Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
186 . Merindukan Mu ( Pov Zahrana Yusuf )


__ADS_3

"Aku melihat mu begitu sempurna Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Pramuja dengan tatapan penuh kasih dan sejuta bunga-bunga cinta di hatinya terhadap Zahrana.


"Apaaaa?" pekik Zahrana dengan rasa tak percaya, atas apa yang didengar dan dilihat olehnya dari sosok Pramuja Wisnu Baskara, yang selama ini ia anggap sebagai seorang kakak sepupu, tidak lebih.


Pramuja menutup mulutnya, sebab telah keceplosan di hadapan Zahrana.


"Ma-af, Mas tidak bermaksud untuk membuat mu kaget. Tapi, benar kau memang cantik dan mempesona Tsamirah Zahrana Az Zahra!"


"Semua orang juga tahu kak, Zahra memang sudah cantik dari sononya. Tapi, Zahra harap jangan terlalu berlebihan memuji yang nanti akan membuat semua orang jadi salah paham dengan hubungan kita. Ingat! kita ini adik sepupu, jangan berpikiran yang macam-macam, cukup satu macam saja. Kita ini adik sepupu, tidak lebih!"


"Ingat! tadi kita hanya akting didepan kak Priska, jangan baper ya Mas Pramuja Wisnu Baskara! ini yang kedua kalinya Zahra mengingatkan kakak, cepat pergi dari sini, lanjutkan pekerjaan kakak di bengkel PWB group! jika kakak masih bandel juga Zahra telfon Tante Asma Nadia, jika Mas mengganggu Zahra yang lagi kerja."


Zahrana memberikan ancaman pada Pramuja.


"Baiklah, Mas akan pergi. Akan tetapi, jika ada apa-apa hubungi Mas!"


"Tenang saja, di sini aman kok, Mas. Zahra bisa jaga diri. Mas pergilah!" Zahrana mengusir Pramuja dari hadapannya, Pramuja pun mengayunkan langkahnya, meninggalkan Zahrana sendiri di Aisyah Boutique Collection.


"Assalamu'alaikum, my sepupu my bidadari!" ucap Pramuja di selingi tawa canda.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... my kakak sepupu, hati-hati dijalan!" ucap Zahrana dengan melambaikan tangannya, hingga Pramuja pun tak terlihat lagi dari pandangannya.


"Alhamdulillah ... akhirnya aku bisa bernafas lega, Mas Pra sudah tidak ada di sini, lama-lama jika berhadapan dengannya aku bisa gila. Mana bicara tidak pakai filter, tapi syukur deh ia menyelamatkan ku dari keganasan kak Priska, sekarang sudah pukul 10.15 wib. Aku belum melakukan ibadah sholat Sunnah Dhuha!" bathin Zahrana, ia pun segera mengambil wudhu dan menghamparkan sajadahnya di lantai Aisyah Boutique Collection.


Zahrana melaksanakan Ibadah sholat Dhuha dengan khusu'nya. Ia pun menadahkan tangannya, berharap kepada Rabb-nya akan rezeki yang halal, di mudahkan segala urusannya, di lapangkan dadanya, di tambahkan ilmunya, di terima amalannya, di ampuni dosa-dosanya. Sebagai penutup do'anya, Zahrana selalu mendo'akan kebaikan untuk orang tuanya dan juga tak lupa do'a sapu jagad berharap kebaikan dunia akhirat menjadi akhir dari pelengkap segala do'anya.


"Alhamdulillah ... akhirnya, ibadah Sunnah Dhuha sudah selesai, beres-beres dan merapikan semua barang-barang di toko juga selesai. Sekarang, mengisi waktu luang dengan membaca buku, biar bertambah ilmu dan wawasan!" bathin Zahrana.


"Hemmm ... sembari menunggu customer berbelanja lebih dari aku baca buku Dibawah Naungan Cinta saja deh!"


Zahrana pun membuka dan membaca lembar demi lembar kisah dan kata-kata yang tertuang dalam buku Di Bawah Naungan Cinta yang ia baca.


Setiap kata yang dibaca oleh Zahrana seolah-olah menyentuh dikedalaman hatinya. Imajinasinya kembali merindukan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy yang telah 4 tahun terakhir ini menempuh studinya di Universitas Al Azhar Mesir.


"Kak Yusuf, kapankah dirimu akan kembali? sungguh, rindu ini sangat menyiksaku. Namun, ini lebih baik ketimbang aku menjalani hubungan pacaran dengan seseorang lalu membawakan ku dalam kesalahan dan dosa yang menyiksaku."


"Dirimu sungguh sangat berbeda, di bandingkan seribu pemuda yang pernah ku jumpai dalam sepanjang nafas kehidupan ku. Kau sangat menghargai, menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat ku sebagai seorang wanita, tak pernah sekalipun dirimu hendak berbuat yang tidak wajar pada ku. Dirimu selalu menjaga ku dari hal-hal yang tidak di ridhoi oleh Allah Subhana wata'ala."


"Kak Yusuf, sungguh diriku sangat merindukan mu! merindukan sosok mu yang penuh ketulusan, kelemah lembutan dan kasih sayang yang kau tunjukkan dari kebeningan hati mu. Tak pernah ku lihat dirimu berlaku yang tidak baik terhadap ku. Kendati diriku sering kali melakukan kesalahan dan dosa, tak pernah sedetikpun ku melihat mu berkata kasar atau pun menyakiti ku. Justru dirimu dengan sabarnya membimbing ku untuk terus berada dalam jalan kebenaran."


"Jika seluruh pemuda di luar sana mengangumi ku oleh sebab kecantikan dan kesempurnaan yang ada dalam diriku, justru dirimu mencintai dan mengagumi ku hanya karena mengharapkan keridhaan Rabb-Mu tidak lebih. Karena kesholihan mu lah yang membuat ku bertahan di sini menunggu hadir di sini untuk menjemput ku bersama mengarungi bahtera cinta dalam keridhoan sang Maha pemilik kehidupan."


Bulir air mata Zahrana, tiba-tiba mengalir di pelupuk mata indahnya. Dirinya benar-benar merindukan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Kak Yusuf, aku benar-benar merindukan mu!" bisikan hati Zahrana disela isak tangisnya.


Air mata Zahrana semakin mengalir deras ketika ia menemukan dan membaca bait kata didalam buku Di Bawah Naungan Cinta yang kini masih terus ia baca lembar demi lembar halamannya.


Bila kau tak memiliki niat tuk berjumpa


Berjanjilah tuk datang meski kau tak suka


Setidaknya, bahagiakanlah aku dengan janji mu

__ADS_1


Hatiku lama tersiksa menunggu kedatangan mu


Bukankah yang tersesat di kegelapan malam


Cukup senang dengan sekilat cahaya di ujung malam


Kata mereka, dia yang kau cinta bikin kau terluka


Dan kau menjawabnya, ia tak pernah bikin aku luka


Malah, disetiap aliran darah kurasakan kedekatan padanya


Hingga tiap bulir darah berlomba-lomba keluar mendekatinya


Kau begitu jauh dari pandangan mataku


Tanganku tak kuasa menyentuhmu


Jarak halangi kita tuk bertemu


Hanya mimpi yang biarkan kita bersatu


Kala ku tidur, ruh ku kencani bayang-bayang mu


Sementara tubuh ini tak pernah tahu menahu


Sepertinya, perjumpaan ruh lebih halus bagimu


Ketimbang saat jasad kita saling bertemu


Dan malamnya kau hadir dalam mimpi-mimpi ku


Matahari ingin ku jadikan pengganti mu


Tapi, mana mungkin dirimu tergantikan sesuatu


Di kejauhan bayangmu datang menziarahi ku


Kita bertemu, lalu kau beranjak sisakan pilu


Duhai, kenapa tak kau nyatakan itu perjumpaan


Hanya bayang-bayangan yang kau hadirkan


Diriku seolah cuma ahlul a'raaf saja


Bukan ahli Syurga, dan Al jahim pun tak mengakuinya


Aku bermimpi kau pergi jauh sekali


Kita berpisah, air mata pun jatuh ke bumi


Sebelum pergi kau dekap aku, duhai betapa sedihnya

__ADS_1


Kala terbangun, seketika kesedihan ku lenyap semua


Kini kian dekat saja aku dengan mu


Namun, ternyata diriku hanya mimpi


Kau pun jauh dari pandangan mataku


Sisakan kepedihan dan kerinduan yang menderaku ...


Merindukan, sungguh menyiksa jiwaku, duhai belahan jiwa dan tumpuan harapan ku


Padamu lah hatiku berlabuh


Do'a dan harapanku, semoga dirimulah jawaban dari segala resahku


Wahai kau insan yang di sana, semoga Bismillah ku menjadi Alhamdulillah ... bersamamu dalam mengarungi bahtera hidup di bawah naungan cinta-Nya di kemudian hari nanti ... aamiin ... aamiin ya Mujibbasailin


Setelah membaca bait kata tersebut, Zahrana pun terlelap bersama dengan buliran air mata yang menetes di pipinya.


"Kau Yusuf, aku sangat merindukanmu!" bathin Zahrana. Di dalam tidurnya pun Zahrana terus memanggil-manggil nama Yusuf, ia benar-benar merindukan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy. Sosok pemuda yang kini pun telah bertahta di hatinya.


***


Di Universitas Al-Azhar Mesir.


Yusuf yang sedang fokus mengkaji ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan syari'at Islam, bersama para Mahasiswa lainnya pun nampak melamun dan kurang semangat. Aktivitas belajar mengajarnya hari ini pun tidak sesempurna biasanya. Pasalnya, ia pun teringat dengan sosok bidadari yang sangat dirindukannya setelah 4 tahun ia tidak pulang ke tanah air Indonesia.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, apa kabar gerangan dirimu disana? kenapa diriku tiba-tiba merindukan mu? pantaskah hati kecil ini untuk merasakan perasaan yang tak lazim ini terhadap mu yang belum halal untuk ku miliki? berdosakah diriku merasakan kerinduan yang teramat berat ini? haruskah aku pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan S1 ku?" bathin Yusuf dengan perasaan yang mulai meresahkan hati dan jiwanya.Yusuf pun menghentikan sejenak aktivitasnya mengkaji ilmu fiqih Islam yang sedang ia pelajari saat ini. Ia masih terus memikirkan Zahrana.


"Masihkah kau mengingatku dan menyimpan rasa untuk ku, seperti janji kita saat terakhir kali bersua dahulu? Bagaimanakah tentang dirimu kini? semoga dirimu pun telah pun berproses menjadi wanita muslimah yang sesungguhnya, semoga dirimu pun telah menempuh jalan hijrah yang di ridhoi oleh Allah, seperti dalam mimpi ku tadi malam, aku melihat mu berhiaskan hijab syar'i. Kau benar-benar terlihat cantik dan mempesona dengan gamis syar'i yang kau kenakan, yang bidadari syurga pun iri melihat pesona dan kecantikan alami mu yang tiada bandingnya. Semoga mimpi ku semalam adalah pertanda baik untuk ikatan kita selanjutnya!" bathin Yusuf dengan senyuman manisnya.


Wajah Yusuf nampak bercahaya, ia kembali bersemangat membuat teman seperjuangannya yang sama-sama berasal dari Indonesia pun heran melihat perubahan Yusuf Amri Nufail Syairazy, yang semula resah namun kembali cerah.


"Maa syaa Allah ... Akhi Yusuf, dirimu tiba-tiba bersemangat kembali. Sejak tadi, aku lihat kau bermuram durja, seperti ada sesuatu yang sedang kau pikirkan. Ada apa gerangan?" tanya Muhammad Azzam Al Fatih yang juga berasal dari Indonesia tersebut.


"Tidak ada apa-apa Akhi, aku hanya merindukan tanah air Indonesia," ucap Yusuf dengan berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Oh ya, benarkah? Tapi melihat dari cara mu, aku tahu bahwa dirimu sedang memikirkan seseorang, sebab aku pun pernah berada di posisi mu mengagumi seorang akhwat adik kelas ku di Pondok Pesantren di Kota P, tepatnya 4 tahun yang lalu sebelum aku meneruskan studi ku di Universitas Al Azhar ini. Aku berharap setelah menyelesaikan studi ku disini yang tinggal dua pekan lagi, aku dapat bertemu kembali dengannya, kemungkinan besar tahun ini ia sudah lulus dari pondok pesantren tersebut!" ucap Azzam yang tanpa sadar mencurahkan isi hatinya saat ini, membuat Yusuf tersenyum mendengar ucapan Muhammad Azzam Al Fatih.


"Hemmm ... perasaan cinta itu sejatinya bukan dosa Akhi, jika kita mampu meredam nafsu syahwat kita agar jangan sampai melanggar syari'at, umpamanya pacaran. Bersyukurlah, jika diri kita terjaga dari kemaksiatan dan yang semisalnya. Lebih baik kita menjaga hati, dan memendam perasaan kita terhadap orang yang kita kagumi, ketimbang meluahkan rasa kita terhadap orang yang belum halal untuk kita miliki!" terang Yusuf, membuat Azzam begitu seksama dan berdecak kagum mendengarkan penuturan sahabatnya itu.


"Benar sekali Akh Yusuf, aku sependapat dengan mu!" ucap Azzam dengan binar mata yang penuh kebahagiaan. Ia bahagia sebab mampu menahan dan memendam perasaannya terhadap sosok wanita Sholihah yang sangat dikaguminya.


"Hafidzah ... nama yang indah, yang sudah 4 tahun terakhir ini terpatri dihatiku, semoga kita bisa bersua kembali setelah aku kembali ke tanah air Indonesia nantinya. Semoga kita bisa berjodoh sebagaimana do'a ku di setiap sujudku, berharap dirimu lah yang akan menjadi makmum ku nantinya, aamiin ya rabbal 'alamiin."


Azzam berdo'a di dalam hatinya, Azzam sama sekali belum mengetahui jika Hafidzah yang dia maksud adalah sahabat Zahrana, wanita yang sangat dicintai dan rindukan oleh sahabatnya Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, tunggu aku! aku akan kembali ke Tanah air secepatnya, setelah aku wisuda S1 ku yang tinggal dua pekan lagi. Aku akan mengkhitbah mu sesuai dengan janji ku dulu!" bathin Yusuf dengan perasaan yang terus bertumbuh di hatinya untuk Zahrana.


Yusuf dan Azzam nampak tenggelam dengan pikiran masing-masing, keduanya pun berusaha menata hatinya terhadap sosok wanita shalihah yang kini telah menyentuh hati keduanya. Yang satu memikirkan Zahrana dan yang satu memikirkan Hafidzah.😍😍


🌷🌷🌷

__ADS_1


Untaian mutiara hikmah 👉 "Untukmu yang bertahan tetap memilih suci dalam penantian. Semoga Allah segerakan jodoh yang datang untukmu. Semoga cintamu pada-Nya menjagamu dari angin-angin keburukan yang mampu membuatmu lalai akan perintah-Nya." ( Bisikan_H@ti )


__ADS_2