Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
24 .Kepo Berbalut Cemas


__ADS_3

Selang berapa menit kemudian Zahrana sudah keluar dari bilik kamarnya, hendak menyerahkan uang pelet ayam yang tertunda pada Aslan Abdurrahman Syatir.


"Kak Aslan, ini uang pelet ayam yang tadi. Maaf ... Ana lupa menyerahkannya pas di Toko tadi," tutur Zahrana tertunduk malu. Malu mengingat kejadian intim yang pernah terjadi antara dia dengan Aslan Abdurrahman Syatir.


"Iya An, tidak apa-apa."


"Bolehkah kakak minum tehnya serta hidangannya? tanya Aslan menghentikan kecanggungannya. Menahan gejolak rasa yang kian menggelora, berusaha mengalihkan pandangannya, pada sepiring Singkong rebus.


"Iya kak, silahkan!" angguk Zahrana.


Buya Harun tertegun melihat interaksi anaknya dengan Aslan."Mungkin Zahrana malu," cicit Buya Harun dalam hati.


Padahal di luar pengetahuan Buya Harun, kedua anak manusia didepannya sedang di mabuk asmara tingkat tinggi, terutama Aslan Abdurrahman Syatir sudah berada dalam tingkatan ' Bucin Akut '.


"Mari, Nak Aslan. Silahkan di minum dan dicicipi Singkongnya! jangan sungkan," tutur Buya Harun ramah.


"Iya Buya, terimakasih ... singkongnya enak dan empuk," ujar Aslan sembari menikmati singkong rebus tersebut.


"Iya, itu singkong memang sangat enak dan empuk, apalagi yang merebusnya kak Zahrana," celutuk Raihan sembari melirik kakaknya. Ia sengaja ingin menggoda kakaknya dan Aslan yang sejak tadi kelihatan sangat tegang.


"Bisa saja kamu dek, dimana-mana rasa singkong ya sama saja dek, tidak ada bedanya." Zahrana berusaha menetralkan isi hatinya yang sedang gamang.


Aslan hanya tersenyum simpul, sekilas melihat ekspresi wajah Zahrana yang mulai merona, ada getar rasa menyelubungi hatinya jika terus menatap sang pujaan hati.


Sementara dari arah dapur nampak lah Bunda Fatimah dengan langkah gontai hendak berjalan menuju ruang tamu, siapakah gerangan yang bertandang ke rumah?" cicit Bunda Fatimah dalam hati.


"Nak Aslan?" sapa Bunda Fatimah ramah berbalut rasa, mengundang tanya tidak biasanya pemuda tersebut bertandang ke rumahnya.


"Iya Bu," jawab Aslan sopan.

__ADS_1


Aslan segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian menyalami dan mencium punggung tangan Bunda Fatimah, seperti menghormati orang tuanya sendiri.


"Apa kabar Nak Aslan dan keluarga?" tanya Bunda Fatimah basa-basi.


Padahal sebenarnya di dalam hati mengundang seribu tanda tanya, "ada apa gerangan Aslan sampai bertandang ke rumahnya? hendak melamar Zahrana tidak mungkin. Zahra masih kecil, tapi pakaian Nak Aslan kelihatan sangat Agamis sekali," cicit Bunda Fatimah dalam hati.


"Alhamdulillah ... kami semua baik Bu," jawab Aslan.


"Alhamdulillah ... Ibu turut senang mendengar nya."


"Maaf, Nak Aslan. Sebelumnya jika pertanyaan Ibu yang mungkin terlalu tabu. Ada apa gerangan Nak Aslan sehingga bertandang ke rumah? kelihatannya sangat urgent sekali, tidak seperti biasanya?" tanya Bunda Fatimah.


Bunda Fatimah menatap instens ke arah Aslan. Kemudian beralih menatap Zahrana anaknya. Naluri seorang Ibu merasakan hal yang berbeda pada puterinya dan Aslan, darI ekspresi dan cara pandang mereka. Sebab Bunda Fatimah sudah sedari tadi melihat gelagat Puterinya dengan Aslan, ada sesuatu yang tak biasa yang di rasakan oleh puterinya dan juga pemuda bernama Aslan.


Belum sempat Aslan menjawab pertanyaan Bunda Fatimah. Buya Harun langsung mengambil alih pembicaraan, sebab melihat Aslan seperti gelagapan dengan pertanyaan yang menjurus padanya.


"Ayah yang mengajak Aslan bertandang ke rumah Bun, tadi Ayah dan Raihan kebetulan bertemu Aslan diMesjid."


"Oh ... jadi begitu ceritanya, maaf Nak Aslan Ibu sampai berpikir yang tidak-tidak. Ibu khawatir Zahrana melakukan hal yang tidak wajar, Zahra masih sangat belia, masih banyak hal yang belum dia mengerti dan pahami."


"Zahrana belum boleh terlalu dekat dengan lawan jenisnya, Zahrana masih perlu banyak belajar lagi di usianya yang masih sangat rentan," tutur Bunda Fatimah dengan wajah cemasnya.


Melihat ekspresi Bunda Fatimah yang terlalu berlebihan menyikapi. Buya Harun seketika melebarkan senyumnya.


"Ya Allah Bunda ... Nak Aslan bertandang ke rumah kita itu tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar silahturahmi biasa, jangan di tanggapi berlebihan," tutur Buya Harun dengan wajah cerah dan senyum semeringahnya, merasa tergelitik melihat kekalutan isterinya.


"Bagaimana Bunda tidak cemas Yah, secara penampilan Nak Aslan sangat Agamis sekali, lebih menunjukkan sikap seorang pemuda ingin melamar tambatan hatinya," cerocos Bunda Fatimah begitu saja tanpa memikirkan sekelilingnya yang sontak kaget dengan penuturannya tentang menyebutkan kata ' MELAMAR '.


Aslan yang sedang menikmati singkong rebus, nyaris tersedak mendengar penuturan Bunda Fatimah terhadapnya, menyukai Zahrana memang benar adanya, namun untuk melamar Zahrana semua itu masih di luar ekspektasi nya, mengingat usia mereka yang belum wajar untuk menerima itu semua.

__ADS_1


Zahrana refleks memberikan teh pada Aslan dengan perasaan khawatirnya, tidak menyadari jika pandangan semua tertuju pada nya.


"Kak Aslan, di minum tehnya, Kak! kakak tidak apa-apa?" tanya Zahrana dengan nada cemas.


Zahrana ingin mengusap punggung Aslan lantaran khawatir karena Aslan tiba-tiba tersedak, namun ia mengurungkan niatnya, melihat semua mata memandang tertuju kepadanya, terutama Bunda Fatimah.


Bunda Fatimah semakin bertambah kepo nya, "ya Allah benar kah puteri ku menyukai Nak Aslan? kenapa Zahrana begitu cemas sekali?" bathin Bunda Fatimah mulai tidak tenang, khawatir puterinya terlalu cepat menaruh rasa terhadap lawan jenisnya.


Melihat ketegangan di wajah Bunda Fatimah, Buya Harun dengan sigap mencair kan suasana, dengan seuntai senyuman cerah di wajahnya.


"Maa syaa Allah Bunda, jangan berpikiran terlalu jauh, tidak mungkin nak Aslan hendak melamar puteri kita. Zahrana masih sangat belia, sedangkan Aslan sudah sangat dewasa, tidak mungkin Nak Aslan menyukai Puteri kita, kecuali hanya mengganggap seorang adik, begitu juga sebaliknya, mereka sangat layak di panggil Adik-kakak."


"Betul kan,nak Aslan?" tanya Buya Harun.


Aslan hanya mengangguk pelan dengan pertanyaan Buya Harun, dalam hati tak bisa berdusta karena ia memang benar mengagumi sosok Zahrana, namun untuk melamar ia belum memiliki kesiapan untuk itu.


"Bunda harap apa yang Buya utarakan benar adanya, karena Bunda belum mengizinkan Zahrana dekat dengan lelaki mana pun, di usianya yang masih sangat belia."


"Bunda harap Zahrana fokus untuk belajar!" tegas Bunda Fatimah namun hati tetap merasa kepo, tidak puas jika nantinya dugaannya benar adanya.


Zahrana terdiam mendengar penuturan Bundanya. Ia tidak berani menjawab dan memandang ke arah Bundanya, Karena apa yang diucapkan oleh Bundanya benar adanya jika dia menyukai Aslan. Namun tentang lamaran Zahrana sama seperti halnya Aslan. Ia belum siap untuk itu.


Raihan yang dari sejak tadi menjadi pendengar setia, atas kekhawatiran Bundanya yang berlebihan, akhirnya ikut membuka suaranya.


"Ya Allah ... Bunda, tidak mungkin kak Aslan begitu cepat mau melamar kak Zahrana, perbandingan usia mereka kan masih sangat signifikan sekali. Raihan rasa itu sangat mustahil Bunda, kalau rasa kagum baru sangat wajar," tutur Raihan dengan polosnya. Membuat Bunda Fatimah semakin kepo berbalut cemas, ketika Raihan menyebutkan jika rasa kagum itu baru sangat wajar.


Nalurinya sebagai seorang Ibu, tidak rela puteri kesayangannya secepat itu memiliki rasa kagum terhadap lawan jenisnya, mengingat pesona Puterinya yang sudah terlihat di usianya yang masih sangat belia. Sebagai laki-laki dewasa sudah sangat normal jika Aslan terpikat dengan Puterinya.


Bunda Fatimah tidak ingin, jika Zahrana diusia mudanya, gugur sebelum berkembang, seperti kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra menikah diusia muda setelah mengenyam bangku SMP, yang memang pada saat itu perekonomian keluarga mereka belum stabil, jadi sangat wajar jika Bunda Fatimah sangat cemas dengan masa depan Zahrana. Ia ingin masa depan puterinya lebih cerah dari kakak-kakaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik.

__ADS_1


Kehadiran sosok pemuda bernama Aslan disisi puterinya benar-benar mengundang kepo berbalut cemas dihatinya.


__ADS_2