Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
90 . Terluka Perih


__ADS_3

Suasana Pantai Indah Kenangan Bersama semakin ramai dikunjungi oleh para Siswa-siswi yang sedang perpisahan sekolah bersama teman-temannya. Mereka terdiri dari anak-anak SMP juga SMA yang sengaja ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman seangkatan mereka didetik-detik akhir perpisahan sekolah.


Zahrana pun masih terlelap dalam pangkuan Aslan kekasihnya. Ia tidak menyadari jika para pengunjung mulai berdatangan menuju pantai Indah Kenangan Bersama, pantai yang sama dengan yang sedang mereka kunjungi saat ini.


Segerombolan anak muda yang terdiri dari Siswa-siswi sedang mengendarai laju kuda besinya dengan penuh semangat berboncengan bersama pasangannya masing-masing. Mereka nampak kompak menepikan Sepeda Motornya di dedaunan rimbun di tepi pantai. Mereka adalah rombongan Nandini Sukma Dewi bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya juga teman-teman mereka lainnya.


Rivandra Dinata Admaja bersama Kirana Larasati, Fadhilah bersama Virgantara Dinata Admaja. Sedangkan Rangga Sahadewa bersama Cinta Kiara Khoirani. Mereka tampak serasi dengan pasangannya masing-masing.


"Hubby, itu sepertinya Zahrana deh! ternyata mereka di sini juga. Nampaknya mereka terlihat romantis sekali duduk berduaan di bebatuan pantai itu." Nandini menepuk pundak Arjuna kekasihnya dengan gaya metalnya. Ia nampak kaget dengan keromantisan kakaknya Aslan dan Zahrana sahabatnya.


Arjuna pun memandang kearah bebatuan pantai yang di tujukan oleh Nandini kekasihnya. Arjuna melebarkan netranya. Ia pun ikut kaget dengan apa yang di lihatnya.


"Benar juga Honey, sepertinya mereka sudah baikan. Kalau begitu kan enak melihatnya, dari pada berantem terusan seperti anak kecil saja." Arjuna ikut berceloteh.


"Iya sih, By. Benar apa kata mu," ucap Nandini.


"Berarti siasat kita berhasil dong, Honey. Kau lihat di sana! tuan muda Rivandra Dinata Admaja nampak menikmati kebersamaannya, semoga saja mereka bisa jadian. Seperti halnya kita berdua Honey, sampai sekarang masih terus merajut kebersamaan." Arjuna menggoda Nandini, seraya mentoel dagu gadis metalnya itu.


"Aish ... gombalnya, mulai kelihatan lho Mas. Tak ku sangka kau pun bisa bucin parah terhadap ku," pungkas Nandini percaya diri.


"Benar, aku bucin parah terhadap mu Honey. Karena dirimu lah aku bisa menjadi Pencinta sejati. Dirimu merubah segalanya, sungguh kau telah menyentuh hati ku dengan cara mu yang begitu sangat memikat ku. Aku suka gaya metal mu dan ceplas-ceplos mu," ucap Arjuna seraya mengusap surai wajah Nandini kekasihnya. Ia pun menyelipkan surai rambut Nandini di belakang daun telinganya, sebab terpaan angin pantai yang bertiup dengan sepoi-sepoinya.


"OMG ... yang sedang kasmaran, nggak ingat tempat. Masih ada kami dan teman-teman disini lho!" pungkas Kirana Larasati yang berdiri tepat di samping Rivandra Dinata Admaja.


"Iya nich, yang sudah punya tambatan hati. Hargai dong kita yang masih jomblo," kelakar Rivandra Dinata Admaja seraya melirik sekilas wajah manis Kirana Larasati.


"Deg ... " jantung hati Kirana terasa berdegup kencang, ketika melihat tatapan Rivandra Dinata Admaja.


Begitu pun Rivandra sebenarnya ia pun terpesona dengan gadis manis di hadapannya. Namun sebisa mungkin ia menepis rasanya.


"Ciyeeee ... yang sedang lirik pandang, sebentar lagi akan segera melepaskan masa jomblonya." Nandini menggoda sahabatnya Kirana Larasati dan Rivandra Dinata Admaja.


"Apaan sih, Din." Wajah Kirana Larasati pun merona oleh godaan Nandini Sukma Dewi.


Kirana pun perlahan menundukkan pandangannya. Sedangkan Rivandra Dinata Admaja nampak tersenyum simpul. Seyogyanya, ia pun mulai merasa nyaman berdekatan dengan Kirana Larasati. Namun Rivandra tidak ingin secepat itu berlabuh dan berpaling hati dari Zahrana Sang Bidadari kecil, yang dulu pernah singgah mengisi hari-harinya. Tidak mudah baginya untuk melupakan sosok Zahrana.


"Lagi berkisah tentang apa ni, nampaknya ceritanya seru sekali!" Fadhilah ikut menimpali di temani oleh Virgantara Dinata Admaja, kakaknya Rivandra. Yang sejak tadi nampak setia menemani Fadhilah gadis yang anggun nan ayu dengan tahi lalat kecil yang tumbuh di lesung pipi kanannya menambah keanggunannya.


"Hemmm ... ada lagi ni, yang sedang kasmaran." Nandini menggoda Fadhilah dan Virgantara yang begitu erat saling bergandengan tangan.


"Apa? kasmaran? oh no," ucap Fadhilah dan Virgantara bersamaan. Mereka berdua pun saling berpandangan dan saling bersedekap dada.

__ADS_1


"Aku jatuh hati, pada pria dewasa yang sok jual mahal ini. Itu tidak mungkin," ucap Fadhilah dengan nada sombongnya.


Padahal Fadhilah berusaha untuk menguasai ritme jantungnya, sebenarnya dari sejak awal berjumpa hingga detik ini Fadhilah telah jatuh hati terhadap Virgantara Dinata Admaja. Namun ia malu mengakuinya, sebab ia menyadari jika ia masih gadis kecil sedangkan Virgantara sudah dewasa. Pikirnya mustahil jika Virgantara menyukainya.


"Hemmm ... Aku pun tidak mungkin jatuh hati pada gadis kecil nan cerewet ini," ujar Virgantara seraya mengusap pucuk kepala Fadhilah yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


"Hati-hati kak Virgan, nanti termakan ucapannya sendiri lho. Aku sama Nandini dulu juga gitu, awalnya benci malah jadi suka. Bahkan bucin parah lagi," celutuk Arjuna. Ia pun tak lupa mentoel hidung Nandini kekasihnya yang menurutnya sangat menggemaskan sekali.


"Apaan sih, By. Buka kartu aja," sungut Nandini. Seketika semua teman-temannya tertawa renyah oleh tingkah Arjuna dan Nandini.


Selang berapa detik kemudian, menyusul Cinta Kiara Khoirani dan Rangga Sahadewa kekasihnya yang berada di kloter terakhir sebab mereka berdua berboncengan dengan menggunakan motor Alfa Champ yang sangat legendaris di era 90 an. 😁😁


"Ehemm ... mari kita sambut pasangan paling hits, inilah dia Cinta Kiara Khoirani dan Rangga Sahadewa." Nandini Sukma Dewi kembali dengan guyonannya, sebab nggak ada Nandini nggak ada seru-seruannya.


Semua teman-temannya kembali terkekeh geli, melihat tingkah lucu Nandini Sukma Dewi yang selalu memecah keheningan.


Rangga Sahadewa dan Cinta Kiara Khoirani nampak malu-malu sebab menjadi guyonan teman-temannya. Cinta pun melerai genggaman tangannya dari kekasihnya Rangga, sebab ia malu dilihat oleh teman-temannya.


"Ceeilee ... pakai malu-malu segala Cin. Santai aja," pungkas Nandini seraya menyandarkan dagunya di pundak Arjuna kekasihnya dengan gaya metalnya. Ia memang tidak segan-segan menampakkan kemesraannya di hadapan semua teman-temannya.


"Hemmm ... rencana kita selanjutnya apa nih," pungkas Cinta memotong perkataan Nandini.


"Bakar-bakar aja deh, tapi kita nggak punya perlengkapan apa-apa untuk bakar-bakar habis pergi kepantainya nggak direncanakan." Nandini mengerucutkan bibirnya, ia bingung harus melakukan apa.


"Oke deh, Hubby." Nandini mengerti maksud ucapan Arjuna, mereka sengaja ingin menyatukan teman-temannya yang masih jomblo.


"Baiklah, aku mau menghabiskan waktu bersama kak Virgan dulu deh. Setelah ini belum tahu kapan bisa bertemu lagi dengan pria menyebalkan di hadapan ku ini," celoteh Fadhilah. Ia pun menarik pergelangan tangan Virgantara untuk segera menjauh dari pandangan teman-temannya.


"Eh .... tunggu dulu gadis cerewet! Kau lihat di sana sepertinya itu Bidadari kecil bermata jeli sedang bersama dengan Aslan Abdurrahman Syatir sahabat ku. Ya Ampun ... mesra sekali mereka," ucap Virgantara. Sehingga semua teman-temannya melirik ke arah Zahrana dan Aslan yang nampak setia memangku Zahrana yang masih tertidur pulas.


"OMG ... Princess Zahra! semakin hari ia semakin menampakkan kemesraannya, pakai bersandar di pangkuan kak Aslan pula." Cinta ikut menimpali.


"Ya Allah ... Zahrana semakin hari semakin lengket saja dengan kak Aslan, mereka berdua benar-benar bucin parah. Kemarin aja pakai back street segala, hari ini seluruh dunia pun tahu, jika mereka telah merajut kasih. Aku rindu Zahrana yang dulu," cicit Fadhilah.


"Melankolis sekali diri mu gadis cerewet, mending kita beli es cream saja dari pada berpikiran yang tidak-tidak."


Virgantara menarik tangan Fadhilah menuju Abang Es Cream yang sedang duduk berteduh di bawah pohonan rimbun sembari menunggu para pengunjung pantai untuk membeli dagangannya.


Fadhilah mengikuti langkah Virgantara menuju tempat Abang Es Cream yang menjajakan dagangannya menggunakan Sepeda Motornya.


***

__ADS_1


"Kak Aslan, Zahrana ... " pekik Nandini dari kejauhan.


Zahrana pun terperanjat kaget. Ia pun terbangun dari tidur lelapnya, begitu pun Aslan ia menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.


"Nandini ... Arjuna, sejak kapan mereka di sini. Itu juga pemuda itu, sedang apa ia disini? Jangan sampai ia mendekati wanita ku lagi," sungut Aslan. Terdengar pula oleh Zahrana kekasihnya.


Zahrana mengucek matanya, perlahan ia pun melebarkan netranya. Ia nampak terkejut sebab semua teman-temannya telah pun berada di Pantai Kenangan Indah Bersama.


Netra Zahrana pun tertuju pada sosok pemuda yang tampan dan berkharisma, yang sedang berdiri tegak menatap instens ke arahnya.


"Kak Rivandra," cicit Zahrana.


Menyadari jika pandangan Zahrana tertuju pada Rivandra Dinata Admaja. Aslan pun sengaja menggenggam erat jemari tangan Zahrana. Ia benar-benar menunjukkan tanda kepemilikannya.


Rivandra pun menundukkan pandangannya, betapa perihnya luka di hatinya untuk sekian kalinya ia harus menahan sesak di dadanya melihat kemesraan antara Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir.


Tanpa sengaja Rivandra refleks menggenggam jemari tangan Kirana Larasati dan membawanya menjauh dari pandangan Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir.


Rasanya Rivandra ingin menumpahkan air matanya, lantaran tidak sanggup lagi menahan luka perih di hatinya melihat sang pujaan hati yang dulu pernah mengisi hari-harinya kini telah pun bahagia bersama rivalnya.


"Ya Allah ... seperih ini kah luka di hati, lantaran cinta yang tak kesampaian, kenapa aku jatuh hati pada mu Zahrana?" bathin Rivandra bertanya-tanya.


Tanpa sadar air mata Rivandra mengalir begitu sudah, tanpa bisa untuk ia bendung lagi.


"Kak Rivandra ... kau menangis?" tanya Kirana Larasati tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Rivandra mengusap air matanya.


"Ini terakhir kalinya aku menangisi mu Zahrana, setelah ini aku tidak akan pernah lagi menampakkan wajah ku dihadapanmu. Aku akan pergi jauh dari mu, aku akan menempuh pendidikan yang jauh dan tidak akan pernah lagi bersua dengan mu, semoga dirimu bahagia bersamanya." Rivandra bermonolog di dalam hatinya.


"Kak Rivandra, kakak yang sabar yah? Aku tahu kakak masih mencintai sahabatku Zahrana. Namun, kakak harus belajar ikhlas melepaskan Zahrana. Jodoh tak kan lari kemana, Kak. Tetap semangat untuk meraih masa depan yang lebih cerah, jangan terlalu dibawa perasaannya. Pelan-pelan lepaskan sesuatu yang memang tak layak untuk kita perjuangkan lagi," ucap Kirana Larasati.


"Terimakasih Kirana, dirimu senantiasa memberikan semangat untuk ku. Kau adalah teman yang baik," ucap Rivandra.


Rivandra pun melepaskan genggaman tangannya, ia baru menyadari jika ia dari sejak tadi masih menggenggam erat jemari tangan Kirana Larasati.


"Ma-af, atas kelancanganku." Rivandra pun tertunduk malu, sebab tak sengaja menggenggam erat jemari tangan Kirana ketika ingin menjauhi dari pandangan Zahrana.


"Tidak apa-apa kak," ucap Kirana Larasati.


Rivandra dan Kirana pun saling terdiam mereka seolah tenggelam pada pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


Di saksikan oleh deburan ombak dan pantai Rivandra Dinata Admaja harus kembali terluka perih lantaran mengenang percintaannya yang harus terabaikan oleh hadirnya sosok orang ketiga yang telah menghempaskan biduk cintanya bersama sosok Bidadari kecilnya Tsamirah Zahrana Az Zahra yang kini tidak bisa lagi untuk ia miliki. Cinta itu pun harus terkubur oleh derita, duka dan nestapa yang melanda jiwanya.😥😥


__ADS_2