patah hati? ini tidak boleh terjadi," bathin Nandini Sukma Dewi.
"OMG ... Ibu, tidak harus begitu juga Bu. Biarkan kak Aslan menyelesaikan masalahnya sendiri, lagian sudah putus juga, Bu." Nandini ikut berkomentar.
"Berarti kamu tahu siapa pacar kakak mu, Din? beritahu Ibu!" titah Ibu Ratna Anjani.
"Nandini nggak tahu, Bu. Senandung yang di bawakan oleh kak Aslan kan lagu patah hati, berarti sudah putus dong, Bu." Nandini mencoba untuk mencari alasan.
__ADS_1
Ibu Ratna Anjani nampak belum puas. Ia nekad untuk mencari kebenaran, siapa sebenarnya kekasih anaknya Aslan, yang telah berani-beraninya menyakiti perasaan anaknya.
"Sudah Bu, kita ke ruang keluarga saja dulu. Jangan terlalu dipikirkan!" ujar Ayah Anjasmara seraya menuntun isterinya menuju ruang keluarganya. Mereka pun saling bercengkrama seraya menonton televisi, di temani pula oleh cemilan sebagai pencuci mulutnya.
Nandini Sukma Dewi pun menghampiri kakaknya didapur, mereka pun makan malam bersama dengan berbagai menu holang kaya yang menggugah selera makannya, namun tidak dengan Aslan ia masih terlihat seperti hidup segan mati tak mau.
"Ya ampun, kak. Makan itu yang semangat, masakan segini mewahnya hanya untuk ditonton saja."
Nandini menyumpal mulut kakaknya lengkap dengan Ayam bakar madu beserta sambalnya ke mulut kakaknya. Aslan terpaksa mengunyah makanan tersebut.
"Gimana, enakkan? ini kepiting saus tiramnya di makan juga, sayurnya juga dimakan biar bugar dan sehat. Masakan segini menggugah selera masih di acuhkan juga. Putus cinta si boleh-boleh saja, tapi perut kudu di isi!" seloroh Nandini seraya memasukkan makanan ke mulut kakaknya. Hingga sampai detik terakhir habis sudah sepiring nasi ia suapkan untuk kakaknya.
Nandini melanjutkan mengupas buah apel dan jeruk untuk Kakaknya, di tambah juga buah anggur sebagai menu pencuci mulut.
"Sudah, Dek. Kakak sudah kekenyangan," ucap Aslan terengah-engah sebab dari sejak tadi mulutnya tidak henti-hentinya mengunyah makanan yang disuapkan oleh Nandini adiknya.
"Minum air putih dulu! Susunya juga diminum!" ucap Nandini.
"Ya Allah ... Dek, kakak beneran kenyang."
"Nandini nggak mau lihat kakak seperti ini, belajar move on dong dari Zahrana. Toh jika jodoh pun nggak bakal kemana? masih satu kampung juga," timpal Nandini.
"Iya, kakak akan mencoba untuk move on dari Zahrana meskipun itu berat!" ucap Aslan.
Ibu Ratna Anjani yang hendak menuju dapur, ia ingin mengambil air es di kulkas pun terhenti pergerakannya. Ia tidak sengaja mendengar percakapan antara kedua anaknya.
"Jadi, selama ini Aslan dekat dengan anak Buya Harun? Zahrana? bukankah Zahrana masih gadis kecil? selain itu ia juga temannya Nandini, usia mereka juga masih sangat belia."
"Ini tidak mungkin!" bisikan hati Ibu Ratna Anjani.
"Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus segera bertindak!" ucap Ibu Ratna Anjani dengan penuh keseriusan.
***
__ADS_1
Keesokan hari nya.
Ibu Ratna Anjani sudah bersiap-siap hendak menemui Zahrana, guna memastikan apakah benar Aslan anaknya memiliki hubungan khusus dengan gadis kecil itu.
Ibu Ratna Anjani bergegas menuju rumah kediaman Zahrana. Nampaklah Zahrana sangat menikmati pemandangan di pagi hari sembari menyirami aneka bunga-bunga yang sedang bermekaran di pekarangan rumahnya.
"Selamat pagi!" sapa Ibu Ratna Anjani.
"Pa-gi," ucap Zahrana seraya menoleh ke arah sumber suara.
"Ibu Ratna Anjani, ibunya kak Aslan. Ada apa gerangan?" pikir Zahrana.
"Assalamu'alaikum ... Bu," ucap Zahrana seraya berhenti dari aktivitasnya dan segera mencium punggung tangan Ibu Ratna.
"Wa'alaikumsalam ... " jawab ibu Ratna Anjani seperlunya.
"Masuk kedalam dulu Bu! Zahra panggil Buya Harun dulu," ucap Zahrana sopan.
"Maaf ... Ibu hanya ingin bertemu dengan mu, tolong jauhi Aslan! Jangan pernah mendekatinya lagi? apalagi sampai berhubungan dengannya pacaran dan semisalnya. Ibu tidak akan pernah membiarkan itu terjadi," ucap Ibu Ratna.
Zahrana membungkam mulutnya. Tubuhnya terasa bergetar hebat lantaran tiba-tiba mendengar penuturan Ibu Ratna Anjani perihal hubungannya dengan Aslan.
"Ma-af Bu, saya tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan kak Aslan. Kita hanya berteman biasa," ucap Zahrana terbata.
"Ibu tidak mau tahu, cukup jauhi Aslan! Jangan menganggu ketenangannya. Kalian tidak sepadan!" cecar Ibu Ratna Anjani. Kemudian berlalu pergi dari hadapan Zahrana.
Zahrana masih diam mematung melihat kepergian Ibu Ratna. Air mata Zahrana pun tiba-tiba mengalir deras di pelupuk matanya. Mengingat ucapan Ibu Ratna yang sangat menggores hatinya.
"Aku akan mencoba untuk move on dari mu kak Aslan. Aku bersyukur bisa lepas dari jeratmu, mengingat ibu mu ternyata pun tak merestui aku dengan mu!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.
"Aku akan menguburkan semua kenangan dan impian kita yang dulu pernah kita rajut bersama, aku akan menjauh dari pandangan mu selamanya kak Aslan. Setelah dengan mu aku tidak akan pernah lagi untuk menempuh jalan pacaran dan yang semisalnya," bisikan hati Zahrana.
"Ini yang terakhir kalinya aku menangis karena mu kak Aslan Abdurrahman Syatir." Zahrana pun mengusap air matanya. Ia pun menghentikan aktivitas menyiram bunganya dan segera masuk kedalam rumahnya. Ia benar-benar terluka oleh ucapan Ibu Ratna Anjani, orang tuanya Nandini dan Aslan.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉 “Jika kau mencintai seseorang, biarkan ia pergi. Kalau ia kembali, ia adalah milikmu. Bila tidak, ia memang tidak pernah jadi milikmu."