
"Mr yakin dengan tadi?" tanya Yati ingin tahu.
"Apa?" tanya Mr Ginting, pura-pura tidak paham dengan maksud pertanyaan Yati.
Yati tampak diam beberapa saat. Setelah itu, dia hanya bisa menghela nafas panjang. Dia ingin bertanya lagi, tapi merasa sungkan, karena Mr Ginting, sepertinya tidak mau membahas mengenai pertanyaannya yang tadi. Padahal sebenarnya Mr Ginting tahu, apa yang ditanyakan oleh istrinya itu. Dia hanya malu dan tidak tahu lagi, mau menjawab apa, jika harus ditanya soal permintaannya yang tadi.
Mungkin Mr Ginting juga merasa malu, karena belum terbiasa dengan keadaan mereka berdua. Sama seperti semalam, di saat mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Menikmati malam panjang berdua, sebagai seharusnya.
Yati akhirnya hanya diam saja. Dia tidak mau menambah beban rasa malu pada Mr Ginting.
"Panggilan kita jangan ada Saya, atau Aku. Kita ubah dengan kesepakatan kita yang kemarin tentang panggilan Shunjin dan yoseman. Tapi jika Kamu merasa tidak nyaman dengan panggilan itu, Kamu bisa panggil dengan sebutan honey atau bisa hanya dengan sayang saja."
Mr Ginting, menjelaskan pada Yati tentang cara panggilan mereka berdua yang masih terdengar kaku. Tidak sama seperti layaknya seorang pasangan, apalagi sudah bersama sebagai pasangan suami istri.
Itulah sebabnya, Mr Ginting meminta pada Yati untuk tidak lagi menggunakan sebutan 'aku dan kamu, atau saya' jika mereka berdua sedang bersama.
Mr Ginting meminta pada Yati, untuk memanggilnya dengan sebutan yang sudah mereka sepakati waktu itu, shunjin dan yoseman, atau suamiku dan istriku.
Sekarang, mereka berdua sudah sampai di rumah Mr Ginting. Supir mengehentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah.
Penjaga rumah berlari-lari kecil, membukakan pintu mobil untuk Mr Ginting, kemudian segera berputar ke arah sisi yang lain, untuk membukakan pintu untuk Yati.
padahal, Yati sudah hampir membuka pintunya sendiri. Tapi karena sekarang dia adalah nyonya besar di rumah Mr Ginting, dia akhirnya mengikuti hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang kaya. Sama seperti yang saat ini terjadi. Hanya untuk sekedar membuka pintu saja, harus menunggu supir atau penjaga rumah yang membukanya.
"Ini bisa membuatku jadi malas dan bertambah gendut nanti," kata Yati dalam hati.
__ADS_1
Dia menjadi berpikir jika keadaan seperti ini, jika terus menerus dibiarkan, akan membuatnya malas bergerak dan itu mengakibatkan dirinya menjadi menumpuk kalori dalam tubuhnya. Dan dia bisa bertambah gemuk dan cepat lelah dengan sendirinya.
"Ada sangar olahraga di bagian samping di rumah ini. Kamu bisa mengunakan semua itu kapan saja Kamu mau istriku," kata Mr Ginting memberitahu Yati, seakan-akan dia tahu, apa yang menjadi permasalahan istrinya dan membuatnya tidak nyaman dengan keadaan di rumahnya ini.
Yati melihat ke arah suaminya itu dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan. Dia lupa, jika tidak boleh membatin dan juga berkata dalam hati, jika sedang berada di dekat suaminya ini.
"Jadi, apa Kamu mau berolah raga sekarang, denganku?" Mr Ginting bertanya kepada Yati dengan pertanyaan yang ambigu, karena tatapan matanya seperti sedang merayu.
Yati yang langsung paham dengan maksud pertanyaan suaminya itu tersenyum penuh arti. Dia menerima uluran tangan Mr Ginting, yang segera mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke arah kamar.
Tapi kali ini, bukan kamarnya Mr Ginting yang dimasuki mereka berdua, melainkan kamar Yati. Kamar yang sebenarnya terjadi satu dengan kamar Mr Ginting sendiri.
Hanya saja, Yati yang tidak mengetahuinya.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang sama. Terlihat dari tatapan mata mereka dan tangan mereka yang saling mengengam.
*****
Di kampung, Mbok Minah sedang merawat Yoga, yang saat ini sedang sakit. Penyakitnya kumat, dan tidak ada yang merawatnya, karena dia juga memang hidup seorang diri.
"Kamu ke rumah sakit Yo Yoga? Kamu perlu perawatan medis Ke," kata mbok Minah menyarankan.
"Iya Mbok. Tapi Yoga tidak mau melihat emak dan bapak sedih, karena tahu Yoga sakit," jawab Yoga, yang memang merahasiakan penyakit yang dia derita dari kedua orang tuanya.
"Ya gak apa-apa Le. Lebih baik mereka tahu. Kalau mereka tidak tahu, malah kaget jika kapan-kapan mengetahuinya. Kenapa mereka tidak boleh tahu?" tanya mbok Minah, yang ingin tahu alasan Yoga menyembunyikan penyakitnya itu.
__ADS_1
"Yoga hanya tidak mau merepotkan mereka Mbok. Yoga belum bisa membahagiakan mereka. Jadi guru saja masih honorer. Belum pegawai negeri. Belum bisa meringankan beban mereka berdua Mbok."
Jawaban dari Yoga, dimaklumi oleh mbok Minah. Dia tahu, jika kuliah Yoga, juga menghabiskan uang yang banyak. Karena untuk biaya akhir, kedua orang tuanya harus menjual sebagian sawahnya, untuk menutupi semua kebutuhan Yoga, supaya bisa mengikuti ujian akhir.
Ternyata, untuk bisa mendapatkan ijazah tinggi, juga perlu biaya yang tinggi. Padahal, untuk bisa mencari pekerjaan, tidak hanya membutuhkan ijasah saja. Nyatanya, Yoga tidak langsung diterima sebagai pegawai negeri, meskipun ijasahnya tinggi dan menghabiskan uang untuk mendapatkannya.
Begitulah pikiran mbok Minah saat ini. Bahkan, untuk membiayai operasi yang dilakukan mendiang istrinya saja, dia dibantu oleh kedua orang tuanya dan keluarga mertuanya juga.
Mbok Minah jadi berpikir, jika keputusan yang diambil oleh cucunya, Yati, adalah keputusan yang tepat.
Yati tidak mau meneruskan sekolah dan lebih memilih untuk pergi bekerja saja, daripada sekolah dan mengeluarkan uang banyak untuk mendapat selembar ijazah.
Pemikiran orang tua yang juga tidak memiliki banyak pengetahuan dan pendidikan.
Hal yang biasa dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat yang ada di kampung, karena menganggap bahwa, semua yang dilakukan oleh orang seperti Yoga, hanya menghabiskan sebagian harta mereka untuk sebuah kesia-siaan belaka.
"Kamu bisa menelpon Yati, untuk minta bantuan keuangan Yoga. Kamu bisa meminta pinjaman. Jika dia punya uang, dia pasti akan membantumu. Kamu kan yang punya no telponnya. Jadi ayo telpon Yati!"
Mbok Minah memberikan saran pada Yoga, supaya menghubungi Yati. Ini karena dia memerlukan uang yang banyak, untuk biaya perawatannya di rumah sakit nanti.
Penyakit liver dan lambungnya sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dia perlu perawatan dan pengobatan yang tepat dari dokter, agar tidak semakin parah.
Penyakit liver adalah kerusakan pada hati dan membuat fungsi dari tugas hati tidak berjalan dengan baik. Itulah sebabnya, lambungnya jadi ikut tidak berfungsi dengan normal, karena pengaruh dari penyakit liver yang dia miliki.
Maka dari itu, Mbok Minah tidak ingin, terjadi sesuatu pada saudara dan juga tetangganya itu. Dia tidak mau jika Yoga harus mengalami penurunan kesehatan yang bisa berakibat fatal, jika tidak segera ditangani.
__ADS_1
"Kalau Kamu sungkan, biar Mbok yang ngomong sama Yati. Semoga saja, dia ada banyak tabungan, sehingga bisa memberikan sedikit banyak kiriman uang untuk bulan ini."
Mbok Minah berharap banyak pada cucunya, Yati. Dia merasa jika Yati harus membantu Yoga sekarang ini. Untuk bisa membawanya pergi ke rumah sakit.