
Ditengah gerimis melanda hati yang terajut benang-benang cinta segitiga antara Zahrana dan kedua belahan jiwanya Aslan Abdurrahman Syatir dan Rivandra Dinata Admaja, tiba-tiba putih awan pun berubah menjadi kelabu. Langit pun berubah menjadi mendung. Semendung hati ketiga anak manusia yang sekarang sedang di landa nestapa.
Hujan pun tiba-tiba turun dengan rintiknya, di sertai pula oleh tiupan angin kencang. Ombak pun menggulung dengan tingginya, pantai yang semula terlihat sejuk dan tenang, indah di pandang mata. Kini terlihat sangat menyeramkan, sebab kilatan petir tiba-tiba menyambar membelah angkasa. Membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri karenanya.
Di pondok kecil yang tak jauh dari pesisir pantai, nampaklah Zahrana dan kedua orang temannya Kirana Larasati dan Fadhillah terlihat sangat ketakutan melihat luapan air laut dan kilatan petir yang menyambar-nyambar, mereka pun berteriak histeris sebab dilanda ketakutan.
"Ya Allah ... Zahrana takutttt ... tolong Zahra Ayah Bunda! Zahra ingin pulang, maafkan Zahra Ayah Bunda, sebab telah gagal menjadi Bidadari kecil dunia akhiratnya Ayah dan Bunda."
Zahrana pun terus menyesali dirinya, ia menyadari akan kekhilafannya yang selama ini telah membohongi Ayah dan Bundanya. Juga membohongi orang-orang yang menyayanginya. Juga hal-hal buruk lainnya yang telah di perbuatnya.
"OMG ... Kirana masih ingin hidup ya Allah ... usia Kiran baru 13 tahun, jangan ambil nyawa Kiran ya Rabb! sebab Kiran masih ingin melihat hiru pikuknya dunia. Kiran masih ingin menikmati hidup," ucap Kirana Larasati. Air matanya pun jatuh berderai, lantaran takut dengan badai angin pantai yang bertiup kencang di sertai hujan deras dan kilatan petir yang menyambar-nyambar.
Melihat kedua temannya yang nampak ketakutan, Fadhilah spontan berteriak histeris, sehingga mengagetkan semua teman-teman di sekitarnya.
"Kak Virgannnnn ... tolonggggg ... Fadhilah takuttttt!" pekik Fadhilah seraya melambaikan tangannya ke arah Pondok yang berbatasan dengan Pondok di mana Nandini dan Aslan berada. Sehingga pekikanya terdengar samar-samar oleh Virgantara Dinata Admaja dan teman-teman lainnya.
"Anak itu merepotkan sekali, hujan deras masih sempat-sempatnya berteriak. Gema suaranya pun memekikkan gendang telinga walaupun disertai oleh hujan lebat dan tiupan angin kencang. Ganggu orang tidur saja," cicit Virgantara.
Aslan yang mendengar pekikan tersebut datang dari Pondok yang bersebelahan dengannya pun segera bangkit. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan Bidadari kecilnya dan juga teman-teman Zahrana.
Ditengah derasnya hujan Aslan berlari ke arah Pondok di mana ia berada kini. Memastikan keadaan kekasih hatinya, apakah baik-baik saja atau tidak? sedangkan Nandini Sukma Dewi malah tertidur pulas. Hujan yang turun dan kilatan petir yang menyambar, tidak menyurutkan keinginannya untuk tidur pulas setelah ritual membersihkan bekas memar diwajah kakaknya. Akibat serangan tiba-tiba dari rivalnya Rivandra Dinata Admaja.
"Zahra ... kamu tidak apa-apa? kau nampak kedinginan sekali." Aslan pun langsung memasukkan Zahrana kedalam pelukannya.
Kilatan petir pun semakin menggelegar membelah angkasa. Membuat Zahrana dan teman-temannya kembali ketakutan.
"Kak, Ana takuttt ... " ucap Zahrana seraya mempererat pelukannya pada dada bidang Aslan Abdurrahman Syatir.
"Hey ... gadis kecilku! jangan takut ada kakak disisi mu," ucap Aslan seraya mengusap surai wajah kekasihnya. Tak lupa Aslan memberikan kecupan hangat di kening Bidadari kecilnya.
"Kau nampak, kedinginan sayang ... " ucap Aslan seraya menyelimuti kekasihnya dengan jaket anti air miliknya.
__ADS_1
Aslan ngusap surai rambut Zahrana, beberapa kali ia memberikan kecupan hangat di kening Zahrana. Seolah tidak ingin melepaskan Zahrana dari dekapannya. Aslan benar-benar tidak ingin kehilangan sosok Bidadari kecilnya.
"Zahra maafkan kakak karena tidak memahami dan mengerti dirimu, maafkan kakak jika telah melukai perasaan hatimu. Kakak janji akan tetap selalu ada untukmu. Kakak akan selalu setia menunggu mu sampai di penghujung waktu ku!" ucap Aslan seraya memandang nanar wajah Zahrana.
Namun Zahrana malah tertidur pulas dalam pelukan Aslan Abdurrahman Syatir. Aslan pun membiarkan Zahrana terlelap dalam pelukannya.
Sementara Kirana Larasati yang dari sejak tadi sempat menangis karena ketakutan, di buat terperangah oleh perlakuan manis Aslan Abdurrahman Syatir terhadap Zahrana.
"OMG ... indahnya jadi Zahrana di perhatikan dengan tulus dan ikhlas oleh kak Aslan," cicit Kirana seraya menggigit bibirnya.
"Nasib ... nasib ... hanya bisa jadi umpan nyamuk," keluh Kirana seraya menahan kedinginan.
Aslan tidak menyadari jika Rivandra Dinata Admaja sudah dari sejak tadi memperhatikan kebersamaan dan kemesraan serta perhatian yang sangat tulus yang diberikan oleh Aslan terhadap Zahrana. Gadis kecil yang sama-sama bertahta di hati mereka berdua.
"Zahra ... benar aku kecewa dan aku pun terluka melihat kau bersama dengan dirinya. Namun aku sadar ... Aku hadir di antara kalian, maafkan aku Zahra karena telah jatuh hati padamu dari semenjak awal kita berjumpa. Aku tak kan pernah melupakan semua tentangmu. Jika memang ia yang menjadi pilihan hatimu, baiklah aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku tak kan lagi mengganggu dirimu, tidak akan pernah Zahra!"
"Mungkin melupakan mu butuh waktu sepanjang hidupku, sebab tidak mudah untuk melupakan sosok Bidadari kecil seperti dirimu. Kau telah tersimpan di dalam hatiku Tsamirah Zahrana Az Zahra. Terimakasih untuk kebersamaan yang singkat yang telah dirimu berikan untuk ku selama dua bulan ini. Itu akan menjadi kenangan yang paling indah untukku. Aku pergi dari kehidupanmu detik ini Zahrana, terimakasih untuk angin cinta sesaat yang telah kau berikan untuk ku. Kini ku sadari bahwa mencintai itu tak harus memiliki. Asalkan aku bisa melihat dirimu tersenyum bahagia itu sudah cukup untuk ku," bisikan hati Rivandra Dinata Admaja.
Melihat kelebatan bayang Rivandra yang berlalu pergi, membuat langkah Kirana Larasati segera beranjak keluar. Ia tidak tega melihat kekecewaan di mata Rivandra Dinata Admaja, yakni cinta dalam diamnya.
Ditengah derasnya hujan dan kilatan petir serta angin yang bertiup kencang Kirana Larasati memaksakan dirinya untuk mengejar Rivandra Dinata Admaja yang kini telah berlalu pergi membawa sejuta kekecewaannya.
***
Sementara Virgantara dan Fadhillah.
"Hey ... anak kecil. Siapa yang menyuruhmu berteriak-teriak dan mandi hujan? kalau dirimu sakit bagaimana? siapa yang tanggung? diberitahu ma malah cengengesan." Virgantara segera membawa Fadhilah ke Pondok yang lain, sebab ia sempat melihat Aslan sedang bermesraan dengan Zahrana. Membuat Virgantara tidak enak hati untuk mengganggunya.
"Pelan-pelan dong, Kak. Emangnya Fadillah apaan main tarik-tarik segala, seperti embek saja," celutuk Fadhilah.
Fadhilah pun mengikuti langkah kaki Virgantara yang begitu sangat menggemaskan dalam pandangannya.
__ADS_1
Sesampai di Pondok, Virgantara segera mengambil jaketnya. Ia pun segera menyelimuti Fadhilah dengan jaket miliknya.
"Tumben ...kau terlihat perhatian? tadi aja kau terlihat acuh tak acuh terhadap ku!" ucap Fadhilah, seraya mencebirkan bibirnya.
"Yach ... namanya juga kehidupan, kadang ada pasang surutnya," ujar Virgantara seraya mengusap surai rambut Fadhilah seperti adiknya sendiri.
Vlrgantara dan Fadhillah pun akhirnya terlihat kompak satu sama lainnya. Mereka berkelakar tiada habisnya, seraya menunggu hujan reda.
***
Sementara Kirana dan Rivandra.
"Kak Rivandra ... tunggu!" pekik Kirana Larasati.
Rivandra pun menoleh, ia pun segera menghentikan langkahnya ketika melihat Kirana menyusulnya. Ia pun tak tega melihat seorang wanita kehujanan, apalagi hanya untuk mengejarnya.
Rivandra pun mengajak Kirana berteduh di Pondok. Kirana pun menurutinya, mereka berdua pun sama-sama terdiam. Tidak ada yang berani membuka suaranya, mereka seolah tenggelam pada pikirannya masing-masing.
Sampai akhirnya Rivandra membuka suaranya duluan.
"Maaf ... gara-gara mengikuti ku baju seragam sekolah mu kebasahan. Terimakasih karena sudah berkenan menemani ku di sini. Aku sampai lupa jika tadi aku yang membonceng mu kesini. Nanti setelah hujan reda kita akan segera pulang," ucap Rivandra.
Rivandra pun kembali terdiam, dalam hati dan pikirannya kini hanya ada sosok Bidadari kecilnya. Hanya Zahrana seorang. Meskipun akhirnya cinta itu tak harus memiliki, namun di hati Rivandra hanya ada Zahrana seorang tiada yang lain.
Kirana pun menyadari tak ada ruang di hati Rivandra untuk dirinya. Dan perasaan itu ia kubur sedalam-dalamnya. Hanya Sang Maha Penggenggam Cinta lah yang mengetahui segala isi hatinya.
"Ya Allah ... betapa beratnya menerima semua kenyataan ini, mencintai seseorang yang hatinya kini tak bisa untuk ku miliki betapa beratnya," gumam Kirana Larasati.
"Aku mencintai kak Rivandra, sedangkan kak Rivandra mencintai Zahrana. Sementara Zahrana kentara sekali lebih memilih kak Aslan Abdurrahman Syatir."
"Intinya Kak Aslan adalah hati yang terpilih. Terpilih menjadi tambatan hati seorang gadis kecil yang cantik nan lugu, yakni Tsamirah Zahrana Az Zahra.
__ADS_1