Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
222 . Di Penghujung Acara Resepsi 1


__ADS_3

Yusuf mengulurkan tangannya pada Pramuja dan Zaid, ia tetap bersikap tenang meskipun ia tahu kedua pemuda yang ada di hadapannya itu sangat menggandrungi Zahrana calon istrinya.


Zaid dan Pramuja pun menyambut uluran tangan Yusuf, mengingat akhlak Yusuf yang sangat santun menurut pandangan mereka. Jadi, tidak ada alasan untuk mereka membenci pemuda tersebut.


Mereka bertiga pun mencoba berbaur satu sama lain, tidak ada alasan untuk mereka saling berseteru apalagi sampai menyalahkan Yusuf. Sebab, sosok Yusuf memang pantas untuk berdampingan dengan Zahrana.


Mereka semua nampak bercengkrama di tengah meriahnya acara resepsi pernikahan Dini dan Arjuna.


"Jadi, kalian sudah sejak lama saling mengenal?" tanya Pramuja dengan coba mengulik cerita antara Yusuf dan sepupunya Zahrana.


"Alhamdulillah, dari sejak lama. Ayah Zahrana dengan Abi ku adalah sahabat karib, mereka menjodohkan kami dari sejak kecil." Yusuf pun mencoba mengingat kembali awal mula ia berjumpa dengan Zahrana di padepokan Buya Harun berapa tahun silam. Ia tampak tersenyum mengingat semua kenangan yang ada.


Sementara Zahrana hanya tersenyum mendengar penuturan pemuda yang memang sangat dicintainya itu.


Zaid yang terpukau dengan pesona Zahrana pun nampak berusaha menundukkan wajahnya.


"Semoga kau bahagia bersama pilihan mu Zahra, ia adalah pemuda yang baik!" bathin Zaid tertunduk pasra. Ia pun menyerah untuk mendapatkan hati Zahrana.


Di kejauhan, Zaid tidak sengaja melihat Rufaidah Al Aslamiyah tersenyum penuh arti padanya. "Rufaidah, mungkinkah ia jodoh yang telah dipilihkan oleh Allah untuk ku? entah kenapa ketika melihatnya detak jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya!" bathin Zaid yang juga mencoba untuk tersenyum pada Rufaidah.


Keduanya pun mengisyaratkan sinyal-sinyal rasa, yang dengan malu-malu mulai menyelubungi hati keduanya secara perlahan namun pasti.


"Arkana, semoga kau pun merasakan apa yang kurasakan!" bathin Rufaidah penuh harapan.


Enam puluh menit sudah mereka semua, menghabiskan kebersamaan diacara pernikahan Dini dan Arjuna. Mereka sengaja berlama-lama menghabiskan waktu bersama Nandini.


Kedua mempelai pun berganti pakaian pengantin dengan nuansa pink sebagai penutup di akhir acara nanti, Nandini nampak anggun dengan gaun pengantin yang di kenakannya barusan. Membuat orang-orang yang hadir diresepsinya merasa terpukau melihatnya.



"Nandini Sukma Dewi, betapa sempurnanya dirimu, kau terlihat sangat cantik dan menawan dengan gaun yang kini sedang dirimu kenakan!" bathin Zainal dengan mengambil foto Nandini dengan menggunakan ponsel miliknya.


Dua orang yang bertugas sebagai fotografer di acara pernikahan Dini dan Arjuna pun nampak mengabadikan foto-foto Nandini yang sedang berpose dengan tangan diletakkan di bawah dagunya, membuat Nandini terlihat sangat cantik sekali. Bak Puteri karaton di kerajaan.


Seluruh yang hadir pun nampak terpukau dengan penampilan Nandini saat ini.

__ADS_1


"Andai saja aku yang menjadi pendamping mu!" bathin Zainal mendengus pilu.


Tidak lama, Arjuna pun keluar dari kamar pengantin dengan berjalan ke arah pelaminan dengan jas yang senada dengan gaun pengantin Nandini membuatnya terlihat sangat tampan dan berkharisma.



"OMG, Arjuna Restu Pamungkas, kau benar-benar seperti Pangeran William. Sangat tampan dan gagah, kau benar-benar telah memikat hati ku!" bathin Adelia. Ia merasa takjub dengan gaya dan tampilan Arjuna saat ini.


"Beruntung sekali diri ku, sebab telah berhasil menghabiskan malam bersama mu!" bathin Adelia dengan terus memandangi ketampanan Arjuna yang kini telah resmi menjadi suami dari Nandini Sukma Dewi.


Zainal dan Adelia, keduanya sama-sama mengagumi orang yang telah termiliki, bedanya Zainal meskipun sangat mencintai Nandini, ia tidak melakukan hal yang bejat seperti yang dilakukan Adelia, rela menyerahkan mahkotanya hanya demi mewujudkan impiannya meraih sesuatu yang belum halal untuk dimilikinya. Tepatnya menjadi perusak rumah tangga orang lain.


***


Di penghujung acara resepsi, nampaklah Virgantara Dinata Admaja, baru hadir bersama seorang pemuda yang masih sangat muda dengan penampilan yang tak kalah religiusnya dengan Yusuf dan MZ Arkana.


"OMG, itu siapa yang hadir bersama kak Virgantara cakep pisan!" pekik Fadhillah yang sejak berapa jam yang lalu menunggu kehadiran Virgantara Dinata Admaja, teman istimewanya yang tak tampak di pelupuk matanya.


Virgantara bersama seorang pemuda itu pun kini naik ke atas panggung pelaminan menyalami Arjuna dan Nandini Sukma Dewi.


"Selamat ya brother, atas pernikahannya! jadilah suami yang sholeh, jangan suka lirik pandang lagi!" sarkas Virgantara dengan menepuk pundak Arjuna sepupunya.


"Maa syaa Allah, apa kabar? selamat atas pernikahan mu, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah." Pemuda tersebut pun merangkul erat Arjuna dengan penuh rasa kasih terhadap sosok sepupunya itu yang telah lama tidak di jumpainya, semenjak dirinya mengeyam pendidikan di pondok pesantren dekat ibukota Jakarta. Dan kini pun ia telah mengenyam pendidikan di Universitas Agama Islam Negeri yang bertempat di Jakarta juga.


"Kau kah ini, Rivandra Dinata Admaja?" tanya Arjuna dengan memeluk erat Rivandra yang sekian lama tak dilihatnya.



"OMG, kak Rivandra tampan sekali! kenapa setiap orang yang pernah dekat dengan Zahrana semuanya tampan dan sholih. Betapa beruntung sekali jika mendapatkan laki-laki yang sholih!" bathin Nandini yang takjub akan ketampanan para pemuda yang dulu pernah menjadi masa lalu Zahrana sahabatnya.


Rivandra tidak menyalami Nandini, ia hanya tersenyum dan menelungkupkan tangannya di dadanya.


"OMG, dari sejak zaman putih-biru dahulu, kak Rivandra memang tidak ada manisnya. Ia hanya akan terlihat manis ketika berada di dekat Zahrana, ini cocok banget mendapatkan gelar Pangeran tampan berdarah dingin!" celoteh Nandini didalam hatinya.


Di pelaminan saja, Nandini masih sempat berceloteh meski hanya di dalam hati.

__ADS_1


"Honey, apa yang kau pikirkan? jangan bilang jika dirimu terpesona dengan sepupu ku Rivandra Dinata Admaja? ia sekarang memang nampak religius, berbeda dari 4 tahun yang silam. Aku ini suami mu, kau tak pantas membandingkan ku dengan laki-laki lain." Arjuna berbisik kecil di telinga Nandini.


"Apa kau sudah gila hubby? aku tidak pernah membandingkan mu dengan laki-laki lain. Bukankah sebaliknya kau yang justru dari sejak tadi lirik pandang dengan si Adelia mantan pacar mu itu!" bisik Nandini di telinga suaminya.


Arjuna diam sesaat, ia berusaha mengelak dan menyembunyikan keresahannya. "Kamu bicara apa sich honey? Di hatiku hanya ada kamu," sarkas Arjuna dengan mengerlingkan matanya pada istrinya itu.


"Syukurlah jika begitu!" seloroh Nandini dengan rasa setengah percaya dengan sosok suaminya itu. Di pelaminan pun, kedua suami-istri itu masih sempat-sempatnya berseteru.


***


Virgantara dan Rivandra berjalan menuju tempat duduk di mana kini Fadhillah, Zahrana dan teman-teman lainnya berkumpul.


Fadhillah tampak bahagia menyambut kedatangan sang pujaan hatinya yang telah lama tak bersua kecuali hanya lewat telfon semata. Ia berusaha mengontrol dirinya, ia tidak ingin kentara jika ia dan Virgantara pacaran, sebab di ujung sana Ummi dan Abinya nampak memperhatikan interaksinya dan teman-temannya.


"Hey, gadis ceriwis, apa kabar?" sapa Virgantara hendak mendekat dengan kursi Fadhillah.


"Menjauhlah! ada Ummi dan Abi ku di ujung sana. Aku tidak mau diceramahi oleh mereka jika aku ketahuan pacaran." Fadhillah pura-pura jaim.


"Baiklah, kalau begitu kita duduk di sini saja, Dek!" ucap Virgantara dengan menarik tangan adiknya Rivandra untuk duduk berdekatan dengan Yusuf dan Raihan.


Manik mata Riandra tidak sengaja bertemu pandang dengan Zahrana yang dulu pernah menjadi masa lalunya. "Tsamirah Zahrana Az Zahra?" Rivandra sempat terpesona dengan kecantikan alami Zahrana, namun ia secepat mungkin menundukkan pandangannya.


"Maa sya Allah, kak Rivandra?" bathin Zahrana yang nampak terpukau dengan penampilan Rivandra yang kini telah berubah menjadi lebih religius 180 derajat Celcius. Ia ingin menyapa Rivandra namun ia malu, mengingat dulu mereka pun pernah merajut kebersamaan. Dan kini pun ada sosok Yusuf yang begitu setia, tulus dan baik terhadapnya. Hatinya kini benar-benar terpaut dengan sosok Yusuf, walaupun diluar sana ada yang lebih sempurna.


"Maa syaa Allah, bukankah kamu adalah pemuda yang tempo hari kita pernah bertemu pas acara perpisahan sekolah ya, ketika dipantai itu!" sapa Yusuf tiba-tiba, ketika melihat kehadiran Rivandra ia pun nampak takjub dengan perubahan yang ada dalam diri Rivandra saat ini.


"Iya Betul sekali! apa kabar, kak Yusuf?" sapa Rivandra lembut. Ia pun menyalami dan merangkul Yusuf.


"Alhamdulillah, aku baik!" Yusuf pun balas menyalami dan merangkul Rivandra.


"Ya Allah, Mereka berdua terlihat asyik sekali bercengkrama!" bathin Zahrana dengan penuh rasa syukur. Seorang dimasa lalunya, kini terlihat sangat akrab dengan calon suaminya Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Zahrana merasa sangat lega, sebab Rivanda dan juga Zaid kini dapat berbesar hati menerima kenyataan yang ada, tinggal Aslan Abdurrahman Syatir yang paling susah untuk di ajak berdamai, sebab, ia masih terus mengejar Zahra dengan berbagai macam caranya.


Di Penghujung acara, resepsi pernikahan Dini dan Arjuna. Zahrana nampak sangat bahagia sekali dengan kehadiran teman-teman yang sholih di hadapannya.

__ADS_1


💜💜💜


Untaian mutiara hikmah 👉"Hidup merupakan suatu perjuangan, perjalanan merupakan suatu pembelajaran. Apabila tidak ada pengorbanan, maka lambat laun pun kita akan semakin tersisihkan.Tidak ada perjuangan tanpa adanya rasa sakit, akan tetapi percayalah bahwa rasa sakit itu hanya sementara dan rasa bahagia akan terasa selamanya.Kebahagiaan harus terus dirasakan dalam perjalanan hidup, dan bukan hanya menjadi tujuan hidup belaka."


__ADS_2