Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Simalakama


__ADS_3

Yati sudah berada di dalam mobil, tapi belum menghidupkan mesinnya. Dia menghubungi sang Kakek, untuk melakukan kesepakatan bersama dengannya.


Tut!


Tut!


Tut!


..."Ya Kiara, ada apa?"...


Sang Kakek menerima panggilan telpon darinya, dan langsung bertanya juga, apa yang terjadi setelah kepulangannya ke rumah cucunya, Mr Ginting.


..."Kiara pergi dari rumah, asalkan Kakek memulangkan Ibu."...


..."Kenapa?"...


..."Jika tidak, Kiara akan mengatakan semua kebenaran tentang Kakek, yang tidak diketahui oleh Mr Ginting selama ini."...


..."Hahaha... Kamu mengancam Kakek Kiara?"...


..."Tidak, jika itu memang kebenaran yang ada."...


..."Tapi, Kamu tidak punya bukti apa-apa Kiara? apa yang mau Kamu tunjukkan ke Ginting?"...


..."Kenapa? Kakek menantang Kiara?"...


Sang Kakek terdiam sejenak, mendengar perkataan Yati yang terkesan serius, jika dia memiliki sesuatu, yang bisa membuat Mr Ginting percaya kepada-nya.


..."Maksud Kamu apa Kiara?"...


..."Kakek dengan keinginan Kakek. Kiara dengan kemauan Kiara juga. Bagaimana?"...


Yati tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang dia miliki, untuk bukti bahwa dia tidak bersalah.


..."Baiklah. Kita akan ke Singapura untuk menjemput ibumu, dua hari lagi."...


..."Baik Kek."...


Klik!


Yati menutup panggilan teleponnya, setelah mendengar persetujuan dari sang Kakek. Sekarang, dia menghidupkan mesin mobilnya, kemudian melajukan mobilnya itu, menuju ke arah keluar. Dia meyakinkan diri bahwa, dia akan pergi dari kehidupan Mr Ginting, untuk selamanya. Demi ibu kandungnya.


Dari atas balkon kamar, Mr Ginting memperhatikan bagaimana Yati keluar, dan berada di dalam mobilnya dengan waktu yang cukup lama. Entah apa yang sedang dia lakukan.Tapi yang pasti, Mr Ginting melihat Yati sedang menghubungi seseorang.


Setelah beberapa menit kemudian, Yati baru menghidupkan mesin mobilnya, setelah selesai melakukan panggilan telepon tersebut. Entah siapa yang baru saja di hubungi oleh Yati.


Mr Ginting menghela nafas panjang, dengan memejamkan matanya supaya tidak melihat kepergian mobil miss Yeti-nya. Dia tahu, ada sebagian dari hatinya yang ikut kosong, dengan kepergian wanita-nya itu.

__ADS_1


"Maafkan keegoisan diriku sendiri. Aku hanya tidak mau berbagi milikku dengan orang lain, apalagi dengan kakekku sendiri. Tidak akan pernah!" kata Mr Ginting seorang diri, setelah mobil Yati tidak terlihat lagi oleh matanya.


Sekarang, Mr Ginting menghubungi Mr Akihiko, untuk memberitahukan pembatalan pernikahan kontrak mereka berdua. Sayangnya, Mr Akihiko sedang tidak berada di Indonesia, karena sedang liburan ke luar negeri.


Tapi Mr Akihiko berjanji akan mengurus masalah ini, setelah pulang ke Indonesia, satu minggu kemudian.


Mr Ginting membuang nafas panjang. Dia kembali ke dalam kamar, kemudian berbaring di tempat tidur. Di mana biasanya dia dan Yati, tidur bersama setiap malam.


Sekarang, tempat tidur itu terasa dingin. Tidak ada lagi senyum dan tawa Yati, yang biasanya bisa membuatnya bergairah. Hanya dengan memeluk bantal, yang biasanya digunakan untuk tidur Yati, Mr Ginting menghirup aroma tubuh istrinya, yang masih tertinggal di bantal tersebut.


Kembali dia memejamkan mata. Mencoba untuk melupakan semua hal tentang istrinya, yang sekarang ini sudah pergi meninggalkan rumah dan juga dirinya.


Meskipun sebenarnya sulit untuk dilakukan oleh Mr Ginting, tapi dia tidak mau terus menerus berada di dalam bayang-bayang sang mantan istri kontraknya itu.


Dia juga berniat untuk pergi dari Indonesia, jika urusannya dengan Mr Akihiko selesai. Dia tidak peduli dengan semuanya, apalagi dengan sang Kakek, yang sudah membuat dirinya kecewa.


Padahal, akhir-akhir ini, hubungan antara dirinya dengan sang Kakek membaik. Dan itu juga karena Yati, yang membuatnya tidak lagi sedingin dulu, jika bertemu dengan sang Kakek.


"Kakek tua itu, harus diberikan pelajaran, agar bisa berpikir dan bertindak sebagai seorang kakek yang baik."


Begitulah kata Mr Ginting, yang berniat untuk pergi dan menjauhkan diri dari kehidupan sang Kakek.


*****


Yati tiba di kost saat hari sudah sore. Dia tidak langsung keluar dari dalam mobilnya, tapi menyandarkan kepalanya terlebih dahulu, sambil memejamkan mata.


Dengan mengambil nafas panjang, dia bergumam seorang diri. "Bu. Tunggulah Aku, dan kita akan berkumpul bersama."


Drettt


Drettt


Drettt


Handphone milik Yati bergetar di dalam tasnya. Dengan perlahan-lahan, Yati mengambilnya, dan melihat siapa yang menghubungi dirinya saat ini.


Ternyata, itu adalah Mr Akihiko. Atasannya di rumah makan Jepang.


..."Hello Mr Akihiko."...


..."Miss Yeti. Apa masalah kau dan Mr Ginting?"...


..."Maksud Mr, apakah Mr Ginting sudah menghubungi Anda Mr?"...


..."Ya. Dia menghubungi Aku, tapi Aku tidak ada di Indonesia. Aku sedang ada di luar negeri. Seminggu kemudian, Aku baru bisa ada di Indonesia. Kenapa, apa yang terjadi?"...


..."Panjang Mr. Yeti tidak bisa cerita melalui telpon. Dan mungkin tidak bisa bercerita juga. Jadi maaf Mr."...

__ADS_1


..."Oh ayolah miss Yeti! Apa yang Kamu lakukan, hingga dia marah dan memutuskan hubungan ini?"...


..."Maaf. Biar Mr Ginting sendiri yang memberikan alasan dan penjelasan besok, saat kita bertiga ketemu."...


..."Ah, ada-ada saja Kamu. Baiklah kalau begitu. Kamu tidak boleh ke mana-mana, jadi tetap diam di sana ya!"...


..."Ya Mr."...


Klik!


Panggilan telpon terputus. Yati tersenyum kecut mendengar suara Mr Akihiko tadi. Dia harus bersiap-siap untuk mendapat amarahnya Mr Akihiko, karena bisa jadi, dia akan mendapatkan rugi, dengan laporan yang dibuat oleh Mr Ginting tadi.


Dan itu bisa dipastikan jika, Yati juga akan menanggung beban kerugian yang dialami oleh Mr Akihiko.


Tapi seandainya Mr Ginting tidak menuntut apa-apa tentang perpisahan dan putusnya hubungan pernikahan ini, dia tidak akan merugi, tapi juga tidak mendapat apa-apa.


Yati tidak mempermasalahkan soal itu. Dia sudah cukup bersyukur, karena dengan menikahi Mr Ginting, cucu dari sang Kakek, ternyata ada sesuatu yang bisa dia temukan. Yaitu, dia menemukan keberadaan ibu kandungnya sendiri, yang selama ini tidak pernah dia kenal.


Meskipun semua tidak berjalan dengan baik, tapi setidaknya, Yati sudah merasa cukup lega, setelah tahu, jika dia masih memiliki seorang ibu. Dan dia tidak dibuang oleh kedua orang tuanya, tapi karena kelahiran dirinya, yang memberikan banyak masalah, untuk kedua orang tuanya juga.


Yati tidak menyalahkan masa lalu kedua orang tuanya. Dia juga tidak menyalahkan jalan takdir yang berliku-liku, dan tidak sama seperti kebanyakan orang. Semua sudah diatur oleh Tuhan, dan Yati hanya bisa menerimanya, meskipun tidak semudah yang dia bayangkan juga.


Drettt


Drettt


Drettt


Handphone milik Yati kembali bergetar. Pada saat dia melihat ke arah layar handphone, ternyata itu dari kampung. Telpon dari mbok Minah.


..."Ya Mbok, ada apa?"...


Yati langsung bertanya pada mbok Minah, dengan apa yang terjadi di rumah. Karena sangat jarang, mbok Minah menghubungi dirinya terlebih dahulu.


Biasanya, dialah yang menghubungi mbok Minah terlebih dahulu, jika ada sesuatu hal.


..."Yoga Nduk, Kang Yoga?" ...


..."Kang Yoga kenapa?" ...


Mbok Minah tidak bisa mengatakan dengan jelas, apa yang terjadi pada Kang Yoga. Dia terbata-bata, dan itu membuat Yati merasa bingung sendiri.


Akhirnya, telpon beralih ke orang lain. Dan itu adalah suaranya pak RT.


..."Halo Yati? Ini Pak RT Yat. Ini, mbok Minah, mau ngabarin awakmu, jika Kang Yoga sudah meninggal. Dia baru saja mau di bawa ke rumah sakit, tapi di jalan sudah tidak bernafas."...


..."Innalilahi... hari ini Pak RT?" ...

__ADS_1


..."Iya, nembe kie mau Yat. Iso muleh ora awakmu?" ...


Sekarang, Yati bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Pulang ke kampung, untuk menghormati dan takziah kang Yoga, atau dua hari lagi ke Singapura, untuk menjemput ibunya. Ibu kandungnya sendiri.


__ADS_2