Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tidak Peduli


__ADS_3

"Aku ingin kita mempertimbangkan untuk mengakhiri pernikahan ini, memberi kita ruang untuk mengejar apa yang benar-benar kita inginkan dan butuhkan dalam hidup ini."


Alisa akhirnya mengekspresikan keputusasaan, meminta pendapat dari sang suami.


"Kau serius?" tanya sang suami terkejut.


"Ya, aku merasa ini adalah pilihan terbaik untuk kita berdua. Kita bisa menemukan kebahagiaan dalam hidup masing-masing."


Alisa menjawab dengan mengangguk mantap, seakan-akan tidak tahu melepas semuanya.


Sang suami melemparkan pandangan tajam, mencari kebohongan dari mata sang istri.


"Kau tahu konsekuensinya, kan?" tanyanya kemudian.


Alisa tersenyum tipis, berbicara dengan wajah datar. Setelahnya, ia pergi tanpa memberikan jawaban.


Sang suami menghela nafas panjang, berusaha untuk meredam emosi yang tiba-tiba datang. Padahal, kata-kata inilah uang ia tunggu-tunggu sejak lama.


Bahkan diawal pernikahan mereka!


***


"Bagaimana koleksimu yang terbaru? Aku mendengar banyak ulasan bagus."


Wanita cantik nan modis tersenyum tanpa rasa senang, seperti tanpa gairah


"Ya, tampaknya demikian. Aku telah mempekerjakan tim yang baik."


Akhirnya wanita itu memberikan jawaban juga, meskipun sebenarnya ia juga tahu bahwa temannya yang saat ini bertanya tahu betul apa yang dilakukannya akhir-akhir ini.

__ADS_1


Temannya itu memiringkan kepala, mencari tahu kebenaran dari raut wajah wanita tersebut.


"Apakah kau merasa puas dengan semua ini?"


Wanita itu menghela nafas.


"Apa artinya puas dalam konteks ini? Kamu tahu mengapa kita berada di sini, kan? Itu karena aku tidak berarti di rumah!"


Alisa menatap ke luar jendela, membiarkan temannya berpikir sendiri tentang jawabannya.


"Ya, tentu saja. Ini hanya perjanjian bisnis yang aneh."


Kalian tentu tahu, apa yang dimaksud dengan "perjanjian bisnis" yang diucapkan temannya Alisa.


Selain kesepakatan perjodohan yang dilakukan oleh sang kakek dari pihak suami dan papa Alisa, ada perjanjian yang disepakati oleh Alisa sendiri bersama sang suami, saat mereka baru saja memulai hubungan aneh ini.


'Dan jangan lupakan, ini juga tentang kepentingan keluarga.'


"Ya, kepentingan keluarga."


Akhirnya, kalimat itu ia ingat dan keluar dari mulutnya, membuat temannya tadi mulai memahami permasalahan yang dihadapi oleh wanita itu.


Tak lama, atensi keduanya teralihkan oleh dering ponsel milik temannya.


"Sorry, aku terima telepon dulu."


Wanita itu hanya mendengus dingin, membiarkan temannya berlalu untuk menerima panggilan telpon yang baru saja masuk.


Dengan santainya, Wanita itu memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh.

__ADS_1


Sayangnya, sudut matanya menangkap sosok seorang yang tadi mereka bicarakan. Yaitu sosok sang suami, yang katanya sedang berada di luar negeri.


"Apa itu ..."


Belum sempat kalimat tanya selesai diucapkan, temannya datang membuyarkan lamunannya.


"Hai, aku harus segera kembali. Kamu, tidak apa-apa seandainya aku tinggal? atau, kamu mau aku antar terlebih dahulu?" tanya temannya pamit, sekalian memberikan penawaran.


"Tidak. Aku kisah naik taksi, jadi kamu tidak perlu repot-repot."


"Hahaha ... ya ya ya. Aku tahu, kamu hanya malas pulang atau pergi ke kantor. Tapi ingat, sebaiknya kamu mencari hiburan sehingga kamu melupakan masalahmu."


Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, temanya tadi pergi setelah mengambil tas yang ada di tempat duduk yang tadi.


"Aku harus datang menemuinya. Mencari kebenaran apa yang sedang ditutupi."


Beberapa saat berlalu, mereka duduk dalam keheningan yang tegang. Tidak ada satupun yang memulai pembicaraan.


Wanita itu datang mendekati tempat duduk sang suami, yang kebetulan saat itu sedang sendiri bersama sekretarisnya. Tapi setelah wanita itu datang, sang sekretaris pamit kembali ke kantor.


"Aku akan bepergian minggu depan untuk pekerjaan. Aku akan kembali setelah selesai."


Dengan nada datar, wanita itu menyampaikan maksudnya. Pamit pada sang suami, karena harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan urusan pekerjaannya sebagai model dan perancang busana.


"Baiklah."


Sang suami menjawab tanpa ekspresi, datar seakan-akan tidak pernah peduli dengan apapun yang terjadi pada istrinya itu!


Alisa berdiri dan mengambil tasnya.

__ADS_1


"Aku akan mengurus semuanya sebaik mungkin."


"Ya, lakukan apa yang harus kau lakukan." Jawaban sang suami, seolah-olah tidak peduli.


__ADS_2