Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
152 . Ku Tunggu Janda Mu ( Pov Zain Nandini )


__ADS_3

"Tuan, nanti tolong tebus obat ini dibagian farmasi!" titah Dokter Rufaidah.


"Siap Dokter!" ucap Zainal dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.


Zain menatap lekat nanar wajah Nandini, ia tidak tega meninggalkan Nandini seorang diri. Namun, ia harus segera menebus obat Nandini.


"kamu berbaring di sini dulu, ya? jangan kemana-mana!" ucap Zainal dengan mengelus pucuk kepala Nandini.


Nandini mengangguk dan mengiyakan ucapan Zainal.


Zain pun segera beranjak menuju ruang farmasi guna menebus obat Nandini. Tidak butuh waktu lama untuk Zainal menebus obat tersebut, ia dibantu oleh kakaknya Dokter Rufaidah Al-Aslamiyyah. Jadi, Zain tidak perlu menunggu antrian seperti yang lainnya.


"Terimakasih Kak, atas bantuannya."


"Iya, sama-sama Dek. Kamu jangan macam-macam! Nandini sudah berstatus istri orang, jangan berusaha dan nekad untuk menjadi 'PEBINOR', Nandini sudah punya suami."


Dokter Rufaidah mengingatkan Zainal adiknya. Padahal sebenarnya Nandini pun belum menikah dengan Arjuna Restu Pamungkas. Dokter Rufaidah tidak tahu jika Nandini hamil duluan.


"Baiklah, Kak. Percayalah pada ku, aku tidak akan macam-macam. Cukup satu macam saja, mencintainya didalam hati ku walaupun pada kenyataannya ia bukan milik ku," ucap Zainal dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku pergi dulu, Kak!"


Dokter Rufaidah menatap punggung adiknya yang kini telah berlalu dari hadapannya.


"Kasian sekali diri mu, Dek. Mengharapkan cinta yang tak sampai. Sungguh ... dirimu bagai pungguk merindukan rembulan," bathin Dokter Rufaidah. Ia pun segera masuk ke ruang kerjanya. Sebab, sudah banyak pasien yang antri yang terdiri dari Ibu-ibu hamil yang hendak kontrol kehamilannya.


***


Zainal setengah berlari menuju IGD, ia sangat khawatir sebab telah meninggalkan Nandini sendirian.


Walaupun hanya dua menit, bagi Zainal terasa dua tahun lamanya tidak melihat Nandini Sukma Dewi.


Melihat Nandini berbaring santai dengan memainkan ponselnya, itu sudah membuat Zainal merasa lega.


"Alhamdulillah, menebus obatnya sudah selesai. Mari kita pergi dari sini, gadis metal!" ucap Zainal dengan mengingatkan kembali masa-masa putih-biru berapa tahun yang lalu. Ia kerap kali memanggil Nandini dengan sebutan gadis metal.


Nandini pun kembali mengingat panggilannya terhadap Zainal, "kau Si Kutu Buku!" ucap Nandini dengan senyuman manisnya.


Tanpa aba-aba, Zainal pun segera membopong Nandini untuk turun dari brankarnya. Ia pun kembali mengangkat tubuh Nandini ala bridal style.


Untuk saat ini Nandini hanya rawat jalan, setelah pun ia kontrol kehamilannya. Zainal yang tidak ingin Nandini kesulitan. Ia pun refleks membopong Nandini Sukma Dewi. Ia tidak ingin melihat Nandini di dera sakit sedikit pun setelah berbadan dua.


Nandini terdiam, ia nampak terkesima dengan perlakuan Zainal terhadapnya.


"Ya Allah ... kenapa perasaan ku menjadi begini? ada apa dengan ku? kenapa jantung hatiku terasa berdebar-debar seperti ini ketika berada di dekat mu, Zain!" bisikan hati Nandini Sukma Dewi.


Sementara Zainal masih terus membopong Nandini tanpa sedikitpun berniat untuk membiarkan Nandini jalan sendirian. Meskipun ia masih tidak habis pikir kenapa Nandini bisa melakukan hubungan suami istri diluar janji suci pernikahan, Zainal tetap menganggap Nandini Ratu di hatinya dan tidak akan pernah tergantikan dari sejak dahulu hingga detik ini.


Seburuk dan sekelam apa pun masa lalu Nandini perasaan Zainal terhadap Nandini Sukma Dewi tidak pernah berubah sedikitpun. Justru perasaan tersebut semakin bertumbuh dihatinya.


"Nandini Sukma Dewi, mengapa beratnya untuk merelakan mu bersama dengan yang lain. Sungguh, aku tak rela kau dimiliki oleh laki-laki lain. Apalagi laki-laki tersebut telah merenggut kesucian mu."


"Aku yakin yang melakukan ini adalah Arjuna Restu Pamungkas, aku akan memberikan perhitungan terhadapnya. Berani-beraninya ia menyentuh mu sebelum kau halal baginya. Ia benar-benar telah merusak masa depan mu dan kesucian diri mu!" bathin Zainal dengan wajah yang mulai merah padam.


"Zain, turunkan aku! kau lihat orang-orang disini melihat kebersamaan kita. Kondisi ku sudah lebih baik. Aku bisa jalan sendiri," ucap Nandini dengan tubuh yang gemetaran.


"Aku tidak peduli, jika seluruh dunia melihat ku bersamamu. Aku mencintaimu Nandini Sukma Dewi! sangat mencintai mu, dari sejak kita masih sekolah hingga detik ini rasa itu tak kan pernah berubah, walaupun dimakan oleh waktu dan perstiwa, kau tetap wanita yang special dihatiku!" ucap Zainal spontan. Tanpa sadar, ia telah mengungkapkan perasaannya terhadap Nandini Sukma Dewi setelah pun 4 tahun terakhir ini ia memendam perasaannya.


Dan hari ini semua perasaan itu terungkap sudah, meskipun semuanya sudah terlambat sebab setelah ini entah kapan mereka dapat bersua kembali, sebab tidak lama lagi sang pujaan hati akan segera menikah dan duduk di pelaminan bersama rivalnya Arjuna Restu Pamungkas.


"OMG ... so sweet sekali!" ucap orang-orang yang berlalu lalang dirumah sakit, mereka nampak terkesima melihat kemesraan Zainal terhadap Nandini Sukma Dewi.

__ADS_1


"Zain, aku mohon turunkan aku!" Nandini hendak melepaskan diri dari dekapan Zainal Abidin. Ia merasa tidak nyaman dilihat oleh orang-orang di sekitarnya.


"Tetaplah begini Nandini Sukma Dewi! izinkan aku bersama mu untuk hari ini saja!" ucap Zainal dengan mata yang semakin berkaca-kaca.


Mendengar penuturan dan pengungkapan rasa Zainal Abidin terhadapnya membuat Nandini kehabisan kata-kata. Ia tidak menyangka perasaan Zainal begitu mendalam terhadapnya.


Nandini bungkam, ia pun menuruti keinginan Zainal. Nandini merasakan keanehan yang menjalar di sekujur tubuhnya, ia nampak gemetaran ketika berdekatan dan saling bersitatap dengan Zainal.


Nandini semakin erat mengalungkan tangannya di leher Zainal, sementara Zainal tidak sedikitpun ingin melepaskan Nandini dari dekapannya. Ia benar-benar membopong Nandini seperti seorang suami yang menggendong isterinya dimalam pengantin.


Zainal berjalan menuju mobilnya, yang terparkir di tempat khusus parkiran mobil.


Barra Adi Sanjaya, selaku Asisten pribadinya pun dengan sigap membukakan pintu mobil untuk menyambut kedatangan tuannya bersama Nandini Sukma Dewi yang diduganya adalah cinta mati untuk tuan mudanya.


Zainal masuk kedalam mobil, ia membaringkan Nandini dalam pangkuannya. Ia benar-benar tidak melepaskan Nandini Sukma Dewi begitu saja.


Bagi Zainal Nandini sangat berarti untuknya, ia tidak ingin melihat Nandini terluka dan sakit-sakitan seperti yang Nandini alami saat ini.


Menurut teori yang Zainal pelajari dari buku-buku yang membahas tentang pola kesehatan ibu hamil, ia sangat memahami bagaimana cara memanjakan ibu hamil. Di rumahnya, Zainal kerapkali masuk ke ruang kerja kakaknya Rufaidah Al-Aslamiyyah, untuk sekedar membaca buku tentang ilmu kedokteran dan sejenisnya. Salah satunya, kiat-kiat untuk menjaga kesehatan ibu hamil agar tetap nyaman dan tenang ketika sedang hamil.


Dan Zainal mencoba memberikan perhatian lebih pada Nandini Sukma Dewi. Meskipun ia menyadari jika Nandini bukan miliknya. Namun, akan menjadi milik rivalnya seutuhnya. Namun, Zainal tetap berusaha memperhatikan Nandini dengan baik. Walaupun ini adalah untuk yang terakhir kalinya, sebelum Nandini menikah dengan Arjuna.


"Mas Barra, jalankan mobilnya menuju Cafe XX!" titah Zainal dengan gaya elegannya.


"Zain, biarkan aku duduk sendiri. Jangan begini!" Nandini semakin merasa tidak nyaman, jantung hatinya benar-benar tidak karuan dengan perlakuan manis Zainal terhadapnya.


"Maafkan aku Kak Juna, aku tidak mengerti kenapa perasaan ku jadi gamang seperti ini? Aku tidak tahu kenapa Zain tiba-tiba hadir di hadapan ku. Dan aku pun tidak bisa menolak kehadirannya!" bathin Nandini Sukma Dewi, yang mulai dilema dengan perasaannya sendiri.


Barra pun melajukan mobilnya, menuju Cafe XX milik keluarganya.


***


πŸ’Flash back onπŸ’


"Pantas saja, ia tidak menunggu ku. Dan nekad pergi ke Rumah Sakit sendirian, ternyata ia punya janji dengan Si Kutu Buku itu!"


"Awas saja, jika kau sudah sah menjadi istri ku. Aku akan membuat mu tidak bisa berjalan," gerutu Arjuna.


Arjuna cemburu melihat Zainal menggendong calon istrinya ala bridal. Ia ingin segera menyusul Zainal yang telah berani-beraninya membawa calon istrinya entah kemana.


Namun, Arjuna kehilangan jejak Nandini Sukma Dewi yang di bawa oleh Zainal. Sebab, mobil Arjuna tiba-tiba bermasalah. Dan ternyata ban mobilnya kempes, hingga mengharuskannya mencari bengkel mobil.


"Apes memang apes, dasar mobil tidak paham adat! pakai kempes segala," sungut Arjuna.


"Awas saja kau Si Kutu Buku, jika bertemu dengan mu. Aku akan memberikan perhitungan pada mu, Nandini itu milikku bukan milikmu!" gerutu Arjuna sembari mengepalkan tinjunya.


"Namun, setidaknya aku beruntung sebab mahkota paling berharga dari Nandini Sukma Dewi telah pun ku reguk ketika malam itu!" bathin Arjuna dengan membayangkan adegan satu malamnya bersama Nandini Sukma Dewi satu bulan yang lalu.


"Kau hanya akan menjadi milikku seutuhnya Nandini Sukma Dewi! dirahim mu pun telah tertanam benih ku!" bathin Arjuna dengan seringai liciknya.


Arjuna merasa bangga, sebab ia yakin Zainal tidak akan berani berbuat macam-macam dengan Nandini. Sebab, Nandini kini sedang mengandung benihnya. Maka tidak ada kesempatan lagi untuk Zainal merebut Nandini darinya.


πŸ’πŸ’ Flash back offπŸ’πŸ’


***


Di Cafe XX.


Zainal dengan hati-hati memapah Nandini turun dari mobilnya. Mereka pun masuk ke Cafe XX dengan di ikuti oleh Barra Adi Sanjaya.


"Tutup Cafe sementara! titahkan seluruh karyawan untuk kembali bekerja nanti malam. Hari ini aku ingin menghabiskan waktu ku bersama wanita ku," ucap Zainal pada Barra Adi Sanjaya.

__ADS_1


Hari ini Zainal hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Nandini Sukma Dewi. Ia ingin mendengarkan penuturan Nandini, mengapa Nandini sampai melakukan hal-hal di luar batasnya sehingga menyebabkan ia hamil.


Semua waitress dan waiters pun segera beranjak dari Cafe XX. Hanya tinggal Zainal Abidin, Nandini dan Barra Adi Sanjaya yang berada di dalamnya. Juga Satpam yang menunggu gerbang Cafe XX.


"Tuan Barra Adi Sanjaya, tolong belikan susu khusus ibu hamil. Nandini tidak boleh minum sembarangan," titah Zainal dengan menuliskan resep susu khusus ibu hamil.


"OMG ... repotnya, aku yang harus membelikan susu khusus ibu hamil. Padahal aku sendiri masih single," gerutu Barra sembari menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.


Barra pun segera beranjak pergi menuruti titah tuan mudanya.


"Dasar bucin parah!" gerutu Barra lagi.


"Tunggu dulu! Kenapa aku harus membelikan susu ibu hamil? apa Non Nandini hamil? Tapi sejak kapan mereka berduaan seperti itu? Apa benar Nandini hamil anaknya Tuan Zain? lalu bagaimana dengan Tuan Arjuna Restu Pamungkas, yang dulu sempat menyewa Cafe XX ini di acara ulang tahunnya, bukankah Non Nandini adalah wanita untuk Tuan Arjuna?" bathin Barra bertanya-tanya didalam hatinya.


"Masa bodoh, itu urusan mereka. Dari pada aku berburuk sangka lebih baik aku mencari super market terdekat, aku harus mencari susu khusus ibu hamil sebagai mana yang di titahkan oleh Tuan Muda Zain."


Barra pun melenggang pergi dengan mobil mewahnya.


Kini tinggallah Nandini dan Zainal yang saling duduk berhadapan di meja khusus Cafe XX.


Seketika keduanya pun terdiam sesaat. Hingga akhirnya, Zainal pun membuka suaranya.


"Katakan pada ku Nandini Sukma Dewi, apa Arjuna yang melakukan semua ini terhadap mu?" tanya Zainal dengan menatap lekat nanar wajah Nandini.


Nandini tertunduk malu, lehernya terasa tercekat. Ia tidak tahu hendak berkata apa, peristiwa satu malam bersama Arjuna Restu Pamungkas satu bulan yang lalu telah pun merobek kesuciannya. Benih itu pun kini tertanam di rahimnya.


Nandini menangis sesenggukan, air matanya berderai menggenangi wajah cantiknya. Ia benar-benar menyesal dengan apa yang ia perbuat bersama Arjuna kekasihnya.


Kini, Nandini baru menyadari jika pemuda yang kini berada di hadapannya adalah pemuda yang tulus mencintainya hingga detik ini.


Nandini menceritakan semua dari awal hingga akhir peristiwa satu malamnya bersama Arjuna satu bulan yang lalu. Dan Zainal ingat betul pada saat itu Arjuna sedang marah besar lantaran cemburu pada interaksi antara Zainal dan Nandini yang tidak sengaja bertemu di Cafe XX. Hingga berujung Arjuna membawa pergi Nandini ke perumahan elite di kawasan XX. Rumah pribadi milik Arjuna, disanalah Arjuna dan Nandini bergelut dalam satu selimut.


"Kurang ajar! jadi, di saat malam itu Arjuna membawa mu ke rumah pribadi miliknya? hingga semua teman-teman menunggu kalian di sini sampai larut malam. Sedangkan kalian berdua asyik bergelut dalam satu selimut!" pekik Zainal berusaha meredam emosinya.


"Aku sudah kotor dan ternoda Zain, aku pergi dari sini. Kau pun sudah tahu kebenarannya, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Terimakasih, kau sudah menolong ku di rumah sakit tadi!" ucap Nandini. Ia segera bangkit dari kursinya. Nandini hendak pergi dari Cafe milik Zainal.


Namun, Zain menahan pergerakannya.


"Tunggu!" Zainal menarik Nandini ke dalam pelukannya.


Mendapat perlakuan manis dari Zainal seketika membuat tubuh Nandini membeku. Ia justru merasa betah berada dalam dada bidang Zainal.


Cukup lama Zainal mendekap Nandini dalam pelukannya. Dunia seakan miliknya. Ia tidak rela melepaskan kepergian Nandini Sukma Dewi dalam hidupnya.


"Zain, izinkan aku pergi! Aku akan segera menikah dengan Arjuna," ucap Nandini yang masih terus memeluk erat Zainal.


Zainal melerai pelukannya, ia pun mengusap air mata Nandini yang telah menganak sungai.


"Nandini Sukma Dewi, dengarkan aku! Aku mencintaimu, disini di hati ku tertulis nama mu, dari semenjak awal kita duduk di bangku SMP, hingga detik ini rasa itu tidak pernah berubah. Hanya dirimu lah yang bertahta dihati ku."


"Meskipun kini kau bukan milikku, dan kau pun akan segera bersanding dengannya. Aku tak peduli, seribu tahun pun kau ku nanti. KU TUNGGU JANDA MU, NANDINI SUKMA DEWI!" ucap Zainal dengan bertekuk lutut dan menggenggam jemari tangan Nandini Sukma Dewi. Layaknya Pangeran yang sedang menyanjung Cinderella-nya.


🌷🌷🌷


...Untaian Mutiara Hikmah πŸ‘‰ "Cinta itu sesuatu yang sangat indah. Walau kadang harus berurai air mata. Karena cinta tak selalu harus memiliki." ( Bisikan_H@ti )...


🌺🌺🌺


Sambil menunggu episode selanjutnya, mari mampir ke karya Author bestie! Yang tak kalah menarik dan serunya😊😘


Judul karyanya : Anyelir

__ADS_1


Authornya : Hilmiath



__ADS_2