Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
103 . Bingkisan ( Pov Zahrana Yusuf )


__ADS_3

"Kak Yusuf, ma-af. Biar Zahra ambilkan baju ganti untuk kak Yusuf, sementara kak Yusuf kenakan gamis milik Buya dulu. Sekalian Zahra ganti minuman teh yang tumpah," ucap Zahrana.


Zahrana berusaha menguasai ritme jantungnya yang sedang bertalu-talu, sebab bersitatap terlalu lama dengan Yusuf. Ia pun segera kembali ke dapur untuk menyuguhkan minuman yang baru untuk Yusuf.


"Ya Allah ... tolong jaga rasa ku, jangan sampai hatiku tersentuh kembali. Cukup lah dengan kak Rivandra dan kak Aslan hamba pernah berlabuh."


"Kak Yusuf adalah sosok pemuda yang baik, sungguh diriku tidak pantas untuknya." Zahrana terus bergumam di dalam hatinya sembari menyeduh teh untuk Yusuf.


Zahrana pun kembali ke ruang tamu, sekali ini ia lebih berhati-hati.


"Di minum tehnya kak, juga pisang gorengnya. Silahkan di cicipi!"


"Terimakasih ... maaf merepotkan," ucap Yusuf. Ia pun segera mencicipi hidangan yang ada.


Zahrana mengangguk. Ia ingin beranjak dari ruang tamu untuk mengambilkan baju ganti untuk Yusuf. Namun, Yusuf menegahi nya.


"Oh iya, kakak pakai gamis ini saja Ra. Tidak apa-apa, tidak usah di ganti hanya kena percikan sedikit. Kakak punya jaket untuk menutupinya," ucap Yusuf.


"Baiklah, Kak." Zahrana pun duduk bersebelahan dengan Ayahnya.


Sementara Bunda Fatimah yang sejak tadi terdiam melihat interaksi antara Puteri kesayangannya dan Yusuf Amri Nufail Syairazy pun kini angkat Bicara.


"Nak, Yusuf. Bagaimana kabar Nak Yusuf dan keluarga? Apakah Ummi dan Abi sehat?"


"Alhamdulillah ... sehat Bunda. Yusuf bertandang kemari pun atas titahnya Ummi dan Abi."


"Yusuf hendak pamit pada Buya Harun juga Bunda Fatimah dan Zahrana. Setelah ini Yusuf akan lama berkunjung kemari, Yusuf hendak melanjutkan studi di Universitas Al Azhar Mesir."


" Hari ini adalah hari terakhir Yusuf disini, segala keperluan untuk berangkat ke Kairo Mesir sudah di urus semua. Berikut paspor dan visanya sudah di urus semua, insya Allah besok pagi tinggal berangkat Bunda."


Bunda Fatimah mendengarkan ucapan Yusuf dengan seksama, dia tidak mengira jika sosok pemuda yang ingin di jodohkan oleh Buya Harun akan segera menempuh studi nun jauh di sana.


"Maa syaa Allah ... Bunda kagum dengan semangat mu, Nak. Di usia muda mu dirimu begitu kekeuh untuk menimba ilmu Agama Islam."

__ADS_1


"Semoga Allah meridhoi niat baik mu! semoga kau kerasan di sana nantinya. Jika dirimu sudah menyelesaikan studi mu jangan sungkan-sungkan untuk kemari. Kami senantiasa menanti kedatangan mu," ucap Bunda Fatimah dengan nada sendu.


Bunda Fatimah terharu oleh niat baik Yusuf.


"Buya Harun tidak salah memilih mu untuk menjadi calon imam untuk Puteri kami di masa depan nanti," cicit Bunda Fatimah didalam hatinya.


Zahrana pun ikut tertegun, ada rasa sedih hatinya sekaligus rasa bahagia pun berpadu menjadi satu untuk melepaskan kepergian Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Yusuf bersama Zahrana dan keluarganya saling bercengkrama satu sama lain, sampai akhirnya Yusuf pun hendak undur diri d kediaman Zahrana dan keluarganya.


"Buya, Bunda. Sepertinya Yusuf akan segera undur diri. Maaf, jika Yusuf bertandang sepagi ini. Khawatir nanti tidak keburu lagi, setelah ini pun Yusuf hendak singgah di rumah kakek dan nenek ku di Desa XX."


"Maa syaa Allah ... Nak Yusuf, sudah hendak pamit saja, padahal Buya masih kerasan untuk berkisah dengan mu, Nak."


Yusuf pun segera beranjak dari tempat duduknya, ia memeluk Buya Harun dengan erat serta mencium punggung tangan Buya Harun yang pernah menjadi Guru mengajinya itu.


Kemudian ia pun menyalami Bunda Fatimah dan berhenti di hadapan Zahrana.


Sekilas Yusuf menatap nanar wajah Zahrana begitu juga sebaliknya. Yusuf menelungkupkan tangannya di dadanya begitu pun dengan Zahrana.


"Aku punya bingkisan untuk mu. Semoga dirimu berkenan untuk menerimanya." Yusuf pun mengeluarkan bingkisan tersebut dari dalam tasnya.


Sampul bingkisan yang bermotif hati itu seketika mampu membuat aliran darah dan jantung hati Zahrana berdesir hebat.


"Ya Allah ... Aku seperti mimpi, seorang pemuda yang Sholih seperti kak Yusuf tiba-tiba memberikan bingkisan untuk ku. Apa gerangan maksudnya? Apa isi dari bingkisan tersebut?" Zahrana bertanya-tanya didalam hatinya.


"Maa syaa Allah ... terimakasih, kak Yusuf!" ucap Zahrana tersipu malu.


Tak ayal pipi Zahrana pun bersemu merah, oleh perhatian Yusuf terhadapnya. Zahrana kembali teringat dengan Aslan yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Ketika ulang tahunnya yang ke 13 tahun, mantan kekasihnya itu pernah memberikan sebuket bunga mawar dan juga bingkisan coklat Silver Queen untuknya ketika mereka bertemu secara diam-diam di ladang cinta tempo hari.


Zahrana pun kembali teringat dengan sosok Rivandra Dinata Admaja, ketika mereka sedang beradu akting di acara perpisahan sekolah Siswa-siswi SMP Negeri 3 XX. Adegan terakhir Rivandra pun memberikan bunga terakhir untuknya, yakni sebuket bunga mawar sebagai salam perpisahan.


"Ya Allah ... apa yang sedang kupikirkan? tidak mungkin kak Yusuf memiliki rasa terhadap ku, seperti halnya Kak Aslan dan Kak Rivandra dahulu terhadap ku."

__ADS_1


Zahrana tersadar dari lamunannya, ketika Yusuf menyapanya sekali lagi.


"Zahra, mohon di terima bingkisannya!"


Yusuf pun menyerahkan bingkisan tersebut terhadap Zahrana.


"Ma-af, sekali lagi terima kasih, Kak!"


Zahrana terlihat gugup. Nampak kentara dari bahasa tubuh dan rona wajahnya.


"Iya, sama-sama. Semoga bingkisan tersebut bermanfaat untuk mu!"


"Aamiin ya Rabb ... " ucap Buya Harun dan Bunda Fatimah yang dari sejak tadi melihat interaksi kedua anak muda tersebut.


Kali ini, Bunda Fatimah lebih memberikan kesempatan untuk Puterinya sekedar untuk bercengkrama dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Pikir Bunda Fatimah, ia tidak harus selalu mengekang Zahrana. Selain itu Yusuf adalah sosok pemuda yang Sholih, tidak mungkin ia akan merusak hati dan pikiran Zahrana Puterinya.


"Aku pamit dulu, Ra! semoga Allah selalu melindungi mu dan merahmatimu dimana pun berada. Semoga Bingkisan tersebut bermanfaat untuk mu di masa depan nanti."


"Insya Allah kak, Zahrana belum melihat isinya!" ucap Zahrana dengan pipinya yang semakin merona.


Entah apa yang kini Zahrana rasakan, namun ia nampak bahagia dan bersemangat dengan kehadiran Yusuf dan bingkisan itu pun mampu membuat taman hatinya pun terasa berbunga-bunga.


Yusuf hendak melajukan kuda besinya. Di iringi pula lambaian tangan Zahrana dan Buya Harun juga Bunda Fatimah yang seolah-seolah tak rela melepaskan kepergiannya.


Pemandangan tersebut tidak sengaja tertangkap indera penglihatan Aslan Abdurrahman Syatir yang hendak pergi oleh suatu urusan dengan mengendarai motor gedenya. Ia tidak sengaja melihat ke arah kediaman Zahrana.


Betapa perihnya hati Aslan melihat Bidadari kecilnya yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Kini nampak tersenyum bahagia dengan memeluk bingkiskan bersampul hati dengan lambaian tangan yang begitu penuh arti melepaskan kepergian Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Begitu cepatnya dirimu melupakan diriku dan kini pun kau memilih bahagia bersamanya! aku kecewa terhadap mu Tsamirah Zahrana Az Zahra," bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Pencerahan 👉"Aku tidak tahu apa itu cinta, sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Tapi, saat itu juga aku tahu rasanya patah hati.” (Aslan Abdurrahman Syatir)


__ADS_2