Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
102 . Pergi Untuk Kembali ( Pov Yusuf Zahrana )


__ADS_3

Zahrana nampak terkesima dengan interaksi antara Ayahnya dengan Yusuf Amri Nufail Syairazy. Mereka nampak asyik sekali bercengkrama membahas perkara tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan syari'at Islam.


"Nak Yusuf, nanti hendak melanjutkan studi kemana setelah ini?"


"Insya Allah melanjutkan ke perguruan tinggi di Universitas Al Azhar Mesir, Buya. Kedatangan Yusuf kesini pun hendak berpamitan dengan Buya dan keluarga."


"Maa syaa Allah ... Buya turut mendukung tujuan dan cita-cita mulia mu, Nak. Buya benar-benar terharu dengan niat baik mu," ucap Buya Harun dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Terimakasih Buya, ini semua berkat didikan Buya selama 3 tahun terakhir ini hingga Yusuf bisa seperti sekarang ini! semoga Allah menggantikan dengan kebaikan yang lebih baik untuk Buya dan keluarga, semoga segala ilmu yang telah Buya ajarkan kepada kami berbuah pahala dan menjadi berkah. Bermanfaat untuk dunia dan akhirat, aamiin ya Mujibassailin ...."


Yusuf pun merasa terharu dan tidak pernah mengira jika akhirnya proses Muroja'ahnya membuahkan hasil, sehingga ia bisa menghafalkan 30 Juz Al Qur'an. Tentunya dengan proses yang tidak mudah untuk menyelesaikan itu semua.


Buya Harun nampak tertegun. Ia benar-benar kagum dengan sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy, begitu semangat untuk menuntut ilmu pengetahuan Agama Islam.


"Buya do'akan semoga Nak Yusuf bisa menjadi seorang ulama besar dan pendakwah nantinya. Bisa menyebarkan dan mengamalkan ilmu yang telah Nak Yusuf dapatkan nantinya."


"Tetap rendah hati meskipun nantinya dirimu sudah menjadi pendakwah dan yang semisalnya. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah Subhanahuwata'ala, diberikan kekuatan dan kesabaran untuk selalu Istiqomah di jalan-Nya."


"Buya akan senantiasa berdo'a untuk mu, Nak. Di sini kami senantiasa menunggu kedatangan mu kembali," ucap Buya Harun dengan suara yang mulai serak.


Buya Harun tidak mampu lagi untuk membendung air matanya. Ia menangis harua melepaskan Santri kesayangannya untuk berguru di Negara Piramida itu. Buya Harun merasa sedih sekaligus bahagia atas keberhasilan Santrinya itu.


"Insya Allah ... Jika tidak ada halangan Yusuf akan berguru dan di sana sekitar 6 tahun atau 7 tahun, bahkan lebih Buya."


"Yusuf pergi untuk kembali lagi ke tanah air Buya, tanah kelahiran ku setelah pun aku menyelesaikan studi di sana."


"Yusuf pun akan pergi untuk kembali lagi, menemui seseorang disini yang selama ini telah pun bertahta di hati ini semenjak awal berjumpa. Yusuf akan kembali untuknya Buya, sebagaimana yang telah diamanahkan oleh Ummi dan Abi ku, aku akan datang untuk melamar Tsamirah Zahrana Az Zahra permata hati Buya Harun dan Bunda Fatimah, seperti yang di harapkan oleh Buya dan kedua orang tua Yusuf selama ini!" Yusuf berucap dengan lantangnya. Ia tidak mengungkapkan perasaannya pada Zahrana melainkan ia pun hanya menyampaikan keinginannya langsung kepada Buya Harun.


Buya Harun terkesima berbalut kaget mendengar ucapan Yusuf Amri Nufail Syairazy. Buya Harun tidak mengira jika Yusuf mempunyai keberanian seperti itu.


"Jadi ... Nak Yusuf sudah mengetahui tentang perjodohan ini?" tanya Buya Harun penuh rasa kaget.


"Maaf atas kelancangan Yusuf Buya, harus menyampaikan hal ini mewakili Ummi dan Abi. Iya, Abi sudah memberitahukan hal ini pada Yusuf sebelum Yusuf menyelesaikan Muroja'ah , tepatnya tiga Minggu yang lalu."


"Jika Buya Harun, juga Bunda Fatimah serta Ummi dan Abi Yusuf telah pun merestui dan meridhoi itu semua. Yusuf dengan senang hati menerima itu semua. Sebab, Yusuf pun telah pun menaruh hati pada Zahrana sejak awal bersua."


"Akan tetapi, belum saatnya rasa ini harus menyatu sebab Yusuf pun masih hendak menuntut ilmu. Begitu pun dengan Zahrana, Yusuf berharap bisa berjodoh dengan Tsamirah Zahrana Az Zahra, permata hati Buya Harun dan Bunda Fatimah di masa depan nanti." Yusuf meyakinkan diri, jika ia memang benar-benar menginginkan Zahrana menjadi makmum untuknya suatu hari nanti. Di saat ia dan Zahrana telah pun memantaskan diri untuk mengikat janji suci pernikahan.


Percakapan antara Yusuf dan Buya Harun pun tanpa mereka sadari tertangkap oleh panca indera Zahrana.


Zahrana yang hendak menyuguhkan minuman dan cemilan untuk Yusuf pun menghentikan langkahnya. Ia mengurungkan niatnya untuk mengantarkan minuman tersebut.


Zahrana mengatur ritme jantungnya, ia merasakan seperti berada di alam mimpi. Antara rasa percaya dan tidak dengan apa yang di dengar olehnya barusan.


"Ya Allah ... benarkah dengan apa yang kulihat dan kudengar ini? benarkah selama ini kak Yusuf telah pun menaruh rasa terhadap ku? mungkinkah seorang pemuda religius seperti kak Yusuf bisa tertarik pada ku yang masih belum sempurna ini?"


"Aku pun belum menutup aurat secara sempurna, duduk keimanan ku pun pasang surut. Dan parahnya pula diriku telah terjerat lumpur dosa bersama kak Aslan, aku pun pernah menjalin hubungan dengan kak Rivandra. Dan kak Yusuf pun mengetahui itu, lalu dari sisi manakah ia tertarik pada ku?" Zahrana terus bertanya-tanya didalam hatinya.


"Ini tidak mungkin! ini hanya ilusi ku saja," gumam Zahrana.


Ditengah kebingungannya Zahrana tidak menyadari jika Bunda Fatimah datang menghampirinya dari arah dapur. Bunda Fatimah baru selesai mencuci pakaian mereka didekat sumur samping rumahnya.


"Zahra, anak Bunda. Kenapa malah bersembunyi di sini? minumannya kok belum diantar kedepan. Siapa gerangan yang bertandang ke rumah kita sepagi ini?" tanya Bunda Fatimah.


"I-itu ... kak Yusuf," ucap Zahrana gelagapan.


"Kenapa kau terlihat gugup sekali, Nak? buruan di antar minuman dan cemilannya! kasian tamunya di biarkan lama menunggu," titah Bunda Fatimah.


Zahrana pun berusaha menguasai rasa di hatinya.


"Ya Allah ... kuatkan hamba untuk bertemu kak Yusuf, sungguh jantung ku rasanya ingin keluar dari tempatnya. Pemuda tampan nan Sholih bisa pun terpana oleh diriku, rasanya itu sangat mustahil!" bisikan hati Zahrana.


Zahrana pun melangkahkan kakinya dengan sangat pelan dan hati-hati menuju ruang tamu. Ia sebisa mungkin menguasai ritme hatinya. Zahrana benar-benar khawatir jika sampai tampah minuman dan cemilan yang ia bawa bisa tumpah, lantaran irama jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Buya Harun dan Yusuf pun mengalihkan topik pembicaraannya ketika melihat kehadiran Zahrana. Tidak ada lagi pesan cinta yang terucap dari lisan Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Kini, Buya Harun dan Yusuf kembali membahas tentang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan syari'at Islam, tentang ilmu Fiqih dan lain-lainnya.

__ADS_1


"Kak Yusuf ... si-silakan di minum tehnya dan juga pisang gorengnya!" ucap Zahrana terbata.


Yusuf pun membalas dengan senyuman dan anggukan, sehingga tampaklah rona wajahnya yang begitu tampan dan sangat bercahaya laksana rembulan yang bersinar di malam hari.


"Ya Allah ... senyuman dan wajah mu kak, beruntunglah kaum hawa yang nantinya bisa menjadi Bidadari dunia dan akhirat mu, Kak!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Sementara Yusuf berusaha untuk menundukkan pandangannya. Ia tidak ingin terlalu kentara mengagumi dan menyimpan rasa terhadap Zahrana. Yusuf berusaha menjaga pandangannya.


"Tidak mungkin kak Yusuf menaruh rasa terhadap ku dari sejak tadi pun ia hanya menundukkan pandangannya. Ah ... mungkin aku yang terlalu kepedean dan salah dengar," cicit Zahrana didalam hatinya.


"Pemuda yang Sholih dan berwajah teduh dan pandai menjaga marwahnya tidak mungkin tertarik pada ku." Zahrana terus bermonolog di dalam hatinya.


Zahrana pun segera meletakkan sepiring pisang goreng di atas meja, juga menyuguhkan secangkir teh untuk Buya Harun dan kemudian beralih menyuguhkan secangkir teh untuk Yusuf.


Zahrana nampak gugup dan gemetaran lantaran pikirannya yang sejak tadi menerawang kemana-mana.


Cangkir teh yang hendak Zahrana letakkan di meja dekat Yusuf pun tak sengaja Zahrana tumpahkan akibat tangannya yang terlihat gemetaran hingga menyebabkan minuman teh tersebut terpecik mengenai jubah putih Yusuf.


"Astagfirullah ... " Zahrana tersadar dari keteledorannya.


"Ma-af, ucap Zahrana gelagapan.


Spontan Zahrana dan Yusuf pun serentak membersihkan baju jubah Yusuf yang terkena percikan air teh ulah Zahrana. Seketika keduanya pun tidak sengaja saling bersentuhan.


Tubuh Yusuf terasa bergetar hebat ketika tidak sengaja bersentuhan dengan Zahrana. Seketika mereka berdua terdiam dan saling bertemu pandang.


Ini untuk kedua kalinya Yusuf tidak sengaja bersentuhan dengan Zahrana. Tempo hari ia menolong Zahrana yang nyaris terjungkal di anak tangga Padepokan Buya Harun. Sekarang hal tersebut terulang kembali oleh keteledoran Zahrana.


Yusuf dan Zahrana pun masih terus saling berpandangan, mereka berdua tidak menyadari akan kehadiran Buya Harun dan Bunda Fatimah sisi mereka.


Yusuf seolah-olah terhipnotis oleh pesona Zahrana begitupun sebaliknya.


"Zahrana betapa sempurnanya dirimu diciptakan, tidak ku sangka hati ku pun berlabuh pada mu dari sejak awal kita berjumpa. Pesona mu benar-benar pun memikat hatiku. Bola mata yang indah itu, sungguh menambah keanggunan mu! sungguh aku benar-benar terpesona oleh dirimu Tsamirah Zahrana Az Zahra," bisikan hati Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Ya Allah ... betapa sempurnanya dirimu diciptakan, kharisma mu yang begitu tampan dan mempesona sungguh terpancar indah dari kebeningan hati yang berbalut iman dan taqwa terhadap Pencipta mu. Sungguh apa gerangan makna lesu yang tersirat di hati dan pikiran ku. Aku baru menyadari jika dirimu sesempurna ini!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, semoga dirimu adalah sosok Bidadari yang akan menjadi makmum ku di masa depan nanti. Aku akan terus menyebut nama mu dalam untaian do'a-do'a ku hingga saat itu tiba dirimu pun halal bagi ku," bisikan hati Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Zahrana dan Yusuf pun masih terus saling memandangi, mereka saling terhipnotis oleh pesona masing-masing. Sekali ini Yusuf benar-benar terjerat oleh pesona Zahrana. Ia tidak menyadari akan keterpanaannya.


Bayangkan jika saat ini adegan antara Yusuf dan Zahrana kita sedang mendengarkan musik yang bertemakan Realigi.😊😊


Mohon maaf teman-teman ada saatnya Yusuf jatuh dalam kekhilafan oleh rasa yang sekian tahun ia pendam. Selama sekian tahun juga ia menundukkan pandangannya dari melihat Zahrana yang bukan mahramnya.


Namun, hari ini entah apa gerangan sebabnya ia pun tiba-tiba terhipnotis oleh pesona Zahrana. Yang memang semakin hari semakin terlihat anggun dan mempesona dari sekian miliar penghuni mayapada kala itu.😁😁


💚 Dari Sujud Ke Sujud💚


Bagaimana ku jelaskan cinta


Karena itu tak dapat dijabarkan


Sesuatu yang indah


Terlahir dari rasa


Dan rasa itu karunia Illahi


(Dari sujud ke sujud)


Bagaimana ku jelaskan cinta


Bila malu selalu melandaku


Semua rasa itu


Malu resah bahagia

__ADS_1


Takut dan cemburu pun karunia Illahi


Reff:


Dari sujud ke sujud


Sejuta doa kulebur untuk cinta


Dalam hati anak-anak manusia


Habluminnanas


Dari sujud ke sujud


Ku tasbihkan hanya untuk cinta


Subhanallah cinta kita terus bertasbih


Bagaimana ku jelaskan cinta


Karena itu tak dapat dijabarkan


Sesuatu yang indah


Terlahir dari rasa


Dan rasa itu karunia Illahi


Bagaimana ku jelaskan cinta


Bila malu selalu melandaku


Sem getua rasa itu


Malu resah bahagia


Takut dan cemburu pun karunia Illahi


Back to Reff


Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah


Dari sujud ke sujud


Senandung Realigi yang pernah dibawakan oleh Marshanda, Oki Septiana Dewi, Dude Harlino dan juga Andi Arsyil,tempo dulu, sya'ir tersebut Author kira cukup mewakili perasaan Yusuf pada Zahrana kala itu. Rasa yang bertabur oleh Cinta yang mendera hati seorang Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Perlahan Yusuf pun tersadar akan keterpanaannya terhadap Zahrana.


"Astagfirullah ... maafkan hamba atas segala kekhilafan ini! ampuni hamba sebab terhipnotis oleh pesona Bidadari kecil yang ada di hadapan ku saat ini."


Yusuf pun memalingkan wajahnya dari Zahrana.


"Ma-af," ucap Yusuf terbata. ia pun berusaha menetralkan perasaannya dan menormalkan detak jantungnya yang kini pun bertalu-talu oleh sebab rasanya yang begitu dalam terhadap sosok Tsamirah Zahrana Az Zahra.


"Ti-tidak, aku yang salah aku yang tidak hati-hati!" ucap Zahrana sembari membersihkan air teh yang telah membekas di jubah putih Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Maaf kak, nodanya membekas di jubah kakak."


"Tidak apa-apa Ra," ucap Yusuf seraya menundukkan pandangannya.


"Subhanallah ... Nak Yusuf, Zahrana!" pekik Buya Harun yang seolah-seolah kaget dengan apa yang telah di lihatnya.


"Nak Yusuf, maafkan atas keteledoran anak Buya!" ucap Buya Harun penuh kepanikan.


"Tidak apa-apa Buya, semuanya adalah bentuk ketidaksengajaan." Yusuf membela Zahrana. Membuat Buya Harun merasa tidak enak hati terhadap Yusuf Amri Nufail Syairazy. Sebab keteledoran Zahrana anaknya hingga semua hal ini terjadi, pikir Buya Harun.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Pencerahan 👉"Tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana. Tuhanku, tenggelamkan diriku kedalam lautan keikhlasan mencintaiMu. Hingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku selain berdzkir padaMu." ( Yusuf Amri Nufail Syairazy)


__ADS_2