Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
156 . Untuk Yang Terakhir Kalinya ( Pov Zain Nandini )


__ADS_3

"Zain, Aku mencintaimu! aku berusaha melepas mu meski tak rela, aku sadar siapa aku. Aku sudah kotor dan ternoda," ucap Nandini dengan suara bergetar, menahan segala kepedihan di hatinya.


Seketika suasana hening, keduanya pun saling diam. Semua yang terpendam di hati keduanya pun telah terungkap meski terlambat.


Zain dan Nandini tidak menyadari jika Barra dan teman-temannya Cinta, Kirana dan Fadhillah, juga Virgantara dan Rangga Sahadewa sudah sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi di antara mereka dua.


Teman-temannya ikut merasakan kepedihan dan kesedihan di antara keduanya.


"Nandini!" pekik Cinta, Kirana dan Fadhillah. Mereka pun segera menghampiri Nandini, membuat Nandini dan Zainal tersentak kaget dengan kedatangan mereka tanpa di undang.


"Cinta, Kirana, Fadhillah! Sejak kapan ka-kalian di sini?" tanya Nandini dengan suara tebata.


"Maaf, bukan maksud kami untuk mematai kalian berdua. Sungguh, kami menyayangi mu, Din!" ucap Fadhillah mewakili teman-temannya.


"Iya, Din. Kami telah menyaksikan dan mendengar sendiri apa yang terjadi antara diri mu dan Zain. Juga cinta segitiga mu yang melibatkan Arjuna Restu Pamungkas," ucap Cinta dengan mata berkaca-kaca.


Cinta Kiara Khoirani, ikut merasakan kepedihan yang di alami Nandini sahabatnya.


"Kamu yang sabar ya, Din. Semuanya sudah kehendak Allah Subhanahu wata'ala, terkadang mencintai seseorang tidak berarti harus memiliki, mungkin Arjuna adalah jodoh yang di pilihkan oleh Allah untukmu dengan jalan seperti ini, ambil hikmahnya, ya? semoga dirimu dan Zain bisa sabar dan ikhlas menerima semua keadaan ini, walaupun sepahit apapun kenyataannya," ucap Kirana dengan mengusap lembut bahu Nandini dan memeluk sahabatnya itu dengan penuh ketulusan.


Cinta dan Fadhillah pun ikut merangkul Nandini. Ke empat orang sahabat itu pun saling menguatkan satu sama lain.


Barra yang dari sejak tadi menyaksikan ke empat sekawan itu pun, membiarkan mereka saling menguatkan satu sama lain. Ia lebih memilih menghampiri Zain yang masih diam terpaku.


"Tuan, ini pesanan susu ibu hamil yang Tuan minta!" ucap Barra dengan memberikan kantong kresek berukuran besar yang berisi susu ibu hamil dalam kemasan kotak yang paling jumbo.


Di tengah keterpakuannya ingin rasanya Zain terkekeh geli melihat kelakuan asisten pribadinya, yang membeli susu dalam jumlah yang cukup banyak.


"Kenapa tersenyum? apa merk susunya salah?" tanya Barra.


Namun, Zain tidak menjawab pertanyaan Barra. Ia langsung memberikan susu tersebut pada Nandini Sukma Dewi.


"Din, ini untuk mu! nanti jangan lupa dibawa pulang ya?" ucap Zainal lembut.


"OMG! banyak betul susunya? ini bisa untuk 6 bulan kedepan!" pekik Nandini, dengan nada kagetnya.


"Ambil saja, Din! anggap saja itu rezeki untuk mu," ucap Fadhillah dengan senyum sumringah.


"By the way, aku sangat lapar sekali! aku ingin pesan makanan untuk mengisi perut ku yang kosong," ucap Fadhillah mencairkan suasana.

__ADS_1


Barra menggaruk-garuk kepalanya, "oh iya, maaf untuk sementara para waiters dan waitressnya untuk sementara istirahat siang dulu. Nanti sore mereka baru balik lagi," ucap Barra beralasan.


Padahal, para karyawan di Cafe XX memang sengaja di suruh oleh Zainal pulang, lantaran ingin menghabiskan waktunya bersama Nandini. Zain tidak ingin ada yang mengganggu waktunya bersama Nandini.


"Ya sudah, aku akan buatkan makanan spesial ala Chef Zain and Chef Barra," ucap Barra dengan mengerlingkan pandangannya pada Zain.


Zain mengangguk pelan, ia menyetujui usulan Barra. Mereka pun sepakat membuat makanan spesial untuk Nandini dan teman-temannya.


Virgantara dan Rangga Sahadewa yang tidak mengerti apa-apa arah pembicaraan Nandini dan teman-temannya pun ikut bergabung di meja Cafe di mana Nandini dan teman-temannya berada.


"Jadi, Nandini sedang mengandung anaknya Arjuna?" ucap Virgantara tak percaya dengan apa yang didengar olehnya.


Nandini menundukkan kepalanya, ia malu pada Virgantara selaku kakak sepupu Arjuna.


"Iya, Kak Virgan. Benar!" ucap Fadhillah, membantu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Virgantara pada Nandini.


"Kurang ajar anak itu, berani-beraninya dia d menodai kesucian anak gadis orang. Aku akan segera memberikan pelajaran untuknya, ia benar-benar telah memberi malu keluarga Om Sastrawan Pamungkas !" ucap Virgantara dengan mengepalkan tinjunya.


"Sabar, Kak. Jangan tersulut emosi! orang tua Nandini sudah mengetahui semuanya. Tinggal menunggu pihak keluarga Om Sastrawan Pamungkas datang melamar Nandini Sukma Dewi," ucap Fadhillah menenangkan Virgantara.


Virgantara pun perlahan mulai melemah, ia pun menurunkan kadar emosinya. Ia merasa tenang dengan kehadiran Fadhillah di sisinya.


"Semoga aku dan Cinta terhindar dari hal-hal yang sedemikian!" bathin Rangga lagi.


Di tengah kegamangan mereka, Zain dan Barra telah selesai menghidangkan makanan untuk semua teman-temannya.


"Taraaa! masakan ala chef Zain selesai, special untuk gadis manisku, Nandini Sukma Dewi!" ucap Zainal dengan mempersembahkan kepiting saos tiram kesukaan Nandini Sukma Dewi.


"OMG! Zain, darimana kamu tahu kalau hobby ku kepiting?" pekik Nandini kegirangan.


"Ada, deh! yang penting kau harus mencoba masakan ku," ucap Zainal dengan menyuapkan kepiting saos tiram tersebut pada mulut mungil Nandini.


Seketika degup jantung Nandini sulit untuk di artikan, ia pun mengunyah suapan demi suapan dari Zainal untuknya.


"Ibu hamil harus banyak makan, biar janinnya tumbuh sehat. Nggak apa-apa sesekali makan kepiting namun jangan sering-sering. Ibu hamil mesti makan makanan yang bergizi, banyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan juga ya? tentunya makan buah-buahan yang baik untuk ibu hamil," ucap Zainal penuh kasih pada Nandini Sukma Dewi.


Zain dan Nandini tidak menyadari jika pandangan mata teman-temannya tertuju pada mereka berdua. Pikir teman-temannya, ayah dari calon bayi Nandini adalah Arjuna Restu Pamungkas. Lalu kenapa Zainal yang begitu perhatian dengan Nandini.


"Ya Allah ... kasian Nandini dan Zainal, di saat mereka mulai jatuh hati, namun harus terpisah oleh sebab Nandini mengandung anak Arjuna, mengsedih!" bathin teman-temannya.

__ADS_1


Nandini nampak bahagia dengan kebersamaannya dengan Zainal meskipun untuk yang terakhir kalinya, setelah ini pun mereka akan segera berpisah lantaran Nandini akan segera menikah dengan Arjuna Restu Pamungkas.


Ditengah keromantisan Nandini dan Zain, ponsel Nandini pun berdering berkali-kali. Hingga membuat Nandini menghentikan sejenak aktivitasnya.


Nandini mengangkat ponselnya.


📞 "Hallo, Honey. Kau dimana?" ucap Arjuna dengan setengah berteriak.


📞 "Iya, Hubby. Aku sedang bersama teman-teman, Cinta, Kirana dan Fadhillah."


📞 "Kau bohong, Nandini Sukma Dewi! Aku tahu kau sedang bersama Si Kutu Buku, itu kan? mengaku lah sebelum aku hilang kesabaran," ucap Arjuna mulai berang.


📞 "Aku bisa jelaskan semuanya Hubby, saat ini aku sedang berkumpul dengan teman-teman."


Arjuna hendak meluapkan kekesalannya, namun Cinta, Kirana dan Fadhillah kompak membuka suaranya.


"Din, buruan makannya! sebentar lagi kita mau pulang, terimakasih sudah menghabiskan waktu bersama kami, shopping!" ucap teman-temannya. Mereka berniat menyelamatkan Nandini dari amukan Arjuna Restu Pamungkas.


Mendengar Nandini memang sedang bersama teman-temannya, Arjuna pun mematikan telfonnya.


"Jika memang ia bersama-sama dengan teman-temannya, tidak mengapa, namun kenapa tadi ia bersama Si kutu buku itu!" bathin Arjuna Restu Pamungkas.


🌷🌷🌷


Untaian mutiara hikmah 👉 "Cinta tak harus memiliki dan mencintai bukanlah menguasai. Biarlah aku mencintai dengan caraku sendiri."


🌼


🌼


🌼


Sambil menunggu update selanjutnya, Author punya rekomendasi novel bagus untuk mu, kak? ceritanya nggak kalah seru dan menariknya.


Judul Karyanya : Pemandu Hati Pengganti


Author nya : Chika Ssi


__ADS_1


__ADS_2