Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
130. Pembelaan ( Harga Diri Terkoyak)


__ADS_3

Di tengah emosinya yang masih membuncah ibu Ratna Anjani menatap nyalang pada Zahrana seolah-olah ia ingin menerkam mangsanya.


"Pergi kau! dasar perempuan jal*ng! enyalah dari hadapan ku, sebelum ku panggil security untuk mengusirmu. Gara-gara berteman dengan mu, Puteri ku hamil. Kau memberi pengaruh buruk pada Puteri ku!" kecam ibu Ratna Anjani, yang di tujukan pada Zahrana. Sehingga membuat Zahrana dan teman-temannya kaget bukan kepalang.


"Ibu, jangan begitu! Zahrana tidak ada kaitannya dengan hal ini," ucap Aslan membela harga diri Zahrana didepan semua teman-temannya.


"Kau jangan membelanya, pikiran mu itu sudah di cuci olehnya. Sampai kapanpun ibu tidak akan pernah merestui hubungan mu dengannya. Ia hanya wanita murahan, walaupun tubuhnya berbalut hijab bertatah akhlak dan kecantikan yang mempesona itu hanyalah menutupi keburukannya saja, ibu tidak akan pernah termakan oleh mulut manisnya," cecar ibu Ratna Anjani pada Zahrana.


"Ibu, hentikan tuduhan Ibu terhadap Zahrana ia adalah perempuan yang baik-baik, tidak kah ibu berkaca pada keadaan yang di alami Nandini sekarang. Berhenti menyalahkan Zahrana Ibu!" ucap Aslan setengah memelas.


"Zahrana tidak pernah mengejar ku, Ibu. Tapi aku lah yang selalu berusaha untuk mengikatnya. Aku tidak akan pernah jatuh hati terhadap wanita manapun, kecuali hanya dengan Zahrana aku akan berlabuh!" ucap Aslan dengan wajah yang memerah dan rahang yang mengeras menahan gejolak emosinya.


Aslan terus membela Zahrana, ia tidak rela jika ibunya terus mencecar dan mencaci maki Zahrana di hadapan semua orang yang hadir di ruangan rawat inap Nandini.


"Anak durhaka! berani-beraninya kau menentang Ibu, semua ini gara-gara kau gadis jal*ng! percuma kau menutupi tubuh mu dengan hijab jika kau terus berlenggak-lenggok menggoda para lelaki."


Ibu Ratna Anjani hendak menarik kerudung penutup kepala Zahrana. Ia merasa jika Zahrana tidak pantas mengenakan hijab di mahkotanya. Menurutnya, Zahrana terlalu kotor untuk itu semua.


"Ibu hentikan!" pekik Nandini Sukma Dewi yang sejak tadi terbaring lemah. Ia hendak melakukan pembelaan terhadap Zahrana sahabatnya yang sejak tadi mendapatkan cercaan demi cercaan dari ibunya, hingga membuat Nandini merasa bersalah pada Zahrana sahabatnya.


Dengan tubuh yang masih terlihat lemas dan lemah, Nandini yang memang awal mulanya adalah gadis metal dan tangguh. Di tengah keterpurukannya menahan segala rasa sakitnya.


Akhirnya, karena tidak tahan melihat harga diri Zahrana yang terkoyak oleh hinaan ibunya. Nandini membuka selang tabung oksigen penutup hidungnya dan juga ia nekad membuka selang infus dilengannya, ia hendak menghampiri Zahrana dan menegahi aksi ibunya yang ingin menjambak hijab Zahrana, yang sebenarnya tidak bersalah dan tidak tahu menahu tentang perbuatan zinah yang di lakukan olehnya bersama Arjuna Restu Pamungkas kekasihnya.


"Hentikan Ibu! ibu tidak berhak menyalahkan Zahrana, atas perbuatan yang Nandini lakukan!" ucap Nandini yang tiba-tiba telah berada di tengah-tengah di antara Zahrana dan Ibu Ratna Anjani.


Semua orang terlihat histeris sebab melihat darah berceceran di lantai, yang menetes dari pergelangan tangan Nandini akibat aksinya yang nekad mencabut selang infus ditangannya.


"Nandiniiiii!" pekik Cinta, Kirana, dan Fadhillah yang dari sejak tadi memperhatikan dan mendengarkan ocehan dan umpatan-umpatan dari Ibu Ratna Anjani terhadap Zahrana. Hingga menyebabkan harga diri Zahrana terkoyak di hadapan semua.


"Honey!" Arjuna yang sejak tadi bengong segera bergerak cepat mendekap Nandini, sebab Nandini pun hampir jatuh pingsan dengan darah yang masih menetes di pergelangan tangannya.


Aslan segera menekan tombol gawat darurat, sehingga dokter dan suster pun segera keruangan rawat inap VVIP di mana Nandini dirawat.

__ADS_1


Ibu Ratna Anjani jatuh dalam dekapan ayah Anjasmara, ia syok melihat aksi nekad puteri kesayangannya itu.


"Nan-Nandini ... ma-afkan ibu, Nak. Itu semua gara-gara gadis murahan itu, ia yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarga kita. Jika tidak ada dia mungkin semuanya tidak akan begini," ucap Ibu Ratna Anjani di sela isak tangisnya.


"Istighfar, Bu! Tidak baik berburuk sangka pada orang lain yang sama sekali tidak tahu menahu dengan masalah yang sedang di alami oleh Puteri kita," ucap Ayah Anjasmara sembari mengusap bahu isterinya.


"Maaf, apa yang terjadi dengan Nyonya Nandini? kenapa menjadi seperti ini?" tanya Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah dan dua orang Suster yang bertugas merawat Nandini.


Dokter Rufaidah segera mengecek keadaan Nandini.


Sedangkan Suster segera memasang selang infus Nandini dan memasang kembali tabung oksigen yang sempat di buka oleh Nandini. Setelah Arjuna meletakkan Nandini di brankarnya.


"Honey, bangun honey! ini semua salahku, aku yang telah membuat mu begini. Bangun sayang! demi calon bayi kita," ucap Arjuna seraya mengecup jemari tangan Nandini.


"Oh ... ja-jadi kamu---?"


Ibu Ratna Anjani hendak memarahi Arjuna setelah ia tahu jika Arjuna yang telah menghamili Puterinya Nandini Sukma Dewi.


Namun, karena masih ada Dokter Rufaidah dan Suster di ruangan rawat inap Nandini, Ibu Ratna Anjani berusaha meredam emosinya.


"Iya, benar!" ucap Arjuna tanpa ragu.


"Baiklah, tolong di perhatikan kondisi psikologis isteri Tuan. Berikan perhatian yang khusus, jangan sampai ia merasa depresi dan tertekan. Ia tidak boleh sampai mendengarkan peristiwa atau cerita apapun yang tidak menyenangkan dari lingkungan sekitarnya. Ia harus selalu mendapatkan support dan sugesti yang baik dari orang-orang terkasihnya. Saya harap keributan tadi jangan sampai terulang kembali, sebab dapat mengganggu kondisi kesehatan ibu hamil, dan bayi yang dikandungnya pun masih terlihat lemah."


"Baik, dokter!" ucap Arjuna patuh.


Dokter Rufaidah dan kedua Susternya pun segera beranjak keluar ruangan setelah memeriksa kondisi Nandini dan memberikan pengarahan pada keluarga Nandini.


Sementara Arjuna, Ayah Anjasmara juga ibu Ratna Anjani seketika diam sejenak.


Mereka seolah tenggelam pada pikiran masing-masing. Tidak ada yang berani membuka suara setelah mendengar penuturan Dokter Rufaidah.


Terlebih ibu Ratna, ia benar-benar bersedih dan menyesal sebab terlalu mempertahankan egonya hingga menyebabkan nyawa Puterinya hampir melayang oleh keributan yang ia ciptakan sendiri, yang begitu kekeuh ingin menggampar dan mencaci-maki Zahrana dalam keadaan yang tidak tepat. Hingga menyebabkan Puterinya nekad melakukan pembelaan pada Zahrana, gadis yang sangat dibencinya.

__ADS_1


***


"Ana, tunggu!" Aslan berlari mengejar Zahrana yang sedang menangis pilu oleh sebab cercaan ibunya, hingga Zahrana merasakan harga dirinya terkoyak oleh hinaan demi hinaan yang di lontarkan Ibu Ratna terhadapnya.


"Zahra, tunggu kitaaa!" ucap Fadhillah, Cinta dan Kirana yang juga ikut mengejar Zahrana. Hingga membuat orang-orang yang berlalu lalang di sekitar Rumah Sakit pun di buat kebingungan oleh aksi kejar-kejaran mereka mengejar Zahrana.


Zahrana telah keluar dari gerbang Rumah Sakit Medika Stania, sementara Aslan dan teman-teman Zahrana terus mengejar Zahrana. Hingga sebuah mobil Avanza putih melesat dan berhenti tepat di hadapannya.


"Shitttt!" gesekan rem mendadak berhenti tepat di hadapan Zahrana yang sedang menangis pilu.


Tanpa pikir panjang, Zahrana membuka pintu mobil tersebut dan masuk kedalamnya. Ia tidak peduli dengan pekikan Aslan dan teman-temannya, ia ingin menghindari Aslan Abdurrahman Syatir. Jika bisa di putar waktu, ia tidak ingin lagi berjumpa dengan Aslan Abdurrahman Syatir sampai detik nafas kehidupannya.


"Tolong jalankan mobilnya, Bang! antarkan saya ke alamat ini!" Zahrana menyebutkan alamat kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra di kota S yang tidak begitu jauh dari Rumah Sakit Medika kurang lebih 15 menit perjalanan lagi.


"Baiklah, Nona!" ucap pemuda yang terlihat tampan dan religius dengan jubah putih dan sorban putih yang ia kenakan di kepalanya. Sehingga tampaklah ia seperti sosok Da'i muda yang sangat digandrungi pada zamannya.


"Aku benci pada mu kak Aslan! Aku berharap kita tidak akan pernah bersua lagi! jangan pernah mendekati ku lagi, jika itu hanya menambah luka dan kepedihan di hatiku," ucap Zahrana di sela isak tangisnya. Ia pun mengusap air matanya dengan jilbab yang di kenakannya.


"Hemmmm ... jalan menuju pacaran memang senantiasa menciptakan lara dan kepedihan jiwa, apalagi sampai tidak berjodoh tepatnya hanya menjaga jodoh orang lain, tentunya akan terasa sangat berat! makanya agama Islam sangat melarang setiap umatnya untuk menempuh jalan pacaran, yang di perbolehkan itu hanyalah ta'arufan, lalu jika dirasakan cocok ya lanjut nadzor, khitbah, ya menikah!" ucap pemuda tersebut sekenanya, sembari memberikan tissue pada Zahrana.


"Ambil tissue-nya, usap air mata mu! jangan menangis hanya karena cinta terhadap makhluk-nya, hendaknya menangis itu di atas sajadah cinta-Nya. Sebab hanya cinta pada Rabb kita saja yang dapat memberikan rasa nyaman dan ketenangan, cintailah semuanya karena Allah semata. Maka engkau akan bahagia!" tutur pemuda tersebut. Sehingga Zahrana terdiam dan berhenti meratapi kedukaannya.


Zahrana pun menerima tissue dari pemuda tersebut, ia hampir saja berteriak histeris dan spot jantungnya ketika melihat sosok pemuda yang berbalut jubah syar'i dengan sorban yang di kenakannya.


Zahrana baru menyadari siapa pemuda yang kini berada di sampingnya. Sebab, dari sejak tadi ia tidak menyadari mobil siapa yang telah ditumpangi olehnya.


"Kau ... bukankah kau---?"


Zahrana menjeda kalimatnya, ia hampir-hampir terpana dan terkesima dengan sosok pemuda yang ada dihadapannya.


Senyuman yang manis itu, kesantunan bahasa dan budipekertinya benar-benar mengingatkannya pada sosok pemuda Sholih yang selama ini sangat dirindukan olehnya.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Pencerahan 👉 "Jodoh itu kayak 'Alif Lam Mim' ayat pertama surat Al-Baqarah, artinya yaitu 'hanya Allah yang tahu'. Melangkahlah sendirian sampai Allah mengutus seseorang untuk berjalan bersama mendampingimu. Lelaki bilang, 'zaman sekarang nyari wanita salihah susah!' wanita bilang, 'zaman sekarang mencari lelaki saleh susah!' pertanyaannya, 'kenapa sibuk mencari, bukan menjadi? Ketika engkau menjaga diri, di saat yang sama, di tempat lain jodohmu pun menjaga diri, hingga nanti bertemu di saat dan cara yang paling berkah. Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat."


__ADS_2