Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Rasa Sesal


__ADS_3

Sang Kakek sedang tidak enak badan. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan kesehatannya sendiri. Sejak mendapatkan kabar dari Singapura, bahwa wanita-nya itu telah tiada, dengan cara yang tragis.


"Kenapa Aku merasa jika, hidupku tak akan lama lagi," gumam sang Kakek, di ruang kerjanya, yang ada di rumahnya sendiri.


Sudah beberapa hari ini, dia tidak pergi ke kantor. Handphone miliknya juga dia non aktifkan. Sedangkan semua kegiatan dan urusan perusahaan, dia serahkan pada cucunya, Surya Jaya. Karena cucu yang satunya lagi, Mr Ginting, sedang mengurusi bisnisnya sendiri, untuk ada di beberapa negara Eropa sana.


"Untung saja, Aku sudah selesai dengan urusan semua wasiat anakku. ( orang tuanya Mr Ginting ) Aku bisa benar-benar merasa lebih tenang, jika harus pergi dari dunia ini nanti."


Sang Kakek bermonolog sendiri, tanpa ada seorang pun yang menemani dirinya.


Tok tok tok!


"Tuan Besar. Ada Tuan Muda Surya Jaya datang."


Dari balik pintu ruangan kerja Sang Kakek yang tertutup, terdengar suara pengawalnya yang melaporkan kedatangan Surya jaya.


"Ya," sahut sang Kakek, memberikan isyarat pada pengawalnya itu, agar memberikan ijin pada cucunya, Surya Jaya, untuk masuk ke dalam ruangannya.


Pengawal tersebut harus patuh dan meminta ijin terlebih dahulu, karena sudah diberi pesan oleh Tuan Besar-nya itu, supaya tidak ada orang yang masuk ke dalam ruangannya. Jadi, dia harus bertanya lagi, karena yang datang kali ini adalah Tuan Muda-nya sendiri, yang merupakan cucu dari sang Tuan Besar-nya itu.


Clek!


Pintu ruangan Sang Kakek terbuka. Dari luar, muncul Surya Jaya, yang sedang mengengam handphone miliknya sendiri.


"Sore Kakek," sapa Surya Jaya, dengan cara yang formal.


"Ada kabar apa, yang membawamu ke sini?" tanya sang Kakek, tanpa menjawab sapaan dari cucunya tadi.


"Hahaha... apa harus ada alasan untuk Surya datang ke sini? Ke rumah kakeknya sendiri?" Surya Jaya, justru bertanya balik, dengan nada bercanda. Tapi sebenarnya itu adalah sindiran yang dia berikan pada sang Kakek, yang memperlakukan cucunya sendiri sama seperti orang lain.


Sekarang, Surya Jaya sadar, bahwa kakak sepupunya, Mr Ginting, ada benarnya juga dengan sikapnya selama ini, saat berhadapan dengan sang Kakek.


Padahal, sang Kakek adalah wali dan pengasuh Mr Ginting sendiri, sedari kecil. Sejak kepergian kedua orang tuanya Mr Ginting waktu dulu.

__ADS_1


"Hemmm... apa Aku terlalu menekan cucuku sendiri selama ini?"


Surya Jaya menyipitkan matanya, saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh sang Kakek. Padahal sebenarnya, sang Kakek tidak perlu repot-repot bertanya dan meminta pad Surya Jaya untuk menjawabnya.


"Kakek pasti lebih tahu tentang jawaban yang tepat, dibanding dengan Surya sendiri."


Sang Kakek memandang ke arah Surya Jaya dengan atensi penuh. Dia ingin tahu jawaban dari sorot mata yang tidak mungkin bisa berbohong.


Hembusan nafas panjang, terdengar dari arah sang Kakek. Dia tahu, jika cucunya ini, yang masih bisa bersikap ramah dan sopan, juga sudah tahu kebenaran tentang dirinya, yang sebenarnya bukanlah seorang Kakek yang bisa bersikap hangat dan menjadi panutan bagi cucunya sendiri.


Meskipun sebenarnya orang-orang mengelu-elukan keberhasilan dan kesuksesan sang Kakek selama hidupnya, tapi semua itu tidak ada artinya, di mata cucu-cucunya sendiri.


"Kakek tidak akan lama ada di sini Surya. Maafkan Kakek_mu ini, yang terlalu egois dan memaksakan kehendak dirinya, pada orang-orang disekitarnya, terutama pada cucu-cucunya sendiri."


Kata-kata sang Kakek, terjeda, saat dia menghela nafas panjang.


"Asal Kamu tahu Surya, Kakek melakukan semua ini hanya untuk kepentingan kalian, sebagai penerus Kakek. Tidak mudah hidup di luar sana, dengan semua kekerasan yang harus kita hadapi, jika kita tidak memiliki apa-apa, untuk bisa menjadi tameng, agar kita bisa lebih baik. Hidup ini keras Surya. Dan banyak sekali orang-orang, yang ingin berada dalam posisimu, ataupun posisi Ginting, sebagai cucunya Kakek."


Surya Jaya hanya mendengar semua perkataan dari sang Kakek. Dia tidak menyahuti, ataupun menyangkal kalau semua yang dikatakan sang Kakek ada benarnya juga.


"Apa kami, maksudnya Aku dan mas Ginting, harus berterima kasih, atau merasa sangat bahagia gitu, karena sudah menjadi cucu dari kakek? apa kami juga harus membuat pengumuman, untuk semua itu?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Surya Jaya pada. sang Kakek, membuatnya menjadi sadar, jika anak-anak muda sekarang ini, tidak perlu di dikte atau di didik terlalu keras.


Tanpa banyak bicara, karena dengan banyak berbicara, orang tua justru tidak ada wibawanya. Mereka akan dianggap cerewet. Hal yang sangat tidak disukai oleh semua orang, terutama anak-anak pada jaman sekarang.


Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan Surya Jaya, yang dianggap tidak ada gunanya oleh Surya Jaya sendiri, akhirnya dengan terpaksa, dia berpamitan dengan sang Kakek.


Tapi sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan sang Kakek, Surya Jaya mengatakan sesuatu, sambil memegang gagang pintu. "Jika Kakek ingin mas Ginting kembali, ubahlah cara pandang dan sikap Kakek, yang selama ini dipertahankan dan diagungkan oleh Kakek sendiri. Surya Jaya, mendukung penuh, dengan apa yang dilakukan oleh mas Ginting."


Setelah mengatakan semua itu, dia juga berdoa untuk kesehatan sang sang Kakek.


"Semoga Kakek selalu dalam keadaan sehat, dan bisa melihat sendiri, bagaimana perubahan yang terjadi pada sikapnya mas Ginting. Karena semua itu juga tergantung dari sikap Kakek kepadanya."

__ADS_1


Sang Kakek memejamkan mata, di tempatnya duduk, tanpa menoleh ke arah Surya Jaya, yang akan pergi meninggalkan dirinya di ruangan tersebut.


Sang Kakek sadar, bahwa dia memang tidak pantas di sebut sebagai seorang Kakek, yang bisa menjadi panutan bagi cucu-cucunya sendiri, apalagi untuk orang lain.


Semua yang tampak pada dirinya di luar sana, hanya citra yang dia lakukan, untuk menutupi semua kebobrokan moral dan juga kelakuannya selama ini.


*****


"Miss Yeti!"


Yati menoleh cepat, saat ada suara yang memanggil namanya.


"Mr Akihiko," sahut Yati, kemudian berdiri dari tempat duduknya.


Mr Akihiko memeluk Yati dengan perasaan yang sedih. Begitu juga dengan Yati sendiri.


Walau bagaimanapun, Mr Akihiko adalah induk semang, yang tahu bagaimana perasaan anak buahnya, saat ada kejadian seperti yang dialami oleh Yati kemarin-kemarin.


"Maaf ya miss Yeti. Saya tidak bisa terbang ke Singapura, saat ibu Kamu tiada kemarin."


Yati hanya mengangguk saja kemudian tersenyum tipis, untuk menyembunyikan perasaan hatinya yang kembali bersedih. Apalagi sekarang ini, dia juga ada di depan ruangan ICU. Jadi, Yati merasa sama seperti kemarin, saat dia sedang menemui ibunya untuk terakhir kalinya.


Sekarang, mereka berdua duduk menunggu miss Marisa. Sedangkan supir Mr Akihiko, di minta untuk mencarikan makanan untuk mereka makan, karena tadi Mr Akihiko, tidak sempat mampir, untuk sekedar mencari makanan yang bisa dia bawa.


"Tidak perlu Mr. Saya tidak lapar." Yati menolak, saat di tanya Mr Akihiko, mau makan apa.


"Hai, Kamu menuggu orang sakit, itu harus tetap berhati-hati dan menjaga kesehatan juga. Jangan sampai, saat orang yang Kamu tunggui sembuh, gantian Kamu yang sakit."


Yati paham dengan apa yang dikatakan oleh Mr Akihiko saat ini. Karena memang di rumah sakit, tidak ada selera untuk makan apapun.


Tapi harus ada tekad pada diri sendiri, supaya tidak terlambat makan dan menjaga kesehatan sendiri.


Karena jika tidak ada keinginan untuk terus sehat dan melawan malas, kita sendiri yang nantinya akan jatuh sakit.

__ADS_1


"Jadi, Kamu mau makan apa? biar supir yang cari untuk kita."


__ADS_2