Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Ada Apa Dengan Mr Andre


__ADS_3

Dengan perasaan yang tidak bisa dibayangkan, Yati berjalan di koridor rumah sakit pagi-pagi buta.


Tadi, sekitar satu jam yang lalu, Yati mendapat telpon dari pihak rumah sakit, bahwa ibunya mencoba untuk melakukan usaha bunuh diri lagi.


Hal yang tidak pernah Yati bayangkan. Apalagi, seharian kemarin, dia bersama dengan ibunya itu, menghabiskan banyak waktu bersama.


Saling berbicara, meskipun Yati merasa yakin bahwa, ibunya itu tidak mengerti semua yang dia bicarakan. Tapi karena respon yang baik dari ibunya, membuat Yati bersemangat untuk bercerita tentang apa saja, baik cerita waktu dia masih kecil dulu, atau saat dia berusaha untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya.


Meskipun ibunya itu tidak menyahuti dan berkomentar tentang semua cerita yang Yati sampaikan, tapi setidaknya, ibunya itu diam saja, mendengarkan perkataan Yati.


Yati juga ingat, bagaimana ibunya itu memeluknya terlebih dahulu, sebelum dia yang memeluk ibunya.


Hal yang tidak pernah di sangka-sangka oleh Yati, jika semua perubahan sikap dan perilaku ibunya itu, justru membuat ibunya kembali depresi dan berusaha untuk bunuh diri dengan cara melompat dari jendela kamar.


Padahal setahu Yati, jendela kamar ibunya itu berlapis teralis, sehingga tidak mungkin bisa dilalui oleh tubuh ibunya.


"Dok. Bagaimana keadaan ibu Saya?"


Yati langsung bertanya pada dokter jaga, yang dia temui, begitu dia sampai di ruangan IGD di rumah sakit tersebut.


"Maksudnya ibu yang berusaha untuk bunuh diri tadi?"


Dengan cepat, Yati mengangguk mengiyakan pertanyaan dari dokter tersebut.


"Miss Yeti?"


Tanya dokter tersebut, yang sepertinya dia adalah dokter baru. Karena selama Yati wira-wiri di rumah sakit ini, belum pernah bertemu ataupun berpapasan dengan dokter, yang sekarang ini ada di hadapannya.


"Ya. Saya miss Yeti, anak ibu tersebut.'.


Dokter tadi, mengajak Yati untuk masuk ke dalam ruang IGD, di mana ibunya sekarang ini sedang berbaring, dengan dilengkapi oleh kabel-kabel yang berguna untuk memantau kondisinya setiap detiknya.


"Dia berusaha untuk bunuh diri, dengan cara keluar dari jendela kamar," kata dokter tersebut, dengan menunjuk ke arah beberapa luka, yang dialami oleh ibunya Yati.


"Tapi Dok, jendela kamar ada lapisan teralisnya. Bagaimana bisa, ibu Saya keluar dari jendela, dan berusaha untuk bunuh diri, bukannya tidak muat untuk tubuh ibu Saya ini?" tanya Yati dengan cepat, karena merasa janggal dengan keterangan yang diberikan oleh dokter tersebut.


Yati juga merasa heran, saat mendengar kabar tentang usaha bunuh diri ibunya, melalui panggilan telpon tadi.


Dengan tersenyum tipis, dokter tersebut berusaha untuk menjelaskan, dan memberikan sebuah gambaran, bagaimana cara ibunya itu berusaha untuk bunuh diri.

__ADS_1


Menurut dokter tersebut, ibunya itu membuka daun jendela kamar, dan memasukkan kelapanya, dari celah-celah teralis jendela kamar.


Teralis jendela memang berbentuk kotak-kotak kecil, tapi tentunya sulit karena ukurannya lebih kecil dari pada ukuran kepala orang dewasa pada umumnya.


Tapi ternyata, kepala ibunya itu, muat hampir separuhnya. Dan berhenti pada tengah-tengah, pada bagian telinga.


Karena tidak muat, dan tidak bisa ditarik lagi untuk bisa keluar, akhirnya dia berusaha keras untuk bisa lepas, atau melanjutkan usahanya untuk bisa memasukkan kepalanya.


Meskipun sebenarnya usahanya itu tidak akan bisa berhasil, tapi tentu saja, kepala dan bagian wajahnya terluka cukup parah.


Bahkan, daun telinganya juga ada yang sobek hingga beberapa centimeter.


Ini akibat dari usahanya untuk bisa masuk atau keluar, sehingga daun telinganya itu mengalami gesekan-gesekan.


Yati merasa ngilu, membayangkan bagaimana keadaan ibunya tadi, di antara besi-besi teralis jendela kamar ibunya.


Rasa bersalah datang tanpa dia sadari. Karena kamar itu ditempati ibunya, atas permintaan dari Yati sendiri, yang berdebat juga dengan pihak humas rumah sakit ini


Dan sekarang, kekhawatiran mereka terbukti. Meskipun sebenarnya ini semua bukan kesalahan yang Yati lakukan. Namun, tetap saja dia merasa sangat bersalah, karena ibunya ada di kamar tersebut, semua karena dirinya yang meminta pada pihak rumah sakit. Karena berpikir bahwa, kamar tersebut jauh lebih baik daripada kamar yang kemarin.


"Bu. Ibu kenapa?"


Yati bertanya pada ibunya, dengan mengengam tangan ibunya itu.


Air mata Yati menetes tanpa bisa dia bendung. Apalagi, saat dia melihat banyak luka yang ada pada wajah dan telinga ibunya itu. Yati merasa ngilu, dan tidak bisa membayangkan bagaimana cara ibunya tadi dikeluarkan dari teralis jendela.


"Ibu. Kenapa ini bisa Ibu lakukan lagi? Jika seperti ini, Ibu tidak bisa keluar-masuk dari tempat ini Bu."


Kata-kata yang diucapkan oleh Yati, entah didengar oleh ibunya atau tidak, yang pasti saat ini, ibunya itu membuka matanya perlahan-lahan, dan tangannya yang sedang digenggam oleh Yati, ikut mengengam tangan anaknya itu.


Yati yang merasa jika ada respon dari ibunya, segera mengusap air matanya yang masih mengalir, dengan tangan satunya lagi.


"Bu. Ibu dengar kata Yati?"


"An_dre. An_andre."


Dengan mata menyipit, Yati memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya.


'Andre? Bukankah dulu Ibu juga pernah menyebut nama Andre, dan sang Kakek menyimpulkan bahwa itu adalah Mr Andre. Apa ini juga Mr Andre, yang dimaksud oleh ibu sekarang ini?'

__ADS_1


Yati bertanya-tanya dalam hati, dengan apa yang dikatakan oleh ibunya barusan.


"Andre. Ya Andre."


Dengan cepat, Yati mencari handphone miliknya, yang berada di dalam tas. Dia mencari galery foto, untuk mencari apakah ada foto Mr Andre di dalam galerinya.


"Ah, ini dia ada."


Yati memperbesar foto Mr Andre, supaya ibunya itu bisa melihat dengan jelas. "Apa yang ibu maksud dengan Andre adalah laki-laki ini?" tanya Yati, dengan menunjukan foto Mr Andre, yang ada di handphone miliknya.


Ibunya Yati, melihat ke arah handphone milik anaknya itu. Dia menyipit, untuk memperjelas penglihatannya.


"Hahhhh tidak-tidak. Andre, jahat! Dia jahat! Andre jahat!"


Ibunya Yati berteriak-teriak histeris, saat melihat wajah Mr Andre, yang ditunjukkan oleh Yati padanya.


Yati tidak tahu, apa maksud dari perkataan ibunya itu.


Kenapa setiap ibunya ada kesadaran sedikit saja, nama Andre yang dia sebut. "Ada apa dengan Mr Andre? apa yang sebenarnya disembunyikan Mr Andre?" gumam Yati, dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada pada pikirannya saat ini.


Tak lama, ibunya benar-bener histeris, dengan menyebut nama Andre berkali-kali. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, dengan Mr Andre di masa lalu.


Kini, dokter jaga datang untuk menenangkan ibunya.


"Sebaiknya, jaga kondisi ibu Anda supaya tetap stabil dan tidak memikirkan hal-hal yang bisa membuatnya kembali depresi," kata dokter, menasehati Yati.


"Tapi Dok, Saya justru tidak mengatakan apa-apa. Ibu sendiri yang berkata, dengan menyebutkan nama seseorang, yang kemudian berakhir seperti ini."


####


Haiiii... masih kuat puasa kan?


Hehehe... semoga tetap dalam keadaan sehat dan bahagia 🙏🙏🙏


Baca juga yuk novel TK yang lain.


Caranya, klik profil TK lalu pilih novel yang ingin di baca.


Semoga menghibur dan ada khikmah yang bisa diambil dari pesan yang ada pada novel-novel TK.

__ADS_1


Terima kasih 😍😍🙏🙏



__ADS_2