Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
176 . Karena Malu sebagian dari Iman


__ADS_3

"Segera kembali ke kamar mu! lain kali ketika keluar kamar, jangan lupa kenakan hijab mu dengan sempurna. Agar kau pun selamat dari pandangan mata liar!" ucap Zaid dengan memalingkan wajahnya dari hadapan Zahrana.


Zaid benar-benar meredam nafsu birahinya yang hampir goyah oleh sebab pesona bidadari cantik yang kini terekspos sempurna di hadapannya.


Zaid pun segera berjalan menuju toilet dan meninggalkan Zahrana yang masih mematung di tempatnya.


Zahrana nampak tertunduk malu ketika ia menyadari tubuhnya terekspos sempurna dihadapan pria yang bukan mahramnya.


"Ya Allah ... ampunilah hamba atas segala dosa dan keteledoran hamba-Mu ini ya Rabb!" bisik hati Zahrana. Ia benar-benar malu terhadap apa yang baru di alaminya.


"Ya Allah ... jika tidak kau rahmati nafsu kami, sungguh kami adalah termasuk orang yang merugi!" bathin Zahrana dengan meneteskan air matanya. Ia kembali teringat dengan kisahnya bersama Aslan Abdurrahman Syatir 4 tahun yang silam. Ia tidak ingin hal tersebut terulang kembali bersama Mz Arkana.


"Ya Allah ... ya Rabb, hampir saja malam ini aku dan kak Zaid melakukan hal yang tidak Engkau ridhoi. Jika tidak ada kilatan petir yang menggelegar mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk di antara diriku dan dirinya!"


Zahrana kembali mengingat ketika sosok Muhammad Zaid Arkana menyentuh bibirnya dengan jemari tangannya dan beralih mengelus pipinya membuat ia merespon dan ikut terbuai dalam bisikan nafsu buruknya.


"Wahai diri, wahai nafsu! kenapa dirimu menjadi lemah?" bathin Zahrana dengan menggerutuki kebodohannya.


Zahrana pun beranjak pergi menuju kamarnya, ia benar-benar malu terhadap Muhammad Zaid Arkana yang tanpa sengaja telah melihat lekuk tubuhnya.


"Ya Allah ... inginnya diriku, semua yang ada pada diri ku cukup seseorang yang akan menjadi imam ku nanti yang melihat segala hal berharga dalam diri ku, aku benar-benar malu pada kak Zaid. Untung saja kak Zaid bisa meredam nafsu syahwatnya, kalau tidak betapa kotor dan nistanya diriku ini!" cicit Zahrana.


Zahrana berdiri di depan cermin, ia melihat kemolekan tubuhnya yang terpampang nyata. "Ya Allah ... betapa ruginya diriku, kecantikan yang telah Engkau amanahkan untuk ku, yang akan ku persembahkan untuk imam ku nantinya. Pun telah ternoda, meskipun hanya terlihat dalam pandangan mata, tanpa ada bentuk sentuhan hangat. Tetap saja aku rugi dan berdosa atas segala kecerobohan ku ini!" bathin Zahrana.


"Ya Allah ... pantaskah diri ku ini berdampingan dengan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy. Sosok pemuda yang Sholeh yang benar-benar bisa menjaga marwahnya dari sejak dulu hingga detik ini!" bathin Zahrana bertanya-tanya.


"Kak Yusuf, maafkan diriku yang belum bisa mawas diri. Maafkan Zahra yang belum bisa sempurna menutup aurat ini. Sehingga hadir sosok laki-laki lain yang tiba-tiba muncul di hadapan ku dan dia telah melihat auratku dengan gamblang dan nyata!" Zahrana menyesali atas kecerobohannya.


Zahrana pun menghempaskan tubuhnya di kasur, rasa lapar yang sempat menderanya pun kini sirna. Ia hanya terus memikirkan keintimannya dengan Zaid ketika berada di dapur tadi.


"OMG! begonya aku, kenapa tadi aku pun ikut terhipnotis oleh dirinya. Pakai memeluk erat pula, memalukan diri sendiri. Sepertinya aku harus benar-benar lebih mawas diri lagi, agar terhindar dari segala bentuk perzinahan!" bathin Zahrana.

__ADS_1


Zahrana pun berusah memadamkan api amarahnya yang sejak tadi menggerogotinya. Ia pun berbaring santai di kamar pribadinya dengan membaca buku tentang wanita seribu pesona dan buku-buku penting lainnya.


***


Di dalam toilet ( Pov Zaid )


"Ya Allah ... maafkan hamba dengan apa yang barusan hamba perbuat, hamba benar-benar tidak mampu lagi menahan hasrat hamba, hanya dengan cara seperti ini hamba bisa menuntaskan segala hasrat yang terpendam."


"Daripada diriku merusak kesucian hati dan diri Zahrana, biarlah aku menuntaskan keinginan nafsu dengan senam lima jari!" bathin MZ Arkana dengan terus menuntaskan hasratnya di kamar mandi.


Dalam keadaan darurat Muhammad Zaid Arkana terpaksa menuntaskan hasratnya yang tidak mampu lagi untuk ia tahan. Seumur hidupnya belum pernah MZ Arkana menyalurkan hasratnya seperti ini. Ia terpaksa melakukan itu semua demi untuk menjaga kesucian dirinya.


Entah berdosa atau tidak dirinya, namun ia telanjur menuntaskan hasratnya ditoilet sebab biduk hawa nafsunya dengan tiba-tiba menjeratnya hingga ia pun melakukan hal yang tidak wajar, yang baru kali ini ia lakukan dalam sepanjang usia kehidupannya.


Onani atau masturbasi menjadi solusi terakhir atas hasratnya yang terpendam, bagi kebanyakan anak muda yang sedang di dera oleh keinginan hawa nafsunya yang sedang mencapai ubun-ubun, seperti halnya yang dilakukan oleh seorang pemuda yang bernama Muhammad Zaid Arkana.


Zaid lebih memilih menuntaskan hasratnya dengan cara demikian, daripada ia harus merusak kesucian diri Zahrana yang sebenarnya sudah ada dalam genggamannya. Ia lebih memilih menuntaskan hasratnya dengan tangannya sendiri, ketika sesuatu yang tak lazim keluar dari bawah sana barulah Zaid merasakan ketenangan dan ketentraman dalam hati dan jiwanya.


"Ya Allah ... ya Ghofur, ampunilah hamba sebab telah mendzolimi diri hamba sendiri!" bathin Zaid dengan tertunduk malu. Walaupun tidak ada yang melihatnya ia yakin Allah Maha Melihat dengan apa yang diperbuatnya.


Setidaknya, rasa malu yang menyeruak di hatinya menjadi tolak ukur bahwa ia masih punya iman. Karena malu pun adalah sebagian dari iman.


Seburuk-buruk hal yang ia lakukan terhadap dirinya, setidak-tidaknya ia tidak menodai kesucian seorang gadis suci seperti Zahrana.


Sejatinya, kita terlihat baik dalam pandangan manusia bukanlah karena kita yang hebat. Namun, karena kasih sayang dan Rahmat Allah sehingga kita terlihat baik. Allah lah yang telah menutupi aib-aib kita.


Berkaca dari pengalaman yang di lakukan oleh sosok Muhammad Zaid Arkana saat ini, demi menjaga marwahnya ia terpaksa melakukan hal yang tidak lazim tersebut, sehingga ia menuntaskan hasratnya dengan jalan seperti itu maka hal itu di perbolehkan agar dirinya terhindar dari bermaksiat kepada Allah atas nalurinya yang tak mampu lagi untuk dikuasainya, selamat lah dirinya dari menodai kesucian bidadari yang di cintainya, yakni Tsamirah Zahrana Az Zahra.


***


Di Bilik kamar. ( Pov Zahrana )

__ADS_1


"Ya Allah, hampir saja aku dan kak Zaid melakukan hal-hal yang terlarang, celakalah diri ku, jika sampai terbuai oleh sentuhan lembutnya terhadap ku!"


Zahrana menyentuh bibir dan pipinya yang sempat disentuh oleh Zaid dengan jemari tangannya. Namun, di tengah hening malam Zahrana tidak bisa menampikkan rasanya. Tetap saja ia pun sempat terhanyut oleh perlakuan manis Zaid terhadapnya.


Sebagai insan biasa, meskipun ia telah menghiasi dirinya dengan hijab untuk menutupi seluruh tubuhnya, sebagaimana yang telah disyari'atkan Islam. Di usianya yang telah menginjak 17 tahun, tetap saja ia pun memiliki naluri dan hawa nafsu.


Namun, ia berusaha untuk mengekangnya. Agar jangan sampai terjatuh dalam perzinahan yang lebih dalam lagi.


"Ya Allah .... syukurlah, Alhamdulillah ... tidak terjadi apa-apa antara aku dan dirinya. Cukup bersama kak Aslan di masa lalu aku terjerumus dalam kemaksiatan yang menyesatkan ku. Sungguh, aku tidak ingin hal itu terulang kembali bersama kak Zaid!" bisikan hati Zahrana dengan tertunduk malu.


Malu yang terlahir dari hati dan kebeningan imannya, terhadap Rabb-Nya. Malu jika hidayah-Nya kembali terhempas, atas segala keteledorannya oleh bisikan hawa nafsu sesaatnya.


"Ya Allah ... terima kasih Engkau telah menyelamatkan hamba dari perzinahan. Jika tidak Engkau rahmati biduk hawa nafsu hamba sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang merugi!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Zahrana meyakini jika rasa malu yang menyeruak didalam hatinya adalah sebagian dari IMAN kepada Rabb-Nya. Zat yang Maha Melihat akan kehinaan dan kerendahan dirinya atas segala kesalahan dan khilaf yang telah diperbuat olehnya.


✍✍✍


Untaian Mutiara Hikmah πŸ‘‰ β€œSesuai dengan perjuangan jiwa seseorang dan penolakannya terhadap syahwatnya serta penolakannya untuk mengikuti kesenangannya (yang diharamkan), dan penolakan atas apa yang menjadikan mata berkeinginan memandangnya, maka disitulah terletak pahala dan siksaan. Orang yang bijak adalah yang dapat menguasai hawa nafsunya. Sesungguhnya saat engkau meninggalkan kebenaran, engkau pasti sedang menuju kepada kebatilan, dan saat engkau meninggalkan sesuatu yang benar, engkau meninggalkannya menuju kesalahan.”


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk merapat ke ke karya author besti, tentunya dengan kisah yang tidak kalah menariknya.😊😘


Judul karyanya : Dear Pak Boss


Authornya : Ika Oktafiana

__ADS_1



__ADS_2