
Ceklek ... pintu kamar rawat inap Zahrana di buka, hingga membuat keduanya pun menoleh pada sumber suara.
Tampaklah, Sabrina dan suaminya Fardhan Arkhan tergopoh-gopoh menghampiri Zahrana yang sedang terbaring di brankarnya. Ketika mendapat kabar Zahrana di rawat di rumah sakit membuat kakaknya Sabrina nampak cemas dan tidak tenang karenanya.
"Assalamu'alaikum, Dek. Kamu sakit apa?" tanya Sabrina dengan memeluk dan mencium kening Zahrana.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... Zahra hanya demam dan sakit kepala kak," ucap Zahrana santai.
"Apaaa? hanya demam dan sakit kepala kamu bilang, wajah mu terlihat pucat pasi masih saja kau bilang hanya?" pungkas Sabrina dengan setengah mengomel pada Zahrana.
Zahrana hanya nyengir kuda, perhatian sang kakak membuat ia memiliki semangat kembali untuk segera sembuh dan segera pulang dari rumah sakit. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut, ia rindu dengan pekerjaannya dan aktivitasnya di Aisha Boutique Collection. Ia juga tidak ingin merepotkan orang-orang terkasihnya.
Selang berapa menit kemudian, pelayan yang bertugas mengantarkan makanan untuk pasien di Rumah Sakit Medika pun mengantarkan makanan khusus untuk Zahrana.
"Terimakasih, Bu!" ucap Zahrana.
"Sama-sama, Neng." Pelayan tersebut pun beralih mengantarkan makanan kepada pasien yang lainnya, setelah menaruh makanan khusus Zahrana pada tempatnya.
Sabrina dengan sigap mengambil bubur nasi beserta lauknya dan menyuapkan ke mulut Zahrana.
"Bismillah ... makan dulu buburnya, Dek! nanti keburu dingin, biar cepat sembuh dan sehat kembali," ucap Sabrina dengan menyodorkan sendok makan kedalam mulut Zahrana.
Zahrana pun menuruti perintah kakaknya, ia pun mengunyah bubur nasi tersebut dengan terpaksa. Sebab, ia tidak bernafsu untuk makan setelah sakit tiba-tiba menderanya.
Di suapan ketiga Zahrana berhenti mengunyah makanannya. "Sudah, Kak. Zahra tidak bernafsu untuk makan, entah kenapa nafsu makan Zahrana semakin menurun." Zahrana pun tertunduk lesu.
"Harus di paksakan, Dek. Namanya orang sakit ya nafsu makannya pun berkurang," pungkas Sabrina dengan mengelus pucuk kepala Zahrana.
Zahrana pun mengangguk pelan, ia pun kembali menerima suapan Sabrina kakaknya, sedangkan Zaid dan Fardhan nampak asyik bercengkrama satu sama lain, sembari menunggu waktu shalat Maghrib tiba.
Zaid tidak henti-hentinya melirik ke arah Zahrana, dia merasa sangat gemas melihat tingkah Zahrana yang seperti anak kecil.
"Ya Allah ... sepertinya aku memang harus segera menghalalkan Zahrana, aku tidak sanggup terus begini! aku tidak ingin terus seperti ini, dengan menikah tentunya aku bisa menjaga pandangan ku dari zinah mata dan semisalnya!" bathin Zaid dengan netranya yang masih tertuju pada Zahrana.
Fardhan menepuk bahu Zaid, "Pandangan mesti di jaga Akh Zaid, jika memang sudah merasa cocok, buruan halalin! jangan di gantungin," ujar Fardhan setengah berbisik agar tidak terdengar oleh indera pendengaran Zahrana yang masih fokus menerima suapan bubur nasi dari Sabrina.
Zaid dan Fardhan duduk di pojokan, agak jauh dari keberadaan brankar Zahrana.
Selang berapa menit kemudian para Suster datang mengantarkan obat untuk Zahrana.
"Selamat sore, menjelang malam Nona Zahra? bagaimana keadaannya? apa sudah lebih baik? nanti obatnya tolong di minum ya?" ujar salah satu suster dengan memberikan berapa macam obat untuk Zahrana.
"Alhamdulillah ... sudah lebih baik, Sus. Terimakasih obatnya," ucap Zahrana dengan tersenyum tulus pada suster tersebut.
Sedangkan suster yang lainnya fokus mengecek infus Zahrana, dan yang satunya lagi mengecek suhu tubuh Zahrana dengan termometer.
"Alhamdulillah ... panasnya sudah turun nona, obatnya pun jangan lupa di minum. Satu lagi, jangan terlalu banyak pikiran!" ucap Dokter menyemangati Zahrana.
Zahrana pun mengangguk.
Sementara Sabrina nampak penasaran dengan penuturan para suster tersebut. Setelah kepergian suster tersebut dari ruangan rawat inap Zahrana, Sabrina pun menanyakan Zahrana tentang sakit yang di alami oleh adiknya.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu sakit apa, Dek? sehingga banyak pikiran?" tanya Zahrana.
"Nggak ada, Kak. Hanya demam dan sakit kepala biasa kok, Kak. Efek kelelahan mungkin," ucap Zahrana dengan menyembunyikan perasaannya.
Padahal, sebenarnya Zahrana sedang memikirkan dan merindukan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy yang sampai detik ini belum kembali.
Zahrana pun di buat gamang oleh perasaannya sendiri, sering kali bertemu dengan sosok Zaid membuat dirinya merasakan getaran yang tak biasa terhadap sosok pemuda tersebut.
Namun, Zahrana terus berusaha menjaga hatinya dalam penantian panjangnya terhadap sosok Amri Nufail Syairazy.
"Nah, di tanya malah melamun. Sepertinya ini penyakit yang tak biasa, dokter pun pasti geleng-geleng kepala. Memangnya, siapa yang ada dihati dan pikiran mu? Akh Zaid atau siapa? kalau suka jangan dipendam, Dek!" ucap Sabrina.
"Masalahnya, sosok yang Zahra sukai itu jauh dari pandangan Zahra, Kak." Zahrana pun terkulai lemas, ia tidak tahu sampai kapan mampu bertahan dalam penantian panjangnya. Yang ia tahu, sampai detik ini dirinya pun masih setia menunggu kedatangan Yusuf Amri Nufail Syairazy.
Sabrina mencoba menelaah ucapan Zahrana, ia dapat menangkap gurat kegundahan dalam diri adiknya tersebut.
"Kakak tahu, pasti dirimu sedang memikirkan sosok pemuda yang bernama Yusuf, yang di jodohkan oleh Buya Harun pada mu, Kan?"
Zahrana mengangguk pelan, Sabrina pun memeluk tubuh Zahrana yang sedang berbaring di brankarnya.
"Sabar ya, Dek. Kalau jodoh pasti bertemu, sejauh apapun jarak yang membentang." Sabrina menenangkan adiknya yang tanpa depresi.
"Insya Allah, Kak." Zahrana memijit pelipisnya.
"Kamu kenapa, Dek? pusing lagi?" tanya Sabrina penuh kecemasan.
"Tidak kak, Zahra hanya sedih, hari ini Zahra tidak sholat Dzuhur dan Ashar. Katanya Zahra tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama. Katanya Zahra pingsan, akibat demam yang terlalu tinggi.
Sabrina hendak mengintrogasi Zaid, namun Adzan shalat Maghrib telah berkumandang di Mesjid-mesjid dan juga musholla yang ada di Rumah Sakit Medika.
"Umm, Abi sama Zaid ke Musholla dahulu, jaga Zahrana baik-baik. Interogasinya tunggu ba'da Maghrib!" Fardhan seakan membaca raut wajah Sang Istri yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Sementara Zaid nampak kikuk, ia harus menyiapkan mentalnya oleh sebab omelan Sabrina nantinya.
Fardhan dan Zaid pun segera menuju Musholla di dekat Rumah Sakit Medika, sedangkan Sabrina sholat Magrib di ruang rawat inap Zahrana yang memang terbilang besar dengan fasilitas lengkap dan mewah. Jadi, sangat leluasa untuk menunaikan ibadah sholat didalamnya.
"Kak Sabri, bagaimana hukumnya jika Zahra tidak shalat Dzuhur dan Ashar tadi? namun, Zahra dalam keadaan tak sadarkan diri dalam waktu yang lama, apa Zahra terhitung melalaikan shalat dan berdosa? tadi Zahra baru sadarkan diri pukul 17.30 wib."
Zahrana merasa sedih, sebab ia telah meninggalkan ibadah shalat tanpa sengaja, oleh sebab ia terlelap dan pingsan terlalu lama.
Sabrina menghampiri Zahrana, ia pun memberikan penjelasan pada Zahrana berdasarkan pengetahuan yang ia miliki.
"Dek, menurut hemat kakak jika kita terlelap dan pingsan terlalu lama sehingga masuknya waktu shalat dan berakhirnya waktu shalat itu tidak termasuk kategori melalaikan shalat dan tidak terhitung dosa, sebab kita dalam keadaan tidak sadar. Sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi, diangkat pena (tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang yaitu orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh dan orang gila sampai ia berakalβ (HR. Baihaqi)
Sabrina melanjutkan kalimatnya, "Sedangkan orang yang pingsan berada dalam posisi di tengah-tengah antara orang yang gila dan orang yang tidur. Hal ini seperti yang di ilustrasikan oleh Imam al-Ghazali, Gila dapat menghilangkan akal, pingsan dapat menenggelamkan akal, dan tidur dapat menutup akal."
"Sehingga dalam perincian hukum pada beberapa permasalahan fiqih, orang yang pingsan cenderung berada dalam penempatan hukum yang berbeda-beda. Adakalanya sama dengan orang yang tidur dan juga adakalanya sama dengan orang yang gila. Misalnya, dalam permasalahan kewajiban mengqadha shalat, orang yang pingsan memiliki hukum yang sama dengan orang yang gila dalam hal tidak wajibnya mengqadha shalat ketika memang masa pingsan atau masa gila berlangsung lama, mulai awal masuknya waktu sampai habisnya waktu shalat."
"Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orang yang pingsan tidak wajib mengqadha shalatnya ketika masa pingsan yang dialaminya sampai menghabiskan waktu shalat, seperti pingsan sebelum masuknya waktu shalat dan tersadar ketika waktu shalat telah habis. Sedangkan ketika ia menemui waktu shalat sebelum pingsan, maka wajib baginya untukΒ mengqadha shalat tersebut ketika telah tersadar. Wallahu aβlam ... " ucap Sabrina di akhir kalimatnya.
Zahrana pun mendengar penuturan Sabrina dengan seksama. "Terimakasih kak, atas ilmunya!" Zahrana nampak tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... berarti Zahra termasuk kategori tidak wajib mengqadha atau menggantikan sholat ya, Kak. Karena Zahra tersadar dari tidur panjang dan terbangun dari pingsan ketika waktu sholat fardhu sudah habis," ujar Zahrana dengan tersenyum bahagia.
"Benar sekali, Dek. Jadi, jangan risau dan bersedih lagi, ya? kakak hendak menunaikan ibadah shalat Maghrib dulu. Setelah itu, baru kakak bantu Zahra tayamum dan sholat," ucap Sabrina antusias.
"Baiklah, Kak!" ucap Zahrana dengan berbaring di brankarnya.
Sabrina pun segera ambil wudhu, ia pun menunaikan ibadah shalat dengan khusu'nya.
Zahrana tampak sabar menunggu kakaknya selesai menunaikan ibadah sholat Maghrib, sesekali ia melirik ke luar jendela. Ia menatap kagum akan kebesaran dan kekuasaan Allah Subhanahu wata'ala.
"Alhamdulillah ... akhirnya aku bisa bernafas lega, terima kasih atas rahmat dan karunia Mu. Sungguh, hanya dengan mengingat-Mu ya Rabb hati ini bisa tenang!" bathin Zahrana dengan terus berdzikir mengagungkan kebesaran Rabb-Nya.
***
Selang berapa menit kemudian.
Sabrina pun telah selesai melaksanakan ibadah shalat Maghrib-nya, ia pun membantu Zahrana untuk tayamum agar bisa menjalankan ibadah shalat Maghrib-nya, meski untuk sementara Zahrana harus menjalankan ibadah shalat dengan cara duduk di atas brankarnya.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama, Dek!
Zahra pun segera melaksanakan ibadah shalatnya dengan khusu' sampai di akhir salam, ia pun berdzikir dan berdoa dengan segenap hati dan jiwanya.
"Ya Allah ... ya Rabb ampunilah hamba atas segala kekhilafan dan kesalahan yang telah hamba perbuat, ampunilah hamba sebab terlalu memikirkan dirinya. Maafkan atas perasaan hamba yang terlalu berlebihan terhadapnya. Hingga menggerogoti diri ini, hingga menyebabkan hamba terbaring lemah di rumah sakit ini."
"Ya Allah ... wahai Zat yang Maha menyembuhkan, sembuhkanlah hamba dari segala rasa sakit ini ya Rabb, aamiin ... aamiin ya Rabbal'alaamiin.
Zahrana pun menyelipkan do'a untuk kedua orang tuanya, tak lupa juga ia menutup do'anya dengan do'a sapu jagad.
Di tengah kekhusyukan do'anya, Zahra tidak menyadari jika kakak iparnya Fardhan Arkhan juga Muhammad Zaid Arkana telah selesai melaksanakan ibadah shalat-nya.
Zaid memperhatikan Zahrana dengan sejuta rasa cinta dihatinya. Ia kagum melihat kegigihan Zahrana yang tetap menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, meski dalam keadaan sakit sekalipun.
"Maa syaa Allah ... sungguh aku semakin kagum dengan kepribadian dan kesholihan mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Zaid tanpa berkedip memandang ke arah Zahrana yang masih fokus dengan untaian do'a-do'anya.
π·π·π·
Pencerahan π"Perempuan itu sama seperti bunga. Mereka harus diperlakukan dengan lembut, baik, dan penuh kasih sayang. Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Allah. Jika mereka bisa meninggalkan Allah, maka mereka juga akan meninggalkanmu. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, atau mempersilakan. Yang pertama adalah keberanian, yang kedua adalah pengorbanan."
π
π
π
Sambil menunggu update selanjutnya, mari mampir ke karya author bestie kak. Tentunya dengan cerita yang tak kalah seru dan menariknya ya kak.πππ
Judul karyanya : Talak Aku
Authornya : Arion Alfattah
__ADS_1