
"Zahra, ada apa dengan mu? kenapa kau tiba-tiba berubah? apa karena sosok pemuda Sholeh itu, dirimu jadi berubah 180 derajat seperti ini?" Aslan menjadi berang, sebab Bidadari kecil yang selama ini di cintainya benar-benar telah menjaga jarak dengannya.
"Katakan Zahra, apa benar kau telah pun jatuh hati pada Yusuf Amri Nufail Syairazy?" Aslan menggoyangkan bahu Zahrana yang berdiri membeku di hadapannya. Tidak ada lagi panggilan kesayangan dari Aslan untuk Zahrana, yang biasanya ia memanggil gadis kecilnya dengan sebutan 'Ana', namun sekarang Aslan benar-benar tersulut emosi lantaran Zahrana menjaga jarak dan mengacuhkan dirinya.
Yusuf Amri Nufail Syairazy pun mengeryitkan keningnya, ketika namanya sepintas di sebut oleh Aslan Abdurrahman Syatir yang meluapkan emosinya terhadap Zahrana sehingga namanya pun ikut terseret diantara hubungan cinta Zahrana dengan Aslan.
"Aku tidak menyangka jika dirimu tega terhadap ku Zahra. Tempo hari kau menduakan ku dengan kakak kelas mu Rivandra, dan hari ini pun kau bermain hati dengan Yusuf." Aslan semakin melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak jelas kepada Zahrana. Ia benar-benar seperti orang gila lantaran cinta butanya terhadap Zahrana.
Rivandra dan Yusuf saling melemparkan pandangan. Mereka berdua tidak menyangka jika namanya pun ikut terseret dalam cerita cinta Aslan dan Zahrana. Meskipun pada kenyataannya mereka berdua memang sangat mengagumi Zahrana, seperti halnya Aslan Abdurrahman Syatir. Bedanya Rivandra dan Yusuf bisa menimalisir perasaannya agar tidak terlalu larut dalam perasaanya.
Semua teman-teman Zahrana, yakni Nandini Sukma Dewi, Kirana Larasati, Cinta Kiara Khoirani juga Fadhilah tampak kaget mendengar ucapan Aslan yang tanpa jeda. Begitu pula Arjuna Restu Pamungkas, Rangga Sahadewa dan juga Virgantara Dinata Admaja kakaknya Rivandra tidak menyangka jika ucapan itu benar-benar keluar dari lisan Aslan Abdurrahman Syatir.
"Ya Ampun ... Aku tidak menyangka jika sahabat ku Aslan yang selama ini terkenal santun dan lembut bisa bucin parah seperti ini. Kenapa pula ia bawa-bawa nama adik ku Rivandra juga pemuda Sholih itu? sungguh sangat konyol dan tidak etis sekali, apalagi di saksikan oleh semua teman-teman yang lainnya." Virgantara bermonolog dalam hatinya.
"OMG ... kenapa kak Aslan jadi kekanak-kanakan begini?" pikir Nandini, Cinta dan Kirana.
Arjuna dan Rangga tampak mengangkat bahunya. Mereka tidak menyangka jika kata-kata itu pun terucap dari lisan Aslan Abdurrahman Syatir.
"Kau gila, Kak. Kau mulai mengada-ada, aku sudah putus dengan kak Rivandra. Juga dengan kak Yusuf aku hanya berteman biasa, tidak ada hubungan istimewa di antara kami. Kau terlalu berlebihan," ucap Zahrana berang.
"Iya, aku memang gila Ra. Aku gila karena mu, lebih baik aku mati saja jika harus berpisah dari mu. Kita pun telah merajut kebersamaan ini sangat lama, namun kenapa kau begitu mudah menghempaskan semuanya dengan kata putus, tanpa memberikan sedikit pun untuk ku mempertahankan diri mu," ucap Aslan tak kalah berangnya.
"Sungguh aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kakak? apa kakak tidak malu dihadapan teman-teman kita semua, dulu kakak bilang kita hanya backtreet tetapi apa? hari ini kakak menunjukkan kepada dunia atas segala keposesifan kakak."
"Aku ingin kita mengakhiri cerita kita kak, aku ingin kembali seperti aku yang dulu. Aku yang lugu nan polos. Aku menyesal kenapa harus jatuh hati pada mu kak, jika bisa di putar waktu, aku tidak ingin terus begini kak. Aku lelah dengan hubungan ini. Aku benar-benar tidak ingin lagi terjatuh kedalam sumur dosa yang lebih dalam lagi," ucap Zahrana di selangi isak tangisnya. Air matanya pun tumpah seketika. Zahrana terbakar emosi melihat ucapan demi ucapan yang terlontar dari lisan Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya.
Aslan mengacak kasar rambutnya. Ia benar-benar prustasi atas keputusan Zahrana yang ingin mengakhiri cerita asmaranya.
"Zahra, aku tidak ingin berpisah dengan mu. Sebagaimana janji ku dahulu aku akan setia terhadap mu sampai maut memisahkan cinta. Jika hari ini adalah akhir dari cerita kita, maka kau pun akan melihat ku yang terakhir kalinya dalam hidup mu!" ucap Aslan dengan nada serius.
Zahrana terasa kehilangan akal sehatnya ketika berhadapan dengan Aslan yang begitu kekeuh untuk mempertahankan hubungan mereka.
Aslan hendak berlalu pergi. Ia merogoh sakunya, dan mengambil kunci motor gedenya. Ia seperti kehilangan arah.
__ADS_1
"Kak Aslan, tunggu! kakak mau kemana?" pekik Nandini. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, jika kakaknya pulang dalam keadaan yang tidak labil.
Aslan tidak memperdulikan pekikan Nandini adiknya. Ia menuju tempat parkir motornya. Dalam fikirnya, ia ingin menaiki sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Untuk menghilangkan kegalauan hatinya.
"Ra, tolong susul kak Aslan aku khawatir ia hilang kendali. Bagaimana jika kakak ku nekat mengakhiri hidupnya?" ucap Nandini dengan nada penuh khawatirnya.
Zahrana benar-benar berada dalam dilema. Ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Aslan, namun Aslan tetap kekeuh untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Ya Allah ... apa yang hendak aku lakukan? Kenapa semuanya jadi seperti ini? sungguh aku benar-benar terperangkap dalam sangkar emas, hingga Aku pun tidak bisa keluar dari semua kerumitan yang ada. Ya Allah ... seperti itukah kau ingin menunjukkan rasa mu, Kak. Tidak bisakah dirimu bersikap lebih dewasa," bathin Zahrana.
Zahrana pun segera beranjak mengejar Aslan yang hendak menuju tempat parkiran motornya.
"Zahra, tunggu! Aku ikut," ucap Yusuf tiba-tiba.
"Aku juga," ucap Rivandra seraya menggenggam jemari tangan Kirana Larasati. Untuk menemaninya, ia sengaja ingin ikut untuk menjelaskan pada Aslan jika ia tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Zahrana. Ia tidak ingin Aslan salah paham terhadapnya.
Akhirnya, teman-teman Zahrana semuanya ikut mengejar Aslan.
"Akhi ... tunggu!" ucap Yusuf. Menahan gejolak amarah yang kini sedang bergemuruh dalam dada Aslan Abdurrahman Syatir.
"Akhi, istighfar! Tidak kah kau tahu jika penglihatan, tangan, mata, hati dan pikiran kita akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah diakhirat nanti. Bukan begini cara bersikap, putus cinta bukanlah akhir dari segalanya!" ucap Yusuf penuh penegasan.
"Sejatinya jatuh cinta tidak di larang oleh syari'at, namun cinta yang di bungkus nafsu hanya akan membawa kita tersesat dalam jalan yang salah. Jalan yang tidak diridhoi oleh Allah Subhanahuwata'ala. Apalagi sampai nekad bunuh diri dan yang semisalnya itu jelas-jelas di larang oleh syari'at."
Kemudian Yusuf pun melanjutkan kembali untaian nasehatnya.
Sesungguhnya Allah Subhanahuwata'ala berfirman dalam kitab suci Al-Qur'an, yang bunyinya :
وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Artinya: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29).
Dalam sebuah hadist dari Tsabit bin Adh Dhohhak, Rasulullah SAW bersabda,
__ADS_1
وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَىْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).
"Jadi, bunuh diri dan yang semisalnya sangat dilarang dalam syari'at Islam, jangan jatuhkan diri kita sendiri dalam kebinasaan, sesungguhnya Allah lebih mencintai muslim yang kuat ketimbang muslim yang lemah dan mudah berputus asa hanya karena terpedaya oleh kenikmatan dunia yang semu."
"Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah wahai akhi, jika Zahrana memang tercipta untuk dirimu tidak ada satu pun yang bisa menghalanginya untuk berdampingan dengan mu. Namun sebaliknya jika ia bukan jodoh mu, sekuat apapun engkau mempertahankannya ia tidak akan pernah bisa menjadi milik mu," ucap Yusuf seraya merangkul Aslan Abdurrahman Syatir selaku saudara sesama muslimnya.
Aslan pun melemah, akhirnya ia pun terduduk di lesehan rerumputan pantai. Ia termangu dan merenungi setiap kata-kata yang teruntai dari lisan Yusuf Amri Nufail Syairazy.
"Astagfirullah ... ampuni hamba-Mu yang lemah dan hina ini ya Rabb, sungguh aku benar-benar telah tersesat terlalu jauh. Sungguh ... Aku telah di butakan oleh cinta yang telah menyengsarakan jiwa ku," bathin Aslan Abdurrahman Syatir.
Air mata penyesalan pun luruh sudah dari pelupuk mata Aslan Abdurrahman Syatir.
"Ya Allah ... maafkan aku karena telah menodai kepolosan gadis kecil seperti Zahrana," bathin Aslan Abdurrahman Syatir. Ia pun benar-benar menyesal dengan apa yang di perbuatnya.
"Yusuf, terimakasih atas semua untaian nasehat mu. Maafkan aku yang sempat berburuk sangka pada mu," ucap Aslan seraya merangkul bahu Yusuf. Mereka pun saling memaafkan.
Zahrana dan teman-temannya pun ikut bahagia dengan interaksi Yusuf dan Aslan.
"Akhirnya kau pun sadar, Kak." Nandini memeluk erat Aslan. Ia bahagia sebab Aslan sudah menyadari kekhilafannya.
Aslan pun melerai pelukannya dari Nandini adiknya. Ia pun menghampiri Rivandra.
"Brother, aku pun minta maaf pada mu sebab telah berburuk sangka pada mu. Mulai hari ini kita berdamai," ucap Aslan seraya merangkul Rivandra dan menautkan jari kelingkingnya tanda berdamai dengan Rivandra Dinata Admaja.
Seketika semua yang hadir di hadapan mereka pun ikut terharu, tak terkecuali Zahrana.
"Ya Allah ... terimakasih karena Engkau telah menghadirkan kak Yusuf di sini. Kehadirannya benar-benar menjadi pencerahan tersendiri untuk kami disini," bathin Zahrana.
"Zahrana ... sungguh aku pun hanya manusia biasa. Aku pun punya rasa kasih dan cinta terhadap mu. Sungguh ... Aku pun cemburu melihat kau bersamanya, Aslan Abdurrahman Syatir. Namun, cinta ku terhadap sang pencipta ku lebih besar dibandingkan cinta ku terhadap lainnya. Termasuk dirimu, ku simpan rapi rasa di hati ku terhadap mu. Biarlah Allah yang menjadi saksi atas rasa ku terhadap mu. Jika dirimu memang tercipta untuk ku, aku yakin satu hari nanti Allah akan pertemukan kita dengan caranya, sehingga ikatan kita pun bisa menjadi Halal tanpa terbungkus nafsu sesaat!" bisikan hati Yusuf Amri Nufail Syairazy.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉 “Mencintai Allah adalah setinggi-tingginya cinta. Sempurnakan cintamu pada Allah sebelum engkau melabuhkan cintamu pada makhluk-Nya.”( Yusuf Amri Nufail Syairazy )