Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Masa Lalu 1


__ADS_3

Rumah kecil yang biasa sepi dan jauh dari hiruk pikuk keramaian, sekarang jadi berbeda. Dari dalam kamar, terdengar teriakan dan bunyi barang-barang yang pecah. Bentakan dan makian, juga terdengar dari arah kamar itu.


Untungnya, kamar tersebut di fasilitasi dengan peredam suara, sehingga tidak begitu jelas terdengar dari luar rumah. Hanya orang-orang yang berada di dalam rumah saja, yang bisa mendengar suara dan apa saja yang terjadi di kamar tersebut.


Hal yang tidak pernah disangka oleh siapapun, untuk mereka yang tidak mengenal secara baik, siapa sebenarnya sang Kakek di masa lalunya.


"Kamu pikir Aku begitu bodoh, sehingga masih membiarkan Kamu hidup sampai saat ini, dengan pengeluaran yang tidak sedikit setiap bulannya? Dasar tidak tahu di untung!" Sang Kakek, memaki-maki orang, yang saat ini sedang meringkuk ketakutan di pojok kamar.


"Katakan sekarang juga! di mana Kamu sembunyikan barang itu?" bentak sang Kakek lagi, dengan suaranya yang keras.


"Tidak tahu. Tidak tahu. Pergi-pergi, jangan bawa anakku! Huhuhu..."


Orang itu hanya bisa menjawab 'tidak tahu' dengan suara gemetar, karena ketakutan. Dia juga menyuruh sang Kakek, untuk pergi dari hadapannya.


Orang itu juga menangis, dalam keadaan ketakutan, dan masih berada di pojok kamar.


Sang Kakek menghela nafas panjang. Dia sudah terlalu lama menunggu semua ini. Kesabarannya sudah hampir habis. Tapi dua juga tidak mau, jika harus menghilangkan nyawa seseorang yang pernah dia sayangi. Yaitu orang yang saat ini, ada dihadapannya. Orang yang ketakutan saat melihat dirinya. Orang yang sedang meringkuk di pojok kamar sambil menangis tidak jelas. Dan orang yang mungkin saja, bisa menghancurkan kehidupannya yang sekarang, seandainya orang tersebut tidak dalam keadaan depresi seperti sekarang ini.


"Maaf. Maafkan Aku Sayang. Sebenarnya, Aku masih menyayangi dirimu. Tapi, kasih tahu Aku. Di mana Kamu simpan Bros bunga, yang Aku berikan dan Aku minta padamu, untuk menjaga dan juga menyimpannya. Apa Kamu ingat di mana Bros itu?" Sang Kakek bertanya lagi, dengan posisi berjongkok di hadapan orang yang dia sebut dengan 'Sayang' meskipun sang Kakek sadar jika, apa yang dia lakukan ini sia-sia saja.


Orang yang ada didepannya ini, sedang mengalami depresiasi berat. Sedangkan penyebabnya adalah, dirinya sendiri.


Sang Kakek-lah yang menjadi penyebab orang itu mengalami depresiasi, hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.


Dan sang Kakek masih mau mengurusnya hingga sekarang ini karena, ada satu hal yang sangat penting, yang perlu dia ketahui dari orang itu. Karena sebuah chip rahasia, yang dia sembunyikan dan itu tentang kehidupan sang Kakek dimasa lalu.


Jika chip rahasia itu sampai ketahuan dan jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga bisa mengambil keuntungan dari chip tersebut, jatuh sudah kehidupan sang Kakek. Bahkan, hartanya yang berlimpah, mungkin tidak bisa mengembalikan apa yang akan dia tangung, dari semua rahasia yang tidak pernah diketahui oleh siapapun, termasuk keluarganya sendiri.


"Apalagi yang harus Aku lakukan? Aku tidak mungkin menunggu lebih lama lagi. Aku juga tidak mungkin mewarisi cucu-cucuku, dengan kasus yang sewaktu-waktu akan terungkap, seandainya ada yang menemukan Bros itu, dan mengetahui bahwa itu bukan sekedar Bros biasa. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi seandainya semua itu terjadi nanti."


Orang yang meringkuk di pojok kamar, dan masih sesenggukan, melihat ke arah sang Kakek dengan kepala miring. Dia seakan-akan mencoba untuk mengingat kembali, semua memori otaknya, yang telah lama tidak tersambung dengan benar.


"Mana anakku?"

__ADS_1


Tiba-tiba, orang tersebut membentak sang Kakek. Dia tidak lagi menangis, dan cepat berdiri, menghadap sang Kakek, seakan-akan sedang menantang.


"Kamu ingat? Di mana Bros-nya?" tanya sang Kakek dengan mata berbinar-binar. Dia merasa senang, karena orang itu seakan-akan mengingat dirinya.


"Huhuhu... di mana anakku? Kamu apakan dia? campang kau Tuan Besar! di mana anakku?"


Orang itu histeris dan mengamuk. Dia mulai menyerang sang Kakek dengan mencakar.


Sang Kakek yang tidak siap dengan serangan yang mendadak itu, tentu saja terkena kuku-kuku orang tadi. Pipi dan kening sang Kakek terluka, dengan lecet-lecet persis seperti terkena cakaran kucing atau harimau.


"Aduh, sialan! Perempuan tidak berguna! Mampus saja Kau!"


Sang Kakek yang terkejut, dan merasakan sakit di area wajah, mengumpat dan berkata kasar. Dia tidak menyangka, jika orang itu akan menyerangnya kali ini.


Dengan langkah cepat, sang Kakek keluar dari dalam kamar dan menutup pintu dengan membantingnya.


Jedaaarrr!


"Tuan. Muka Anda berdarah," kata salah satu dari pelayan, memberitahu.


"Ya. Ambilkan obat!"


Pelayan tadi segera berlari, untuk mencari kotak obat, yang biasanya ada di dekat pintu dapur.


Tak lama kemudian, pelayan tadi datang dengan kotak obatnya. Tapi, dia menyerahkan kotak obat tersebut pada salah satu bodyguard sang Kakek.


Bodyguard sang Kakek pun menerima kotak obat tersebut. Dia mulai mencari kapas dan alkohol, untuk membersihkan luka dan daerahnya.


Bodyguard tersebut, tahu bagaimana cara penanganan medis, untuk pertolongan pertama. Dulu, dia adalah seorang perawat, yang bertugas di tim angkatan korps sang Kakek.


Itulah sebabnya, dia di ambil sang Kakek, dan dijadikan bodyguard kepercayaan, setelah salah satu anak buahnya sang Kakek mengkhianatinya, berpuluh tahun yang lalu.


*****

__ADS_1


Dua puluh lima tahun yang lalu.


Kehidupan yang ada, tidak sama seperti saat ini. Sang Kakek yang baru saja menyelesaikan pendidikan militer, langsung diangkat menjadi pengawas pelabuhan di salah satu kota, yang ada di pulau Sumatra. Tepatnya di kota Palembang.


Kota Palembang adalah ibu kota dan kota terbesar di provinsi Sumatra Selatan, Indonesia. Kota dengan luas wilayah 400,61 km² ini, dihuni oleh lebih dari 1,6 juta penduduk pada tahun 2020. Dan mungkin terus meningkat, seiring bertambahnya waktu.


Sang Kakek, bertugas di pelabuhan Tanjung Api-api, yang merupakan pelabuhan internasional yang terletak di Kabupaten Banyuasin, 80 Km dari Kota Palembang, Sumatra Selatan.


Pelabuhan Tanjung Api-api ini adalah, salah satu pelabuhan besar yang ada di Indonesia.


Pelabuhan ini, terintegrasi dengan kawasan ekonomi khusus, atau sering disingkat dengan nama KEK.


KEK atau Kawasan Ekonomi Khusus adalah, suatu kawasan dengan batas tertentu yang tercangkup dalam daerah atau wilayah untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu dalam kegiatannya.


Manfaat KEK bagi masyarakat yang ada di daerah tersebut adalah, mempercepat perkembangan daerah melalui pusat pertumbuhan ekonomi baru, membantu mengembangkan beberapa sektor serta meningkatkan produktivitas masyarakat dan daya saing di pasar internasional.


KEK juga mendorong pemulihan ekonomi wilayah melalui penyerapan SDM lokal.


Tujuan dan Sasaran Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus adalah, mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, serta meningkatkan daya saing.


KEK memiliki target yang fokus sesuai dengan kondisi dan situasi dari daerah tersebut. ( Dari berbagai sumber )


Di kota Palembang inilah, masa lalu yang kelam menjadi cerita untuk kehidupan sang Kakek di masa lalu. Masa mudanya, yang tidak sama seperti sekarang.


Pada saat itu, sang Kakek terlibat dalam beberapa perdagangan ekspor. Tapi ternyata, perdagangan ekspor itu bukanlah perdagangan pada umumnya.


Perdagangan ekspor yang dilakukan oleh komplotan anggota, yang diikuti oleh sang Kakek adalah, penjualan gadis-gadis dibawah umur, untuk dijual dan dijadikan sebagai 'pelayan' dibeberapa negara besar. Seperti China, Jepang, Taiwan dan ada juga yang dibawa sampai ke negara Eropa serta Amerika.


Hal yang tidak pernah diketahui oleh semua orang, bahkan sampai sekarang. Asalkan Bros Bunga yang hilang itu, tidak sampai di tangan yang berwajib.


Di Bros Bunga itulah, semua rahasia tentang masa lalu sang Kakek tersimpan.


Entah di mana keberadaan Bros Bunga itu sekarang, karena tidak ada yang mengetahuinya, bahkan, gadis yang dulu diminta oleh sang Kakek untuk menyimpannya, juga tidak tahu apa-apa, sampai dia mengalami depresi seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2