
Zahrana terus berlari dan menjauh dari pandangan Aslan Abdurrahman Syatir yang masih berstatus kekasihnya dan juga menjauh dari pandangan teman-temannya yang lainnya. Ia menangisi nasibnya, betapa ia tidak habis pikir kenapa ia dengan mudahnya tergoda oleh bujuk rayu Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya. Zahrana terus menyentuh bibir manisnya. Ia semakin menangis sejadi-jadinya ketika mengingat adegan panasnya dengan kekasihnya berapa waktu yang lalu.
"Ya Allah ya Ghofur ... sungguh bibir mungil ini tak lagi polos nan suci. Ia telah terkotori oleh bir*hi dan nafsu sesaat," ucap Zahrana lirih.
"Hiks ... hiks ... hiks ... " Zahrana masih terus meratapi kebodohannya. Ia menangis sejadi-jadinya.
Zahrana hilang arah untuk berpijak, keanggunan, kelembutan dan kesantunannya serta kesholihan-nya kini pun terhempas.
"Aku setiap hari, kerapkali belajar dan mengajar para Santriwan dan Santriwati di Padepokan Buya Harun, aku pun senantiasa mengajak dan mengingatkan teman-teman ku dalam kebaikan dan kebenaran. Namun, justru aku yang terjerat dalam lingkaran noda-noda dosa. Aku sangat kotor, aku memang tidak bermakna."
"Benar kata kak Priska Prahara aku adalah wanita murahan, aku benci dengan diriku sendiri, aku benci dengan apa yang telah ku perbuat. Aku benciii!" pekik Zahrana di selangi isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
Zahrana mencuci bibirnya dengan air kran yang ada di Musholla Pantai Indah Kenangan Bersama. Ia tidak menyadari jika tingkah polahnya dari sejak tadi di perhatikan oleh pria tampan yang sangat berwibawa nan santun Budi pekertinya. Dengan jambang dan jenggot tipis yang menghiasi wajahnya semakin menambah pesona dan kharismanya. Pemuda tersebut terus melihat apa yang di perbuat oleh Zahrana, Bidadari kecil yang telah sejak lama bertahta di hatinya.
Iya, pemuda tersebut adalah Yusuf Amri Nufail Syairazy. Ia dari sejak tadi mengikuti Zahrana ketika ia tidak sengaja melihat Zahrana berlari dan menjauh dari pandangan teman-temannya yang lainnya. Yusuf pun terpaksa meninggalkan kegiatan perpisahannya dengan teman-teman sekolahnya, dengan alasan ia ada kepentingan yang sangat mendesak.
Zahrana terus berkali-kali membersihkan bibirnya dengan air, seolah-olah ia merasakan jika dirinya sangat najis dan kotor sekali.
Zahrana terduduk dibawah lesehan tembok kran tersebut. Ia kembali meratapi nasibnya. Air matanya pun tiada henti mengalir, ia terus terisak dalam tangisnya. Matanya pun tampak bengkak dan pipinya pun sebab lantaran ia terus menangis menyesali nasibnya.
"Mau aku bersihkan bibir ku dengan kembang tujuh rupa sekalipun, aku akan tetap kotor dan hina." Zahrana terus memaki dirinya sendiri, sebab tidak pandai mawas diri.
Yusuf tidak tahan lagi melihat bulir air mata yang terus membanjiri pipi mulus Sang Bidadari kecilnya, cinta dalam hatinya yang selalu ia simpan rapi dan tidak akan pernah ia ungkapkan sebelum Zahrana benar-benar halal baginya.
Sedalam apa pun perasaannya terhadap Zahrana, sekuat itu pula ia memendam rasanya. Yusuf benar-benar menjaga batasannya dengan yang bukan mahramnya. Kendati pun ia menyukai Zahrana sampai detik ini pun ia lebih memilih memendam rasanya. Ia benar-benar meyakini dalam hatinya, ia tidak akan pernah melanggar syari'at Islam, harus pacaran misalnya sampai detik ini pun tidak pernah ia melakukannya.
Sepanjang perjalanan usianya yang kini telah menginjak 17 tahun, baru kepada Zahrana ia benar-benar jatuh hati. Dari sejak awal ia melihat pesona Zahrana di Padepokan Buya Harun, sampai detik ini pun rasa itu masih terus bertumbuh di hatinya. Namun, Yusuf selalu menjaga hatinya didalam sujud dan do'anya. Cukup Sang Penggenggam Kehidupan yang tahu isi hatinya terhadap Zahrana. Mengadu kepada Rabb-Nya adalah tempat yang paling tinggi bagi Yusuf, agar ia tak tersesat oleh rasa cinta yang telah sekian lama bertahta dihatinya.
Yusuf menghampiri Zahrana.
"Zahra ... apa yang terjadi pada mu?" tanya Yusuf.
Zahrana tidak menjawab, tangisnya pun semakin menjadi-jadi dengan kehadiran Yusuf Amri Nufail Syairazy yang sangat tiba-tiba dihadapannya.
"Zahra ... menangislah jika memang itu bisa menenangkan jiwa mu. Sesungguhnya tangisan yang di sukai oleh Allah adalah tangisan seorang pendosa yang telah pun menyesali atas segala kesalahan dan dosa-dosanya dihadapan Allah Subhanahuwata'ala."
"Sejatinya tangisan dan taubat seorang yang merasa dirinya berdosa itu lebih disukai oleh Allah daripada banyaknya amal ibadah yang di lakukan oleh seorang hamba yang Sholeh namun sombong dengan amal yang dimilikinya."
__ADS_1
"Bertaubatlah kepada Allah Subhanahuwata'ala jika dirimu merasa berdosa, jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya ampunan Allah jauh lebih besar daripada dosa yang telah kita perbuat."
"Kembalilah kepada Allah, jika dirimu merasa melakukan kesalahan dan dosa. Jangan pernah berbalik arah untuk melakukan kesalahan yang sama lagi!" pungkas Yusuf seraya memberikan tissue untuk Zahrana.
"Hapuslah air mata mu, sungguh aku tak sanggup melihat mu berputus asa seperti ini." Yusuf ikut merasakan kesedihan ketika melihat sosok Bidadari impiannya bermuram durja.
Zahrana pun segera menyeka air matanya dengan tissue yang di berikan oleh Yusuf.
"Terimakasih, kak." Zahrana pun berusaha menetralkan perasaannya. Untaian mutiara hikmah yang di sampaikan oleh Yusuf, pun mampu menenangkan jiwanya yang sempat rapuh sebab kekhilafan yang telah di perbuatnya bersama Aslan Abdurrahman Syatir kekasihnya.
Yusuf mengangguk pelan. Ia merasa tenang melihat Zahrana kembali bersemangat lagi.
Zahrana bangkit dari duduknya. Ia pun memutar kran air di dekatnya. Zahrana segera berwudhu dengan sempurna guna menenangkan hati dan jiwanya yang sempat rapuh oleh sekelumit kisah yang sedang terjadi pada dirinya hari ini.
Yusuf memperhatikan Zahrana dengan manik mata bahagia, bahagia sebab ia kembali melihat sinar keimanan yang terpancar dari diri Zahrana dengan tetesan air wudhu yang nampak dari rona wajah Zahrana yang memang terlihat sempurna dari sananya.
Ingin sekali Yusuf menenangkan Zahrana dan menyeka derai air matanya, namun Yusuf menyadari jika gadis kecil dihadapannya ini bukan mahramnya.
"Zahrana, sebelum kau halal bagi ku, sungguh tak layak untuk ku mengumbar rasa ku terhadap mu. Apalagi sampai menyentuh mu itu haram bagiku," bisik hati Yusuf.
"Tunggu aku 6 atau 7 tahun lagi Zahra, aku akan kembali kepada mu untuk melamar mu menjadi makmum ku, setelah aku menyelesaikan studi ku di Kairo Mesir." Yusuf bergumam di dalam hati.
***
"Ana, dirimu dimana? kenapa kau pergi begitu saja, tanpa ku ketahui dimana jejakmu kini." Aslan mengacak kasar surai rambutnya.
"Maafkan aku Ana, setelah ini aku berjanji aku tidak akan posesif lagi. Aku tidak akan pernah lagi menyentuh mu sesuka hati ku seperti ini, maafkan aku karena selama ini terlalu mengekang mu." Aslan bermonolog di dalam hati kecilnya. Ia benar-benar menyesal sebab telah menodai kepolosan gadis kecilnya.
Nandini Sukma Dewi, Arjuna Restu Pamungkas, Cinta Kiara Khoirani dan Rangga Sahadewa kekasihnya ikut bersama mencari Zahrana.
Sementara Fadhilah bersama Virgantara juga nampak kompak sekali. Di ikuti pula oleh Rivandra Dinata Admaja dan Kirana Larasati.
"Kemana dirimu Princess? pantai seluas ini pun kami tidak bisa menemukan mu," ucap Nandini mulai jengah.
"Sabar, honey. Zahrana pasti ditemukan, mungkin ia sedang berpikir jernih dan ingin menenangkan diri dulu," ucap Arjuna Restu Pamungkas.
"Ia Din, aku yakin Zahrana akan kembali lagi kehadapan kita. Ia pasti tahu kemana ia harus pulang," pungkas Cinta. Ia saling bergandengan dengan kekasihnya Rangga Sahadewa.
__ADS_1
"Cin, sebaiknya kita berpencar dengan Nandini dan Arjuna." Rangga Sahadewa memberikan masukan.
"Iya kak," ucap Cinta malu-malu sebab Rangga begitu erat menggenggam jemari tangannya seperti tidak ingin melepaskannya. Mereka berdua pun berpencar dari hadapan Nandini dan Arjuna.
***
"Kak, aku capek sekali. Mana bekal ku sudah habis semua, aku nggak bisa ngemil lagi deh!" seloroh Fadhilah pada Virgantara Dinata Admaja.
"Kenapa dari sejak tadi kau begitu cerewet sekali, gadis kecil?" pungkas Virgantara.
"Kau tenang, nanti aku akan belikan cemilan yang banyak untuk mu! Jangan banyak bicara lagi, sampai kita menemukan Zahrana." Virgantara membujuk Fadhilah yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.
"Janji ya!" seloroh Fadhilah seraya menautkan jari kelingkingnya pada Virgantara.Tanda setuju. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanannya mencari keberadaan Zahrana.
***
"Kirana sepertinya aku tahu dimana keberadaan Zahrana. Ia sangat menyukai tempat suci, Mushola misalnya. Aku tahu persis jika Zahrana sedang marah dan sedih, ia pun akan segera berwudhu guna menenangkan hatinya." Rivandra memberikan saran.
Hati Kirana terasa tercubit mendengar ucapan Rivandra Dinata Admaja, yang begitu mengingat Zahrana dalam hal sekecil apapun.
"Kenapa diam? mari kita lihat apakah ada Zahrana di Mushola sana." Rivandra refleks menggenggam jemari tangan Kirana Larasati untuk segera mencari keberadaan Zahrana.
Kirana mengikuti langkah Rivandra. Jantungnya terasa bertalu-talu dan berirama riang. Ia senang atas perlakuan Rivandra terhadapnya.
"Ya Allah ... Jika seperti ini terus, aku yakin aku tidak sanggup berpisah dengan mu kak. Apalagi sampai move on dari mu tentu akan sangat sulit bagi ku." Kirana Larasati bermonolog dalam hatinya.
"Kir, lihat! itu sepertinya Zahrana dan pemuda yang tadi."
"Mana kak?"
"Itu disamping Mushola itu," pungkas Rivandra Dinata Admaja.
"Iya, Kak benar."
"Mari kita segera kesana menemui mereka," Ucap Kirana Larasati. Mereka pun bergegas menuju Musholla guna menghampiri Zahrana dan pemuda yang bernama Yusuf Amri Nufail Syairazy.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉"Jika suatu malam kamu melihat seseorang berbuat dosa, keesokan harinya jangan memandangnya sebagai orang yang berdosa, mungkin saja pada malam harinya dia telah bertaubat sementara kamu tidak mengetahuinya."( Ali bin Abi Thalib )