Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
21 . Deadline Love


__ADS_3

Aslan diam terpaku,tertegun mendengar penuturan Zahrana, dia tidak menduga seorang gadis belia seperti Zahrana memiliki cara pandang yang begitu luas kedepan, betapa sebuah janji yang terucap tidak mampu untuk meluluhkan hati seorang Zahrana, membuat Aslan semakin tertantang dan tergila-gila akan sosok Zahrana, bertekad dalam hati untuk membuktikan semua janji yang terlanjur terucap, dalam hati Aslan bertekad untuk setia menunggu Zahrana sampai saat itu tiba. Dia akan terus berpegang teguh pada janji nya,'' Deadline Love (Sampai Maut Memisahkan Cinta),"bathin Aslan dalam hati.


"Ana, kakak tidak akan memaksa mu untuk menerima atau pun mencintai kakak, namun kakak akan membuktikan semua janji yang telah kakak ucap terhadap mu, di sini di dalam hati ku telah terukir indah nama mu. Rasa cinta ku pada mu tanpa batas waktu, sampai maut memisahkan cinta, rasa itu akan tetap ada. Ku ingin nantinya kau menjadi Bidadari dunia dan akhirat ku. Cam kan itu Ana! Kau lah nafas hidup ku. Detak jantung ku kini terukir namamu," tutur Aslan penuh nada keseriusan.


"Ana,ku mohon padamu percaya lah pada ku, belum pernah diriku jatuh hati kepada wanita mana pun, kecuali dirimu ... hanya dirimu Ana, kakak tau ini memang terlalu cepat untuk mu, tapi kakak tidak mau tersiksa lebih lama lagi dengan rasa ini, detik ini juga ku utarakan semua pada mu tentang rasa ku yang selama ini menyiksa ku, mencintai mu dalam diamku, melihat mu setiap hari dengan senyum tulus mu. Aku semakin tergila-gila dengan gadis kecil nan mempesona seperti mu."


" Jujur aku tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi pada ku? Aku merasa bodoh ketika berhadapan dengan mu Ana. Aku benar - benar tidak mampu lagi memendam rasaku. Ku mohon jangan membenci ku atas rasaku yang tak sewajarnya pada mu," tutur Aslan dengan tatapan sendu pada Zahrana kemudian bertekuk lutut dan menyentuh tangan Zahrana seperti Pangeran tampan yang sedang bersimpuh di depan Cinderella berharap uluran tangan menyambut cinta Sang Pangeran tampan.


"Kakak, jangan seperti ini! Ana percaya sepenuhnya dengan kakak, namun Ana sungguh tidak bisa mengukir janji, jujur Ana menyukai Kak Aslan, tapi Ana takut suatu saat nanti Ana mengecewakan dan menyakiti kakak."


"Ana masih kecil kak, belum bisa sepenuhnya memahami dan mengerti akan inginnya kakak. Ana harap kakak memaklumi Ana, sampai nantinya Ana bisa bertumbuh menjadi wanita dewasa dan mengerti apa itu rasa antara dua insan? terimakasih karena kakak sudah mencintai Ana sepenuh jiwa, terimakasih atas semua ketulusan kakak," tutur Ana dengan mata yang mulai berkaca-kaca, terharu atas segala rasa yang telah dicurahkan oleh seorang pemuda tampan dan mempesona di hadapannya.


Zahrana pun menyambut uluran tangan Aslan, tanpa aba-aba Zahrana langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Aslan, menerima sambutan hangat dari Zahrana, Aslan bak merasakan bintang jatuh dalam pelukannya nya, dengan senyum manis di bibirnya, Aslan pun mendekap erat Zahrana, membelai lembut rambut Zahrana yang indah dan bergelombang, dalam hati merasa bahagia karena bisa melumpuhkan hati kecil Zahrana untuknya.


"Kak Aslan, Ana sayang kakak!" ucap Zahrana dengan polosnya.


"Coba ulangi sekali lagi!" Kakak mau mendengar ulang, khawatir kakak salah dengar," goda Aslan pada Zahrana dengan seringai nakalnya.

__ADS_1


"Mulai nakal lagi yach?" goda balik Zahrana pada Aslan sembari mentoel kedua pipi Aslan yang tampak membuat Zahrana gregetan, kemudian berbisik pelan di telinga Aslan. Anaaa ... sayangggg kakak!" ujar Zahrana antusias.


Raihan dan Nandini yang dari sejak awal jadi umpan nyamuk Zahrana dan Aslan pun keluar dari persembunyian mereka di balik pintu Toko, setelah aksi kejar-kejaran sebelumnya, mereka ngos-ngosan, istirahat sejenak melepas lelah, kemudian berinisiatif menjadi detektif Ana dan Aslan. Mereka hampir menyaksikan dan mendengarkan semua apa yang terjadi antara Zahrana dan Aslan.


"Ciyeeee ... yang sedang kasmaran, dunia terasa milik berdua, yang lain pada ngontrak," celutuk Nandini dan Raihan bersamaan.


Aslan dan Zahrana pun melepaskan dekapan mereka, wajah mereka tersipu malu, karena tidak menyadari jika ada Nandini dan Raihan disisi mereka. Cinta terkadang memang membuat orang yang waras menjadi gila, sebab tidak mengenal kata dan tempat ketika jiwa sedang bergelora.


Raihan segera menarik lengan kakaknya untuk segera berada di dekatnya, memisahkan Zahrana dari Aslan.


"Ini mahram ku kak Zahrana ... dan itu mahram kak Nandini," ujar Raihan menunjukkan diri pada Aslan.


"Artinya apa? sudah cukup adegan mesra kalian, di hadapan kami. Jujur mata polos Raihan mesti di Ruqyah oleh Buya Harun nantinya, sudah banyak hal yang tidak wajar yang Raihan saksi kan hari ini. Sepertinya Raihan,kak Nandini,kak Aslan, juga kak Zahrana harus segera taubatan NASUHA ba'da Asar nanti, khawatir dosa kita kian menumpuk di hadapan Allah atas segala salah dan khilaf yang kita perbuat," tutur Raihan halus namun penuh peringatan.


Aslan, Zahrana dan Nandini merasa tertohok dengan ucapan Raihan, dalam hati rasa malu menyeruak, mereka pun membenarkan apa yang Raihan ucapkan.


"Kak Aslan, pelet ayam nya 10kg!" kasihan Buya Harun dari sejak tadi menunggu di kandang Ayam menunggu Peletnya selesai dibeli, namun sayang pelet cinta Kak Zahrana untuk kak Aslan begitu kuat ketimbang pelet ayam pesanan Ayah." Sindir Raihan pada Zahrana dan Aslan.

__ADS_1


Aslan pun segera menimbang pelet ayam 10kg dan memberikannya kepada Raihan.


Pelanggan Toko pun, mulai berdatangan ke Toko untuk membeli sembako dan kebutuhan lainnya.


"Kak Aslan, Nandini, kami balik dulu!" pamit Zahrana dengan hati yang masih berbunga-bunga.


Aslan mengangguk pelan dan melemparkan senyum manis ke arah Zahrana, sembari melayani customer yang mulai berdatangan belanja ke Toko.


"Hati-hati My Princess! See you ..." ucap Nandini sambil mengerlingkan matanya kepada Zahrana, dalam hati merasa girang juga tidak menyangka jika sahabat nya Zahrana dan kakak nya Aslan Falling in love.


"seperti mimpi di siang bolong," cicit Nandini dalam hati.


Zahrana hanya tersenyum simpul, seolah mengerti arti kerlingan mata Nandini padanya. Kemudian mereka pun berlalu pergi hendak menuju pulang ke rumahnya, namun Raihan masih berbalik arah.


"Kak Aslan, ingat ' Deadline Love ' pada kak Zahrana, sampai maut memisahkan kan Cinta! Raihan dan Nandini menjadi saksinya. Cam kan kata-kata itu kak!" celutuk Raihan sekenanya.


Aslan, Nandini, Zahrana serta pelanggan Toko yang sedang belanja seketika menoleh kearah Raihan, mereka melongo mendengar ucapan Raihan. Ada yang sampai bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan maksud ucapan Raihan?"

__ADS_1


__ADS_2