Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
23 . Tersanjung


__ADS_3

Kumandang adzan shalat Asar terdengar merdu mendayu telinga, menyentuh hati segenap insan yang mendengarnya.


Buya Harun dan adik Zahrana, Raihan Arman Habibie segera melangkahkan kakinya menuju Mesjid Al Ikhlas di Desa mereka. Satu-satunya Mesjid tertua di Desa mereka yang telah berdiri sekitar 25 tahun yang lalu, sekarang sudah di renovasi dengan desain yang lebih indah dan megah, dengan nuansa hijau cerah menyejukkan indah dipandang mata.


"Maa syaa Allah ... ternyata yang mengumandangkan adzan semerdu ini adalah kak Aslan Abdurrahman Syatir," gumam Raihan dalam hati.


"Raihan nggak nyangka, jika kak Aslan sosok pemuda yang Sholih juga, namun Raihan bingung cara berpikir orang dewasa kenapa tidak bisa menahan diri ketika berhadapan dengan lawan jenisnya?" bisik Raihan dalam hati. Masih teringat jelas adegan mesra kakaknya Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir berapa waktu yang lalu.


"Nak, kenapa melamun nak? Ayo segera rapikan shafnya! Ayah kedepan dulu! ujar Buya Harun pada Raihan, sembari berjalan ke arah mimbar depan berdiri selaku imam shalat.


Raihan berdiri di shaf paling depan, bersebelahan dengan Aslan Abdurrahman Syatir. Aslan dengan khusu'nya hendak berniat sholat mengikuti imam, sementara Raihan masih dengan pikiran yang berkecamuk sembari melihat sekilas ke arah Aslan Abdurrahman Syatir yang nampak kelihatan agamis sekali dengan baju koko, sarung dan peci yang di kenakan, membuat Raihan merasa kagum. Pantas saja kak Zahrana terpesona dengan kak Aslan,"cicit Raihan dalam hati.


"Astaghfirullahal'adzim ... ampuni Raihan ya Rabb, karena terus su'udzon pada kak Aslan. Padahal sejatinya di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, setiap insan pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa," sesal Raihan dalam hati menyadari akan kekhilafannya, kemudian ia pun berniat dalam hati mengikuti imam shalat.


Ibadah sholat Ashar pun berjalan dengan hikmatnya, di imami oleh Buya Harun yang memang beliau adalah Kepala Mesjid Al Ikhlas, sering kali bertugas mengimami sholat berjama'ah.


Setelah do'a dan zikir para Jama'ah saling bersalaman, begitu pun Aslan Abdurrahman Syatir menyalami Buya Harun dengan rasa hormat, sebagai orang yang dituakan, dan berharap bisa menjadi mertuanya dikemudian hari nanti, harapan dan do'a Aslan dalam hati untuk bisa mempersunting Zahrana pada saat yang tepat, hari dimana Zahrana benar-benar telah bertumbuh menjadi wanita dewasa.


Raihan pun menyalami Aslan dengan rasa hormat, tidak ada lagi rasa su'udzon di hatinya, kecuali rasa saudara seiman harus saling menguatkan agar tiang agama tetap berdiri kokoh dan tidak rapuh. Saling memaafkan jika terbesit salah dan sangka, saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran, agar terciptalah rasa kasih dan sayang berbalut iman dan taqwa, begitu lah pikiran jernih Raihan di usianya yang masih seumur jagung baru genap 8 tahun, namun sudah memiliki rasa empati yang tinggi berkat didikan Buya Harun Al Aziz, yang selalu menempanya dengan ilmu agama yang baik dan benar.


Aslan tersenyum simpul melihat Raihan yang sangat tulus dan santun. Raihan pun membalas dengan senyuman yang bersahabat.


Kemudian Buya Harun,Raihan dan Aslan keluar dari Mesjid berbarengan, mereka tanpa ramah sekali, bertegur sapa satu sama lain.


"Oh, iya kak Aslan tadi Raihan dan kak Zahrana lupa membayar uang pelet ayam kak Aslan, sebab kami buru-buru untuk pulang, nanti Raihan minta sama kak Zahra, khawatir kak Zahra lupa," ujar Raihan penuh keseriusan.


"Nggak apa-apa Raihan. Tidak usah di bayar pun tidak mengapa, anggap saja itu bonus dari kakak untuk Raihan dan keluarga," ujar Aslan penuh santun.


"Subhanallah ... jadi pelet ayam pesanan Ayah belum dibayar?" tanya Buya Harun kaget.


"Nggak apa-apa, Buya. Itu bonus untuk Buya dan keluarga."

__ADS_1


"Maaf Nak Aslan, Buya berterimakasih sekali dengan kebaikan Nak Aslan, Buya minta maaf atas kelupaan anak-anak Buya, Zahrana dan Raihan, mereka memang masih terlalu polos, hutang harus tetap di bayar," ujar Buya Harun tersenyum ramah walaupun dalam keadaan genting sekalipun tetap berlaku tenang dan sopan.


"Mampir dulu Nak Aslan! nanti Buya panggilkan Zahra, mungkin dia sudah selesai menunaikan ibadah sholat Ashar," ujar Buya Harun sembari mempersilakan Aslan masuk ke rumah mereka.


Tentu saja dalam hati Aslan sangat girang, sebab akan bertemu kembali dengan pujaan hati nya,''Pucuk di Cinta Ulam Pun Tiba." Hati Aslan seakan berbunga-bunga, rasa senang berbalut suka ketika Buya Harun mengajaknya bertandang ke rumah hanya karena uang pelet ayam, seakan memberi celah untuk Aslan bersua kembali dengan Zahrana.


"Nak Aslan tunggu dulu! sepertinya Zahrana masih Tilawah Qur'an," ujar Buya Harun sembari ke dapur ingin menyuguhkan Teh Panas untuk Aslan sembari menunggu Zahrana selesai Tilawah.


"Maa syaa Allah ... Ana, indahnya lantunan ayat suci Qur'an yang dirimu baca kan. Benar-benar terdengar merdu dan penuh penghayatan,meresapi ke dalam Qolbu yang terdalam menenangkan hati dan jiwa bagi yang mendengarnya. Aku semakin tersanjung pada mu Ana, diri mu benar-benar telah menyentuh hatiku yang naif ini."


"Aku merasa sangat lemah atas rasaku terhadap mu, Ana. Semoga Allah menyatukan kita dalam ikatan suci nantinya. Aku berharap dirimu akan menjadi bagian tulang rusuk ku di masa depan nanti," bisikan hati Aslan untuk Zahrana gadis kecil yang sangat berarti dalam hidupnya.


Zahrana pun selesai Tilawah Qur'an dan merapikan mukena, sajadah dan Al Qur'an di tempatnya, kemudian hendak keluar kamar, namun netra Zahrana tertuju pada sosok pemuda yang sedang duduk santai di ruang tamu dengan gaya yang sangat agamis, tampan dan mempesona.


"Maa syaa Allah ... kak Aslan, betapa sempurnanya dirimu diciptakan, wanita mana yang tidak tersanjung melihat pesona mu. Tak terkecuali diriku, beruntungnya wanita yang akan menjadi bagian dari tulang rusuk mu di masa depan nanti kak," bisikan hati Zahrana.


"Assalamu'alaikum ... kak Zahrana," tutur Raihan sambil menepuk bahu kakaknya.


"Pandangan mata sebaiknya di jaga kak! pandangan pertama di perbolehkan, yang berikutnya sebaiknya di tundukkan, karena pandangan mata antara dua insan yang berlawanan jenis, adalah anak panahnya syetan, khawatir jika kita tidak mampu mengendalikan diri dan hawa nafsu, akan terjadi hal-hal yang tidak dihalalkan, seperti kejadian kak Zahra dan Kak Aslan diToko Sembako itu," ucap Raihan, untuk mengingatkan kakaknya agar kejadian tersebut tidak terulang kembali.


"Zahrana, Raihan, kenapa masih berdiri di ambang pintu? tidak baik membiarkan tamu sendirian," tutur Buya Harun mengingat kan anak-anaknya.


"Ya Allah ... Ayah biar Zahrana yang membawa kan teh nya," tutur Zahrana hormat sembari mengambil alih tampah minuman teh dari Ayahnya beserta sepiring Singkong rebus untuk disuguhkan pada Aslan.


Buya Harun pun mempersilahkan Zahrana untuk menyuguhkan hidangan teh dan Singkong rebus tersebut pada Aslan.


Seluruh tubuh Aslan terasa bergetar hebat ketika melihat sosok Zahrana berjalan ke arahnya hendak menyuguhkan hidangan padanya.


"Kak Aslan, silakan di minum tehnya! Singkong rebusnya silahkan di cicipi! ala kadarnya kak," tutur Zahrana dengan bibir gemetar.


Terasa cekat di kerongkongan ketika ingin berbicara, detak jantungnya pun kembali bergetar hebat ketika netranya kembali beradu pandang dengan Aslan Abdurrahman Syatir.

__ADS_1


"Ya Allah kak Aslan ... kakak benar-benar membuat Zahra tersanjung."


"Ya Allah ... jangan biarkan rasa ini terus melanda hatiku. Bagaimana aku bisa menguasai diri ku, sedangkan tatapannya benar-benar menggoda ku dan meruntuhkan imanku, bagaimana kejadian di Toko tadi benar-benar menghipnotis ku?" bisik Zahrana dalam hati, kemudian tertunduk malu mengingat semua tentang itu.


"Ya Allah ... Ana pesona mu, bola mata mu,rona wajah mu, bibir manis nan mungil itu benar-benar membangkitkan gairah ku, begitu sempurnanya diri mu diciptakan bak Dewi yang turun dari kayangan, dari pahatan apa dirimu diciptakan, sungguh diriku benar-benar tergila-gila pada mu, Ana."


"Aku benar-benar tersanjung cinta mu. Wahai gadis kecil nan mempesona 'Tsamirah Zahrana Az Zahra'," bisikan hati Aslan Abdurrahman Syatir.


"Ehemmm ... kak Aslan,kak Zahra ada Buya Harun hendak menyampaikan sesuatu," ujar Raihan memecahkan ketersanjungan Aslan dan kakaknya, sebab hanya Raihan yang memahami tentang rasa keduanya yang memang sedang di fase tersanjung cinta buta.


Buya Harun, hanya menanggapi dengan ekspresi tenang, tidak sedikit pun berpikiran sejauh yang Raihan pikirkan, sebab Buya Harun merasakan Zahrana masih sangat belia, sedangkan Aslan sudah cukup dewasa, akan sangat mustahil jika ada benih-benih rasa yang tumbuh di antara mereka.


"Zahrana, kedatangan Nak Aslan ke sini atas izin Ayah, tujuannya tidak lain Ayah ingin Zahra dan Raihan Amanah dan bertanggung jawab."


Hati Zahrana bertanya-tanya khawatir Ayahnya mengetahui kekhilafan yang di lakukannya bersama Aslan diToko. Jantung Zahrana terasa berdebar-debar keringat bercucuran deras dari dahinya khawatir akan dimarahi oleh Ayahnya.


Zahrana semakin tertunduk lesu, ingin rasanya airmatanya tumpah Karena kesedihan dan ketakutan yang mendera hatinya, khawatir kalau-kalau Ayahnya marah dan mencerca Aslan, sebab seumur hidupnya belum pernah melihat ayahnya marah besar.


"Zahra ... begini Nak, tadi kan Zahrana dan Raihan membeli pelet ayam, tetapi belum dibayar, ada baiknya Zahra tunaikan sekarang," tutur Buya Harun lemah lembut.


"Ya Allah ... Ayah, Zahra kira ada kejadian besar apa?" cicit Zahrana dalam hati serasa bernafas lega.


Raihan yang memahami keadaan kakaknya, berusaha menahan rasa geli di dalam hati melihat ekspresi kakaknya yang terlihat ketakutan, kemudian Raihan pun kembali rileks.


"Makanya kak, jangan bermain api jika tidak sanggup memadamkannya," cicit Raihan dalam hati, sembari menahan tawanya.


"Oh iya ... kak Aslan maaf, Ana ke dalam dulu ambil uangnya," tutur Zahra sembari menatap ke arah Aslan dengan penuh arti.


"Iya, silakan An!" angguk Aslan dengan tatapan yang lebih berarti.


"Ana, aku benar-benar tersanjung cinta pada mu. Aku bersyukur sekali sebab pelet ayam berkali-kali aku harus bersua dengan mu."

__ADS_1


"Andai ini lebih lama lagi betapa aku akan menjadi orang yang paling beruntung dan paling bahagia, karena selalu bisa berada di dekat mu, Tsamirah Zahrana Az Zahra," bisikan hati Aslan untuk yang ke sekian kalinya, benar-benar membuatnya BUCIN alias Buta Cinta atau apalah Budak Cinta namanya.


__ADS_2