
Hampir dua minggu sudah, Yati berada di Singapura. Dengan demikian, dia bisa setiap hari bersama dengan ibunya, di rumah sakit jiwa. Menemani berbincang-bincang, bermain dan berbicara apa saja, yang bisa dikatakan oleh Yati, untuk bisa membuat ibunya itu mau diajak bicara dan berkomunikasi dengannya.
Apalagi sekarang ini, Yati juga sudah mengontrak sebuah kamar sederhana, yang ada di daerah sekitar rumah sakit tersebut.
Dengan begitu, Yati juga tidak perlu jauh-jauh dari hotel, jika ingin datang menemani ibunya. Dia juga tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar, untuk menyewa kamar hotel.
Dia harus bisa menghemat biaya pengeluarannya, selama berada di negara ini, karena dia juga tidak tahu, sampai kapan ibunya itu bisa membaik, dan bisa diajak untuk perjalanan jauh mereka nanti, untuk pulang ke Indonesia.
Dari pengamatan yang dilakukan oleh Yati, pada perkembangan ibunya, selama dia ada bersama dengan ibunya itu, Yati merasa ada perubahan yang besar, yang membawa dampak positif pada ibunya.
Sekarang, saat Yati datang, ibunya akan tersenyum, meskipun tidak menyapa atau sekedar mengatakan sesuatu.
Kemarin, setelah berada di ruang perawatan hampir seminggu lamanya, dan akan dikembalikan ke ruangan yang sebelumnya, Yati menolak.
Yati meminta kepada pihak rumah sakit tersebut, untuk memindahkan ibunya di sebuah kamar, yang ada jendelanya.
Ini akan memudahkan sirkulasi udara, yang masuk ke dalam kamar ibunya. Dan selain untuk bisa mendapatkan udara yang baik, ibunya itu juga bisa melihat-lihat sekeliling luar gedung rumah sakit ini, melalui jendela yang terbuka.
Dengan demikian, Yati berharap agar ibunya itu merasa lebih baik dan juga nyaman. Tidak sama seperti seorang tahanan, yang tidak bisa melihat bagaimana keindahan di luar kamarnya.
Saat Yati meminta kepada pihak humas rumah sakit, untuk pindah kamar, sesuai yang dia inginkan, sempat di tolak juga oleh dokter yang selama ini menanggani ibunya.
Dokter tersebut mengatakan alasannya, kenapa dia tidak setuju dengan pendapat Yati.
Itu semua dikarenakan tidak adanya kestabilan pada ibunya Yati. Emosi dan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh ibunya, masih belum bisa dipastikan sebagai orang yang sudah kembali normal, sama seperti sedia kala
Apalagi ditakutkan juga oleh pihak dokter, yang merasa khawatir dengan keselamatan ibunya Yati.
"Kami tidak bisa menjamin bahwa, ibu Anda akan baik-baik saja, dan juga menerima keadaan kamarnya yang pindah dari tempat biasanya.
"Tapi Dok, bisa jadi, ibu Saya itu akan membaik, jika berada di dalam kamar yang baik juga."
Yati membantah perkataan yang diucapkan oleh dokter.
__ADS_1
Dan akhirnya, dokter berpikir bahwa, apa yang dikatakan oleh Yati ada benarnya juga. Pihak rumah sakit akhirnya menyetujui permintaan dari Yati, untuk memindahkan ibunya dari kamar perawatan, ke kamar lain. Bukan kamarnya, yang kemarin, di mana ibunya sempat melakukan usaha untuk bunuh diri.
Yati bernafas lega, karena sudah membuat dokter dan pihak rumah sakit menyetujui permintaannya. Dia hanya ingin membuat ibunya merasa lebih nyaman, dan tidak ingat lagi dengan kamar yang kemarin itu.
Yati merasa takut jika, ibunya akan berusaha untuk bunuh diri lagi, jika berada di kamar yang sama seperti yang kemarin.
Setelah itu, pihak rumah sakit memerintahkan pada para perawat-perawat yang berjaga, untuk mengajak ibunya Yati pindah ke kamar, yang diinginkan oleh anaknya, Yati.
Kamar yang tidak terlalu besar, tapi lebih nyaman menurut Yati, di banding dengan kamar besar yang kemarin. Karena di kamar besar itu, tidak ada fentilasi yang bagus untuk sirkulasi udara. Hanya alat sirkulasi udara, yang kecil di lubang yang kecil juga
"Bu. Ibu harus bisa bersikap lebih baik ya, besok kita bisa pulang ke Indonesia. Ibu mau kan, pulang dengan Yati ke Indonesia?"
Dengan mengengam tangan ibunya, Yati berusaha untuk berkomunikasi dengan ibunya. Menjelaskan dengan perkataan yang mudah untuk menjelaskan maksudnya.
Ibunya itu hanya melihat ke arah Yati, tanpa menjawab perkataannya. Dia hanya memperhatikan bagaimana Yati mengucapkan semua kalimatnya.
Setelah Yati diam untuk beberapa lama, tiba-tiba ibunya Yati bertanya sesuatu. Dan itu adalah pertanyaan yang sama, yang pernah dia ajukan pada Yati, saat pertama kalinya ibu itu bertemu dengan anaknya. Yaitu Yati, yang saat ini ada di hadapannya.
"Aku anakmu Bu. Aku Yati. Anak yang dulu Ibu lahirkan. Ibu ingat? Dulu kita dipisahkan oleh tuan besar. Tapi, sekarang tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita berdua."
Ibunya Yati terbelalak kaget, mendengar kata Tuan Besar, diucapkan oleh Yati.
"Tu_tuan Bes_besar? Tidak. Mana anakku?"
Yati gugup, saat ibunya teringat dengan anaknya yang masih bayi, yang pada saat itu diambil oleh Tuan Besar-nya, alias sang Kakek.
Yati berusaha untuk menenangkan ibunya. Tapi ternyata tidak berhasil. Ibunya mengamuk, mencari keberadaan bayinya.
Padahal Yati sudah berusaha untuk menjelaskan bahwa, bayinya itu sudah besar sekarang ini. "Aku bayi kecil yang dulu Bu. Sekarang sudah besar," kata Yati, yang berusaha menerangkan, dengan menunjuk dirinya sendiri.
Tapi ibunya itu menggeleng. Dia tidak mau mendengarkan perkataan Yati. Dia tidak terima, jika bayinya sudah tidak ada. Dan sekarang, justru ada bayi besar yang mengaku-ngaku sebagai bayinya yang dulu.
Tapi Yati tidak bisa berhasil dalam usahanya. Akhirnya dia menekan tombol pasien, yang ada di tembok, dekat dengan saklar lampu.
__ADS_1
Tot!
Tot!
Tot!
Alarm untuk kamar pasien, di mana ibunya Yati ditempatkan berbunyi. Itu ditandai dengan lampu merah, yang ada di atas pintu bagian luar. Ini memudahkan pihak perawat untuk mengetahui, kamar mana yang membutuhkan perhatian.
Tak lama kemudian, perawat datang, namun tidak bersama dengan dokter. Hanya ada dua perawat saja, laki-laki dan perempuan.
Mereka, dua perawat tadi, berusaha untuk menenangkan ibunya Yati. Salah satu dari mereka, menyuntiknya dengan obat penenang. Hingga akhirnya, ibunya Yati lebih tenang dalam beberapa detik. Dan tak lama setelah itu, dia tampak memejamkan mata. Ibunya Yati tertidur, dalam pengaruh obat penenang tadi.
"Miss Kiara. Miss bisa beristirahat dan pulang. Biarkan dia beristirahat dan mengistirahatkan pikirannya juga. Jangan membuat dirinya berpikir lebih keras, dengan mengingatkan dirinya dengan banyak hal. Terutama pada kejadian, yang telah membuat dirinya depresi seperti sekarang ini."
Yati tertegun, mendengar nasehat dari perawat yang laki-laki.
Sekarang dia paham, bahwa mengingatkan pada ibunya itu tentang bayi dan juga dirinya, membuat ibunya seakan-akan kembali ke masa lalu. Dan itu akan membuat pikiran ibunya kembali pada masa, di mana dirinya sedang banyak pikiran dan tekanan dari Tuan Besar-nya. Yaitu sang Kakek.
"Baiklah. Terima kasih sudah diingatkan. Saya pamit untuk pulang terlebih dahulu. Tolong jaga ibu Saya."
Dua perawat mengangguk mengiyakan permintaan dari Yati.
Tak lama kemudian, Yati keluar dari dalam kamar, setelah mencium kening ibunya, yang saat ini sedang dalam keadaan tertidur.
Yati juga butuh istirahat, agar tidak ikut tertekan dengan keadaan yang sedang dia alami saat ini.
Namun saat perjalanan pulang ke kamar sewanya, dia bertemu dengan seseorang, yang dalam beberapa hari terakhir dia hindari.
"Dari mana dia tahu Aku ada di sini?" tanya Yati dengan bergumam seorang diri.
Dari kejauhan, tampak seseorang itu berjalan dengan pelan-pelan, ke arah dirinya berdiri.
Dan Yati tidak mungkin bisa menghindar dari seseorang itu. Karena keberadaan dirinya, sudah dilihat oleh orang itu juga.
__ADS_1