
Dalam kebingungannya, pengawal tersebut melihat seseorang yang sedang berjalan sendiri, tapi masih dalam jarak yang jauh dari tempatnya berada.
Dia tampak tersenyum, meskipun tidak merasa yakin, jika orang tersebut akan melewati jalan yang sama, seperti jalan tempatnya sekarang ini.
Tapi karena dia tidak mempunyai pilihan yang lain, akhirnya dia meletakkan keranjang bayi itu di tepi jalan, dekat dengan semak-semak yang rimbun.
Pengawal itu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia tidak mau jika, perbuatannya itu diketahui oleh orang lain. Dia tidak ingin mendapatkan masalah, dengan membuang bayi tersebut di jalanan kampung yang sepi.
Setelah selesai, pengawal itu segera bersembunyi dibalik pohon-pohon yang banyak di sekitarnya. Tapi karena tidak yakin jika aman, akhirnya pengawal tadi memanjat pohon, supaya lebih mudah memantau keadaan sekeliling.
Sayangnya, beberapa menit kemudian, orang yang dia harapkan untuk bisa melewati jalan dan akan menemukan bayi itu tidak tampak lagi. Entah berbelok ke mana tadi orangnya.
Tapi, di saat dia hampir saja turun dari pohon yang tadi dia panjat, suara bayi menangis membuatnya terkejut. Bayi yang dia letakkan di pinggir jalan tadi menangis dengan kencang sekali.
Dan suara tangisan bayi itu, juga memancing seseorang, yang sedang berada tidak jauh dari tempat itu untuk segera mencari sumber suara.
Ternyata, orang tadi menuruni sungai kecil, yang ada di pinggir sawah, tak jauh dari bayi tadi berada.
"Eh, ada bayi? bayi sopo yo iki?"
Pengawal mendengar orang tadi bertanya-tanya sendiri dalam kebingungannya. Orang itu tampak mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang mungkin bisa dia tanyai atau mencari-cari keberadaan anaknya yang hilang.
Uwek... uwek... uwek...
Bayi itu terus menangis. Untungnya, ada dot, semacam empeng bayi, yang ada di keranjang, kotak bayi. Dot, atau punting tiruan yang biasa di gunakan untuk membuat bayi terdiam saat menangis, karena mengira jika dia sedang di susui akhirnya membuat bayi tersebut diam dan tidak lagi menangis.
__ADS_1
"Kamu anakke sopo Nduk? kenopo ada di jalan sepi ini sendiri?" tanya orang itu lagi pada bayi, yang sudah berada dalam gendongannya.
"Apa ada orang di sekitar sini? siapa saja, boleh jawab. Anaknya siapa ini?"
Pertanyaan demi pertanyaan diucapkan oleh orang yang sedang kebingungan, dengan adanya bayi yang dia temukan di jalan persawahan dan kebun, di pinggir kampungnya.
"Ya Allah. Apa ini anak Kamu kirim untukku? Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Jika memang dia Kamu kirim untukku, Aku akan merawatnya dengan baik, dan menganggap dirinya sebagai cucuku sendiri. Putuku, ayu men ya!"
Akhirnya, orang tadi berkata-kata sendiri, pada bayi yang sudah kembali tertidur dengan pulas, di dalam gendongannya. Dia juga berharap jika, bayi ini memang benar diberikan oleh Tuhan untuknya.
"Siapapun Kamu, dan siapapun orang tuamu, sekarang Kamu adalah cucuku, yang akan menemani hari-hari tuaku nanti. Namun jika ada orang yang mencarimu, Aku tidak akan memisahkan kalian. Tapi orang itu harus tahu, apa ciri-ciri yang bisa dia sebutkan, untuk membuktikan bahwa Kamu memang anaknya."
Akhirnya, orang itu membuat keputusan, untuk membawa bayi tersebut pulang ke rumah. Dia menyakinkan diri sendiri, dengan kembali mengedarkan pandangannya, untuk melihat keadaan dan situasi, jika memang hanya ada dirinya dan bayi itu di tempatnya berada sekarang ini.
Dengan tersenyum senang, orang itu membawa bayi tersebut, bersama dengan keranjangnya.
Orang itu bertanya, berpikir dan menjawab sendiri, karena bayi yang dia gendong, tidak mungkin bisa menjawab dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri untuk saat ini.
Dan dengan bernafas lega, pengawal turun dari atas pohon, karena melihat jika bayi itu sudah ada di tangan orang kampung, yang sepertinya baik.
Apalagi, tadi dia juga berkata seperti itu, yang didengar oleh pengawal. Itu membuat pengawal merasa yakin jika, bayi tersebut aman bersama dengannya. Meskipun nantinya, bayi itu akan menderita, karena tidak jelas siapa kedua orang tuanya, dan kondisi kehidupan orang yang menemukan juga, terlihat seperti orang yang susah.
Sekarang, dia kembali lagi ke jalan besar, dimana tadi dirinya memarkirkan mobilnya. Tapi sepertinya, area perkebunan yang dia lewati ini masih jauh, untuk bisa mencapai ke jalan raya.
"Ini melelahkan. Dan pastinya, Aku baru akan sampai nanti, jika hari sudah gelap. Sepertinya Aku harus cepat berjalan, untuk mengindari gelap. Aku tidak mau jika masih ada di kebun ini saat malam tiba." Pengawal itu bergumam seorang diri.
__ADS_1
Saat dia ingin menghubungi Tuan Besar-nya, ternyata handphone miliknya tidak ada sinyalnya sama sekali.
"Ah, susah sinyal juga di kampung ini." gerutu pengawal, sambil mengepalkan tangannya karena kesal sendiri.
"Nanti saja, kalau udah sampai di jalan raya, atau setidaknya sampai sinyal kembali ada dan stabil. Jika tidak stabil, bisa-bisa tidak terdengar oleh Tuan Besar, dengan semua laporan yang akan Aku sampaikan. Dan itu bisa menimbulkan kesalahpahaman nantinya."
Pengawal itu kembali berjalan, dan tidak menghiraukan sekitarnya. Dia hanya ingin bisa cepat sampai di jalan raya, dan kembali lagi ke kota.
Setelah melewati semua rintangan yang sama seperti tadi, saat dia membawa bayi, ke daerah perkampungan, yang tidak tampak dari arah luar, akhirnya sampai juga di tempat tadi. Tempat di mana dia memarkirkan mobilnya, yang tentunya terlihat mencolok, di tepi jalan pedesaan yang sepi.
"Huh! untung mobil juga tidak kenapa-kenapa," ucap pengawal itu, setelah melihat keadaan dan kondisi mobil, yang masih sama seperti saat dia meninggalkannya tadi.
Tak lama kemudian, dia masuk dan menghidupkan mesin mobil.
"Semoga tidak jauh dari sini, ada sinyal yang bagus, jadi Aku bisa melaporkan semua tugas yang sudah Aku laksanakan ini." pengawal kembali bergumam seorang diri.
*****
Sambil berjalan menuju ke arah rumahnya, yang ada di perkampungan, tak jauh dari area persawahan tadi, orang tadi, yang menemukan bayi, bertanya-tanya lagi, siapa nama bayi itu.
"Lah Aku nyeluk sopo yo? Aku gak weruh jenenge. Ah, Aku kasih jeneng Yati wae, seng umum dan gampang diingat."
Akhirnya, orang itu memberikan nama Yati, untuk bayi yang tadi dia temukan, dan saat ini berada di dalam keranjang yang dia gendong.
Dia bertekad untuk menjaga dan merawat bayi tersebut, sama sekali cucunya sendiri. Karena dia memang hidup seorang diri, tanpa adanya anak dan cucu, yang bisa dia ajak berbagi dalam segala hal.
__ADS_1
Orang itu merasa bahagia dan bersyukur, karena mendapat rejeki yang tidak pernah dia sangka-sangka. Dia akan mengaku pada orang-orang kampung yang bertanya, jika anak ini adalah anak keponakannya, yang melahirkan tapi meninggal dunia. Dan karena tidak ada yang merawat, akhirnya dia yang meminta, agar anak itu dia bawa pulang ke rumah, untuk dia rawat sendiri, karena merasa kasihan jika harus diserahkan ke panti asuhan.