Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
133 . Menjaga Hati


__ADS_3

"Maa syaa Allah ... apakah kalian sudah saling mengenal?" tanya Fardhan Arkan, seraya melirik ke arah Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana yang kini sama-sama terpaku dan terlihat gugup dan canggung.


Zahrana mengangguk dan menundukkan pandangannya, sebagai jawaban jika ia mengenal sosok Muhammad Zaid Arkana.


"Ya Allah ... kenapa harus bertemunya lagi? hari ini sudah tiga kali aku bertemu dengannya, pertama di toko buah, kedua dimobilnya yang tidak sengaja ku tumpangi, yang ketiga di rumah kak Sabrina dan yang ke empat aku harap jangan sampai berjodoh dengannya, sebab di hatiku telah tertulis nama kak Yusuf Amri Nufail Syairazy!" bathin Zahrana.


"Ya Allah ... mungkinkah ia sosok Bidadari dunia dan akhirat yang akan Engkau hadirkan dalam hidupku, menemani diriku sepanjang nafas kehidupan ku. Melangkah bersama menggapai ridho-Mu, mungkinkah ia yang akan menyempurnakan separuh agama ku dalam naungan cinta-Mu!" bathin Muhammad Zaid Arkana yang bertolak belakang dengan untaian do'a Zahrana.😁😁


Fardhan Arkan tersenyum simpul melihat tingkah adik iparnya Zahrana dan sahabatnya Muhammad Zaid Arkana yang nampak gugup dan canggung. Namun, ia bahagia sebab keduanya ternyata sudah saling mengenal.


"Pucuk di cinta ulam pun tiba, berati aku tidak perlu repot-repot untuk memperkenalkan mereka berdua. Semoga saja mereka berjodoh," bathin Fardhan Arkan yang memang berniat menjodohkan adik iparnya Zahrana dengan sahabat seperguruannya itu.


Zahrana hendak pamit dari hadapan kakak iparnya dan MZ Arkana, minuman dan camilan pun telah ia suguhkan. Sekarang, saatnya ia membantu kakaknya Sabrina di dapur.


"Silahkan di cicipi hidangannya, Kak!" ucap Zahrana seraya beranjak ke dapur.


"Iya, terimakasih Dik!"


MZ Arkana pun segera menyeruput teh dan mencicipi cemilan yang di hidangkan oleh Zahrana. Dalam hatinya terasa berbunga-bunga, nampak rona bahagia terpancar dari binar matanya. Ia bahagia sebab Bidadari yang di kaguminya itu adalah adik ipar sahabatnya sendiri, tentunya akan lebih mudah untuk melakukan pendekatan terhadap Zahrana. Walaupun hanya sekedar bertanya tentang Zahrana melalui sahabatnya Fardhan Arkan.


"Bagaimana? apakah kau tertarik untuk ta'arufan dengan adik ipar ku, Akh? jangan tunggu lama-lama, ia banyak yang mengaguminya. Namun, sayang tidak satu pemuda pun yang membuatnya tertarik."


"Sudah 3 tahun ia menetap di sini, dan insya Allah besok pagi ia akan segera mengakhiri masa putih abu-abunya. Siapa tahu kalian berjodoh nantinya," ucap Fardhan Arkan meyakinkan MZ Arkana.


Muhammad Zaid Arkana mengulum senyumnya, ia berusaha menguasai ritme jantungnya. Benar, ia tertarik untuk ta'arufan dengan Zahrana. Namun, ia tidak ingin gegabah mengingat Zahrana baru akan mengakhiri masa putih abu-abunya. Tidak mungkin, ia langsung tiba-tiba melamar Zahrana tanpa pikiran yang matang. Sebab, belum tentu juga Zahrana menerima kehadirannya dengan spontan. Semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Iya, aku mau. Tidak! sebab Zahrana pun berhak menentukan pilihannya," pikir Muhammad Zaid Arkan berperang dengan bathinnya sendiri.


"Kenapa malah diam, Akh? apa dirimu tidak tertarik dengan adik ipar ku ataukah dirimu sudah punya pilihan yang lain?" tanya Fardhan Arkan dengan yang tampak serius.


"Bukan begitu, Mas. Aku memang mengagumi sosok Zahrana dari sejak awal melihatnya baru kemarin malam, apa mungkin pantas aku langsung ta'arufan dan melamarnya? kesannya terlihat tidak etis sekali, Mas. Semuanya, butuh proses!" ujar Muhammad Zaid Arkana dengan wajah tak kalah seriusnya.

__ADS_1


"Baiklah, tidak mengapa. Mas hanya penasaran saja, jika dirimu sampai tidak tertarik dengan adik Mas. Berarti kamu masih sangat normal, sebab selama ini kamu betah sendiri dan tidak pernah tertarik dengan wanita!" ucap Fardhan Arkan seraya menepuk bahu teman seperjuangannya itu.


Fardhan tidak henti-hentinya menggoda MZ Arkana. Mereka tampak akrab seperti saudara sekandung. Gurauan, canda dan tawa pun meliputi keduanya.


Mereka tidak menyadari jika percakapan mereka tertangkap oleh indera pendengaran Zahrana yang hendak mengajak mereka makan siang bersama, sebab semua hidangan telah di persiapkan oleh kakaknya Sabrina di meja makan.


Namun, mendengar namanya di sebut oleh kakak iparnya dan pemuda bernama Muhammad Zaid Arkana, membuat Zahrana mengurungkan niatnya dan langkah kakinya. Ia tidak mau menganggu percakapan keduanya.


"Ya Allah ... benarkah yang aku dengar ini? secepat dan semudah itu kah, kak Zaid tertarik pada ku? kenapa semuanya seolah-olah tampak mengejar ku seperti ini? belum lah lepas dari kejaran kak Aslan aku harus di hadapkan dengan sosok kak Zaid?" cicit Zahrana. Ia tampak berpikir keras agar bisa menghindari semuanya.


"Ya Allah ... bukannya aku tidak tertarik dengan kak Zaid, siapa pun insan Tuhan yang bernama wanita pasti akan tertarik padanya. Namun, aku sudah berjanji untuk menjaga hati ku hanya dengan satu hati. Aku akan tetap menjaga hati ku hanya untuk Kak Yusuf, aku berharap Kak Yusuf yang akan menjadi imam untuk ku dalam mengarungi bahtera hidup di masa depan dunia dan akhirat ku nanti!" bathin Zahrana.


Zahrana berusaha untuk tidak kentara jika ia telah mengetahui dan mendengar semua percakapan kakak iparnya dan Muhammad Zaid Arkana. Ia berpura-pura tidak tahu jika MZ Arkana telah pun menaruh hati padanya dengan begitu cepatnya.


"Ya Allah ... betapa beratnya jalan hijrah ini, di saat hamba benar-benar ingin berubah dan membatasi diri dari berdekatan dengan kaum Adam, di saat itu juga mereka hadir dalam kehidupan hamba, tanpa bisa untuk hamba menghindarinya," bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


"Ammah Zahra, kenapa masih berdiri di sini? mana Abi sama Ammi Zaid?" tanya Shaka dengan menarik pergelangan tangan Zahrana di susul pula oleh Yumna. Dua keponakan Zahrana yang lucu dan menggemaskan.


Pekikan suara Shaka dan juga Yumna membuat Fardhan Arkan dan MZ Arkana menghentikan percakapannya. Mereka menoleh ke sumber suara.


Shaka dan Yumna pun menyalami MZ Arkana.


"Ammi Zaid, mari kita makan siang bersama!" ajak Shaka menarik pergelangan tangan MZ Arkana agar segera beranjak menuju dapur mereka.


"Baiklah, anak Sholeh." MZ Arkana pun segera menggendong Shaka layaknya seorang Ayah terhadap anaknya.


"Ammi sudah jarang sekali kemari, Shaka tidak ada teman bermain," ucap Shaka jujur. Shaka memang sangat senang jika melihat kedatangan MZ Arkana kerumah mereka. Shaka merasa punya teman bermain, sebab MZ Arkana sangat menyukai dunia anak-anak. Tidak heran jika Shaka sangat menyukainya.


"Ammah Zahra, Yumna sama Ammah saja, deh!" ucap Yumna dengan bergelayut manja di pergelangan tangan Zahrana.


"Iya, deh. Keponakan Ammah yang cantik," ucap Zahrana seraya mencubit pipi Yumna.

__ADS_1


Muhammad Zaid Arkana memandang sekilas ke arah Zahrana. Melihat wajah Zahrana yang bersinar bak cahaya bulan bmembuat jantung hatinya semakin berdetak kencang.


Namun, tidak dengan Zahrana. Ia terus berusaha menjaga hatinya agar tidak terhipnotis oleh pesona pemuda yang ada di hadapannya.


***


Di meja makan.


"Maa syaa Allah ... semua sudah berkumpul, mari kita makan bersama!" ucap Sabrina mengajak semua yang telah hadir di meja makan.


Zahrana tidak sengaja duduk bersebelahan dengan MZ Arkana. Mereka berdua sama-sama menarik kursi yang bersebelahan.


Sementara Fardhan Arkan tersenyum simpul melihat tingkah kedua anak muda tersebut yang masih tampak canggung dan kaku.


"Semoga nantinya mereka berjodoh," bathin Fardhan melirik sekilas ke arah Zahrana dan MZ Arkana.


"Ammi Zaid, pimpin do'anya dong! kata Ummi dan Abi sebelum makan itu hendaknya berdo'a dulu, biar makanan yang kita makan menjadi berkah!" ujar si kecil Shaka yang masih terlihat polos namun memiliki pemikiran yang sangat brilian, hingga siapa pun sering dibuat kelabakan oleh sikap jeniusnya yang sering kali memiliki pertanyaan-pertanyaan khusus di luar pemikiran orang dewasa.


Zaid Arkana tersenyum melihat tingkah lucu Shaka, hingga ia pun segera memimpin do'a sebelum menyantap hidangannya.


Mereka pun mulai makan bersama dengan penuh hikmatnya tanpa gaduh suara sedikitpun. Selesai makan Zahrana hendak membantu kakaknya Sabrina untuk merapikan meja makan dan juga mencuci piring.


Namun, sosok pemuda yang bernama Muhammad Zaid Arkana tidak semerta-merta pergi begitu saja. Ia ikut membantu meringankan pekerjaan Zahrana, sebab ia pun sudah terbiasa berkutat dengan rutinitas sehari-hari.


"Tidak usah repot-repot, Kak. Zahra bisa sendiri," ucap Zahrana.


Namun, Zaid Arkana dengan segala kewibawaannya pun segera siaga membantu mengangkut semua piring kotor yang ada.


"Ya Allah ... betapa beruntungnya seseorang yang akan menjadi makmum mu nanti, Kak!" bisikan hati Zahrana.


Namun, sebisa mungkin Zahrana berusaha menjaga hatinya agar tidak terpana oleh pesona Muhammad Zaid Arkana yang benar-benar mengingatkannya akan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Pencerahan 👉"Tak ada yang menjamin mudah dalam menjaga hati, namun hal itu tak akan susah bagi mereka yang kuat dengan pendiriannya." ( Tsamirah Zahrana Az Zahra )


__ADS_2