Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
153 . Gara-gara Susu Ibu Hamil


__ADS_3

"Zain, izinkan aku pergi! Aku akan segera menikah dengan Arjuna," ucap Nandini yang masih terus memeluk erat Zainal.


Zainal melerai pelukannya, ia pun mengusap air mata Nandini yang telah menganak sungai.


"Nandini Sukma Dewi, dengarkan aku! Aku mencintaimu, disini di hati ku tertulis nama mu, dari semenjak awal kita duduk di bangku SMP, hingga detik ini rasa itu tidak pernah berubah. Hanya dirimu lah yang bertahta dihati ku."


"Meskipun kini kau bukan milikku, dan kau pun akan segera bersanding dengannya. Aku tak peduli, seribu tahun pun kau ku nanti. KU TUNGGU JANDA MU, NANDINI SUKMA DEWI!" ucap Zainal dengan bertekuk lutut dan menggenggam jemari tangan Nandini Sukma Dewi. Layaknya Pangeran yang sedang menyanjung Cinderella-nya.


Nandini terpana dengan perlakuan romantis Zainal terhadapnya. Namun, Nandini tidak bisa harus berkata apa. Kecuali menahan kepedihan di hatinya.


Nandini menyambut uluran tangan Zain dengan air mata yang berderai membasahi sudut matanya.


Zain segera bangkit dan mengusap air mata Nandini. "Jangan menangis! hapus air matamu. Aku tak sanggup melihat kesedihan di matamu," ucap Zainal dengan kembali mendekap Nandini.


"Zain, maafkan aku. Aku kerap kali menggoreskan luka di hatimu, maafkan aku dahulu tidak memilih mu untuk menjadi teman istimewa ku. Aku baru menyadari ternyata dirimu yang benar-benar tulus mencintai ku! semuanya sudah terlambat. Aku kini benar-benar telah kotor," ucap Nandini di selangi isak tangisnya.


Zainal menempelkan jari telunjuknya pada bibir Nandini Sukma Dewi, "jangan berucap apa-apa lagi, semua sudah menjadi kehendak sang maha Penggenggam kehidupan. Terimakasih atas semua waktu mu hari ini, aku bahagia sebab pernah menyentuh hatimu. Maafkan aku, sebab telah mendekap mu seperti ini. Aku tidak bisa untuk tidak menyentuh mu untuk hari ini, sebab aku tahu setelah ini aku tidak akan pernah bersama mu lagi!" pungkas Zainal dengan meneteskan air matanya yang dari sejak tadi ia tahan.


Zainal refleks mengecup kening Nandini Sukma Dewi. Sementara Nandini membiarkan perlakuan Zainal terhadapnya.


Nandini pun memeluk Zainal dengan erat. Ia baru menyadari jika ia pun sebenarnya mencintai Zainal Abidin. Namun, ia menyadari jika semua itu sudah terlambat. Mahkotanya pun telah terenggut oleh Arjuna Restu Pamungkas.


Nandini menangis sejadi-jadinya, merenungi nasibnya.


"Ya Allah ... kenapa takdir ini begitu mempermainkan ku," bathin Nandini Sukma Dewi dengan air mata yang semakin berderai-derai membasahi pipinya.


***


Di Puncak Mall.


"OMG ... banyak betul merk susu ibu hamil!" Barra mengecek kembali resep susu ibu hamil yang di tuliskan oleh Zainal Abidin.


Semulanya Barra ingin berbelanja di supermarket biasa. Namun, akhirnya ia lebih memilih Puncak Mall. Dimana di sana tersedia kebutuhan yang sangat lengkap dibandingkan super market biasa.


"Hemmmm ... ini dia susunya!" pekik Barra kegirangan. Ia pun mengambil 12 kotak susu ibu hamil yang di sarankan oleh Zainal.


"Segini saja cukup!" pikir Barra.


Barra tidak menyadari jika aksi kocaknya memborong 12 kotak susu ibu hamil membuat seorang gadis yang berpakaian modis dan berhijab ala Zaskia Adya Mecca tercengang melihatnya.


Gadis itu pun menghampiri Barra yang sedang kerepotan memendekap barang yang telah dibelinya di dadanya.


"Mas, pakai keranjang belanja ini. Sepertinya Mas kerepotan," ucap gadis itu.


Barra pun membalikkan badannya. Ia nampak terkesima dengan sosok gadis manis nan ayu disampingnya.


"Hai, apa kabar? terimakasih keranjangnya," ucap Barra sambil menaruh belanjaannya di keranjang. Tak lupa pula ia menampakkan senyuman khasnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... aku baik Mas. Mas sendiri apa kabar? wah ... Mas suami idaman para wanita? sudah tampan, baik lagi! jarang-jarang lho Mas ada suami yang mau membelikan kebutuhan untuk istrinya seperti ini. Ini susu ibu hamil kan?" tanya wanita tersebut membolakan matanya.


Barra hendak menjelaskan pada gadis ayu tersebut bahwa ia belum menikah. Dan susu ibu hamil itu bukan untuk istrinya seperti yang di ucapkan oleh wanita itu. Melainkan pesanan tuan mudanya yang akan diberikan khusus untuk wanitanya Nandini Sukma Dewi yang sedang berbadan dua.


"Ma-af!" ucap Barra dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir gadis manis tersebut.


"Kirana Larasati, dengarkan aku! Aku masih single dan susu ibu hamil ini pesanan Tuan Zain. Aku belum menikah!" kilah Barra Adi Sanjaya pada Kirana Larasati.


Iya, gadis manis dengan hijab modis yang dikenakannya itu adalah Kirana Larasati. Ia bersama Cinta dan Fadhillah sedang healing guna menghilangkan segala kepenatan di hati. Setelah lulus dari masa putih abu-abu, kini mereka menghabiskan waktu bersama, untuk sekedar menghibur diri setelah 3 tahun mengenyam bangku SMA.


Kirana nampak tertegun mendengar ucapan Barra. Ia merasa tidak enak hati, sebab Barra telah menyentuh bibirnya tanpa sengaja.


"Maafkan Kirana, Kak Rivandra Dinata Admaja. Aku tidak tahu jika pria dihadapan ku ini refleks menyentuh bibir ku dengan telunjuknya. Ini semua gara-gara Susu Ibu Hamil ini, bibir ku pun tersentuh oleh pria yang bukan mahram ku!" bathin Kirana dengan menundukkan pandangannya.


Dalam hati Kirana ia tidak ingin ada sosok laki-laki lain yang menyentuh hati dan pikirannya, juga semua yang ada dalam dirinya. Hanya akan ia berikan pada Rivandra Dinata Admaja.


Kirana akan terus menunggu Rivandra, sampai Rivandra kembali dari studinya di Universitas Agama Islam Negeri Jakarta.


Dan sekarang 4 tahun sudah Rivandra menetap di sana. Setelah Rivandra menempuh pendidikan di Pondok Pesantren, ia pun melanjutkan kuliahnya di Universitas Agama Islam Negeri Jakarta. Itu kabar terakhir yang Kirana dapatkan dari Virgantara Dinata Admaja, kakaknya Rivandra Dinata Admaja.


"Kirana Larasati!" pekik Cinta dan Fadhillah, dari arah belakang. Sehingga membuyarkan lamunan Kirana tentang Rivandra Dinata Admaja, sosok pemuda yang di kaguminya dari sejak pertama mengenyam bangku SMP.


Barra dan Kirana terhenyak dari keterpakuannya dengan kehadiran Fadhillah dan Cinta.


"OMG ... ada Mas Barra Adi Sanjaya juga!" pekik Fadhillah dengan melirik keranjang belanja Barra Adi Sanjaya.


"Mas Barra sudah punya istrikah? istri Mas sedang hamil, kah?" tanya Fadhillah tanpa filter.


Barra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"OMG ... gara-gara susu Ibu hamil pesanan tuan Zain, untuk Nona Nandini aku yang kena getahnya, di kira sudah beristri!" bathin Barra Adi Sanjaya.


"Kalau begini gagal misi ku mendekati Kirana Larasati, mereka mengira aku sudah beristri. Padahal sejatinya, jangankan Isteri, dekat dengan wanita pun belum pernah. Disaat aku mulai jatuh hati pada wanita, di saat itu pula aku di uji dengan hal seperti ini." Barra menggerutu di dalam hatinya.


"Kok diam, Mas?" tanya Fadhillah dengan berkacak pinggang.


"Jangan coba-coba memberikan harapan palsu dengan sahabat ku ya, Mas! Kirana masih polos belum pernah dekat dengan laki-laki manapun. Kau jangan memanfaatkan keadaan, pakai menyentuh bibir Kirana Larasati pula. Nanti dilihat orang lain bagaimana? jangan sampai sahabat ku yang baik ini di cap sebagai pelakor!" ucap Fadhillah yang mulai salah paham.


Sementara Kirana hanya tertunduk lesu. Dalam pikiran dan hatinya hanya ada Rivandra Dinata Admaja seorang tiada yang lain.


Setampan, sekeren atau sekaya apapun Barra Adi Sanjaya. Sedikit pun Kirana Larasati tidak tertarik. Walaupun sebenarnya, sejak pertemuan di Cafe satu bulan yang lalu Barra pun telah terpikat oleh pesona Kirana Larasati.


Kerap kali, Barra mengirimkan pesan berisi perhatian padanya. Walaupun bukan dalam bentuk pengungkapan rasa, tetap saja Kirana Larasati tidak terlalu merespon dan terkesan cuek pada Barra.


Dan pertemuan hari ini, tanpa di sengaja. Kirana tidak sampai hati melihat Barra kerepotan membawa barang-barangnya tanpa keranjang belanja. Sehingga Kirana berinisiatif untuk membantu Barra. Bukan sengaja ingin mencari perhatian atau yang semisalnya.


"Dillah, sudah! kau tidak baik mengecam seseorang sebelum mendengar sendiri kebenarannya. Mana tahu itu susu untuk saudaranya atau ibunya. Bukankah Mas Barra belum menikah? satu bulan yang lalu kita baru bertemu dengannya di Cafe XX, pas ultah Arjuna?" ucap Cinta Kiara Khoirani dengan membela Barra Adi Sanjaya yang nampak tegang dihadapan mereka.

__ADS_1


Fadhillah terdiam, ia berpikir sejenak. Kemudian melirik ke arah sahabatnya Kirana Larasati dan Cinta. Tak lupa pula ia melirik Barra Adi Sanjaya yang masih diam tak bergeming.


"Ya sudah, kita lanjutkan shopping lagi! terlepas susu ibu hamil itu punya isterinya atau pun punya siapa biar saja. Jika memang itu punya isterinya, aku harap Mas Barra jangan coba-coba mendekati Kirana dengan jalan yang tidak halal!" seloroh Fadhilah dengan mengamit kedua tangan sahabatnya Cinta dan Kirana agar menjauh dari Barra Adi Sanjaya.


"Tunggu!" pekik Barra Adi Sanjaya.


Kirana, Cinta dan Fadhillah pun menahan pergerakannya.


"Ada apa lagi Mas Barra Adi Sanjaya? fokuslah dengan urusan mu, jangan mengganggu kami lagi!" tegas Fadhillah dengan berkacak pinggang.


"Ma-af susu ini pesanan Tuan Zainal Abidin untuk wanitanya Nandini Sukma Dewi!" ucap Barra dengan ritme yang lugas.


"Whatttt?" Kirana, Cinta dan Fadhillah membolakan matanya ketika mendengar susu itu pesanan Zainal Abidin untuk wanitanya Nandini Sukma Dewi.


"Jangan mengada-ada Mas Barra Adi Sanjaya, Nandini Sukma Dewi akan segera menikah dengan Arjuna Restu Pamungkas. Kenapa pula Zainal yang harus membelikan susu ibu hamil untuk anak Nandini bukan Arjuna?" ucap Fadhillah tanpa filter.


"Dhillahhh?" pekik Cinta dan Kirana.


Cinta membekap mulut Fadhillah.


"Jika berucap itu baiknya di filter dulu, Neng! secara tidak langsung dirimu membuka aib sahabat kita Nandini Sukma Dewi dan juga Arjuna. Sebaiknya, kita keluar dari Mall ini. Kita bicarakan baik-baik, kau lihat semua mata memandang kearah kita oleh sebab ucapan mu yang tanpa filter," ucap Kirana Larasati dengan menarik tangan Fadhillah untuk segera keluar dari Mall.


"Mas Barra, sebaiknya Mas bayar dulu belanjaan Mas di meja kasir! kami akan menunggu Mas di luar," ucap Cinta Kiara Khoirani yang berusaha berpikir positif pada Barra.


Barra pun segera membayar belanjaannya di Kasir, semua mata customer yang berkunjung di puncak Mall tersebut tak henti-hentinya memandang ke arah Barra. Ada yang berbisik-bisik kecil, membicarakan tentang sosok Barra.


"Pemuda itu tampan sekali, namun sayangnya ia penjahat wanita. Sudah punya istri dirumah, sedang hamil lagi. Namun, masih sempat menggoda anak-anak remaja!" umpat customer Puncak Mall sambil memandang sinis ke arah Barra Adi Sanjaya.


"Astagfirullah ... semua ini gara-gara susu ibu hamil ini, sehingga semua orang mendadak salah paham pada ku!" bathin Barra Adi Sanjaya dengan tertunduk lesu.


Barra pun melenggang pergi dari Puncak Mall tersebut, setelah membayar belanjaannya. Ia tidak peduli dengan ocehan orang-orang tentangnya, sebab pada kenyataannya ia masih single dan perjaka. 😂😂


🌷🌷🌷


Untaian Mutiara Hikmah 👉 "Kawan, tidak perlu selalu cepat panas hati, karena boleh jadi, kita hanya keliru memahami, atau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kadang-kadang, persepsi adalah sebuah perangkap. Dan tafsir kita terhadap sesuatu sering keliru. Ada masa di mana semua yang kamu lakukan selalu salah dan pedihnya niat baik pun selalu terlihat jelek. Kita harus selalu belajar memaafkan, belajar menerima bahwa orang lain juga salah, bisa gagal dipercaya, sama seperti diri kita."


🌺


🌺


🌺


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya Author bestie, Kak. Ceritanya bagus dan tak kalah serunya, Kak.😊😘


Judul karyanya : Eternal Enemy


Authornya : Navizaa

__ADS_1



__ADS_2