Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Benarkah Normal?


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Yati di minta untuk datang ke rumah kakek Mr Ginting, tapi sendiri tanpa dan tidak bersama dengan suaminya itu.


Sang kakek ingin membicarakan sesuatu tentang cucunya, Mr Ginting.


Yati mendapat pesan itu dari pesuruh sang kakek, yang datang ke rumah sekalian menjemputnya, sewaktu Mr Ginting sudah pergi ke kantor.


Tapi Yati tidak mungkin bisa pergi begitu saja, tanpa memberitahu kabar ini pada Mr Ginting. Dia tidak mau jika terjadi kesalahpahaman antara dirinya dengan suaminya, Mr Ginting. Meskipun Yati merasa yakin, jika Mr Ginting tetap memberinya ijin untuk pergi dan menemui kakeknya.


Jadi, akhirnya Yati menghubungi Mr Ginting terlebih dahulu untuk meminta ijin, untuk undangan kakeknya kali ini. Apalagi, menurut Yati, undangan ini bersifat khusus dan tanpa sepengetahuan Mr Ginting sendiri.


Tut


Tut


Tut


Panggilan telpon dari Yati belum di jawab juga oleh Mr Ginting. Hingga beberapa kali Yati mencoba untuk menghubunginya lagi.


Tut


Tut


Tut


Tapi tetap saja, telpon dari Yati terabaikan.


"Mr Ginting sedang meeting mungkin ya? dan handphonenya, tidak dua bawa. Tapi jika Aku pergi, tanpa sepengetahuannya, Aku juga tidak berani jika dia marah. Jika hanya marah padaku sih, tidak masalah. Yang Aku takutkan, Mr Ginting marah pada kakeknya itu. Kan kasihan kakek."


Yati menuggu telponnya diangkat oleh Mr Ginting. Tapi, ternyata tidak tersambung juga. Padahal, utusan sang kakek, masih menunggunya di ruang tamu.


Ting


Ting


Ting


Handphone Yati berdering, dan Yati segera melihat ke layar, untuk memastikan jika itu adalah panggilan balik dari suaminya.


Ternyata benar. Saat ini Mr Ginting yang menghubunginya. Dengan cepat, Yati menekan tombol hijau di layar handphonenya, menyambungkan panggilan tersebut.


..."Ya halo Mr."...


..."Ada apa?"...


..."Itu. Kakek mengundangku untuk datang ke rumahnya. Dan utusannya ada di luar menunggu."...

__ADS_1


..."Mau ngapain kakek? dan oh ya, dia tidak masuk kantor hari ini."...


..."Tidak tahu. Mungkin hanya ingin berbincang-bincang denganku, dan bertanya sedikit tentang kita atau Aku sendiri."...


..."Kenapa Kamu tidak langsung ikut pergi?"...


..."Aku menunggu ijin dari Mr Ginting."...


..."Apa ini bentuk patuhnya seorang istri pada suami?"...


..."Bisa iya bisa tidak. Aku hanya berharap agar semua baik-baik saja. Tidak ada kesalahpahaman yang bisa saja terjadi kedepannya. Aku juga harus bersikap profesional bukan? jadi semua hal harus dengan sepengetahuan Mr Ginting sendiri."...


Terdengar helaan nafas panjang Mr Ginting, yang sangat jelas di telinga Yati. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Tapi Yati tetap berusaha untuk tetap 'menyadarkan' pikiran dan perasaannya sendiri. Ini untuk kebaikan dirinya sendiri kedepannya nanti, jika sudah selesai bertugas sebagai istri dari seorang Mr Ginting.


..."Baiklah. Pergi dan temui kakek. Tapi Kamu harus tetap berhati-hati dalam berbicara."...


..."Baik Mr. Terima kasih."...


Klik!


Sambungan telpon Yati dengan Mr Ginting terputus.


Sekarang, Yati mengambil tasnya, kemudian merapikan kembali tatanan gaun dan rambutnya di depan cermin. Setelah itu, dua berjalan keluar dari dalam kamar, untuk menemui utusan sang kakek. Dia sudah siap untuk bertemu dengan kakek saat ini juga, setelah mendapatkan ijin dari Mr Ginting, suaminya.


"Maaf, menunggu."


"Tidak apa-apa Miss. Saya juga sudah meminta ijin pada pengawal di rumah ini, dan Saya menjamin keselamatan miss Kiara hingga tiba di rumah ini lagi," jawab utusan tersebut sambil menundukkan kepalanya sopan.


Yati ikut menundukkan kepalanya sopan, mengikuti apa yang dilakukan oleh utusan tersebut. Sebagaimana cara


Utusan itu berjalan terlebih dahulu, menyusul Yati dibelakangnya. Dia juga membukakan pintu mobil untuk Yati, baru kemudian memutar untuk ke posisi menjadi seorang supir.


*****


"Selamat siang Kek," ucap Yati, begitu bertemu dengan sang kakek, di rumahnya sang kakek sendiri.


"Siang juga cucuku Kiara. Apa Kamu sehat?" jawan sang kakek dengan menyambut kedatangan Yati.


Sang kakek merentangkan kedua tangannya, untuk memeluk Yati.


Sebenarnya, Yati merasa sungkan dan tidak enak hati. Tapi karena tidak ingin mengecewakan sang kakek, Yati akhirnya ikut memeluk kakek dari suaminya itu.


"Aku ingin berterima kasih padamu Kiara. Karena Kamu juga, Ginting bisa berubah sikapnya padaku. Dia tidak lagi ketus dan marah-marah pada kakek tua ini." Sang kakek, menceritakan bagaimana perasaannya saat ini, yang merasa lebih baik daripada dulu, di saat belum ada Yati, sebagai istrinya Mr Ginting.


Yati hanya tersenyum mendengar perkataan kakek. Dia jadi merasa terharu, karena teringat juga dengan mbok Minah.

__ADS_1


Simbok nya yang saat ini ada di kampung. Mbok Minah yang sudah tua juga, dan selalu merawatnya tanpa ada pamrih, meskipun antara Yati dengan mbok Minah, tidak ada hubungan darah sebagai Mr Ginting dengan kakeknya ini.


"Apa yang sedang Kamu pikirkan?" tanya kakek, menebak jika Yati sedang memikirkan sesuatu.


Mungkin karena Yati hanya diam dan tidak fokus pada pembicaraan mereka berdua.


"Eh, emhhh... maaf Kek. Sebenarnya apa yang ingin Kakek bicarakan dengan Kiara?" tanya Yati langsung pada intinya. Dia tidak ingin berlama-lama ada di rumah ini. Yati takut jika dia akan keceplosan dan mengatakan dengan tidak sadar jika hubungan dengan Mr Ginting, hanya sebuah kerjasama kontrak belaka.


"Hahaha... ternyata Kamu juga sama seperti Ginting ya. Tidak sabar. Atau karena Kakek yang terlalu lamban?" tanya Kakek, menyadari jika Yati tidak ingin berbasa-basi dengannya.


"Emhhh bukan. Bukan begitu maksudnya Kiara Kek. Kiara cuma... cuma..."


"Ya-ya. Kakek paham Kiara." Sang kakek berkata, memotong perkataan Yati yang susah untuk dia ucapkan.


"Ayok, kita ke ruang makan saja. Di sana kita bisa berbincang-bincang dengan santai sambil menikmati makan siang."


Akhirnya, kakek mengajak Yati untuk pergi ke ruang makan, karena ini juga sudah waktunya untuk makan siang. Di sana, mereka berdua akan membicarakan soal Mr Ginting, suaminya Yati.


"Duduklah Kiara. Ternyata, makanan sudah tersedia dan menuggu kita untuk segera memakannya. Hehehe..."


Kakek menarik satu kursi untuk Yati.


Dengan tersenyum, Yati mengangguk. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada kakek. "Terima kasih," ucap Yati, seraya duduk di kursi yang tadi ditarik untuknya.


Kakek hanya tersenyum, kemudian berjalan memutar, kemudian duduk di kursi yang berada tepat di depan Yati.


"Kita makan dulu, baru membicarakan tentang hal yang ingin Kakek tahu," kata kakek, mengajak Yati untuk menikmati makan siang mereka berdua terlebih dahulu.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka berdua terlihat menyelesaikan makan mereka hampir bersamaan.


Setelah minum air putih, kakek mempersilahkan Yati untuk menikmati makanan pencuci mulut terlebih dahulu. Setelah itu, baru mengajaknya ke ruang tengah untuk berbincang-bincang.


"Kita berbincang-bincang di ruang tengah saja. Ini biar dibereskan pelayan."


Kakek berdiri terlebih dahulu, baru kemudian Yati mengikuti.


Setelah mereka berdua duduk di ruang tengah, kakek segera bertanya pada Yati. "Apa Ginting memperlakukan dirimu sebagai layaknya seorang istri?"


Yati mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari sang kakek.


"Maksud Kakek?" tanya Yati ingin lebih jelas lagi.


"Maksudnya, Ginting itu normal kan?" Kakek bertanya lagi dengan lebih jelas.


"Normal sebagai seorang laki-laki?" jawab Yati, balik bertanya.

__ADS_1


Kakek tersenyum samar. Dia berpikir jika ini terlalu berlebihan, dengan bertanya pada istrinya Ginting sendiri. Tapi dia tidak ada pilihan lain, selain bertanya pada istri dari cucunya itu.


"Ya. Dia normal sebagai seorang laki-laki yang sebenarnya kan?" tanya kakek lagi. Dia ingin tahu, kebenaran yang masih dia ragukan sendiri.


__ADS_2